Top 12: Rivalitas terpanas antar rekan setim F1

dibagikan
komentar
Top 12: Rivalitas terpanas antar rekan setim F1
Oleh:
Co-author: David Malsher
1 Jan 2019 10.03

Ada saat di mana kompetisi sehat antar rekan setim berubah menjadi konflik. Motorsport.com mengurutkan 12 perseteruan terpanas yang pernah terjadi sepanjang sejarah Formula 1.

Baca Juga:

Slider
List

12: Esteban Ocon & Sergio Perez (Force India)

12: Esteban Ocon & Sergio Perez (Force India)
1/12

Foto oleh: Manuel Goria / Sutton Images

Bagaikan dua bersaudara di kursi belakang mobil, kedua pembalap ini sulit untuk dipisahkan. Mereka akhirnya dilarang saling bertarung usai insiden pada GP Singapura 2018. Selepas start, Ocon mencoba menyalip Perez dari sisi luar, tapi ia terimpit oleh rekan setimnya tersebut hingga menabrak dinding pembatas.

Ini bukan pertama kalinya. Musim lalu, Ocon mengklaim mendapat ancaman kematian di media sosial setelah bertabrakan dengan Perez pada GP Azerbaijan dan Belgia. Untuk F1 2019, Perez bakal didampingi anak seorang jutawan sekaligus pemilik tim. Siapkan popcorn Anda!

11: Niki Lauda & Carlos Reutemann (Ferrari)

11: Niki Lauda & Carlos Reutemann (Ferrari)
2/12

Foto oleh: LAT Photographic

Dibekap cedera parah setelah kecelakaan yang nyaris merenggut nyawanya di Nurburgring pada 1976, Lauda marah ketika Ferrari mendatangkan Reutemann dari Brabham sebagai pengganti sementara. Tak disangka, Lauda bisa pulih dengan cepat dan Ferrari menuruti permintaan pembalap Austria itu untuk menurunkan tiga mobil di Monza. Dalam penampilan pertamanya sejak kecelakaan, terjadi enam minggu sebelumnya, Lauda berhasil unggul atas dua rekan setimnya.

Tahun berikutnya, Reutemann semusim penuh bersama Ferrari, menggantikan Clay Regazzoni. Ketika disinggung apakah pembalap Argentina itu rekan setim atau rival, Lauda menjawab, "Bukan dua-duanya." Reutemann memenangi ronde kedua pada 1977, tapi gelar juara dunia menjadi milik Lauda, sedangkan Reutemann berada di peringkat keempat.

 

10: Nigel Mansell & Alain Prost (Ferrari)

10: Nigel Mansell & Alain Prost (Ferrari)
3/12

Foto oleh: Sutton Images

Ada dua kemungkinan di balik kisah ini: Apakah Prost memang lihai dalam mempengaruhi tim supaya kehendaknya terpenuhi meski di saat yang sama bakal merugikan rekan setimnya, atau Sang Profesor memang jenius dalam adu 'mind games' melawan Mansell. Ketika Prost bergabung ke Ferrari pada 1990 – setelah semusim sebelumnya terlibat ketegangan dengan Senna di McLaren, Mansell dijanjikan bakal diperlakukan secara adil di skuat Maranello.

Namun, memasuki pertengahan musim, Mansell melempar sarung tangan balapnya dan mengumumkan pensiun dari F1. Alasannya, ia menilai Prost (yang tidak seperti Mansell, mencoba belajar bahasa Italia) telah menerima perlakuan istimewa.

9: Ayrton Senna & Elio de Angelis (Lotus)

9: Ayrton Senna & Elio de Angelis (Lotus)
4/12

Foto oleh: Sutton Images

Senna terlibat dalam permainan politik F1 pertamanya pada 1985 dengan menggertak manajemen tim Lotus agar dirinya lebih dipentingkan daripada de Angelis, rekan setim yang lebih berpengalaman dan lebih karismatik waktu itu. Senna berhasil "membajak" teknisi handal, Nigel Stepney, dan sejumlah mekanik dari kubu seberang. Hal ini sontak membuat de Angelis merasa direndahkan oleh tim yang sempat ia sebut sebagai rumahnya sendiri.

Keduanya bahkan nyaris baku hantam di Kyalami, balapan kedua terakhir musim itu. De Angelis memutuskan hengkang ke Brabham, yang sayangnya berakhir tragis. Kepada Lotus, Senna meminta rekan setim yang lebih patuh, dan dengan alasan tersebut, ia menghalangi kedatangan Derek Warwick. Ia mengancam, jika pembalap Inggris itu datang, maka ia akan pindah ke Brabham. Bayangkan bagaimana perasaan de Angelis andai itu terjadi...

8: Lewis Hamilton & Fernando Alonso (McLaren)

8: Lewis Hamilton & Fernando Alonso (McLaren)
5/12

Foto oleh: XPB Images

Berstatus dua kali juara dunia, Alonso mengira musim pertamanya bersama McLaren bakal dijalani dengan mudah. Rekan setimnya waktu itu adalah seorang rookie bernama Lewis Hamilton yang naik kelas ke F1 setelah menjadi juara umum GP2. Sekilas, Alonso sepertinya tidak akan mendapat perlawanan berat dari pembalap yang masih harus beradaptasi. Namun, prediksi itu salah, salah besar! Hamilton sudah menjadi duri tajam bagi pembalap Spanyol itu sejak tikungan pertama di Melbourne.

Hamilton muda terbukti mampu bersaing dan terus menekan Alonso sepanjang musim. Puncaknya terjadi di Hongaria, ketika Alonso sengaja menghalangi Hamilton dalam perebutan pole pada kualifikasi. Perseteruan itu akhirnya berakhir dengan jumlah poin yang sama, membuka jalan bagi Kimi Raikkonen untuk mencuri gelar juara dunia dengan keunggulan satu poin. Hal itu tidak membuat kecewa Alonso, yang mungkin justru senang selama bukan Hamilton yang menjadi juara dunia.

7: Alan Jones & Carlos Reutemann (Williams)

7: Alan Jones & Carlos Reutemann (Williams)
6/12

Foto oleh: LAT Photographic

Bukan kali pertama, Clay Regazzoni digantikan oleh Reutemann, dan juga bukan kali pertama, Reutemann tidak mendapat sambutan baik dari rekan setim di tim barunya. Padahal Reutemann sudah menyatakan bersedia mengambil peran pembalap nomor dua.

Pada 1980, Jones sadar dengan potensi mobil Williams FW07B. Hal inilah yang mendasari kekesalan Jones terhadap Reutemann yang menurutnya tampil dengan "kemampuan 90 persen" dan gagal mencuri poin rival terdekatnya dalam perebutan titel, pembalap Brabham, Nelson Piquet.

Hubungan itu akhirnya "meledak" pada ronde kedua musim 1981 di Brasil, di mana Reutemann mengabaikan team order dan merebut kemenangan usai menaklukkan Jones.

6: Mark Webber & Sebastian Vettel (Red Bull)

6: Mark Webber & Sebastian Vettel (Red Bull)
7/12

Foto oleh: LAT Images

Aura ketegangan antara Webber dan Vettel sudah terasa sejak insiden senggolan pada GP Turki 2010. Kemudian datang drama Malaysia 2013. Webber, nyaman memimpin balapan, menurunkan setingan tenaga mesinnya usai pit stop terakhir. Red Bull kemudian mengeluarkan instruksi "Multi-map 2-1", yang berarti nomor mobil 2 (Webber) berada di depan nomor mobil 1 (Vettel).

Namun perintah untuk bertahan di posisi masing-masing ini dihiraukan oleh Vettel, yang terus menyerang hingga akhirnya finis di depan Webber. Di ruang tunggu sebelum perayaan podium, Webber berkata, "Multi 21 Seb... Ya, Multi 21", kepada Vettel yang hanya bisa berdiam sambil menenggak air minum dari botolnya, klasik.

Dalam otobiografinya yang dibuat usai pensiun dari F1, Webber mencap Vettel sebagai orang yang arogan dan sering menyalahkan tim jika kalah. Ouch!

5: Lewis Hamilton & Nico Rosberg (Mercedes)

5: Lewis Hamilton & Nico Rosberg (Mercedes)
8/12

Foto oleh: Steve Etherington / LAT Images

Hamilton dan Rosberg merupakan sahabat dekat semasa gokart. Meski punya latar belakang yang berbeda, keduanya juga berteman baik di luar trek, mulai dari bermain bola, gim komputer, dan juga tenis meja. Beberapa tahun berselang, persahabatan antar keduanya memudar ketika Hamilton dan Rosberg sama-sama memperkuat tim F1 Mercedes.

Dimulai dengan insiden Rosberg melebar di run-off Monako saat kualifikasi pada 2014, membuat bendera kuning berkibas dan menggagalkan harapan Hamilton mencuri pole darinya. Masih pada tahun yang sama, perseteruan kian memanas setelah keduanya bersinggungan di GP Belgia.

Salah satu momen yang diingat para penggemar F1 adalah ketika Rosberg, yang tampak frustrasi, melempar topinya ke arah kepala Hamilton setelah pembalap Inggris Raya itu menyabet gelar juara dunia ketiganya di Austin. Titik terendah ada pada balapan Barcelona 2016, yang mana keduanya bertabrakan dan sama-sama tersingkir. Kemudian diperparah dengan insiden GP Austria, di mana Rosberg mencoba mendorong Hamilton ke luar jalur dan justru merusak sayapnya sendiri.

Rosberg akhirnya merengkuh gelar juara dunia perdananya pada balapan terakhir musim 2016 di Abu Dhabi. Itupun ia raih setelah Hamilton, memimpin balapan, sengaja melambat agar Rosberg mendapat tekanan dari pembalap lain. Bahkan setelah Rosberg pensiun, belum ada tanda-tanda hubungan antar keduanya akan membaik.

4: Rene Arnoux & Alain Prost (Renault)

4: Rene Arnoux & Alain Prost (Renault)
9/12

Foto oleh: LAT Images

Antara 1979 dan 1980, Arnoux membuktikan potensi yang ia perlihatkan pada kategori junior. Bersanding dengan Jean Pierre Jabouille di Renault, Arnoux memenangi dua balapan F1 pertamanya dan mengemas empat pole.

Ketika Jabouille menderita patah kaki akibat insiden tabrakan, Renault merekrut pembalap muda bernama Prost untuk musim 1981. Meski lebih berpengalaman, Arnoux perlahan-lahan membalap di belakang bayang-bayang Prost yang lebih unggul dalam hal jumlah kemenangan, pace, dan juga konsistensi.

Sebagai pembalap Perancis dan membela tim yang bisa dianggap sebagai tim nasional Perancis di F1 (satunya lagi Ligier), rivalitas itu mulai terlihat. Pada 1982, performa Arnoux mulai membaik, tapi masih dihinggapi ketidakberuntungan. Harapan gelar Renault kembali bertumpu pada Prost.

Pada balapan kandang di Paul Ricard, Arnoux mengabaikan perjanjian yang disepakati sebelum balapan, yakni memberi jalan pada Prost untuk memburu kemenangan. Tapi toh Arnoux tidak peduli, musim berikutnya, ia hijrah ke Ferrari.

3: Nigel Mansell & Nelson Piquet (Williams)

3: Nigel Mansell & Nelson Piquet (Williams)
10/12

Foto oleh: LAT Images

Piquet bergabung dengan Williams pada 1986 sebagai dua kali juara dunia. Sementara Mansell sendiri waktu itu sudah mulai diperhitungkan di atas lintasan F1. Dengan cepat, keduanya membenci satu sama lain, dan garasi Williams terbelah menjadi dua. Kedua kubu saling menyembunyikan sesuatu.

Dengan Frank Williams masih terbaring di rumah sakit dan tidak bisa mengendalikan situasi di timnya, Piquet dan Mansell terus saling mencuri poin hingga akhirnya dimanfaatkan Alain Prost untuk menyusup merebut gelar dengan dramatis pada balapan pamungkas di Adelaide. Tawa terakhir itu menjadi milik Piquet, ketika ia menjadi juara dunia lagi pada 1987, meski sempat kecelakaan hebat di tikungan Tamburello sirkuit Imola. Tapi di Suzuka, giliran Mansell yang mengalami tabrakan, memaksanya absen pada dua balapan.

Piquet kemudian pindah ke Lotus, tapi perseteruan itu belum berhenti. Dalam sebuah wawancara bersama Playboy, sang juara dunia bertahan berkata: "Perbedaan saya dengan dia adalah saya memenangi tiga gelar juara dunia, sedangkan dia kalah dua kali." Pembalap Brasil itu kemudian mengejek kecerdasan, keahlian, dan bahkan istri Mansell!

2: Alain Prost & Ayrton Senna (McLaren)

2: Alain Prost & Ayrton Senna (McLaren)
11/12

Foto oleh: LAT Images

Apa jadinya jika dua pembalap raksasa F1 ditempatkan di mobil paling dominan pada masanya? Petaka jawabannya. Gesekan pertama antara keduanya terjadi pada 1988, kala Senna mengimpit Prost ke arah pit wall di awal lap kedua GP Portugal. Lewat media, keduanya saling melontarkan kritik.

Tapi ini masih bukan apa-apanya jika dibandingkan dengan apa yang terjadi pada musim 1989. Di Imola, duo McLaren ini sepakat tidak menyalip satu sama lain di tikungan Tosa pada lap pembuka, dan fokus pada pembalap lain. Senna melakukan start yang lebih baik, tapi kecelakaan Gerhard Berger membuat balapan sempat terhenti.

Selepas restart, giliran Prost yang melesat lebih cepat. Mengira rekan setimnya tidak akan menyalip, Prost pun tidak melakukan manuver bertahan menjelang Tosa. Tapi tipikal Senna, ia mengabaikan perjanjian pra-balapan dan tetap menyalip sang profesor.

Luapan amarah Prost tak terbendung. Klimaks itu terjadi di Suzuka ketika Prost menerjang sisi dalam Senna di chicane terakhir. Tabrakan tak terhindarkan, Prost tersingkir di tempat. Sedangkan Senna melanjutkan balapan dan menang, tapi didiskualifikasi akibat mengambil jalur darurat – gelar juara dunia jatuh ke tangan Prost. Tidak terima, Senna menuding FIA telah 'memanipulasi' kompetisi.

Kabar baiknya, hubungan kedua sosok legenda ini menghangat setelah Prost memutuskan gantung helm.

1: Gilles Villeneuve & Didier Pironi (Ferrari)

1: Gilles Villeneuve & Didier Pironi (Ferrari)
12/12

Foto oleh: LAT Images

Meski tidak secara langsung, sayangnya ini menjadi contoh di mana rivalitas antar rekan setim berbuntut hilangnya nyawa salah satu pembalap. Di atas kertas, Pironi, menggantikan Jody Scheckter yang pensiun, dan Villenueve adalah kombinasi yang menjanjikan bagi Ferrari pada 1981, bahkan salah satu yang terkuat di era 80-an.

Awalnya, Pironi kesulitan beradaptasi dengan lingkungan barunya. Ia dibuat tercengang kala dioverlap oleh Villeneuve yang menjadi pemenang di Monako. Namun, di antara kedua pembalap, Pironi adalah yang paling cerdas. Penuh perhitungan, ia juga menjadi figur populer di kalangan staf senior Ferrari.

Ini terbukti krusial pada GP San Marino 1982, di mana Pironi memenangi balapan setelah menyalip Villeneuve pada lap pamungkas. Padahal Ferrari sudah mengeluarkan papan pit bertuliskan 'slow'. Ini berarti pembalap yang menghuni urutan pertama ketika team order itu diberlakukan, berhak menjadi pemenang.

Villeneuve, unggul 1,5 detik atas Pironi saat kualifikasi, mengira rekan setimnya akan menghormati arahan tersebut. Salah besar. Menariknya, setelah balapan, manajer tim, Marco Piccinnini, menilai Pironi tidak berbuat salah. Hal ini membuat Villeneuve paranoid, berpikir bahwa Ferrari lebih memihak pada rekan setimnya.

Frustrasi, pembalap Kanada itu bersumpah tidak akan berbicara dengan Pironi lagi. Pada sesi kualifikasi di Zolder, Villeneuve tertinggal 0,1 detik dari Pironi. Seolah tak mau kalah, ia memutuskan kembali turun ke trek untuk percobaan keduanya. Namun nahas, ini berakhir dengan tragedi. Setelah kesalahpahaman dengan backmarker, salah satu pembalap terhebat di dunia itu meninggalkan kita untuk selamanya.

Next article
Akibat kecelakaan, Toro Rosso habiskan Rp33 Miliar

Artikel sebelumnya

Akibat kecelakaan, Toro Rosso habiskan Rp33 Miliar

Next article

Vettel tertekan, Ferrari ikut bersalah

Vettel tertekan, Ferrari ikut bersalah
Muat komentar
Be first to get
breaking news