Sejarah konstruktor F1 asal Jepang

Menyambut GP Jepang, berikut galeri sejarah konstruktor asal Jepang pernah meramaikan arena Formula 1.

Walau Jepang memiliki arena motorsport dengan tingkat keaktifan sangat tinggi, partisipasi tim asal Negeri Sakura di arena F1 bisa dibilang tidak terlalu banyak. Meski dari sisi mesin Honda sangat aktif menyuplai tim-tim seperti Williams, Lotus, McLaren dan lainnya antara 1983 – 1992.

Puncak partisipasi tim Jepang terjadi antara 2006 – 2009 ketika dua raksasa Jepang Toyota dan Honda, ditemani Super Aguri menyerbu arena F1. Meski sayang, prestasi ditorehkan Honda dan Toyota seperti tenggelam dibawah bayang-bayang Renault, McLaren-Mercedes dan Ferrari saat itu.

Berikut kami hadirkan galeri sejarah tim F1 asal Jepang pernah meramaikan arena F1. Dimulai Honda pada dekade 1960-an, aksi tim privat 1970-an dan pertempuran antar-raksasa era 2000-an.

Honda (1964 – 1968)

Honda (1964 – 1968)
1/11

Skuad Soichiro Honda memasuki F1 hanya empat tahun setelah produksi mobil perdananya. Memproduksi sasis dan mesin sendiri, Honda menjadi satu dari tiga tim F1 era itu hadir dengan paket lengkap. Debut perdana dengan RA271 di GP Jerman. Honda tidak berhasil mencetak satu pun angka di musim perdananya. Kemenangan pertama Honda diraih Richie Ginther mengendarai RA272 di GP Meksiko 1965.

Foto oleh: LAT Images

Honda (1964 – 1968)

Honda (1964 – 1968)
2/11

Diikuti kesuksesan RA300 di GP Italia dua tahun kemudian ditangan John Surtees. Honda mengakhiri aksi F1 setelah RA302 dikemudikan Jo Schlesser mengalami kecelakaan hingga tewas di GP Prancis 1968.

Foto oleh: LAT Images

Maki (1974 – 1976)

Maki (1974 – 1976)
3/11

Kenji Mimura mendirikan Maki tahun 1974 dengan mobil sederhana diberi mesin Cosworth DFV dan girboks Hewland FGA 400. Masalah muncul ketika mobil lebih berat 150 kg dari batasan. Maki F101 turun perdana di GP Inggris 1974 dengan pembalap Howden Ganley (foto), namun gagal lolos kualifikasi. Hal ini kembali terulang pada aksi-aksi berikutnya. Hingga penampilan terakhir di GP Jepang 1976, Maki gagal lolos kualifikasi untuk ke-12 kalinya.

Foto oleh: Sutton Images

Kojima (1976 – 1977)

Kojima (1976 – 1977)
4/11

Jika ada satu adegan hilang dari scene terakhir film Rush, tentulah aksi dramatis Kojima di GP Jepang 1976. Secara mengejutkan, Masahiro Hasemi berhasil membawa Kojima KE007 (foto) menempati P4 sesi kualifikasi pertama. Sebelum menabrak pada sesi kedua, membuat mobil harus dibangun ulang. Pada balap diguyur hujan deras, Kojima bertarung hebat sampai gangguan ban membuatnya hanya finis P11.

Foto oleh: Sutton Images

Kojima (1976 – 1977)

Kojima (1976 – 1977)
5/11

Kojima kembali ke GP Jepang 1977 dengan pembalap Noritake Takahara dan sasis KE009 (foto). Kali ini tidak sebaik sebelumnya. Hanya menempati P19 grid. Hingga munculnya Toyota pada 2002, tidak ada satu pun tim Jepang mencoba tampil di F1.

Foto oleh: Sutton Images

Toyota (2002 – 2009)

Toyota (2002 – 2009)
6/11

Raksasa Jepang memutuskan terjun ke F1 pada 1999 dan melakukan debutnya di GP Australia 2002. Dengan anggaran masif, banyak pihak memperkirakan Toyota akan melenggang di F1. Pada musim debutnya dan diperkuat Mika Salo dan Allan McNish, Toyota hanya mencetak dua angka dan menempati P10 konstruktor.

Foto oleh: Toyota Racing

Toyota (2002 – 2009)

Toyota (2002 – 2009)
7/11

Prestasi Toyota baru terlihat pada musim 2005 ketika Jarno Trulli dan Ralf Schumacher mempersempahkan lima posisi podium, meski tanpa kemenangan. Berhasil membawa Toyota ke P4 konstruktor dibawah Renault, McLaren dan Ferrari.

Foto oleh: Toyota Racing

Toyota (2002 – 2009)

Toyota (2002 – 2009)
8/11

Hingga musim 2009, kemenangan itu juga masih belum terlihat. Bahkan hanya mampu mencetak dua posisi pole sejak 2002. Meski mengawali musim 2009 dengan baik, pada akhirnya tetap gagal menang sekali pun. Akhir 2009 Toyota mundur dari arena F1 atas alasan krisis ekonomi.

Foto oleh: XPB Images

Honda (2006 – 2008)

Honda (2006 – 2008)
9/11

Setelah berpartner dengan British America Racing selama enam tahun, Honda akhirnya membeli 55% saham kepemilikan tim dan membentuk tim sendiri. Dengan mesin RA806E disebut-sebut terkuat saat itu, Jenson Button berhasil menang di GP Hungaria 2006. Sayang, banyak terkendala gangguan teknis. Button P6 pembalap, Honda P4 konstruktor.

Foto oleh: XPB Images

Honda (2006 – 2008)

Honda (2006 – 2008)
10/11

Kesuksesan 2006 tidak diikuti dua musim berikutnya. Pada musim 2007 hanya berhasil mencetak 6 angka dan menempati P8 konstruktor. Hal sama terjadi pada 2008, meski Rubens Barrichello berhasil menempati podium GP Inggris. Atas alasan krisis finansial Honda mundur dari F1 akhir musim.

Foto oleh: XPB Images

Super Aguri (2006 – 2008)

Super Aguri (2006 – 2008)
11/11

Didirikan oleh mantan pembalap Aguri Suzuki dan menggunakan mesin Honda sepanjang partisipasinya di F1. Mengikuti F1 dari musim 2006, hingga seri ke-5 kejuaraan 2008. Selama aksi 2 tahun 4 bulan, Super Aguri hanya mampu mencetak 4 angka. Kesulitan finansial memaksa Super Aguri menutup operasinya setelah mengikuti 4 seri pembuka musim 2008.

Foto oleh: Sutton Images
Tulis komentar
Tampilkan komentar
Tentang artikel ini
Kejuaraan Formula 1
Tipe artikel Nostalgia