Rapor pembalap dan tim F1 2018

dibagikan
komentar
Rapor pembalap dan tim F1 2018
Oleh:
31 Des 2018 08.35

Sebelum pergantian tahun, Motorsport.com Indonesia mengevaluasi performa para pembalap dan tim sepanjang musim Formula 1 2018. Siapa yang membuat kejutan? Siapa yang gagal memenuhi ekspektasi?

Slider
Daftar

Sergey Sirotkin, Williams

Sergey Sirotkin, Williams
1/30

Foto oleh: Manuel Goria / Sutton Images

Berstatus rookie, Sirotkin langsung menghadapi ujian terberat: Mengendarai salah satu mobil Williams terburuk sepanjang masa. Alhasil, sepanjang 21 balapan ia hanya mampu merengkuh satu poin kala finis kesepuluh di Monza.

Kecepatan bukan masalah bagi Sirotkin. Itu tercermin dari hasil duel kualifikasi di mana ia mengungguli rekan setimnya, Lance Stroll, dengan skor 13-8. Sirotkin juga mampu menunjukkan keahlian balap yang baik seperti saat beradu roda melawan Sergio Perez di Singapura. Namun momen seperti itu hanya sekilas saja. Mobil FW41 tetap menjadi faktor utama yang menghambat potensi Sirotkin sesungguhnya.

Williams menyebut Sirotkin sebagai orang yang berdedikasi tinggi. Namun, pada akhirnya skuat Grove lebih memilih Robert Kubica untuk melengkapi susunan pembalap F1 2019, berduet dengan rookie anyar mereka, George Russell.

Nilai: 5,5

Rapor F1 2018, Lance Stroll, Sergey Sirotkin, Williams

Rapor F1 2018, Lance Stroll, Sergey Sirotkin, Williams

Foto oleh: Motorsport.com

Lance Stroll, Williams

Lance Stroll, Williams
2/30

Foto oleh: Manuel Goria / Sutton Images

Walau baru menyelesaikan satu musim di Formula 1, Stroll sudah harus mengambil peran pemimpin lantaran menjadi pembalap yang lebih berpengalaman dibanding rekan setimnya. Namun 2018 bakal menjadi musim terakhirnya bersama Williams.

Konsorsium asal Kanada pimpinan ayahnya mengambil alih kepemilikan tim rival, Force India, yang kemudian berganti nama menjadi Racing Point. Jadi bukan kabar mengejutkan tatkala Stroll diumumkan sebagai pembalap untuk skuat Silverstone pada tahun depan.

Kembali ke lintasan, seperti Sirotkin, performa Stroll juga tidak bisa maksimal dengan buruknya aerodinamika mobil FW41. Semua poin yang ia bawa pulang musim ini didapat dari sirkuit-sirkuit dengan trek lurus panjang, dan tidak membutuhkan banyak downforce seperti Baku dan Monza, dua trek yang memberikannya momen manis pada 2017.

Nilai: 5

Rapor F1 2018, Lance Stroll, Sergey Sirotkin, Williams

Rapor F1 2018, Lance Stroll, Sergey Sirotkin, Williams

Foto oleh: Motorsport.com

Williams

Williams
3/30

Foto oleh: Andy Hone / LAT Images

2018 hampir pasti menjadi tahun yang ingin dilupakan para personel Williams. Sejak datangnya Paddy Lowe untuk mengepalai divisi teknis skuat Grove, banyak yang mengira FW41, dengan beragam desain yang diadopsi dari mobil-mobil rival, bakal menjadi penantang serius dalam perebutan peringkat keempat. Namun kenyataan berkata lain dan Williams tersungkur di peringkat terbawah dalam klasemen konstruktor.

Nilai: 3,5

Rapor F1 2018, Lance Stroll, Sergey Sirotkin, Williams

Rapor F1 2018, Lance Stroll, Sergey Sirotkin, Williams

Foto oleh: Motorsport.com

Brendon Hartley, Toro Rosso

Brendon Hartley, Toro Rosso
4/30

Foto oleh: Zak Mauger / LAT Images

Pada penghujung 2017, nama Hartley secara mengejutkan dipanggil kembali oleh raksasa minuman berenergi Red Bull. Ya, Hartley memang pernah tergabung dalam skuat akademi mereka sebelum terdepak pada 2010. Delapan tahun kemudian, Hartley mendapat kesempatan untuk melakukan debut musim penuh di F1.

Namun sayang, kisah dongeng pembalap asal Selandia Baru itu tidak bertahan lama. Sang dua kali juara dunia WEC sering kali membalap di belakang bayang-bayang penampilan gemilang Pierre Gasly.

Selain itu musim penuh pertamanya di F1 juga semakin dipersulit karena Toro Rosso menjadi laboratorium berjalan bagi Honda. Penalti grid mesin menjadi pemandangan tak biasa buat Hartley sepanjang musim ini.

Kendati demikian, Toro Rosso tetap menilai Hartley gagal mempersembahkan hasil memuaskan. Nasib kedua pembalap skuat Faenza pada 2018 terlihat kontras. Performa Gasly dihadiahi promosi ke tim utama Red Bull, sedangkan Hartley tersingkir dari F1.

Nilai: 5,5

Rapor F1 2018, Pierre Gasly, Brendon Hartley, Toro Rosso

Rapor F1 2018, Brendon Hartley, Pierre Gasly, Toro Rosso

Foto oleh: Motorsport.com

Pierre Gasly, Toro Rosso

Pierre Gasly, Toro Rosso
5/30

Foto oleh: Simon Galloway / Sutton Images

Seperti Hartley, Gasly sudah mencicipi panasnya pertarungan di lintasan F1 pada paruh akhir musim 2017. Tahun berikutnya, ia kembali berduet dengan pemenang Le Mans 2017 itu untuk musim penuh pertamanya di F1.

Gasly tak membutuhkan waktu lama untuk menyita perhatian jagat F1. Ia membuat kejutan dengan finis keempat pada balapan di Bahrain. Hasil itu sekaligus menjadi capaian terbaik Honda sejak kembali ke F1 tiga tahun silam. Padahal kemitraan pabrikan Jepang itu dengan Toro Rosso baru berlangsung selama satu balapan.

Setelah balapan sensasional di Bahrain, juara GP2 2016 itu empat kali lagi mencetak poin di sisa musim 2018, termasuk raihan P6 di Hungaroring.

Performa brilian Gasly sepanjang 2018 ditambah dengan keputusan tak terduga dari Daniel Ricciardo yang memutuskan hengkang dari Red Bull, membuka jalan bagi pembalap Perancis itu untuk mendapat promosi ke tim utama. Patut ditunggu bagaimana penampilannya ketika bersanding dengan Max Verstappen tahun depan.

Nilai: 7,5

Rapor F1 2018, Pierre Gasly, Brendon Hartley, Toro Rosso

Rapor F1 2018, Brendon Hartley, Pierre Gasly, Toro Rosso

Foto oleh: Motorsport.com

Toro Rosso

Toro Rosso
6/30

Foto oleh: Manuel Goria / Sutton Images

Toro Rosso memang mengalami penurunan poin jika dibandingkan dengan tahun lalu. Namun, seperti yang diungkapkan sang team principal, Franz Tost, 2018 menjadi musim pembelajaran bersama pemasok mesin baru mereka, Honda. "Saya menganggap musim ini sebagai persiapan untuk tahun depan,” kata Tost kepada Motorsport.com. Meski akhirnya menempati peringkat kesembilan, setidaknya mereka bisa berbangga dengan raihan fantastis di Sakhir.

Nilai: 6,5

Rapor F1 2018, Pierre Gasly, Brendon Hartley, Toro Rosso

Rapor F1 2018, Pierre Gasly, Brendon Hartley, Toro Rosso

Foto oleh: Motorsport.com

Marcus Ericsson, Sauber

Marcus Ericsson, Sauber
7/30

Foto oleh: Mark Sutton / Sutton Images

Walau tanpa poin sepanjang 2016-2017 bersama Sauber, Pembalap Swedia ini masih dipertahankan untuk 2018. Tugas berat sudah menantinya sejak awal musim. Ia harus siap menjawab tantangan dari pembalap junior Ferrari dengan talenta tinggi, Charles Leclerc, yang menjadi rekan setimnya.

Di tiga balapan pertama, Leclerc masih kesulitan beradaptasi. Ericsson unggul dalam duel kualifikasi, 2-1, dan menjadi pembalap Sauber pertama yang mencetak poin. Ia bahkan menyebut dirinya sebagai pemimpin dalam tim. Namun, seiring musim berjalan, tampak jelas siapa sebenarnya pembalap terkuat di skuat Hinwill.

Ericsson memang menunjukkan peningkatan, tapi ia tak mampu mengikuti jejak Leclerc yang lebih konsisten mendulang poin. Ericsson tergusur dari kursi balap untuk F1 2019, tapi ia tetap tergabung dalam Sauber sebagai pembalap cadangan. Namun fokusnya akan lebih tertuju pada ajang balap di seberang Samudra Atlantik, IndyCar.

Nilai: 6

Rapor F1 2018, Charles Leclerc, Marcus Ericsson, Sauber

Rapor F1 2018, Charles Leclerc, Marcus Ericsson, Sauber

Foto oleh: Motorsport.com

Charles Leclerc, Sauber

Charles Leclerc, Sauber
8/30

Foto oleh: Sam Bloxham / LAT Images

Menjadi pembalap junior Ferrari dan menyabet titel junior dua kali secara beruntun, masing-masing GP3 dan kemudian Formula 2, kiprah Leclerc di F1 sudah ditunggu-tunggu banyak penggemar dan pengamat F1.

Meski awal musim yang sulit, kemampuan Leclerc akhirnya terbukti bersinar terang di balik mobil Sauber C37. Tak hanya mengungguli rekan setimnya yang jauh lebih berpengalaman, pembalap Monako itu juga konsisten bertarung memperebutkan poin dan beberapa kali menembus babak Q3 kualifikasi.

Meski tampil mengesankan bersama Sauber, tak sedikit orang yang kaget ketika Leclerc benar-benar diumumkan bakal membalap untuk Ferrari musim depan. Ia akan bertukar tempat dengan pembalap veteran, Kimi Raikkonen.

Apakah 2019 akan menjadi tahun di mana Leclerc kembali membuat kejutan ketika berduet dan empat kali juara dunia, Sebastian Vettel? Layak kita tunggu.

Nilai: 8

Rapor F1 2018, Charles Leclerc, Marcus Ericsson, Sauber

Rapor F1 2018, Charles Leclerc, Marcus Ericsson, Sauber

Foto oleh: Motorsport.com

Sauber

Sauber
9/30

Foto oleh: Manuel Goria / Sutton Images

Membatalkan perjanjian Honda dan memilih memakai mesin terbaru dari Ferrari sepertinya menjadi keputusan yang tepat bagi Sauber. Berkat hubungan yang semakin erat dengan skuat Maranello dan keluarga FIAT, melalui datangnya Alfa Romeo sebagai mitra utama, Sauber menatap musim 2018 dengan rasa percaya diri. Hasilnya, tim asal Swiss itu tidak hanya berhasil melepas label tim buncit satu tahun lalu, tapi juga menjelma sebagai tim papan tengah yang solid.

Nilai: 7,5

Rapor F1 2018, Charles Leclerc, Marcus Ericsson, Sauber

Rapor F1 2018, Charles Leclerc, Marcus Ericsson, Sauber

Foto oleh: Motorsport.com

Esteban Ocon, Racing Point Force India

Esteban Ocon, Racing Point Force India
10/30

Foto oleh: Jerry Andre / Sutton Images

Tampil impresif di 2017, Ocon berhadapan dengan ekspektasi yang lebih tinggi pada 2018. Namun, setelah lima balapan pertama, pembalap Perancis itu baru mengumpulkan satu poin. Masalah finansial yang mendera Force India, mengakibatkan telatnya paket pembaruan, memang turut memainkan peran.

Titik terang itu akhirnya ia temukan pada balapan di Monako setelah finis keenam sekaligus menjadi pembalap terbaik di luar tiga tim unggulan. Hasil yang sama ia ulangi sebanyak tiga kali lagi sepanjang 2018, membuat perolehan poinnya menjadi 49.

Namun itu masih 13 poin lebih sedikit dibanding Sergio Perez. Ocon juga menuntaskan sisa musim dengan insiden kontroversial, ketika menyenggol pemimpin balapan, Max Verstappen, sebagai backmarker di Brasil.

Awalnya sempat digadang-gadang bakal menjadi juara dunia masa dapan, Ocon justru tak kedapatan kursi balap di F1 2019. Apakah Mercedes punya rencana besar buat dirinya?

Nilai: 7

Rapor F1 2018, Esteban Ocon, Sergio Perez, Force India

Rapor F1 2018, Esteban Ocon, Sergio Perez, Force India

Foto oleh: Motorsport.com

Sergio Perez, Racing Point Force India

Sergio Perez, Racing Point Force India
11/30

Foto oleh: Mark Sutton / Sutton Images

Pembalap Meksiko ini kembali bekerja keras agar statusnya sebagai pemimpin dalam tim tidak terbantahkan. Pada balapan penuh insiden di Baku, Perez berhasil memanfaatkan peluang yang ada di depannya untuk merebut podium ketiga GP Azerbaijan.

Sepanjang musim, Perez dan Hulkenberg bertarung ketat untuk menjadi yang terbaik di luar tiga tim besar. Mungkin terlalu ngotot, Perez bersinggungan dengan Ocon di lap pertama GP Singapura yang membuat rekan setimnya tersebut tersingkir dari balapan. Team order kembali diterapkan Force India, mengingatkan kita pada memori Spa 2017.

Terpaut tujuh poin lebih sedikit, Perez akhirnya harus mengakui keunggulan Hulkenberg dalam perebutan gelar juara "Kelas B". Tapi ini masih menjadi hasil yang lumayan dan seharusnya bisa dimanfaatkan sebagai momentum untuk menyongsong musim 2019.

Nilai: 7

Rapor F1 2018, Esteban Ocon, Sergio Perez, Force India

Rapor F1 2018, Esteban Ocon, Sergio Perez, Force India

Foto oleh: Motorsport.com

Racing Point Force India

Racing Point Force India
12/30

Foto oleh: Andrew Hone / LAT Images

Finis keempat pada musim 2016 dan 2017, siapa mengira Force India masih rentan dengan masalah finansial. Puncaknya ketika skuat Silverstone itu dinyatakan pailit. Beruntung, mereka masih bisa diselamatkan oleh konsorsium pimpinan Lawrence Stroll untuk menyelesaikan musim 2018. Hanya saja mereka harus merelakan poin yang didapat sebelum jeda musim panas. Patut diapresiasi kerja keras dari personel tim yang kini dikenal dengan nama Racing Point. Memulai dengan poin nol di Belgia, mereka berhasil unggul atas tiga tim untuk menduduki peringkat ketujuh.

Nilai: 7,5

Rapor F1 2018, Esteban Ocon, Sergio Perez, Force India

Rapor F1 2018, Esteban Ocon, Sergio Perez, Force India

Foto oleh: Motorsport.com

Stoffel Vandoorne, McLaren

Stoffel Vandoorne, McLaren
13/30

Foto oleh: Steven Tee / LAT Images

Vandoorne mungkin mendapat tantangan terberat di awal kariernya sebagai pembalap F1: Bersanding dengan dua kali juara dunia dan membalap dengan mobil yang kurang kompetitif. Maka ada sebagian orang memaklumi hasil pas-pasan yang dicatat pembalap Belgia itu pada musim 2017.

Dengan kabar McLaren berpindah ke pabrikan mesin baru, ada harapan Vandoorne mampu memperbaiki performanya pada 2018. Awal musimnya sebenarnya cukup menjanjikan, tiga kali mencetak poin dalam empat balapan pertama.

Namun, kali ini ia terhambat oleh polemik payahnya aerodinamika sasis MCL33. Ia pun harus menelan pil pahit dikalahkan Fernando Alonso dengan skor telak 21-0 dalam duel kualifikasi.

Vandoorne juga lebih sering berkutat bersama Williams di barisan belakang ketimbang memperebutkan poin di papan tengah. 14 balapan harus ia lewati sebelum akhirnya menorehkan poin terakhirnya tahun ini di Meksiko.

Kontrak balapnya tak diperpanjang oleh McLaren, Vandoorne berlabuh ke Formula E, memperkuat tim HWA.

Nilai: 5

Rapor F1 2018, Stoffel Vandoorne, Fernando Alonso, McLaren

Rapor F1 2018, Stoffel Vandoorne, Fernando Alonso, McLaren

Foto oleh: Motorsport.com

Fernando Alonso, McLaren

Fernando Alonso, McLaren
14/30

Foto oleh: Steven Tee / LAT Images

"Sekarang kita bisa bertarung, sekarang kita bisa bertarung," ucap Alonso di radio usai finis kelima pada balapan pembuka 2018, yang terdengar seperti sentilan untuk Honda, mitra mesin McLaren sebelumnya. Tapi ironisnya, sejak kembali membela McLaren tiga tahun lalu, 2018 bukanlah tahun terbaik Alonso.

Torehan poinnya tahun ini (50) masih lebih sedikit dibanding musim 2016, di mana waktu itu Alonso mengumpulkan 54 poin dengan mesin Honda.

Keputusan Alonso untuk menyibukkan diri di WEC dan Le Mans bersama Toyota mungkin menjadi indikasi McLaren belum bisa tampil pada level seperti yang ia harapkan. Apakah ini juga yang menjadi alasan sang dua kali juara dunia tak lanjut membalap di F1 2019?

Kendati demikian tak bisa dipungkiri, Alonso telah berusaha semaksimal mungkin dengan mobil MCL33. Dan juga, kepergian pembalap Spanyol itu dari F1 akan membuat siaran percakapan radio terdengar sedikit lebih hambar.

Nilai: 7

Rapor F1 2018, Stoffel Vandoorne, Fernando Alonso, McLaren

Rapor F1 2018, Stoffel Vandoorne, Fernando Alonso, McLaren

Foto oleh: Motorsport.com

McLaren

McLaren
15/30

Foto oleh: Andrew Hone / LAT Images

Setelah tiga musim penuh drama dengan Honda, McLaren memutuskan beralih ke mesin Renault. Mesin yang sama mengantarkan Red Bull memenangi sejumlah balapan di era turbohibrida. Oleh karena itu, ada yang berpikir podium menjadi target realistis bagi skuat Woking. Sayangnya, hal ini justru mengekspos kelemahan sasis MCL33. Performa kurang memuaskan juga berbuntut pada hengkangnya sang direktur balap, Eric Boullier. Perombakan struktur manajemen, diharapkan bisa mengembalikan kejayaan McLaren di 2019.

Nilai: 6

Rapor F1 2018, Stoffel Vandoorne, Fernando Alonso, McLaren

Rapor F1 2018, Stoffel Vandoorne, Fernando Alonso, McLaren

Foto oleh: Motorsport.com

Romain Grosjean, Haas

Romain Grosjean, Haas
16/30

Foto oleh: Andy Hone / LAT Images

Grosjean sempat memiliki peluang meraup poin besar di balapan pertama tahun ini. Namun nahas, pembalap Perancis itu gagal finis akibat kesalahan pit stop.

Jika Magnussen bisa langsung mencetak poin pada balapan-balapan berikutnya, Grosjean harus berkutat dengan rentetan insiden, salah satunya kecelakaan tunggal yang ia sebabkan sendiri di tengah iring-iringan Safety Car di Baku.

Sempat diterpa rumor bakal didepak Haas, Grosjean menjawabnya dengan hasil apik, peringkat keempat, pada balapan GP Austria. Sejak itu, performanya terus membaik dan membawa pulang poin dari GP Jerman, Hongaria, dan Belgia.

Grosjean menutup musim dengan total 37 poin, dan menduduki peringkat ke-14 dalam klasemen. Hasil tersebut memang tidak terlalu memuaskan bagi pembalap dengan pengalaman tinggi seperti Grosjean. Namun, peningkatan performa yang ia tunjukkan pada paruh kedua musim, dinilai sudah cukup oleh Haas yang tetap menggunakan jasanya di F1 2019.

Nilai: 6,5

Rapor F1 2018, Kevin Magnussen, Romain Grosjean, Haas

Rapor F1 2018, Kevin Magnussen, Romain Grosjean, Haas

Foto oleh: Motorsport.com

 

Kevin Magnussen, Haas

Kevin Magnussen, Haas
17/30

Foto oleh: Andy Hone / LAT Images

Magnussen mendapat reputasi pembalap kotor dan berbahaya lantaran beberapa kali memicu insiden dengan lawannya. Namun hal ini tak lantas membuat konsentrasi pembalap Denmark itu terganggu.

Terbukti, Magnussen masih mampu konsisten memperebutkan poin. Ia bahkan menjadi tumpuan Haas ketika performa Romain Grosjean tertatih-tatih pada awal musim.

Sebelas kali finis di poin, dua di antaranya lima besar, masing-masing di Bahrain dan Austria, membawa perolehan poinnya menjadi 56, 19 poin lebih banyak dari Grosjean (37).

Seperti Grosjean, andai saja tidak ada kesalahan pit stop di Australia, Magnussen sebenarnya bisa menambah pundi-pundi poinnya. Namun, 2018 tetap menjadi musim F1 terbaik bagi putra dari Jan Magnussen itu.

Nilai: 7,5

Rapor F1 2018, Kevin Magnussen, Romain Grosjean, Haas

Rapor F1 2018, Kevin Magnussen, Romain Grosjean, Haas

Foto oleh: Motorsport.com

Haas

Haas
18/30

Foto oleh: Andy Hone / LAT Images

Tim asal Amerika Serikat ini nampak akan mengawali musim dengan raihan fantastis. Pada balapan pembuka di Melbourne, kedua mobil VF-18 sempat melaju di posisi keempat dan kelima. Namun petaka pit stop membuat mereka harus pulang dari Australia dengan tangan hampa. Performa Haas membaik di pertengahan musim, dan membayar kegagalan balapan pertama dengan raihan P4 dan P5 di Austria. Meski kalah dari Renault dalam perebutan peringkat keempat klasemen konstruktor, Haas masih bisa puas menyelesaikan musim di urutan kelima, hasil terbaik mereka sejak bergabung ke F1.

Nilai: 7,5

Rapor F1 2018, Kevin Magnussen, Romain Grosjean, Haas

Rapor F1 2018, Kevin Magnussen, Romain Grosjean, Haas

Foto oleh: Motorsport.com

Carlos Sainz Jr., Renault

Carlos Sainz Jr., Renault
19/30

Foto oleh: Manuel Goria / Sutton Images

Kepindahan Sainz ke Renault pada akhir 2017 merupakan imbas dari drama yang melibatkan banyak pihak, Renault-Toro Rosso-Honda-McLaren.

Sepanjang 2018, Sainz sebenarnya sudah menunaikan tugas utamanya dengan baik sebagai pembalap tim papan tengah, yakni konsisten mencetak poin. Tercatat 13 kali pembalap asal Spanyol itu finis sepuluh besar, ini lebih banyak dibanding rekan setimnya, Nico Hulkenberg (11).

Namun dalam hal perolehan poin, Hulkenberg lah yang akhirnya unggul, di mana pembalap Jerman itu mengoleksi 69 poin, lebih banyak dibanding 53 poin yang dikumpulkan Sainz.

Kursi balapnnya di skuat Enstone tergusur dengan kehadiran Ricciardo dari Red Bull. Tapi Sainz masih bisa mendapat rumah baru untuk membalap di F1 2019, bersama McLaren untuk mendampingi rookie, Lando Norris.

Nilai: 7

Rapor F1 2018, Carlos Sainz, Nico Hulkenberg, Renault

Rapor F1 2018, Carlos Sainz, Nico Hulkenberg, Renault

Foto oleh: Motorsport.com

Nico Hulkenberg, Renault

Nico Hulkenberg, Renault
20/30

Jangan tertipu dengan statistik. Sekilas, Sainz terlihat punya rekor lebih bagus ketimbang Hulkenberg. Lebih sering sepuluh besar, serta rata-rata posisi start dan finis juga lebih baik.

Namun bedanya, Hulkenberg lebih sering mengecap peringkat ketujuh, keenam, bahkan kelima, setiap kali pembalap Jerman itu menembus sepuluh besar.

Ini juga yang menjadi faktor utama, tidak hanya dalam mengungguli Sainz, tapi juga keberhasilan Hulkenberg mengklaim gelar juara "Kelas B", pembalap terbaik di luar tiga tim besar. Nyaris tak terekspos, duelnya melawan Perez dalam klasemen berlangsung sengit.

Musim depan, Hulkenberg bakal bersanding dengan Ricciardo, pembalap yang bisa dibilang lebih kuat dibanding Sainz. Meski sulit, Renault membidik tiga besar di 2019. Mungkin itu bisa menjadi peluang terbaik bagi Hulkenberg untuk merengkuh podium perdananya.

Nilai: 7,5

Rapor F1 2018, Carlos Sainz, Nico Hulkenberg, Renault

Rapor F1 2018, Carlos Sainz, Nico Hulkenberg, Renault

Foto oleh: Motorsport.com

Renault

Renault
21/30

Foto oleh: Manuel Goria / Sutton Images

Perlahan tapi pasti, Renault membuat kemajuan sejak kembali menjadi tim pabrikan F1 pada 2016. Setelah berhasil mengamankan peringkat keempat, sekaligus tim papan tengah terbaik, Renault mematok target lebih tinggi dan lebih berat, tiga besar. "Kami sadar masih ada jarak besar antara posisi yang kami tempati sekarang ini dengan posisi yang ingin kami raih. Tapi itu justru menjadi motivasi bagi kami untuk bekerja lebih keras sepanjang musim dingin," tutur sang bos tim, Cyril Abiteboul.

Nilai: 7

Rapor F1 2018, Carlos Sainz, Nico Hulkenberg, Renault

Rapor F1 2018, Carlos Sainz, Nico Hulkenberg, Renault

Foto oleh: Motorsport.com

Daniel Ricciardo, Red Bull Racing

Daniel Ricciardo, Red Bull Racing
22/30

Foto oleh: Simon Galloway / Sutton Images

Pada awal 2018, musim Ricciardo terlihat menjanjikan. Ia mencatat dua kemenangan dari enam balapan pembuka, masing-masing di Tiongkok dan Monako. Namun peruntungannya berubah, dengan banyaknya masalah mekanis yang membuatnya gagal menyelesaikan balapan.

"Ada statistik yang menyebutkan bahwa jumlah DNF saya di tahun ini lebih banyak daripada Lewis [Hamilton] dalam lima tahun terakhir. Jadi mereka benar-benar 'meninju' saya dengan data-data seperti itu," ungkap si Honey Badger.

Sejak menjadi juara di Monte Carlo, Ricciardo tidak lagi mencicipi podium hingga akhir tahun. Sebaliknya, momentum didapat oleh Max Verstappen, yang sempat kesulitan di balapan-balapan pertama.

Alhasil, tidak hanya kalah dalam perolehan poin, Ricciardo juga harus mengakui keunggulan rekan setimnya tersebut dalam duel kualifikasi.

Ricciardo membuat kejutan dengan memutuskan pindah dari Red Bull dan bergabung ke Renault untuk 2019. Banyak yang menilai ini adalah perjudian jangka panjang, apakah akan berhasil?

Nilai: 6,5

Rapor F1 2018, Max Verstappen, Daniel Ricciardo, Red Bull

Rapor F1 2018, Max Verstappen, Daniel Ricciardo, Red Bull

Foto oleh: Motorsport.com

Max Verstappen, Red Bull Racing

Max Verstappen, Red Bull Racing
23/30

Foto oleh: Manuel Goria / Sutton Images

Verstappen mungkin mulai sadar dengan julukannya "Mad Max". Ia mengaku tampil terlalu ngotot di awal tahun yang membuatnya rentan melakukan kesalahan. Pada paruh kedua musim, pembalap asal Belanda itu tampil lebih sabar dan lebih dewasa.

Hasilnya, rentetan lima podium, termasuk satu kemenangan di Meksiko, berhasil ia petik di enam balapan terakhir tahun ini. Menghitung perolehan poin sejak jeda musim panas, Verstappen hanya kalah dari sang juara dunia, Lewis Hamilton.

"Saya terlalu bernafsu meraih hasil. Jadi dengan sedikit melambatkan laju, itu justru membuat saya lebih cepat," terang Verstappen.

Musim depan, dengan kepergian Ricciardo dari Milton Keynes, status Verstappen sebagai pemimpin di Red Bull tak terbantahkan. Ia akan ditemani Pierre Gasly yang mendapat promosi dari skuat junior mereka, Toro Rosso.

Tentunya sebagai pembalap yang lebih senior di Red Bull, Verstappen tetap waspada dan berharap tidak bernasib seperti Sebastian Vettel kala disandingkan dengan Ricciardo pada 2014.

Nilai: 8,5

Rapor F1 2018, Max Verstappen, Daniel Ricciardo, Red Bull

Rapor F1 2018, Max Verstappen, Daniel Ricciardo, Red Bull

Foto oleh: Motorsport.com

Red Bull Racing

Red Bull Racing
24/30

Foto oleh: Jerry Andre / Sutton Images

Pasukan Banteng Merah sekali lagi harus puas menempati peringkat ketiga di bawah tim pabrikan raksasa Mercedes dan Ferrari. Satu hal yang mungkin paling disoroti adalah kegagalan Red Bull mencegah terjadinya insiden Ricciardo-Verstappen di Baku. Namun, masih ada hal positif yang dicatat Red Bull tahun ini. Skuat minuman berenergi itu mencetak empat kemenangan sepanjang 2018, rekor terbaik mereka sejak diterapkannya regulasi V6 turbohibrida empat tahun silam. Untuk 2019, harapan Red Bull menjadi tim penantang titel akan bertumpu pada performa mesin dari mitra baru mereka, Honda.

Nilai: 8

Rapor F1 2018, Max Verstappen, Daniel Ricciardo, Red Bull

Rapor F1 2018, Max Verstappen, Daniel Ricciardo, Red Bull

Foto oleh: Motorsport.com

Kimi Raikkonen, Ferrari

Kimi Raikkonen, Ferrari
25/30

Foto oleh: Manuel Goria / Sutton Images

Kata "akhirnya" diucapkan Raikkonen di radio seusai menjuarai balapan GP Amerika Serikat. Ungkapan yang sama mungkin juga dikatakan banyak penonton, khususnya para penggemar The Iceman. Pembalap Finlandia itu akhirnya mengakhiri puasa kemenangan sejak GP Australia 2013 sekaligus membukukan kemenangan pertamanya sejak kembali membela Ferrari pada 2014.

Hasil pengembangan sayap depan mobil SF71H diyakini cocok dengan gaya balap Raikkonen. Sepanjang 2018, Raikkonen memetik 12 podium. Jumlah yang sama seperti rekan setimnya dan hanya kalah dari Hamilton (17).

"Secara umum, musim ini berjalan lebih mulus," ungkap Raikkonen dalam sebuah wawancara eksklusif bersama Motorsport.com.

"Ini bergantung apakah performa mobil bagus atau tidak, dan kemudian kami tahu [bahwa mobil memang bagus]. Tapi saya memang dikelilingi orang-orang handal, bekerja sama dengan saya sepanjang tahun ini."

Nilai: 7,5

Rapor F1 2018, Sebastian Vettel, Kimi Raikkonen, Ferrari

Rapor F1 2018, Sebastian Vettel, Kimi Raikkonen, Ferrari

Foto oleh: Motorsport.com

Sebastian Vettel, Ferrari

Sebastian Vettel, Ferrari
26/30

Foto oleh: Jerry Andre / Sutton Images

Insiden Hockenheim, di mana ia tersingkir setelah melebar ke jebakan kerikil di bawah guyuran hujan, pastinya menjadi kekecewaan terbesar Vettel tahun ini. Padahal pembalap Ferrari sudah mengawali musim dengan baik: Tiga pole dan dua kemenangan dari empat balapan pertama.

Vettel juga masih memimpin klasemen usai finis pertama di GP Inggris, kandang musuh bebuyutannya, Hamilton. Tapi semuanya berubah di Jerman. Momen pahit itu bagaikan pemicu rentetan kesalahan yang ia perbuat di balapan-balapan berikutnya.

Bisa dibilang musuh terberat Vettel musim ini bukanlah Hamilton, melainkan dia sendiri. Sulit dibayangkan, persaingan titel yang berjalan sengit di paruh pertama musim, akhirnya disudahi oleh Hamilton dengan keunggulan jauh 88 poin.

Musim depan, Vettel tak lagi ditemani Raikkonen, sahabat dekat yang menjadi rekan setimnya sejak pertama kali membela Ferrari. Ia akan didampingi Leclerc yang mendapat banjir pujian usai tampil menawan sepanjang musim debutnya.

“Kita lihat saja nanti. Kami juga sama-sama ingin mengembalikan Ferrari kembali ke jalur kemenangan. Walau kami berdua berada di titik karier yang berbeda," kata Vettel tentang Leclerc.

Nilai: 7

Rapor F1 2018, Sebastian Vettel, Kimi Raikkonen, Ferrari

Rapor F1 2018, Sebastian Vettel, Kimi Raikkonen, Ferrari

Foto oleh: Motorsport.com

Ferrari

Ferrari
27/30

Foto oleh: Andrew Hone / LAT Images

Peningkatan performa Ferrari yang diperlihatkan dalam dua musim terakhir ini memang membuat kubu Mercedes semakin khawatir. Namun hal tersebut ternyata belum mampu menggoyahkan kedigdayaan skuat Panah Perak di era turbohibrida F1.  Tidak ada yang bisa dilakukan Ferrari selain terus menekan rival terberat mereka itu. Musim depan, Ferrari bakal menduetkan Vettel dengan Leclerc. Patut ditunggu seperti apa dinamika di dalam tim Kuda Jungkrak.

Nilai: 8,5

Rapor F1 2018, Sebastian Vettel, Kimi Raikkonen, Ferrari

Rapor F1 2018, Sebastian Vettel, Kimi Raikkonen, Ferrari

Foto oleh: Motorsport.com

Valtteri Bottas, Mercedes

Valtteri Bottas, Mercedes
28/30

Foto oleh: Mark Sutton / Sutton Images

Satu tahun tanpa kemenangan tentunya bukan catatan yang diinginkan Bottas setelah melakoni musim keduanya bersama tim dominan seperti Mercedes. Tapi bukan berarti ia tidak berusaha atau mendapat kesempatan.

Bos tim Mercedes, Toto Wolff, menyebut insiden pecah ban yang dialami Bottas saat memimpin GP Azerbaijan sebagai momen terburuknya musim ini.

Selain balapan di Baku, Wolff juga berkata bahwa Bottas pantas menjadi pemenang di Bahrain dan Shanghai. Andai saja itu terjadi Bottas bisa nyaman memimpin klasemen setelah enam balapan pembuka 2018.

Tapi seperti yang kita ketahui, kenyataan berkata lain. Memang tak bisa dipungkiri, rangkaian nasib sial yang menimpa Bottas turut mempengaruhi performanya di sisa musim.

Contohnya saat Bottas disenggol Vettel hingga bannya bocor di Perancis, kemudian masalah mekanis di Austria, dan beberapa kali mendapat team order untuk membantu Hamilton dalam perburuan gelar. Akibat contoh terakhir, Bottas juga mulai dikenal dengan sebutan "wingman".

Mampukah Bottas mengubah nasibnya di 2019?

Nilai: 6,5

Rapor F1 2018, Lewis Hamilton, Valtteri Bottas, Mercedes

Rapor F1 2018, Lewis Hamilton, Valtteri Bottas, Mercedes

Foto oleh: Motorsport.com

Lewis Hamilton, Mercedes

Lewis Hamilton, Mercedes
29/30

Foto oleh: Mark Sutton / Sutton Images

Pada awal 2018, "The Fight for Five" menjadi tajuk pertarungan antara dua peraih empat gelar juara dunia, Lewis Hamilton dan Sebastian Vettel. Kejar-mengejar antara keduanya tidak hanya terjadi di klasemen, tapi juga di lintasan.

Memasuki jeda musim panas, Hamilton memegang keunggulan 24 poin atas Vettel. Namun hal tersebut tidak serta merta membuat pembalap Inggris Raya itu dan juga timnya, Mercedes, sebagai yang terfavorit.

Vettel memenangi balapan pertama setelah berakhirnya jeda musim panas di Belgia. Ferrari kemudian mengunci barisan start terdepan di Monza, kandang mereka.

Tapi ketika Vettel mulai panik dan melakukan kesalahan, Hamilton tetap tampil tenang. Ia mengirimkan "pukulan" buat Ferrari di GP Italia dengan menjadi juara di hadapan para tifosi. Singapura, sirkuit di mana Ferrari jauh lebih dinggulkan, juga berhasil dikuasai Hamilton tahun ini.

Dua balapan berikutnya di Rusia dan Jepang, melengkapi empat kemenangan beruntun yang mengantarkan Hamilton ke gelar juara dunia kelima.

Pencapaian tersebut juga membawanya masuk ke grup elit, bersanding dengan para legenda seperti Michael Schumacher dan Juan Manuel Fangio, sebagai pembalap dengan torehan lima gelar atau lebih.

Nilai: 9,5

Rapor F1 2018, Lewis Hamilton, Valtteri Bottas, Mercedes

Rapor F1 2018, Lewis Hamilton, Valtteri Bottas, Mercedes

Foto oleh: Motorsport.com

Mercedes

Mercedes
30/30

Foto oleh: Glenn Dunbar / LAT Images

Bos tim Red Bull, Christian Horner, sempat mengatakan mesin Ferrari adalah yang terbaik di F1 saat ini. Tapi seperti yang ditunjukkan Hamilton, ketenangan dan konsistensi menjadi kunci utama dalam membendung ancaman skuat Kuda Jingkrak dua musim terakhir ini. Mengoleksi total 655 poin dan perkasa duduk di peringkat pertama, Mercedes lagi-lagi berhasil mengawinkan dua gelar juara dunia untuk kali kelima secara beruntun. Tak ada kata istirahat, Mercedes berambisi mencatat rekor baru, enam gelar ganda secara beruntun di 2019.

Nilai: 9

Rapor F1 2018, Lewis Hamilton, Valtteri Bottas, Mercedes

Rapor F1 2018, Lewis Hamilton, Valtteri Bottas, Mercedes

Foto oleh: Motorsport.com

Artikel berikutnya
Mereka yang pensiun pada 2018

Artikel sebelumnya

Mereka yang pensiun pada 2018

Artikel berikutnya

Akibat kecelakaan, Toro Rosso habiskan Rp33 Miliar

Akibat kecelakaan, Toro Rosso habiskan Rp33 Miliar
Muat komentar

Tentang artikel ini

Kejuaraan Formula 1
Tag review , berita f1 , rapor
Penulis Aditya Gagat
Jadilah yang pertama untuk mendapatkan
berita terbaru