12 Sirkuit yang Masuk Kategori Terbaik

Ada banyak faktor yang membuat sebuah sirkuit jadi menarik. Beberapa di antaranya adalah tata letak, model tikungan, permukaan tanah, mendukung kecepatan dan aksi saling menyalip di antara pembalap.

12 Sirkuit yang Masuk Kategori Terbaik

Pemandangan indah di sekitarnya juga kadang dijadikan referensi untuk menyebut sebuah trek atraktif, meski mungkin para pembalap tak bisa menikmatinya selama balapan.

Spa-Francorchamps dan Nurburgring yang terletak di tengah pepohonan dan perbukitan masuk dalam kategori terbaik. Sama halnya dengan Monako, yang menggunakan jalan raya untuk memanggungkan aksi kebut-kebutan. Berikut 12 sirkuit terbaik versi Motorsport.com Indonesia.

1. Spa-Francorchamps

Sirkuit tersebut dibangun pada 1922 di Stavelot, Belgia. Sekarang memiliki panjang lintasan 7,004 km atau separuh dari trek awal.

Ada 19 tikungan, dengan perubahan elevasi hingga 102,2 meter antara titik tertinggi dan terendah.

Tikungan terkenal Eau Rouge, Blanchimont, La Source dan Pouhon dipertahankan ketika terjadi perombakan.

Level downforce rendah membuat tim-tim F1 mesti menyiasati dengan paket aerodinamika khusus yang mendukung kecepatan mobil di trek lurus.

Snow over Spa-Francorchamps

Snow over Spa-Francorchamps

Foto oleh: Circuit Spa-Francorchamps

2. Nurburgring

Sirkuit tersebut merupakan salah satu yang legendaris, digunakan pertama kali pada 1927, di Nurburg, Jerman. Awalnya ada tiga loop yang terkenal, yakni Sudschleife 7,747 km, Start und Ziel Schleife 2,238 km dan Nordschleife 20,810 km, menjadikan trek itu yang terpanjang. Karusell merupakan tikungan yang terkenal.

Sebutan ‘Neraka Hijau’ disematkan karena sangat berbahaya dan mengintimidasi pembalap dengan hutan di sekitarnya. Insiden GP Jerman 1976, yang membuat Niki Lauda terbakar dan hampir kehilangan nyawa, menimbulkan tanda tanya seputar keselamatan pembalap.

Pada 1984, dibangun trek baru di selatan Nordschleife dengan standar keamanan. Terakhir kali, lintasan digunakan untuk F1 musim lalu, di mana Lewis Hamilton sebagai pemenang.

3. Silverstone

Silverstone jadi tuan rumah F1 GP Inggris pada Mei 1950. Kompleks Maggotts/Becketts jadi salah satu ikon di sana.

Bekas pangkalan udara tersebut dipoles dengan tambahan tikungan dan chicane. Karakter mengalir dan cepat menjadikan trek itu favorit para pembalap mobil maupun motor.

Antusiasme para penggemar balap sangat tinggi ketika pilot lokal beraksi. Lewis Hamilton paling disanjung di sana.

Momen menarik terjadi ketika Nigel Mansell dikerumuni penggemar usai memenangi GP Inggris 1992, bersama Williams.

Pemandangan Sirkuit Silverstone

Pemandangan Sirkuit Silverstone

Foto oleh: Mark Sutton / Motorsport Images

4. Monza

The Temple of Speed dibangun pada 1922. Kecuali 1980, trek tersebut terus dipercaya jadi tuan rumah GP Italia hingga sekarang.

Trek tersebut memiliki sektor oval yang miring, dengan chicane dan tikungan ternama seperti Curva Grande, Variante Ascari, Curva di Lesmos dan Curva Parabolica. Minimnya tikungan pada lintasan sepanjang 5,793 km, membuat mobil bisa melaju kencang. Sayangnya, hanya ada sedikit run-off.

Sirkuit tersebut telah menelan korban 52 pembalap dan 35 penonton.

5. Suzuka

Trek ini awalnya difungsikan sebagai tempat tes Honda pada 1962. Tata letaknya berbentuk angka 8, menjadikannya unik. Hanya ada dua sirkuit yang mengantongi Grade 1 FIA dengan desain angka 8, Suzuka dan Fiorano.

Lintasan sepanjang 5,807 km, pertama kali digunakan untuk GP Jepang pada 1987. Tikungan 130R dan Spoon mencuri atensi.

Ayrton Senna pernah terlibat crash dengan Alain Prost, yang berujung pada jatuhnya gelar juara F1 1989 ke tangan pembalap Prancis. Musim berikutnya, pilot Brasil membalas dengan mendorong rivalnya ke luar trek.

Tikungan 130R didesain ulang usai Allan McNish mengalami insiden, dari tikungan kiri radius 130 derajat jadi apex ganda.

Atmosfer Suzuka 8 Hours

Atmosfer Suzuka 8 Hours

Foto oleh: FIM EWC

6. Monako

Sirkuit jalan raya tersebut menggunakan jalur di Monte Carlo dan La Condamine, sepanjang 3,337 km, mulai digunakan sebagai tuan rumah F1 1950. Jalur sempit dengan tikungan, terowongan dan seksi Casino membuat trek unik.

Fairmont Hairpin yang paling lambat, membuat para pembalap kesulitan menyalip. Belakangan,  balapan di sirkuit itu tampaknya menjadi membosankan. Namun, pemandangan saat kualifikasi masih jadi magnet.

7. De La Sarthe

Sirkuit De La Sarthe, yang identik dengan 24 Hours of Le Mans, digunakan pertama kali pada 1923, dengan panjang 13,629 km. Porsche Curves merupakan tikungan terbaik karena menawarkan sektor mengalir sekaligus rumit dan cepat.

Kecelakaan fatal yang dialami Allan Simonsen pada keluaran Tertre Rouge, membuat bagian itu dirombak. Balapan di sana membutuhkan strategi matang, kerja sama tim bagus dan kemampuan mengemudi jempolan.

Baca Juga:

 8. Circuito de Jerez-Angel Nieto

Beragamnya karakter tikungan menjadikan trek ini menarik. Para pembalap dituntut cerdik mengelola ban dan rem saat melaju di sirkuit sepanjang 4,429 km tersebut.

Sejak digunakan untuk menggelar balap motor pada 1987, mereka terus masuk dalam kalender MotoGP.

9. Circuit de Catalunya

Sirkuit tersebut terbentang sejauh 4,675 km dan pertama kali menyelenggarakan F1 GP Spanyol pada 1991. Duel Ayrton Senna dan Nigel Mansell yang sangat ketat menjadi salah satu momen tak terlupakan.

Tikungan melengkung datar dari lambat hingga cepat jadi kelebihan di masa lalu. Namun, di era mobil sangat menekankan pada aerodinamika, balapan di sana jadi kurang atraktif.

Sebaliknya, bagi pembalap MotoGP, justru trek tersebut memiliki daya tarik tersendiri. Kontur tanah bergelombang dan temperatur berubah cepat, menyulitkan dari sisi strategi terutama pemilihan ban. Namun, hal itu membuat mereka tertantang.

Circuit de Catalunya

Circuit de Catalunya

10. Sachsenring

Sirkuit tersebut jadi tuan rumah balapan Jerman Timur sejak tembok Berlin masih berdiri. Mereka menyulap jalan raya jadi sirkuit permanen, yang dilengkapi dengan tikungan cepat, hairpin lambat, serta perubahan ketinggian mendatangkan bahaya dan jatuh banyak korban.

Setelah melewati berbagai perombakan yang kurang memuaskan, akhirnya pada 2001, pengelola memanggil Herman Tilke. Desainer tersebut menambah belokan kanan menurun yang menghasilkan efek dramatis, yang disebut The Waterfall.

Musim 2021, Marc Marquez menjadikan trek ini titik balik dalam kariernya di MotoGP yang tampak suram setelah pulih dari cedera.

11. Interlagos

Pengelolaan sirkuit yang terletak di Brasil ini melewati berbagai momen sulit, yang berhubungan dengan situasi ekonomi dan politik.

Autodromo Jose Carlos Pace menggelar balapan perdana GP Brasil pada 1973. Dari awalnya panjang lintasan 8 km, lalu dipangkas setengah jadi 4,309 km.

Permukaan berbukit, plus Senna S dengan tambahan run-off, menjadikan trek ini menantang. Beberapa duel penentu juara dunia F1 tersaji di sini.

Kimi Raikkonen membawa pulang trofi juara F1 2007, setelah mengungguli para pembalap McLaren, Fernando Alonso dan Lewis Hamilton.

Musim berikutnya, pembalap Inggris tersebut menyalip Timo Glock di tikungan terakhir, lap penutup, sehingga mengalahkan Felipe Massa dalam perebutan juara. Sebastian Vettel mengamankan gelar F1 2012, meski melintir pada lap pertama.

12. Sirkuit Assen

Assen diklaim sebagai surganya balap motor. Awalnya, panjang lintasan 28,75 km, tapi makin lama berkurang hingga tinggal 4,555 km saat ini. Tata letaknya juga berangsur mengalami perubahan.

Lintasan lurus dan sektor untuk akselerasi kadang menghasilkan kerumitan. S-Botch dihilangkan, The Veenslang diluruskan. Ruskenhoek baru-baru ini diubah dengan jalur motor dibelah untuk menghindari chicane.

The Cathedral seolah memegang kontrak permanen dengan pengelola balap grand prix. Pasalnya, sejak 1949, mereka tak pernah dicoret dari daftar tuan rumah.

dibagikan
komentar
Max Verstappen Akui Cukup Beruntung dan Terbantu Sergio Perez
Artikel sebelumnya

Max Verstappen Akui Cukup Beruntung dan Terbantu Sergio Perez

Artikel berikutnya

Mercedes Layangkan Protes soal Kontroversi F1 GP Abu Dhabi

Mercedes Layangkan Protes soal Kontroversi F1 GP Abu Dhabi
Muat komentar