Al-Attiyah Berambisi Patahkan Rekor Peterhansel di Dakar

Nasser Al-Attiyah kian lapar sejak menjuarai Reli Dakar 2022. Pereli Qatar itu berambisi mematahkan rekor Stephane Peterhansel.

Al-Attiyah Berambisi Patahkan Rekor Peterhansel di Dakar

Ia sudah mengumpulkan empat gelar juara dari reli bergengsi itu. Masih jauh dari torehan Peterhansel, yang mengoleksi delapan titel.

Tren Dakar mulai mengurangi emisi karbon dan mengarah ke mobil listrik. Sebagai persiapan menyongsong era baru ke depannya, Al-Attiyah menerima tawaran CUPRA untuk bertarung di reli mobil listrik, Extreme E.

Tak hanya itu, ia juga tampil dalam Kejuaraan Dunia Rally-Raid FIA. Al-Attiyah berada di balik kemudi Toyota Hilux yang dibekali twin-turbocharged V6.

Pereli 51 tahun tersebut mengaku tak punya masalah mengikuti berbagai kompetisi dalam satu musim. Ia selalu siap beradaptasi dengan kendaraannya.

“Saya perlu berkompetisi dan mengetahui teknologi baru dengan baik, karena kami tidak tahu seperti apa masa depan Dakar. Mungkin itu akan jadi listrik satu hari nanti,” ujarnya kepada Motorsport.com Spanyol.

“Itu kenapa saya butuh umpan balik sedikit lagi dan saya sangat gembira dapat balapan di Extreme E.”

Al-Attiyah kini bertengger di posisi sama dengan Ari Vatanen yang juga merebut empat gelar. Ia berambisi mengejar Peterhansel.

“Saya masih punya rekor hebat Stephane di depan. Saya masih kurang empat dan itu tujuan saya, mematahkan rekor Stephane.”

Al-Attiyah mengenang segala hal yang berhubungan dengan suksesnya di Dakar 2022, Januari silam. Ia meletakkan trofi di bangku belakang mobilnya dalam perjalanan dari Arab Saudi ke Qatar.

“Saya memanfaatkan perjalanan kembali untuk mengunjungi beberapa teman. Itu pengalaman luar biasa,” katanya.

#201 Toyota Gazoo Racing Toyota: Nasser Al-Attiyah, Matthieu Baumel

#201 Toyota Gazoo Racing Toyota: Nasser Al-Attiyah, Matthieu Baumel

Foto oleh: Red Bull Content Pool

Bantuan Mathieu Baumel, sebagai navigator, sangat besar dalam petualangan di Arab Saudi. “Dia adalah navigator terbaik di dunia. Ketika Anda balapan sepanjang tahun dan seluruh tim hanya melakukannya di Qatar, Anda punya keuntungan,” tuturnya.

Ia lalu membahas soal lawan-lawannya. Al-Attiyah tak menutupi keterkejutan dengan ledakan performa Sebastien Loeb. Keduanya hanya terpaut satu poin saja.

“Tentu saja, kinerja Sebastien mengagetkan, tapi dia adalah pembalap terbaik di dunia. Setelah Dakar, dia berhasil memenangi Reli Monte Carlo dan dia menunjukkan bahwa dia masih dalam kondisi bagus di WRC,” ia mengungkapkan.

Rivalitas sengit dengan Carlos Sainz di Dakar berlanjut dalam Extreme E. Mereka sempat bertubrukan dalam Desert X-Prix.

“Balapan adalah balapan dan kami selalu memberikan yang terbaik. Itu terjadi dalam ajang Extreme E dan kadang, itu terjadi di Dakar,” katanya.

Baca Juga:

“Namun, itu adalah hal biasa di antara pembalap. Kami berteman dan tetap saling menghormati.”

Al-Attiyah sudah menakar kekuatan lawan dalam Dakar 2023. Musim ini, mereka kesulitan melihat kekuatan lawan karena mereka berinovasi.

“Audi dan BRX akan menjadi rival hebat, tapi Toyota akan tetap kuat. Masalahnya, dalam regulasi untuk mobil listrik dan mobil berbahan bakar bensin, bagaimana BoP (keseimbangan performa) diterapkan,” ia menandaskan.

dibagikan
komentar
Desert X-Prix: Rosberg X Racing Raih Kemenangan Perdana Musim Ini
Artikel sebelumnya

Desert X-Prix: Rosberg X Racing Raih Kemenangan Perdana Musim Ini

Artikel berikutnya

Indonesia Mungkin Bisa Jadi Tuan Rumah Extreme E

Indonesia Mungkin Bisa Jadi Tuan Rumah Extreme E