3 Pembalap ‘Usiran’ F1 pada 2018 yang Bersinar di Ajang Lain

Paling tidak ada tiga pembalap yang pernah berkarier sebentar di Formula 1 dan terpaksa pergi, namun kemudian justru mampu bersinar di disiplin balap mobil lainnya.

3 Pembalap ‘Usiran’ F1 pada 2018 yang Bersinar di Ajang Lain

Sekira tiga tahun setelah “terusir” dari Kejuaraan Dunia Formula 1, Marcus Ericsson, Brendon Hartley, dan Stoffel Vandoorne justru berhasil merebut trofi bergengsi ajang lain.

Ericsson berhasil memenangi balapan paling bergengsi di IndyCar Series, Indianapolis 500. Hartley, menguasai lomba paling diidamkan para pembalap ketahanan mobil, 24 Hours of Le Mans.

Sementara, Minggu (14/8/2022) kemarin, Vandoorne mampu merebut gelar di Kejuaraan Dunia Formula E 2021-2022.    

Ketiga pembalap menjalani karier singkat nan buruk di F1 sebelum akhirnya pergi pada akhir musim 2018. Pada akhir musim F1 2018 itu, Vandoorne hanya merebut 12 poin bersama McLaren untuk berada di P16.

Ericsson finis satu tingkat di bawah Vandoorne dengan 9 poin bersama Sauber. Adapun Hartley hanya berada di peringkat ke-19 setelah cuma mampu mengoleksi 4 poin bersama Scuderia Toro Rosso (berubah nama menjadi AlphaTauri sejak 2020).

Stoffel Vandoorne, Mercedes-Benz EQ, saat akan melangkah ke podium tertinggi Kejuaraan Dunia Formula E 2021-2022 setelah tuntasnya putaran terakhir, double-header Seoul E-Prix.

Stoffel Vandoorne, Mercedes-Benz EQ, saat akan melangkah ke podium tertinggi Kejuaraan Dunia Formula E 2021-2022 setelah tuntasnya putaran terakhir, double-header Seoul E-Prix.

Foto oleh: Sam Bloxham / Motorsport Images

Sejak 2014, Stoffel Vandoorne, menjadi pembalap orbitan McLaren dalam upayanya menembus F1. Pada 2015, pembalap asal Belgia itu menjadi reserve driver.

Vandoorne masih menjadi pembalap ketiga McLaren pada F1 2016 karena tim asal Woking, Inggris, itu memilih mempertahankan duet Fernando Alonso-Jenson Button.

Vandoorne sempat diminta menggantikan Alonso yang cedera, pada GP Bahrain 2016, balapan kedua musim tersebut. Vandoorne berhasil merebut 1 poin dengan finis P10.

Saat itu, ia menjadi reserve driver pertama yang mampu merebut poin pada debutnya di F1 setelah Sebastian Vettel melakukannya di GP Amerika Serikat 2007 untuk BMW Sauber F1.

Pada 2017, Vandoorne menjadi rekan setim Alonso. Tetapi, rapuhnya power unit Honda membuat dirinya tidak mampu finis lebih baik daripada dua kali P7.

Setahun kemudian, 2018, McLaren mengganti mesinnya dengan Renault. Hasilnya tidak terlalu berbeda bagi Vandoorne. Torehan finis terbaiknya hanyalah P8 (dua kali).

Pemenang Indianapolis 500 2022 Marcus Ericsson, Chip Ganassi Racing Honda, podium, Victory Lane, Borg-Warner Trophy, BorgWarner CEO Frédéric Lissalde.

Pemenang Indianapolis 500 2022 Marcus Ericsson, Chip Ganassi Racing Honda, podium, Victory Lane, Borg-Warner Trophy, BorgWarner CEO Frédéric Lissalde.

Foto oleh: Michael L. Levitt / Motorsport Images

Marcus Ericsson melakukan debut F1 pada 2014 bersama Caterham Racing, mobil terburuk di grid saat itu. Pada 2015, pembalap asal Swedia itu berlabuh ke Sauber, tim yang akhirnya dibela selama empat musim tanpa hasil memuaskan.

Pada musim terakhirnya sebagai pembalap reguler di Sauber, 2018, Ericsson mendapat rekan setim dengan bakat dan teknik menjanjikan, Charles Leclerc.

Pada 2019, Ericsson mulai turun penuh di IndyCar Series bersama Arrow Schmidt Peterson Motorsports. Saat itu, ia juga menjadi reserve driver Alfa Romeo.

Sejak musim 2020, Ericsson memperkuat salah satu tim kuat di IndyCar, Chip Ganassi Racing, untuk turun dengan mobil ketiga mereka. Tiga kali sudah Ericsson berhasil memenangi lomba, dua di antaranya tahun lalu (Detroit dan Nashville).

Tahun ini, Ericsson berhasil memenangi balapan paling bergengsi di IndyCar Series, Indianapolis 500. Turun dengan mobil Chip Ganassi Racing bernmor #8, Ericcson kini berada di peringkat ketiga klasemen pembalap dengan tiga balapan tersisa.

#8 Toyota Gazoo Racing Toyota GR010 Hybrid of Sebastien Buemi, Brendon Hartley, Ryo Hirakawa

#8 Toyota Gazoo Racing Toyota GR010 Hybrid of Sebastien Buemi, Brendon Hartley, Ryo Hirakawa

Foto oleh: Nikolaz Godet

Brendon Hartley mengawali karier balap profesional dengan bergabung di program Red Bull Junior Team pada 2008. Tetapi, sampai 2011, pembalap asal Australia itu tidak pernah mampu menempati posisi lebih dari pembalap penguji ataupun cadangan.

Saat kesempatan terbuka pada 2012, Red Bull lebih memilih kompatriot Hartley, Daniel Ricciardo, untuk membela Toro Rosso.

Pada pertengahan September 2012, Hartley sempat mengikuti tes pembalap muda bersama Mercedes di Magny-Cours, Prancis. Saat itu, Hartley menyebut tes di simulator dan test drive bersama Mercedes akan memberinya kesempatan baru untuk kembali ke F1.

Faktanya, pada 2014, Hartley justru mulai menjajaki turun di Kejuaraan Dunia Balap Mobil Ketahanan (WEC) bersama Porsche di kelas LMP1.

Setahun kemudian, 2015, Hartley berperan besar membantu Porsche memenangi gelar WEC kelas LMP1 dengan rekan setim Mark Webber dan Timo Bernhard.

Baca Juga:

Masih bersama Porsche, Hartley kembali merebut gelar WEC di kategori LMP1 pada 2017 bersama rekan setim Bernhard dan Earl Bamber. Pada tahun yang sama, Hartley juga memenangi 24 Hours of Le Mans 2017 bersama Bamber dan Bernhard.

Prestasi gemilang di WEC membuat Red Bull meminta Hartley kembali ke F1 untuk memperkuat Toro Rosso. Hartley menggantikan Pierre Gasly (yang harus turun di balapan terakhir Super Formula) di GP Amerika Serikat 2017.

Selanjutnya, Hartley mengisi posisi Daniil Kvyat di tiga balapan terakhir F1 2017. Hartley memang tidak mendapatkan poin dari empat balapan tersebut. Namun, Red Bull masih mempercayainya dengan memintanya turun untuk Toro Rosso pada F1 2018.

Hartley harus menerima kenyataan pahit karena selalu kalah dari Gasly sepanjang F1 2018. Ia hanya mampu mencetak poin di tiga dari total 21 balapan musim tersebut.

Hartley pun akhirnya memutuskan kembali ke WEC dan memperkuat Toyota Gazoo Racing sejak 2019. Pada 2020, Hartley memenangi 24 Hours of Le Mans kedua dengan rekan setim Sebastien Buemi dan Kazuki Nakajima. Saat itu, Toyota juga menjuarai WC kelas LMP1.

Saat kelas Hypercar menggantikan LMP1 mulai 2021, trio Hartley-Buemi-Nakajima harus puas finis di posisi kedua Le Mans. Hartley akhirnya memenangi 24 Hours of Le Mans ketiga pada tahun 2022 ini, masih bersama Toyota dengan rekan setim Buemi dan Ryo Hirakawa.  

#8 Toyota Gazoo Racing Toyota GR010 Hybrid saat turun di 24 Hours of Le Mans yang digeber trio pembalap: Sebastien Buemi, Brendon Hartley, dan Ryo Hirakawa.

#8 Toyota Gazoo Racing Toyota GR010 Hybrid saat turun di 24 Hours of Le Mans yang digeber trio pembalap: Sebastien Buemi, Brendon Hartley, dan Ryo Hirakawa.

Foto oleh: Eric Le Galliot

 

dibagikan
komentar
Toto Wolff Sulit Lupakan F1 GP Abu Dhabi 2021
Artikel sebelumnya

Toto Wolff Sulit Lupakan F1 GP Abu Dhabi 2021

Artikel berikutnya

Rekrut Alonso Bukti Aston Martin Bukan Pelengkap Grid F1

Rekrut Alonso Bukti Aston Martin Bukan Pelengkap Grid F1