Opini: Meraba potensi kendaraan listrik di Indonesia

dibagikan
komentar
Opini: Meraba potensi kendaraan listrik di Indonesia
Oleh:
18 Jan 2019 12.07

Beberapa pihak tengah menyusun langkah untuk mendukung ekosistem kendaraan listrik di Indonesia. Apa saja tantangannya supaya konsumen beralih?

Seperti yang telah diberitakan Motorsport.com Indonesia sebelumnya, Program Percepatan dan Pengembangan Kendaraan Listrik mempunyai visi untuk mengajak masyarakat beralih ke mobil dan motor elektrik. Beberapa sampel Stasiun Penyedia Listrik Umum (SPLU) -terletak di SPBU Kuningan, Jakarta Selatan, dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Serpong, Tangerang Selatan- menjadi bukti awal dari keseriusan pemerintah.

Sementara BPPT dan Badan Standarisasi Nasional (BSN) tengah merancang infrastruktur, para petinggi negara melakukan rapat terbatas untuk membahas aturan mengenai kendaraan listrik pada Senin (14/1). Presiden Joko Widodo menilai Indonesia mempunyai potensi untuk mengembangkan tren terkini otomotif dunia.

"Karena kita memiliki sebuah peluang untuk menjadi pemain kendaraan motor listrik," kata Presiden Jokowi kepada media di Istana Kepresidenan Jakarta, dikutip dari kantor berita Antara. Ia juga menambahkan bahwa Indonesia memiliki industri untuk mendukung kendaraan listrik, seperti baterai serta tambang nikel, kobalt, dan mangaan.

Kementerian Perindustrian pun tak main-main. Mereka tengah menggenjot produksi mobil dan motor elektrik dalam negeri dengan target jumlah kendaraan listrik 20 persen pada 2025.

"Targetnya pada tahun 2025, populasi mobil listrik diperkirakan tembus 20 persen atau sekitar 400.000 unit dari 2 juta mobil yang diproduksi di dalam negeri," ungkap Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto, dikutip dari kantor berita Antara. "Jadi, langkah strategis sudah disiapkan secara bertahap, sehingga kita bisa melompat untuk menuju produksi mobil atau sepeda motor listrik yang berdaya saing di pasar domestik maupun ekspor," tuturnya.

Beralih ke pelaku, setidaknya ada dua nama terbaru yang serius berproduksi masal, yakni Viar dan Gesits. Model Q1 -bekerja sama dengan Bosch- telah dipasarkan sejak 2017, sedangkan yang terakhir disebut baru akan dibuat dalam jumlah besar tahun ini.

Ramainya upaya dari berbagai kalangan ini semakin memunculkan optimisme terhadap hadirnya atmosfer lebih ramah lingkungan di jalanan. Beberapa dari kita, termasuk saya, mungkin pernah merasakan betapa tidak nyamannya harus berjibaku dengan gas emisi berbagai kendaraan setiap kali berangkat kerja. Saya sendiri sudah tiga kali menderita radang saluran pernapasan akibat tidak sengaja menguap saat bus di depan mengeluarkan asap dari knalpot. Sungguh pengalaman yang tidak mengenakkan.

Slider
List

Detail SPLU Kuningan, Jakarta Selatan

Detail SPLU Kuningan, Jakarta Selatan
1/10

Foto oleh: Wisnu Setioko

Detail SPLU Kuningan, Jakarta Selatan

Detail SPLU Kuningan, Jakarta Selatan
2/10

Foto oleh: Wisnu Setioko

Detail SPLU Kuningan, Jakarta Selatan

Detail SPLU Kuningan, Jakarta Selatan
3/10

Foto oleh: Wisnu Setioko

SPLU Quick Charge, Kuningan, Jakarta Selatan

SPLU Quick Charge, Kuningan, Jakarta Selatan
4/10

Foto oleh: Wisnu Setioko

SPLU Quick Charge, Kuningan, Jakarta Selatan

SPLU Quick Charge, Kuningan, Jakarta Selatan
5/10

Foto oleh: Wisnu Setioko

Detail SPLU Kuningan, Jakarta Selatan

Detail SPLU Kuningan, Jakarta Selatan
6/10

Foto oleh: Wisnu Setioko

Head charging unit SPLU Kuningan, Jakarta Selatan

Head charging unit SPLU Kuningan, Jakarta Selatan
7/10

Foto oleh: Wisnu Setioko

Unit SPLU Kuningan, Jakarta Selatan

Unit SPLU Kuningan, Jakarta Selatan
8/10

Foto oleh: Wisnu Setioko

Unit SPLU Kuningan, Jakarta Selatan

Unit SPLU Kuningan, Jakarta Selatan
9/10

Foto oleh: Wisnu Setioko

Papan EV Charging SPLU Kuningan, Jakarta Selatan

Papan EV Charging SPLU Kuningan, Jakarta Selatan
10/10

Foto oleh: Wisnu Setioko

Tantangan kendaraan listrik

Rasanya tak hanya di Indonesia, namun beberapa negara pun juga timbul pro dan kontra mengenai hadirnya kendaraan elektrik, salah satunya adalah sumber listrik untuk mengisi daya baterai. Meski memakai motor listrik dan bebas asap knalpot, akan terasa makin ‘hijau’ apabila sumber energi alternatif turut diberdayakan, seperti tenaga matahari. Namun sepertinya BBM masih menjadi favorit, sesuai dengan iklan layanan masyarakat PLN beberapa tahun silam.

Mengisi ulang tenaga baterai tidaklah secepat menyalurkan bensin ke tangki. Dengan teknologi yang ada, BPPT mengklaim waktu tersingkat yang diperlukan hingga siap digunakan sepenuhnya adalah 30 menit. Bisa dibayangkan betapa antrenya SPLU nanti. Namun badan riset negara tidak kehilangan akal. Gedung-gedung perkantoran pun menjadi target lokasi unit pengisian kendaraan listrik. Sembari ditinggal bekerja, motor/mobil mereka akan dicharge. Tentu saja unit SPLU menyesuaikan dengan jumlah kendaraan yang, menjadi PR bagi pemilik gedung.

Menurut hemat saya, bunyi senyap kendaraan listrik berpotensi menimbulkan masalah dalam kondisi tertentu, misal malam hari atau hujan -saat pandangan mata terbatas-. Bayangkan Anda ingin menyeberang jalan sepi, namun tidak bisa mendengar suara kendaraan yang tengah melaju. Hal tersebut bisa mengakibatkan kecelakaan bila tidak ada kesigapan baik dari pejalan kaki atau pengendara.

Berbagai tantangan itu rasanya tidak ada apa-apanya dibanding mengubah pola pikir masyarakat yang telah terbiasa dengan kendaraan berbahan bakar fosil. Karenanya, transisi menuju kendaraan elektrik perlu dilakukan untuk jangka panjang, tidak seperti ponsel fitur ke ponsel pintar yang hanya memakan kurang lebih satu dekade hingga merasakan adanya perubahan signifikan.

Next article
New Veloz, makin lengkap dengan fitur baru

Artikel sebelumnya

New Veloz, makin lengkap dengan fitur baru

Next article

Alejandro Agag gabung proyek kendaraan listrik Motorsport Network

Alejandro Agag gabung proyek kendaraan listrik Motorsport Network
Muat komentar

Tentang artikel ini

Kejuaraan Automotive
Penulis Wisnu Setioko