Laia Sanz, Pencetak Sejarah yang Selalu Haus Tantangan

Di dunia ini, hanya segelintir pembalap seperti Laia Sanz. Ia sudah mencoba berbagai jenis balapan, baik roda dua maupun empat, di medan yang sulit.

Laia Sanz, Pencetak Sejarah yang Selalu Haus Tantangan

Pembalap putri Spanyol tersebut senang menantang dirinya. Cedera maupun penyakit Lyme yang membuatnya terkapar dan harus mengonsumsi antibiotik berbulan-bulan, bahkan tak bisa menghalanginya untuk terus menggeluti olahraga ekstrim.

Sanz kembali ke arena lebih kuat. Ia juga punya teknik dan skill mumpuni, serta daya saing tinggi yang penting untuk menyelamatkan kariernya.

Baru-baru ini, Sanz mengukir sejarah sebagai pembalap wanita pertama yang mengoleksi 20 titel juara dunia. Ia menyegel peringkat pertama Grand Prix Prancis sehingga layak dinobatkan sebagai kampiun Women’s World Enduro Championship 2021.

Rider GasGas tersebut menyelesaikan Cross Test, Enduro Test dan Extreme Test dengan baik. Total koleksi poinnya 75, selisih 8 dari Mireia Badia dan 9 dari Jane Daniels.

Musim ini, ia mengawinkan gelar dari World Enduro Championship dan Trial World Championship dari kategori wanit. Jadi total trofi kemenangan dari Enduro adalah enam dan Trial 14. Dalam sejarah, hanya Toni Bou yang lebih banyak mencuri titel dari Trial, 29 kali.

“Kedua gelar itu sangat berharga bagi saya, setelah datang dari tahun yang sangat sulit karena penyakit saya. Saya hampir berhenti tapi bisa mengatasi kendala itu. Saya kembali merasa sebagai seorang pembalap setelah mengalami banyak penderitaan,” ia mengungkapkan.

Motor menjadi teman akrab Sanz sejak usia dua tahun. Keluarganya, terutama sang ayah, merupakan penggila motor.

Ketika dirasa sudah cukup besar, Jesus Sanz melatih putrinya yang berusia empat tahun, naik motor kecil. Tiga tahun kemudian, dia memulai petualangan di dunia balap. Namanya kian berkibar di level internasional sejak 2000, ketika menjuarai World Trial Championship perdananya.

Setelah satu dasawarsa berkutat dengan kompetisi tersebut, pada 2010, ia menaikkan level tantangan. Ya, Sanz memberanikan diri berpartisipasi dalam Reli Dakar, yang diklaim sebagai salah satu reli paling berbahaya karena sudah menelan banyak korban.

Pada 2015, didukung Montesa, Sanz mencatatkan prestasi terbaik dengan finis P9 dalam klasemen umum. Ia pun tak lagi dipandang enteng oleh lawan yang mayoritas pria.

“Semua ini sangat saya hargai karena saya sadar betapa itu sulit, sebelumnya mungkin Anda tidak menghargainya. Anda sadar dengan usia, hal ini tidak berlangsung selamanya dan Anda harus menikmatinya,” tuturnya dikutip dari Marca.

Baca Juga:

Setelah menguasai berbagai kompetisi balap motor, rider asal Catalunya itu merasa sudah saatnya berganti persaingan kendaraan roda empat. Kembali ke nol membuatnya kembali menemukan gairah balapan.

Sanz pun ambil bagian dalam berbagai kejuaraan reli nasional dan internasional. Ia berdebut di Rallycross Baja, Dubai, dengan trek gurun. Bersama navigatornya, Lucas Cruz, di dalam kokpit mobil buggy T4 CAN AM Maverick, pembalap tersebut mampu menghuni posisi keempat.

Padahal, target awalnya hanya banyak belajar karena balap mobil adalah dunia baru bagi pembalap wanita satu-satunya yang finis 10 besar Reli Dakar tersebut.

Berhasil menorehkan prestasi mengagumkan membuat Sanz makin ketagihan menekuni reli mobil. Apalagi ia punya mentor sekelas Carlos Sainz, pereli kawakan yang sudah malang melintang puluhan tahun.

Setelah itu, ia tampil dalam Mini 4x4 dalam Reli Andalucia, bersama veteran balap motor, Dani Oliveras. Mereka memperkuat tim X-Raid. Mereka mencapai posisi ketujuh.

Visi Extreme E, balapan mobil listrik sekaligus kampanye terkait perubahan iklim, tampak menarik baginya. Sanz pun menerima tawaran Sainz bergabung dengan timnya, Acciona Sainz XE Team. Sayangnya, skuad tersebut finis di urutan kelima klasemen.

Ketika disebut sebagai pembalap serbabisa, Sanz merendah, “Saya tidak tahu, tapi yang jelas saya sedikit fleksibel karena saya sudah melakukan banyak hal berbeda, menjalankan semua skenario dengan baik tentu tidak mudah dan melihat dengan cara ini. Ya, saya lengkap di motor.

“Saya tidak pernah memikirkan jadi atlet terbaik Spanyol. Memang 20 gelar sangat banyak dan saya jadi juara dunia pertama kali 21 tahun lalu, tapi tak pernah berpikir seharusnya jadi salah satu yang lolos. Saya hanya menjalani tahun demi tahun mencari sesuatu yang gila dan seperti itu.”

Laia Sanz/Carlos Sainz, Acciona | Sainz XE Team

Laia Sanz/Carlos Sainz, Acciona | Sainz XE Team

Foto oleh: Sam Bloxham / Motorsport Images

Ke depannya, Sanz menyudahi partisipasi di balap motor dalam Reli Dakar. Ia mantap ganti jalur seperti Stephane Peterhansel, yang digdaya pada kategori roda dua maupun empat.

“Dari seorang yang ahli di atas motor lalu menjadi seorang junior dalam kendaraan roda empat, saya punya banyak kilometer yang mesti dijalani. Saya punya gairah yang besar,” tuturnya.

“Sangat berubah ketika mengemudikan mobil, seperti isu telemetri dalam off-road. Latihan lebih familiar, Anda lihat jalur, video, bicara dengan pereli lain. Dalam enduro, Anda memperlambat waktu seperti ini, tanpa telemetri, lebih sederhana.

“Dalam mobil, ada lebih banyak telemetri, tapi bersama Carlos yang muak dengan set-up, super perfeksionis, Anda justru belajar banyak dengan tantangan sangat besar.

“Memikirkan saya harus meninggalkan itu hampir 100 persen, saya justru melihat cahaya, yang buruk sudah terjadi. Semoga saya bahagia dan merasa seperti atlet lagi.”

dibagikan
komentar
Gelar BSB Tarran Mackenzie Lanjutkan Sukses Ayah-Anak di Balap Motor
Artikel sebelumnya

Gelar BSB Tarran Mackenzie Lanjutkan Sukses Ayah-Anak di Balap Motor

Artikel berikutnya

Yamaha Beri Pelatihan Riding Motor Off Road WR 155 R

Yamaha Beri Pelatihan Riding Motor Off Road WR 155 R
Muat komentar