Analisis: Perlunya mendalami bisnis balap simulasi

dibagikan
komentar
Analisis: Perlunya mendalami bisnis balap simulasi
21 Des 2018 06.07

eSport balap, biasa disebut balap simulator atau sim racing, umumnya masih tertinggal saat video gim kompetitif lainnya tengah naik daun. Namun, Dom Duhan punya pemikiran lain.

Setelah kembali dari acara pertemuan Sim Racing pertama yang diadakan Porsche di Stuttgart, Jerman, saya merasa inilah saatnya balap esport lebih diperhatikan. Tak hanya berkat adanya investasi dari event tersebut, tapi juga visi jangka panjang untuk mengembangkan balap simulator, termasuk melibatkan para mitra untuk memperlebar jaringan.

Saya punya dua jabatan, sebagai bos Team Redline, grup yang menampilkan beberapa pembalap dunia nyata seperti Lando Norris dan Max Verstappen, serta di Studio 397, orang-orang di belakang rFactor2, salah satu gim balap paling realistis.

Beberapa tahun ke belakang, media umum semakin sering memakai kata ‘Esports’. Singkatnya, esport adalah video gim yang dimainkan secara kompetitif pada level tinggi dan disaksikan oleh banyak penonton baik secara daring (online) atau langsung di tempat. Ya, benar sekali. Seperti bermain gim tapi dengan taruhan lebih besar ketimbang eranya Spectrum dan Amiga (konsol era 80an). Kita berbicara soal bisnis miliaran dolar dengan hadiah total $25 juta (setara Rp362 miliar) di beberapa turnamen, ditonton jutaan kali lewat kanal video seperti Twitch.

F1 Esports

F1 Esports

Foto oleh: Sam Bloxham / LAT Images

Ini bukanlah hal baru. Pada 2000 Jonathan Wendell (nama maya Fatal1ty) menyapu bersih ajang Cyberathlete Pro League dan World Cyber lewat permainan menembak Quake. Ia meraih hadiah uang $100 ribu (setara Rp1,4 miliar, kurs saat ini) dalam setahun serta mendapat berbagai dukungan. Saya sendiri pernah mendapatkan £50 (setara Rp916.000, kurs saat ini) setelah mengikuti turnamen Wireplay TOCA 2 selama seminggu. Jelas, masa depan yang cerah.

Potensi kala itu terhalang oleh koneksi internet serta hanya diramaikan oleh beberapa judul, seperti Quake dan Starcarft. Kunci memainkan keduanya adalah ketersediaan jaringan internet. Kini telah banyak lebih banyak gim dengan berbagai variasinya.

Permainan balap yang kita sukai dan ingat juga punya sisi kompetitifnya. Pada 1998, Grand Prix Legends melangsungkan kompetisi tingkat dunia pertama. Meski tanpa hadiah uang banyak, ada 20 pembalap yang berlaga dengan gamepad setir dan biasa untuk saling beradu kencang dengan mobil Grand Prix 1967, seperti Jim Clark, Graham Hill, dan Dan Gurney hanya berbekal modem dengan kecepatan 28,8kbps. Selanjutnya hadirlah lomba lainnya dengan TOCA 2, Grand Prix 2, serta Super Monaco Grand Prix. Semuanya memiliki komunitas pemain kecil nan berkembang yang berfokus mencatatkan waktu terbaik, mengingat balapan dengan koneksi siput sangatlah sulit.

Era baru hadir ketika NASCAR 2003 buatan Papyrus (pengembang Grand Prix Legends) menjadi tenar. Tak hanya menghadirkan fisik luar biasa, gim kejuaraan NASCAR tersebut juga memungkinkan 43 pemain hadir di trek dalam waktu bersamaan. Hal ini memunculkan berbagai liga dan kejuaraan yang melahirkan jagoan balap simulator.

Lalu di manakah F1? Meski gim buatan EA menuai pujian, Formula One Management (FOM) mempersulit ranah multiplayer akibat masalah hak cipta. Keputusan tersebut jelas mencederai peluang F1 di ranah esport. rFactor membuat gebrakan lewat fitur modifikasi, termasuk untuk mobil F1. Komunitas pun kembali giat mengadakan kompetisi.

Pembalap GT Academy tengah berkompetisi

Pembalap GT Academy tengah berkompetisi

Foto oleh: Press Image

Meski berkembang pesat, tidak ada yang berubah soal hadiah hingga digelarnya GT Academy pada 2008 oleh waralaba gim Gran Turismo, dengan kesempatan bagi para pemenang untuk merasakan balap dunia nyata. Banyak mata terbuka bahwa para pemain pun bisa menggeber mobil betulan. Kemampuan dan kesadaran dari dunia maya bisa diterapkan ke dunia nyata, tidak seperti esport lain.

iRacing diluncurkan sebagai penerus NASCAR 2003, menghadirkan infrastruktur kompetitif yang menjadi basis kuat para pembalap. Baru-baru ini mereka mengumumkan total hadiah $100 ribu (setara Rp14,4 miliar) untuk kompetisi 2019. rFactor 2 merupakan platform dinamis, cocok untuk balap ketahanan, serta digunakan pada Visa Vegas eRace yang juga menampilkan pembalap profesional Formula E. Hadiahnya tidak main-main. Felix Rosenqvist merasa senang setelah berhasil membawa pulang $100 ribu.

Felix Rosenqvist, Mahindra Racing, event Vegas Erace

Felix Rosenqvist, Mahindra Racing, event Vegas Erace

Foto oleh: LAT Images

Tahun ini balap simulator berkembang pesat pesat, baik dalam jumlah pemain dan interaksinya. Musim kedua F1 Esports mampu menarik sekitar empat juta penonton televisi dan digital. Berbagai konten terus dihadirkan lewat kanal maya F1 untuk mendekati fans usia muda.

Gran Turismo juga turut meramaikan esport tahun ini bersama GT Sport. Setelah menghelat babak final di Amerika Serikat, Eropa, dan Asia, World Finals diadakan di Monako, dengan total tiga juta penonton melalui berbagai kanal. Judul-judul dengan banyak pemain seperti Gran Turismo sering kesulitan mendapat pemirsa karena dianggap sebagai gim kasual. Namun GT Sport menyuguhkan format tersendiri. Meski mendapat pengakuan FIA, terdapat opsi permainan supaya ban dan bahan bakar bisa habis 10 kali lebih cepat, memaksa para pemain masuk pit hingga tiga kali dalam balapan berdurasi 10 lap.

Pengumuman Le Mans Esports Series

Pengumuman Le Mans Esports Series

Foto oleh: JEP / LAT Images

Hampir semua pelaku otomotif dan balap tengah melirik esport. Porsche ingin membantu mengembangkan ekosistem, sementara McLaren tengah mengembangkan proyek Shadow. ACO (Automobile Club de l'Ouest, salah satu pihak penyelenggara Le Mans 24 Jam dan WEC) telah memulai kejuaraan Le Mans Esport, bekerja sama dengan Motorsport Network. WRC memiliki kejuaraan dunia, NASCAR dengan eNASCAR Heat Pro League (oleh 704 Games) serta Blancpain lewat gim Assetto Corsa Competizione. Ini hanyalah secuil dari banyaknya ajang yang akan hadir, menciptakan keberagaman serta peluang besar.

Pada 2017, salah seorang rekan setim saya, Enzo Bonito, berkesempatan tampil di Race of Champions usai memenangi eROC perdana. Ia hanya terpaut 0,4 detik dari Petter Solberg saat menjajal mobil balap sesungguhnya untuk pertama kali.

Gim balap memiliki kekuatan untuk menjaring fans balap baru. Bahkan banyak penggemar muda teredukasi lewat gim, alih-alih siaran langsung. Mereka tidak tertarik kepada balapan yang disajikan dengan cara lama. Saat Anda memiliki olahraga yang membutuhkan banyak dana bahkan pada level gokart, mengapa tidak mencoba balap simulator? Mudah diakses, menyenangkan, dan lebih kompetitif dari ajang balap manapun di dunia ini. Anda mungkin akan meraup pundi-pundi dalam jangka panjang bila mampu tampil bagus.

Virtually Entertained

Virtually Entertained

Foto oleh: Virtually Entertained event

Bagaimana gambaran masa depan? Untuk mereka yang berpikir konvensional, balap simulator bisa menjadi ancaman. Saya sendiri melihatnya sebagai pelengkap dunia balap. Gabungan esport dan motorsport akan membawa fans ke trek, itu juga menjadi harapan kita sebagai fans balap.

Kita akan melihat jumlah uang signfikan ke balap simulator. Cukup lumrah untuk beriklan di genre shooter Counter Strike atau gim kompleks seperti League of Legends. Balapan sangatlah ‘lezat’ dan mudah dipahami hingga mampu menyeberang ke ranah olahraga arus utama. Selain itu, otomotif terus berubah dan perlu berinvestasi untuk menggapai generasi baru.

Sebagai bos tim sekaligus pengembang video gim, saya sangat tertarik untuk mengarungi era keemasan balap simulator.

Juara Nascar Heat

Juara Nascar Heat

Foto oleh: Kathleen Martin

Next article
Motorsport Network akuisisi Virtually Entertained

Artikel sebelumnya

Motorsport Network akuisisi Virtually Entertained

Next article

Opini: Catatan esport balap Indonesia 2018

Opini: Catatan esport balap Indonesia 2018
Muat komentar

Tentang artikel ini

Kejuaraan eSports
Be first to get
breaking news