Bagaimana Mercedes Kembalikan Daya Saing atas Red Bull?

Kenyamanan Mercedes diacak-acak oleh Red Bull Racing. Ketimpangan antara kedua tim F1 terlihat makin nyata dalam Grand Prix Styria. The Silver Arrows pun menghadapi dilema terkait rencana pengembangan mobilnya.

Bagaimana Mercedes Kembalikan Daya Saing atas Red Bull?

Menjadi juara F1 tujuh tahun beruntun, membuat Mercedes terlena sehingga tidak terlalu fokus dalam pembuatan W12 sepanjang musim dingin. Apalagi ini adalah musim terakhir sebelum era baru yang dimulai pada 2022.

Untuk mengkamuflase, tim yang dipimpin Toto Wolff itu selalu mengeluh seolah mesinnya kurang mumpuni. Red Bull, yang sudah hapal dengan gelagat Mercedes, tak lengah dan melanjutkan proyek RB16B dengan mesin Honda mutakhir, yang mestinya bakal digunakan untuk musim depan.

Berbekal kerja keras dan perbaikan di sana sini, Die Rotten Bullen berhasil memblok peringkat pertama dalam empat lomba terakhir. Tiga kemenangan disumbangkan Max Verstappen dan sisanya Sergio Perez. Pukulan ini baru pertama kali didapat Mercedes selama era hybrid turbo V6.

Di GP Styria, putra eks pembalap F1, Jos Verstappen itu berada di depan sepanjang lomba. Ini artinya, ia unggul dalam 332 lap sepanjang musim atau 65,8 persen, sementara Hamilton memimpin 122 putaran.

Rapor tersebut menyadarkan Wolff dan krunya bahwa kualitas mobil yang jauh di bawah lawannya. “Untuk pertama kali dalam tujuh atau delapan tahun, ada sebuah balapan di mana Anda sadar bahwa paket Anda tidak cukup tangguh,” kata pria Austria itu.

Baca Juga:

“Tapi kami tidak punya senjata ketika mendekati trek lurus saat ini. Tidak pernah di sana dalam beberapa balapan. Downforce juga hilang. Anda bisa lihat Red Bull dapat memasang wing dan masih bisa kencang di tikungan.”

Kondisi yang kurang menguntungkan membuat tekad bos Mercedes tersebut untuk menyudahi pemutakhiran W12, goyah. Sementara itu, Direktur Teknik James Allison memberitahukan apa saja yang akan diperbaiki untuk menghidupkan asa di sisa musim.

“Bakal ada beberapa perubahan aerodinamika. Sedikit pada power unit, dari sisi pengiriman, dan beberapa hal yang kurang rapi seperti yang kami inginkan. Kami masih punya kesempatan memperbaikinya, musim ini,” ia mengungkapkan.

Ketika Mercedes meraba bagian mana yang perlu dipoles tanpa menyalahi regulasi, Red Bull sudah bergerak dengan inovasi sayap fleksibel yang selanjutnya menimbulkan protes dan komentar negatif. Selain itu, mereka juga menggunakan oli baru dengan tambahan bahan kimia untuk kosmetik yang membuat mesin tak mudah panas, sehingga bisa digeber lebih lama.

Untuk lomba di Red Bull Ring, mereka memasang diffuser baru pada mobil Verstappen. Bagian itu bergerigi sepanjang bagian lebar, untuk memaksimalkan fungsi perangkat. Mereka mengubah casing girboks dan suspensi belakang yang dinilai menguntungkan secara aerodinamis.

Sayap kecil anyar juga terlihat di bawah spar pelindung benturan samping. Elemen itu juga terlihat di bawah sisi luar. Fungsinya meningkatkan aliran udara dari depan ke belakang dan diffuser.

Sergio Perez, Red Bull Racing RB16B , di pit

Sergio Perez, Red Bull Racing RB16B , di pit

Foto oleh: Steven Tee / Motorsport Images

Ada perubahan drastis dari sisi deflektor angin. Sebelumnya, di Portimao, diffuser dibikin lebih sempit di tengah. Jadi udara bisa mengalir lewat lubang di kanan dan kiri.

Di Monako, Red Bull menggunakan sayap yang memberi downforce besar. T-wing tak terlihat dari RB16B. Desain pelat ujung yang konservatif tanpa tepi dan potongan bergerigi seperti biasa dan tambahan sayap baru belakang.

Lalu bagaimana cara Mercedes menghentikan skuad yang dikomando Christian Horner? Tim harus mengeksplorasi set-up dan memaksimalkan segala yang dimiliki. Ada banyak parameter berbeda yang bisa dimainkan, seperti konfigurasi aerodinamika, suspensi dan setelan mesin. Kombinasi ban bisa juga berpengaruh.

“Kejuaraan tidak hanya dimainkan dengan menambah perangkat aerodinamika. Pada tahap tertentu, meski tim seperti Red Bull masih menambah perangkat. Itu artinya eksploitasi mobil seputar set-up, pekerjaan set-up, ban dan optimisasi yang kami lakukan akan sangat penting,” Wolff mengungkapkan.

Mercedes lemah dari sisi ban, terutama yang di belakang. Ban lunak lebih banyak merugikan daripada ban keras. Mereka pun melakukan simulasi dengan membuat model ban yang meniru karakter Pirelli. Data yang dikumpulkan bisa jadi acuan manajemen ban.

Mercedes W12 detail sayap depan

Mercedes W12 detail sayap depan

Foto oleh: Uncredited

Strategi matang jadi kunci lain keberhasilan Red Bull. Salah satunya di GP Prancis, Verstappen jadi pemenang setelah nekat menggunakan taktik dobel pit stop. Dalam situasi sekarang, perlu berpikir out the box dan berani membuat terobosan baru.

Faktor sirkuit perlu diperhatikan juga. Masing-masing tim, harus sadar di trek mana saja, mereka tangguh. Mercedes, misalnya, punya kelebihan di Spa-Francorchamps, Sochi dan Austin. Sebaliknya, Red Bull menonjol di Hungaria, Meksiko dan Interlagos.

Jangan lupakan faktor pembalap. Dibanding, duo Hamilton-Valtteri Bottas, kolaborasi pasangan Red Bull, Verstappen dan Sergio Perez. Duet beda benua itu saling melindungi dan mendorong siapa pun yang ada dalam posisi menguntungkan.

Sementara, gap Hamilton dan Bottas terus melebar, sehingga mereka fokus pada prestasi masing-masing.

Gelaran GP Austria akhir pekan ini, bisa jadi momen krusial untuk membalikkan keadaan.

dibagikan
komentar
Gasly Heran FIA Tidak Investigasi Insiden Leclerc

Artikel sebelumnya

Gasly Heran FIA Tidak Investigasi Insiden Leclerc

Artikel berikutnya

Istri Kabarkan Kondisi Terkini Alex Zanardi

Istri Kabarkan Kondisi Terkini Alex Zanardi
Muat komentar