Loncat ke konten utama

Bagaimana Dampak Kebijakan Tarif Trump pada F1

Setelah menghadapi krisis keuangan tahun 2009 dan dampak dari pandemi COVID baru-baru ini, Formula 1 mungkin akan menghadapi tantangan lain setelah tarif global yang diberlakukan oleh Amerika Serikat.

Mohammed Ben Sulayem, President, FIA, meets Donald Trump

Mynt

Bitcoin e criptomoedas? Invista na Mynt.com.br, a plataforma cripto do BTG Pactual

Formula 1 akan bersiap-siap menghadapi dampak potensial dari tarif yang baru saja diumumkan oleh Presiden AS, Donald Trump, menurut pakar industri Mark Gallagher.

Dengan pasar global yang goyah dan masalah yang sudah muncul dari tarif baru yang diperkenalkan pekan lalu - meskipun Trump mengumumkan pada Rabu (9/4/2025), bahwa akan ada jeda 90 hari untuk tarif yang lebih tinggi yang berlaku untuk lusinan negara - F1 hampir pasti akan merasakan tekanan di daerah-daerah tertentu.

Grand Prix Jepang adalah balapan akhir pekan pertama sejak kebijakan baru ini diumumkan dan jelas bahwa dampaknya akan terasa. Namun, bagaimana dampaknya terhadap seri ini masih belum diketahui secara pasti.

Industri otomotif secara keseluruhan tidak diragukan lagi akan terpukul oleh tarif, beberapa di antaranya diberlakukan sebagian besar karena apa yang diyakini oleh Trump dan timnya sebagai sistem yang tidak adil dalam impor dan ekspor mobil serta komponen mobil.

Mark Gallagher, yang pernah bekerja sebagai direktur pemasaran di Jordan dan kepala urusan komersial Red Bull dan sekarang menjadi CEO Performance Insights, memberikan pendapat ahli tentang bagaimana tim dapat terjebak dalam janji tarif yang luas.

"Ini masih hari-hari awal dan masih harus dilihat apa dampaknya terhadap Formula 1," katanya dalam siniar James Allen on F1.

"Ketika Anda melihat produsen mobil di Formula 1, Mercedes-Benz menjual 325.000 kendaraan di Amerika Serikat tahun lalu. Mercedes menjual sekitar 2 juta mobil tahun lalu, sekitar 2,5 juta atau 2,6 juta kendaraan secara total. Jadi, itu adalah proporsi yang masuk akal dari penjualan Mercedes.

Donald Trump, 45th President of the United States, Zak Brown, CEO, McLaren Racing

Donald Trump, Presiden Amerika Serikat ke-45, Zak Brown, CEO McLaren Racing

Foto oleh: Steven Tee / Motorsport Images

"Namun, ketika Anda melihat Ferrari dan Anda melihat McLaren, Anda akan mulai melihat perubahan seismik. Jadi 46 persen dari seluruh penjualan McLaren... penjualan grosir ada di Amerika Utara, dan sebagian besar di Amerika Serikat, bukan Kanada.

"Saya pikir ada tantangan yang sangat menarik di sana. Sekitar 25 persen dari semua mobil yang keluar dari Maranello berakhir di Amerika Serikat, dengan California sendiri sebagai salah satu pasar terbesar untuk Ferrari.

"Jadi potensi dampaknya sangat, sangat signifikan bagi semua pabrikan di Formula 1, meskipun dengan satu pengecualian yang mencolok, yaitu Renault. Renault menarik diri dari pasar Amerika Serikat pada  1987 dengan merek Renault, dan mereka tidak berencana untuk membawa Alpine ke pasar hingga 2027. Jadi, Anda tahu, Renault adalah salah satu yang agak menonjol.

"Namun bagi pabrikan lain, ini adalah tantangan besar dan utama saat ini. Dan itu juga termasuk General Motors, yang, tentu saja, seperti yang Anda tahu, akan masuk ke Formula 1 dengan tim Cadillac yang baru."

Haas adalah satu-satunya tim yang berbasis di Amerika yang sudah berada di grid, tetapi, meskipun Haas Automation telah merilis pernyataan sebagai reaksi atas tarif tersebut, Motorsport.com memahami bahwa tim F1 tersebut berharap tidak akan terpengaruh.

"Haas Automation sedang dalam proses mempelajari dampak penuh dari tarif pada operasi kami," bunyi pernyataan itu.

"Dalam beberapa hari terakhir, kami telah melihat penurunan dramatis dalam permintaan peralatan mesin kami dari pelanggan domestik dan asing. Sebagai langkah antisipasi, kami telah mengurangi produksi dan meniadakan lembur di satu-satunya pabrik kami di Oxnard, California, tempat kami mempekerjakan 1.700 pekerja dan telah beroperasi sejak 1983. Kami juga telah menghentikan perekrutan dan menunda permintaan tenaga kerja baru.

Haas is keeping a watchful eye on tariff-related developments

Haas terus mengawasi perkembangan terkait tarif

Foto oleh: Clive Mason/Getty Images

"Meskipun tarif akan berdampak signifikan pada bisnis Haas Automation, kami optimis bahwa Pemerintahan Trump akan menemukan solusi untuk memberikan keringanan bagi produsen AS - solusi yang akan memungkinkan kami untuk terus memproduksi mesin CNC Haas di AS, sambil mempekerjakan ribuan pekerja di pabrik kami di Oxnard dan secara tidak langsung di Haas Factory Outlets di seluruh Amerika.

"Haas Automation secara khusus prihatin dengan potensi penurunan tarif pada peralatan mesin dari negara-negara tertentu, seperti Jepang, Taiwan, dan Korea, tanpa penurunan tarif yang sesuai untuk bahan baku dan komponen yang diimpor ke AS. Skenario seperti itu akan menjadi bencana bagi industri peralatan mesin AS senilai 5 miliar dolar AS (sekira Rp84 triliun), yang merupakan komponen utama keamanan nasional AS.

"Peralatan mesin sangat penting bagi seluruh infrastruktur manufaktur di AS. Kami berharap Pemerintahan Trump menindaklanjuti janjinya untuk melindungi manufaktur Amerika dengan mendukung industri peralatan mesin AS, khususnya (1) pembebasan tarif untuk bahan baku dan komponen yang penting bagi industri peralatan mesin AS, dan (2) mempertahankan tarif untuk peralatan mesin yang diimpor."

Selain dampak potensial pada tim secara internal, kemungkinan mitra dan sponsor harus mempertimbangkan pengetatan anggaran mereka selama beberapa bulan mendatang dengan kondisi tidak menentu yang juga dapat menyebabkan masalah di kemudian hari.

"Kami baru saja melakukan analisis terhadap semua sponsor di Formula 1, (serta) tim-tim dan kejuaraan dunia dan balapan individu," tambah Gallagher.

"Pengaruh Amerika di Formula 1 dapat dilihat di mana-mana, baik karena keputusan dibuat di Amerika Serikat sejak awal, atau karena Amerika Serikat merupakan pasar yang sangat penting bagi perusahaan-perusahaan.

"Saya berbicara tentang perusahaan seperti LVMH, yang baru saja mengumumkan kontrak 10 tahun di Formula 1. Jadi kenyataannya adalah ini akan berdampak, tentu saja dalam jangka pendek - dan saya akan memberikan batasan - dan saya pikir tiga hingga enam bulan ke depan, saat kita melihat apa yang akan terjadi dari keputusan era Trump tentang tarif ini.

Greg Maffei, CEO, Liberty Media Corporation

Greg Maffei, CEO, Liberty Media Corporation

Foto oleh: Zak Mauger / Motorsport Images

"Jika ketidakpastian dan kegelisahan berlanjut hingga musim panas, dan semoga saja tidak sampai musim gugur, Anda bisa melihat hal ini benar-benar mulai berdampak signifikan pada negosiasi selama musim 2026.

"Tidak diragukan lagi, ketika Anda mundur selangkah, ketidakpastian atas hubungan Amerika Serikat dengan seluruh dunia dan dampak ekonomi dari tarif administrasi Trump ini benar-benar sangat signifikan."

F1, dan olahraga motor secara umum, telah mengalami beberapa pukulan selama bertahun-tahun, namun Gallagher yakin pemilik Liberty Media tidak memiliki alasan untuk panik.

"Ini akan mempengaruhi Formula 1, baik itu produsen mobil, baik itu sponsor di olahraga ini, atau sejujurnya, hanya dampak ekonomi secara keseluruhan secara global," jelasnya.

"Kami di Formula 1 telah mengalami beberapa tantangan yang cukup besar selama 20 tahun terakhir. Pikirkan tentang larangan sponsor rokok di Uni Eropa, krisis keuangan tahun 2008, belum lagi pandemi global.

"Jika Anda kembali ke krisis keuangan besar terakhir, hal itu menyebabkan mundurnya Honda, Toyota, dan BMW. Dan tentu saja, itu hanya beberapa tahun setelah Ford meninggalkan Formula 1. Jadi kami telah melihat tantangan besar sebelumnya.

"Liberty Media dan tentu saja para pemegang saham di sana, mereka akan mengikuti apa yang terjadi di Wall Street dengan sangat, sangat hati-hati.

"Perusahaan ini terdaftar di Bursa Efek New York. Ada tiga peristiwa besar di Amerika Serikat... pandangannya adalah bahwa beberapa minggu ke depan akan menjadi roller coaster yang menarik sementara pemerintahan Trump dan para pemimpin dunia mencoba mencari tahu tatanan dunia yang baru ini. Bisnis harus tetap tenang."

Baca Juga:
 
Artikel sebelumnya Sensasi Red Bull: Pembalap Sim di Balik Set-up Mobil Pemenang Verstappen
Artikel berikutnya Jadwal F1 GP Bahrain: Persaingan Verstappen dan Norris Makin Ketat

Top Comments