Alasan WRC Garap Esports dengan Serius

Pada akhir pekan, Reli Akropolis kembali ke Kejuaraan Reli Dunia setelah hiatus delapan tahun dan itu bukan satu-satunya ajang reli kompetitif yang dilaksanakan di sana.

Alasan WRC Garap Esports dengan Serius

Kesibukan terlihat dalam Olympic Velodrome di tengah kota Athena sebagai tuan rumah Grand Final Esports WRC. Persaingan sesengit duel Sebastien Ogier versus Elfyn Evans, Thierry Neuville atau Ott Tanak tersaji.

Lebih dari 15 ribu kompetitor memainkan gim lewat PC, PlayStation dan Xbox. Mereka melewati 13 etape kualifikasi  hingga tersaring sembilan peserta terbaik di dunia dan berkesempatan datang ke ibu kota Yunani.

Kompetitor yang mendapat tiket ke putaran akhir memainkan WRC 10 buatan KT Racing, dengan sim rig yang didesain dengan spesifikasi identik. Mereka juga diberi kaos kaki khusus untuk menambah grip pada pedal. Semua memiliki satu tujuan yakni menjadi juara dunia.

Baca Juga:

WRC bahkan menayangkan kompetisi itu lewat berbagai platform seperti All Live WRC.com, Youtube dan Facebook, dilengkapi komentar secara langsung dari Becs Williams, Ben Constanduros serta tim produksi yang berdedikasi. Dengan cekatan, mereka menyesuaikan cahaya, mikrofon dan sistem perkabelan rumit.

Seiring dengan makin majunya esports, selama dua tahun, sudah biasa melihat bagaimana orang-orang menjalankan acara secara profesional, tapi baru WRC yang menjalankan balap virtual dengan sangat serius.

 

“Kami memulai WRC esports dengan WRC 5 (pada 2016) dan saya menciptakan bagian dari formatnya, Ketika itu, kami menjajaki jika WRC dapat dimainkan dalam lingkungan esports,” co-commentator Rene Buttler menjelaskan.

“Kami harus membangun semua dari nol. Kami tidak pernah melihat reli dalam esports hingga WRC berkecimpung di dalamnya. Sekarang, kami berada dalam arena Yunani yang luar biasa dan segala sesuatu telah bergerak maju.”

 

Pengembangan cepat ditekankan oleh juara esport WRC tiga kali, Lohan Blanc alias Nexl.

“Dalam dua tahun pertama, saya memainkannya dengan sebuah gamepad, dan menjadi juara pada 2017. Kemudian, saya ganti ke roda kemudi karena organisasi menginginkan event lebih profesional. Setelah itu, saya menang lagi pada 2019, sehingga saya telah menang dengan keduanya,” ujar pemenang edisi 2021.

“Gim selalu berkembang setiap tahun. Sangat impresif pekerjaan yang mereka lakukan untuk masing-masing gim dan keren menyaksikan (evolusi).”

 

Kompetisi virtual, bersama program FIA Rally Star, adalah sesuatu yang dilihat WRC sebagai sarana esensial untuk menarik penggemar baru yang lebih muda. Sifat langsung dari esports menciptakan tingkat interaksi di atas dan melebihi media tertulis atau siaran.

“Jika Anda melihat beberapa anak muda menemukan WRC, itu dari esports atau gim WRC sebelum kami punya esports,” Jared Grellet, Manajer Komunikasi WRC Promoter menuturkan.

 

“Sekarang kami punya simulator, apa yang mereka dapat lakukan di mesin ini tidak terlalu jauh dengan apa yang bisa dilakukan di mobil yang sesungguhnya dan kami tahu ini. Lihat (pereli Toyota Gazoo Racing WRT) Takamoto Katsuta mencatatkan beberapa waktu tercepat di dunia dalam etape Jepang gim WRC. Jadi (para pembalap WRC) melihat nilai dalam hal membantu mereka dalam etape nyata.”

KT Racing telah membuat gim lebih dari enam tahun. Sejak pertama kali membuatnya pada 2015, seri gim ini telah mengalami perkembangan yang cepat, dengan beragam etape bisa dimainkan dengan setelan kuat tertentu.

 

Juara bertahan Samie-Joe Abi Nakhle, meski tampak sangat percaya diri, merasa persiapannya jauh dari ideal.

“WRC 10 adalah sebuah gim baru, sayangnya, saya belum bisa banyak berlatih karena di Lebanon, kami mengalami pemadaman listrik 14 jam sehari. Tapi, pada akhirnya, saya akan bertahan dan melakukan yang terbaik. Saya masih bertarung untuk juara,” remaja sensasional Lebanon itu mengungkapkan.

Seiring berjalannya hari, arena yang awalnya berisi sembilan orang lantas dikurangi jadi empat setelah semi final yang melelahkan. Sungguh disayangkan, Honza Hujicek, Anthony Valadas, Lilian Richard, Panagiotis Zeniou dan Marco Bottinelli gagal lolos ke Grand Final.

 

John Bebnowicz-Harris alias Izamusing, berhasil melaju ke empat besar setelah menderita sepanjang hari karena diduga keracunan makanan. Dia sangat emosional ketika mengetahui hasil semifinal. Bersamanya, ada tiga favorit yang melaju ke Grand Final, yakni juara bertahan Sami-Joe dan Nexl, serta Dylan Noel.

“Datang di event ini, pace saya sedikit tidak jelas, karena saya tak mengira punya banyak waktu di WRC 10 seperti yang lain, tapi saya akan memberi yang terbaik. Saya selalu tetap optimistis dan saya akan melaju sekencang mungkin,” katanya.

“Saya mengincar posisi pertama. Tujuan saya adalah mencetak podium sekali dalam karier di kejuaraan dunia, tapi sekarang sudah selesai.

“Jadi, saya di sini dan melakukan persiapan dengan baik, lebih siap dari final kekuaraan dunia mana oun yang pernah saya ikuti,” penggemar Gilles Panizzi itu menjelaskan.

 

Pada akhirnya, partai final tidak mengecewakan. Empat etape, gabungan gravel dan aspal, semua baru bagi WRC 10 antara Estonia, Yunani dan Kroasia.

Setelah tiga etape, waktu etape sangat ketat, Nexl memenangi dua etape pembuka dengan Sami-Joe menempel di belakang, meski sempat berguling dan dapat penalti, selama seksi dasar Akropolis. Dia melawan lagi di permukaan tertutup Spanyol, lebih cepat empat detik dari lawan terdekatnya.

 

Pada etape akhir, kondisi cuaca sangat dinamis, dimulai dengan kering sebalum hujan mulai turun. Lapangan terbagi dalam pilihan ban.

Izamusing dan Sami-Joe keluar dengan ban basah, di mana dua anggota tim Race Clutch memilih ban slick setelah keputusan lambat Noel.

 

Pada bagian awal, mereka yang menggunakan ban beralur tampak kerepotan dan hujan turun pada paruh kedua. Meski begitu, gap dengan para pemimpin tidak berkurang drastis.

Ban slick menang, ditandai dengan Nexl menggondol gelar juara WRC esports ketiga serta mobil Toyota GR Yaris.

“Saya menggunakan ban slick dan etape akhir dijalankan saat hujan, jadi sangat sulit tapi kami mampu mengatasinya dengan tim membuat strategi tepat dan itu berfungsi dengan baik, jadi saya gembira,” kata pemenang yang rendah hati.

 

Emosi yang ditunjukkan oleh semua kompetitor sepanjang hari menunjukkan betapa penting talenta yang sedang naik daun itu.

Mereka berkompetisi dalam event resmi WRC, untuk hadiah lebih besar, selama akhir pekan WRC di dunia nyata dan disiarkan secara langsung. Bagi WRC, menempatkan perhatian di balik balap virtual memberi pemahaman murni bagi generasi muda saat ini, tanpa pandangan merendahkan dari seri motorsport lain.

Anda boleh dimaafkan jika berpikir kalau selama enam tahun terakhir hanya ada dua juara WRC: Ott Tanak dan Sebastien Ogier. Tapi bagi saya, ada enam karena Niklas Krellenberg, Jon Armstrong, Abi Nakhle dan Lohan Blanc juga merupakan kampiun yang berharga.

 
dibagikan
komentar
Patch F1 2021 Hadirkan Sirkuit Algarve dan Safety Car Baru

Artikel sebelumnya

Patch F1 2021 Hadirkan Sirkuit Algarve dan Safety Car Baru

Artikel berikutnya

MSGM Umumkan Daftar Pembalap Le Mans Virtual Series 2021/22

MSGM Umumkan Daftar Pembalap Le Mans Virtual Series 2021/22
Muat komentar