Analisis: Mengapa prosedur start yang baru membuat pembalap F1 sakit kepala

Ketika Formula 1 memperkenalkan prosedur start yang baru, banyak yang tidak mengira hal tersebut menjadi salah satu faktor kunci dalam penentuan perebutan juara dunia musim ini.

Menjelang fase akhir musim 2016, kita semakin mengetahui, bahwa pertarungan antara Nico Rosberg dan Lewis Hamilton lebih sering ditentukan pada detik-detik awal balapan.

Kecepatan yang dimiliki oleh kedua pembalap sebenarnya tidak jauh berbeda. Namun, mereka berdua cukup jarang berduel di trek, karena seringnya, salah satu pembalap kesulitan saat memasuki tikungan pertama.

Hamilton menjadi pembalap yang lebih sering terkena dampak start buruk. Setelah jeda musim panas, ia harus kehilangan pimpinan klasemen setelah melakukan start buruk seperti saat di Monza dan Suzuka.

Tetapi pertanyaannya, meskipun kita sudah memasuki paruh akhir musim, mengapa masih banyak pembalap yang kesulitan dengan prosedur start baru ini?

Peraturan baru

Kedua pembalap Mercedes, Rosberg dan Hamilton, sebenarnya tidak sendirian dalam ‘perkumpulan’ pembalap yang kerap mengalami kesulitan saat start. Pembalap lain seperti Max Verstappen juga mengalami masalah start di balapan Spa, Monza, dan Singapura. Tetapi memang, kedua pembalap Mercedes menjadi pembalap yang paling banyak disoroti, karena mereka berdua kerap tampil di barisan terdepan.

Masalah persepsi ini yang ingin ditekankan oleh bos tim Mercedes, Toto Wolff. Ia menganggap timnya sering dikira mengalami masalah paling parah dibandingkan dengan rival-rivalnya.

“Kesalahan kami lebih mudah terlihat saat mobil-mobil kami berada di posisi terdepan,” ujar Wolff. ”Ketika kami melakukan kesalahan, semua orang dapat melihatnya.”

“Ada performa yang sesungguhnya, dan ada performa yang hanya sebuah persepsi, kami memiliki data untuk keduanya. Kami memiliki data tersebut, karena Anda dapat memiliki persepsi tingkat reliabilitas dan persepsi performa yang berbeda dari keadaan sebenarnya.”

Tantangan yang lebih berat

Tujuan dari perubahan peraturan start yang diberlakukan mulai musim ini adalah untuk mempersulit para pembalap. Mereka berharap hal tersebut dapat membuat balapan semakin menarik, terutama di fase awal balapan.

Sederhananya, setiap pembalap hanya diperbolehkan menggunakan paddle kopling tunggal saat melakukan start. Selain itu, mereka juga dilarang menerima informasi dari teknisi balap setelah melakukan formation lap. Pada musim-musim sebelumnya, teknisi balap kerap memberikan informasi setelan gigitan kopling kepada pembalapnya.

Rob Smedley dari tim Williams menjelaskan: “Sebelum-sebelumnya, kami biasanya memberikan informasi kepada pembalap kami untuk mengatur gigitan kopling di tempat-tempat tertentu.

“[Ketika lampu start padam] mereka akan melepas paddle kopling pertama. Mobil akan mulai bergerak, tetapi mereka harus menunggu mendapatkan gigitan kopling yang sempurna.

“Begitu pembalap mendengar suara ‘tit’ di telinga mereka, paddle kopling kedua harus dilepas. Pembalap harus tetap menginjak pedal gas mereka, dan mobil akan melesat meninggalkan grid.Kini semuanya menjadi berbeda.”

Menentukan tingkat cengkeraman

Perubahan pada musim ini, memberikan efek berganda. Dengan sistem paddle kopling tunggal, setiap pembalap harus dapat mengatasi pergerakan awal mobil, dan kemudian fase akselerasi mobil sebelum roda berhenti berputar.

Kemudian, pembalap juga tidak bisa lagi menerima informasi gigitan kopling, dan kini harus memaksimalkan start mereka melalui latihan start menjelang formation lap.

Kini, setiap pembalap harus dapat menentukan tingkat cengkeraman yang mereka miliki di grid – berdasarkan permukaan trek, dan temperatur ban.

Melakukan satu kesalahan saja dalam prosedur di atas, dapat membuat mobil mereka terjebak di awal-awal balapan, atau justru mengalami wheelspin. Dua skenario tersebut sama-sama dapat membuat mereka tercecer di rombongan belakang saat memasuki tikungan pertama.

Menurut Felipe Massa, fase start menjadi sebuah area di mana detail terkecil dapat berdampak besar. Pembalap juga tidak dapat melakukan banyak hal untuk mempersiapkan apa yang akan mereka alami di trek saat start.

“Tahun-tahun sebelumnya, biasanya teknisi balap kami yang ‘melakukan’ start,” ujar pembalap Williams itu. “Kompling sudah diatur dari awal, dan kami tinggal bergerak ke grid kami.

“Teknisi balap kami kemudian melihat tingkat cengkeraman pada ban kami, dan kemudian berkata ‘ya atur ke kopling 5’ karena ia percaya pengaturan tersebut adalah yang terbaik – sehingga kami mendapatkan cengkeraman yang pas saat start.

“Saat itu, kita juga menggunakan paddle kopling ganda, sehingga sangat sulit bagi kita untuk melakukan kesalahan. Sekarang, semuanya menjadi berbeda karena kita hanya memiliki satu paddle.

“Sekarang kita harus melakukannya secara lebih manual dibandingkan yang kita lakukan sebelumnya.”

Merefleksikan apa yang sebenarnya terjadi saat pembalap melakukan start yang buruk, rekan satu tim Massa, Valtteri Bottas berkata: “Bisa karena ban belakang tidak mendapatkan temperatur yang cukup saat formation lap – dan akibatnya melakukan wheelspin. Atau bisa juga karena kopling yang digunakan tidak bekerja seperti yang diperkirakan – karena perubahan temperatur.

“Ada banyak hal yang bisa salah saat start. Kita harus berusaha menjaganya agar tetap sederhana. Rasakan cengkeramannya, analisis formation lap kita, dan kemudian menentukan berapa besar cengkeraman yang akan kita miliki saat start.”

Inkonsistensi

Masalah inkonsistensi pada sistem kompling sering diperbincangkan beberapa kali oleh Mercedes – masalah yang masih dicari solusinya oleh Mercedes sejak start buruk Hamilton di Australia.

Jangan lupa juga dengan apa yang terjadi di Singapura. Pada malam hari Sabtu, Red Bull menyadari ada yang salah dengan kopling yang digunakan oleh Verstappen. Menurut Red Bull, kopling tersebut tidak bekerja secara konsisten seperti yang mereka harapkan. Tetapi, permohonan mereka kepada FIA untuk dizinkan melakukan pergantian kopling ditolak karena dianggap tidak ada yang rusak.

Mercedes menyadari, solusi permanen untuk masalah kopling mereka tidak dapat ditemukan saat musim sedang berjalan. Hal tersebut membuat Hamilton dan Rosberg untuk terus meningkatkan usaha mereka, meskipun masalah masih tetap membayangi mereka.

Tim juga telah berusaha sebaik mungkin untuk dapat membantu pembalap mereka. Termasuk dengan pendekatan ilmiah seperti letak jari di paddle kopling dan jahitan pada sarung tangan mereka.

Wolff menambahkan: “Sistem kopling yang kami berikan kepada mereka memang belum sempurna. Sangat sulit bagaimana pembalap harus memegang dan melepas kopling mereka. Sampai-sampai kami harus mengubah desain sarung tangan agar lebih cocok dengan prosedur kopling itu.

“Seseorang bahkan melakukan studi bagaimana panjang jari tengah Nico dapat menentukan gigitan kopling yang pas, dan juga perubahan proses penjahitan sarung tangannya."

Yang jelas, hingga saat ini, Mercedes masih belum memiliki sistem yang pas untuk prosedur start mereka. Sementara untuk masalah kopling, mereka harus menunggu hingga musim 2017 untuk mendapatkan kopling yang lebih baik.

Jadi mulai sekarang, terus pantau fase start balapan, karena siapa tahu, detik-detik awal balapan, akan menentukan siapa yang menjadi juara dunia di tahun ini. Apakah Rosberg atau Hamilton? Yang akan semakin frustasi dengan start mereka, dimulai dari balapan di Austin pekan ini.

Tulis komentar
Tampilkan komentar
Tentang artikel ini
Kejuaraan Formula 1
Pembalap Lewis Hamilton , Felipe Massa , Nico Rosberg , Valtteri Bottas , Max Verstappen
Tim Red Bull Racing , Mercedes , Williams
Tipe artikel Analisis
Tag wolff