Formula 1 2017

Kolom James Allen: Dominasi Mercedes di kandang Ferrari

Mercedes menjuarai Formula 1 GP Italia dengan jarak keunggulan besar di depan Ferrari yang anehnya tampak kewalahan mengatasi persaingan di Monza.

Saya benar-benar terkejut ketika mengetahui bahwa ini merupakan pertama kalinya di musim ini , seorang pembalap bisa memenangi dua balapan Grand Prix secara beruntun. Hal tersebut menunjukkan betapa ketatnya kompetisi musim 2017.

Jika meminjam istilah dari sepak bola, Mercedes seperti meraih kemenangan tandang di kandang Ferrari. Mereka merebut hasil 1-2 untuk yang kali ketiga di musim ini. Dan mereka akan berusaha mengulanginya kembali jika mereka ingin Hamilton merengkuh gelar juara dunia.

Bottas kini berperan sebagai "penembak ekor" siap mengambil semua kesempatan untuk menghalangi jalan Vettel merebut posisi kedua, terutama di sirkuit-sirkuit yang menjadi kekuatan Mercedes.

Yang sekarang menjadi pertanyaan adalah, apakah Raikkonen bisa tampil cukup cepat untuk mengambil peran yang sama, melindungi Vettel di sirkuit-sirkuit spesialis Ferrari seperti Singapura. Ia bisa melakukannya di Hongaria. Tapi tekanan itu akan bertambah bagi Raikkonen untuk mengendalikan Hamilton di sirkuit jalan raya Marina Bay. Ini bisa menjadi faktor penentu gelar juara dunia.

Kemeriahan para Tifosi

Data resmi menyatakan jumlah penonton yang hadir langsung di Monza pada hari Minggu (3/9) mencapai angka 93.000. Tapi suasananya terasa lebih ramai dari yang saya perkirakan. Antusiasme para penonton benar-benar tercurahkan dan mereka selalu bersorak-sorai, meski Ferrari tidak berhasil menang.

Antusiasme para penonton yang berdiri tepat di bawah podium Monza benar-benar impresif; membuat para pembalap terlihat seperti bintang rock ketimbang sekadar olahragawan.

Sepanjang minggu, para penonton selalu tampil bersemangat. Setiap kali pembalap tiba di sirkuit, mereka melewati barisan panjang penggemar. Pembalap-pembalap Ferrari tentunya menjadi yang paling sibuk membubuhkan tanda tangan untuk para pendukung setia mereka.

Hamilton juga tidak mau kalah. Datang dengan motor MV Augusta, ia melakukan atraksi 'burn out' (memutarkan roda belakang sambil menarik tuas rem depan), sambil membuat gestur 'V' dengan tangan kirinya.

McLaren siap mengambil langkah

Banyak pertemuan yang berlangsung seputar drama mesin antara McLaren, Honda, Renault, dan Toro Rosso.

Zak Brown dan Eric Boullier dari McLaren, mengunjungi Red Bull Energy Station pada hari Sabtu. Tak lama kemudian, Alain Prost, Jerome Stoll, dan Cyril Abiteboul dari Renault, berkunjung ke ruang pertemuan yang terletak di lantai dua motorhome milik McLaren.

Lima atau enam delegasi dari pimpinan Honda juga hadir di Monza. Meski cerita dari drama mesin ini masih bisa terus berubah, sepertinya jalan telah dibentangkan kepada Honda untuk beralih  ke Toro Rosso dimusim 2018. Sementara Carlos Sainz juga bisa berperan sebagai kompensasi kepada Renault setelah lepas kontrak dari Toro Rosso.

Tapi bisa dibayangkan sebuah skenario musim 2018 di mana Toro Rosso membalap dengan mesin Honda yang meraih kemajuan signifikan (berkat kontribusi dari konsultan kondang, Mario illien) dan Red Bull bermanuver untuk menjadi tim pabrikan Honda di 2019.

Akan seperti apa ekspresi wajah para personel tim McLaren saat melihat Red Bull bertarung memperebutkan gelar juara dunia F1 2019 atau 2020 bersama Honda! Bagi Fernando Alonso, mungkin ini memang sudah menjadi takdirnya, berada di tim yang tepat di saat yang salah.

Semua itu memungkinkan Force India untuk mempertahankan susunan pembalap yang mereka miliki saat ini. Kecuali, jika Sergio Perez ingin melihat pemandangan atau merasakan suasana baru, dan mencoba peruntungannya ke tim lain seperti Williams.

Skuat Grove saat ini memiliki keterbatasan soal siapa yang bisa menjadi pembalap mereka untuk musim depan. Karena alasan pemasaran dari sponsor utama, Martini, salah satu pembalap utama Williams setidaknya harus berusia di atas 25 tahun. Sementara Lance Stroll masih berusia 18 tahun, dan Martini tidak bisa membawanya ke acara-acara promosi.

Dari sudut pandang Esteban Ocon, akan lebih baik jika ia tetap bekerja bersama Tom McCullough, yang mungkin adalah orang terbaik dalam bidang pembinaan pembalap muda.

Konsistensi, kepercayaan diri, dan naluri Ocon telah membuat banyak orang terkesan pada tahun ini. Dan meski Valtteri Bottas kemungkinan besar akan mendapat pembaruan kontrak bersama Mercedes, pertanyaan yang masih tersisa adalah, untuk berapa lama.

Hal tersebut diyakini menjadi alasan mengapa Mercedes harus menunda cukup lama keputusan pembaruan kontrak pembalap Finlandia itu. Kontrak berdurasi satu tahun hingga akhir 2018 mungkin dinilai cukup masuk akal, karena itu akan memberikan mereka peluang untuk merekrut Daniel Ricciardo atau Max Verstappen – dan mungkin juga Ocon jika dinilai sudah siap untuk promosi ke skuat Panah Perak.

Ocon terlihat memiliki potensi untuk tampil lebih konsisten dibandingkan Bottas, yang telah tampil bagus sejauh ini, tapi kerap kesulitan saat Mercedes membuthkan performa maksimalnya setiap minggu.

Tentang artikel ini
Kejuaraan Formula 1
Event GP Italia
Trek Monza
Pembalap Kimi Raikkonen , Lewis Hamilton , Sebastian Vettel , Valtteri Bottas
Tim Mercedes , Ferrari
Tipe artikel Komentar
Topik Formula 1 2017