Sign up for free

  • Get quick access to your favorite articles

  • Manage alerts on breaking news and favorite drivers

  • Make your voice heard with article commenting.

Motorsport prime

Discover premium content
Berlangganan

Edisi

Indonesia
Formula 1 Monaco GP

Apa yang Terjadi di Balik Kecepatan Level F2 di F1 GP Monako

Beberapa pembalap dengan sengaja memperlambat laju mereka di F1 GP Monako hingga mendekati level F2 yang menambah rasa frustrasi bagi lawan-lawannya.

Charles Leclerc, Ferrari SF-24, Oscar Piastri, McLaren MCL38, Carlos Sainz, Ferrari SF-24, Lando Norris, McLaren MCL38, George Russell, Mercedes F1 W15

Dengan hampir tidak mungkin menyalip pada balapan Minggu (26/5/2024), dan semua mobil melakukan pergantian ban saat bendera merah di lap pembuka, satu-satunya harapan bagi beberapa pembalap untuk memberikan tekanan nyata pada mobil di depan adalah dengan berharap jarak pitstop 19 detik yang dibutuhkan akan terbuka di belakang mereka.

Hal ini akan memungkinkan mereka berhenti lagi untuk mengganti ban dan dengan cepat menutup jarak mereka sendiri atau berharap safety car akan membantu mereka.

Kemungkinan pertama terbuka karena George Russell (Mercedes) sangat konservatif dalam menyelesaikan balapan dengan ban medium, meninggalkan jarak yang makin jauh dengan McLaren yang berada di posisi keempat, Lando Norris.

Namun, Ferrari memahami bahayanya, jadi mereka menginstruksikan Charles Leclerc untuk menggunakan posisi lintasannya yang tidak dapat diganggu gugat di jalan-jalan sempit untuk menggunakan kecepatan konservatif.

Hal itu membuat Leclerc membantu Oscar Piastri dan Carlos Sainz di belakang Norris, dengan jarak antara Norris dan Russell sebagian besar dijaga di bawah batas 19 detik. Pada akhirnya, pilot Inggris hanya memiliki satu kesempatan berisiko untuk masuk pit, yang tidak diambil oleh McLaren.

Baca Juga:

Strategi itu sebenarnya mempersulit Leclerc, dalam upaya untuk meraih kemenangan kandang pertama. Berada begitu jauh dari kecepatan tertinggi, dan masuk ke rentang kecepatan F2, sulit baginya untuk menemukan alur dan mengetahui di mana batasnya. Hal itu merupakan gangguan besar di sirkuit yang membutuhkan konsentrasi penuh.

"Kami memiliki target jarak dengan Russell yang tidak ingin kami buka terlalu lebar," jelas Leclerc. "Saya melaju sangat lambat di tengah balapan sehingga jika Anda mulai menekan, maka Anda tidak tahu di mana harus mengerem dan di situlah kesalahan bisa terjadi.

"Jadi, saya hanya ingin mendapatkan ritme dan mulai mendorong sedikit lebih banyak. Tapi jelas, tim mengatakan kepada saya: pelan-pelan, pelan-pelan, pelan-pelan."

Piastri yang berada di posisi kedua jelas merasa frustrasi dengan waktu putaran yang lambat, hingga mencapai 1:20-an ketika dalam kualifikasi pembalap mencapai 1:10-an, yang ia gambarkan sebagai "lebih lambat dari Formula 2".

Meskipun hanya beberapa lap awal, dengan bahan bakar tinggi, ia benar-benar berada di kecepatan F2, hal itu menggambarkan betapa jauhnya jarak antara para pemimpin klasemen. Perkiraan kerusakan senilai 0,250 detik yang dialami Piastri akibat tabrakan dengan Carlos Sainz terbukti tidak relevan.

Taktik ini juga diulangi di tempat lain, dengan Yuki Tsunoda (RB) melaju sangat lambat untuk melindungi diri dari serangan dari Pierre Gasly yang berada di urutan ke-10. Seperti Leclerc, Tsunoda tidak terlalu suka mengemudi di bawah kecepatan normalnya, tetapi ia mengikuti instruksi dari timnya.

Charles Leclerc, Ferrari SF-24, Oscar Piastri, McLaren MCL38, Carlos Sainz, Ferrari SF-24

Charles Leclerc, Ferrari SF-24, Oscar Piastri, McLaren MCL38, Carlos Sainz, Ferrari SF-24

Foto oleh: Sam Bloxham / Motorsport Images

"Saya harus selalu menghormati strategi yang kami rencanakan," jelas Tsunoda. "Terkadang saya harus melambat untuk memastikan bahwa mobil-mobil di belakang tidak melakukan pit stop atau memastikan bahwa mereka tidak bisa menyalip kami.

"Hal itu cukup membuat frustasi sebagai pembalap, terutama ketika Anda tahu bahwa ada banyak kecepatan yang akan datang. Tapi, kami harus tetap berpegang pada apa yang dikatakan tim.

“Itu bukan perasaan yang menyenangkan, tetapi kami telah mendiskusikannya sebelum balapan dan saya benar-benar senang dengan apa yang telah saya lakukan dan tidak terlalu serakah dengan ban."

Albon menjelaskan betapa lambatnya kecepatan Tsunoda, dengan pembalap Jepang itu memberikan waktu lebih dari 45 detik kepada pembalap Mercedes Lewis Hamilton di depan, yang menggunakan celah tersebut untuk mencoba menyalip Max Verstappen.

Pembalap Williams tersebut bisa saja menukar mobilnya dengan sebuah Vespa dan masih bisa mengimbangi Hamilton.

"Ini menjengkelkan karena ia memiliki kecepatan yang tinggi... Saya senang bisa mengatur (kecepatan) tetapi kami tidak perlu mengatur sebanyak ini," Albon menggelengkan kepalanya sambil tersenyum kecut. "Dia mengatur begitu banyak hal, saya seperti, saya bisa keluar dan mengendarai Vespa saya di sekitar sini. Rasanya sangat lambat. Itu sangat menyakitkan.

"Sebenarnya, sulit untuk tetap fokus ketika Anda melaju selambat itu karena Anda bahkan tidak berada di dekat apa pun. Anda tidak berada di dekat batas apa pun."

Yuki Tsunoda, RB F1 Team VCARB 01, Alex Albon, Williams FW46

Yuki Tsunoda, RB F1 Team VCARB 01, Alex Albon, Williams FW46

Foto oleh: Mark Sutton / Motorsport Images

Hal yang paling penting adalah persetujuan RB agar Tsunoda menjalankan kecepatannya sendiri di beberapa lap terakhir, yang dengan penuh semangat dimanfaatkan oleh pembalap Jepang tersebut setelah balapan yang penuh dengan kejenuhan.

Dari waktu putaran antara 1:18 dan 1:20, Tsunoda tiba-tiba melesat dan menurunkan waktu putarannya menjadi 1:15,4, 1:14,9, 1:15,2 dan 1:14,7.

"Ia benar-benar melesat di akhir balapan," ucap Albon sambil tertawa. "Saya berpikir, kami bisa saja melakukan hal ini sepanjang waktu! Tapi, dia memutuskan untuk tidak melakukannya ...."

Meskipun hari Sabtu memberikan tontonan yang mendebarkan saat kualifikasi, Minggu akhirnya menyelesaikan kisah penebusan Leclerc di Monako. Bagaimana favorit publik tuan rumah itu bisa sampai di sana jauh lebih mudah dilupakan.

Namun setelah dua pole yang berubah menjadi patah hati, hal tersebut akan menjadi sesuatu yang paling tidak dikhawatirkan oleh Leclerc.

Be part of Motorsport community

Join the conversation
Artikel sebelumnya Efek Tabrakan Ocon-Gasly, Alpine Jajaki Ganti Pembalap
Artikel berikutnya Ben Sulayem Dorong Andretti Akuisisi Tim F1 yang Sudah Eksis

Top Comments

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak menulis sesuatu?

Sign up for free

  • Get quick access to your favorite articles

  • Manage alerts on breaking news and favorite drivers

  • Make your voice heard with article commenting.

Motorsport prime

Discover premium content
Berlangganan

Edisi

Indonesia