Motorsport.com's Prime content
Topik

Motorsport.com's Prime content

Binotto: Saya Tidak Brutal, tapi Bisa Bersikap Keras

Mattia Binotto mengakui tak pernah bisa santai setiap hari sejak duduk sebagai prinsipal Ferrari F1. Kesulitan demi kesulitan harus dihadapi.

Binotto: Saya Tidak Brutal, tapi Bisa Bersikap Keras

Problem dan kesulitan seolah jadi teman akrabnya selama duduk di kursi bos Ferrari sejak 2019. Tim balap tersebut mengalami prestasi fluktuatif.

Skuad Kuda Jingkrak menunjukkan performa mengesankan di awal F1 2022. Mereka menjadi penantang kuat gelar juara dunia.

Baru merangkak ke papan atas sejenak, Ferrari terhempas karena berbagai masalah datang mendera. Keandalan F1-75 kian meragukan, ditambah salah strategi dalam beberapa balapan.

Selisih Charles Leclerc dengan Max Verstappen sebelum jeda musim panas melebar 80 poin. Binotto pun jadi sasaran tembak para penggemar Ferrari.

Insinyur andal tersebut sadar saat ini menjadi sosok yang paling dibenci karena dituduh jadi biang kegagalan tim.

“Sangat berat bagi saya karena dua alasan. Pertama, jika kita bicara tentang kegagalan mesin. Saya mengelola (departemen) itu sendiri di masa lalu. Dan melihat asap tidak pernah menyenangkan. Jadi ini lebih pada perasaan tertekan,” ucapnya dalam wawacara eksklusif kepada Motorsport.com.

“Tidak heran ketika Anda melihat bahwa kami memimpin balapan, sementara Charles unggul di Baku dan Carlos (Sainz), saya katakan di Austria, merka adalah problem yang tidak ingin Anda lihat.

“Saya tetap tenang, tapi percaya lah bahwa saya tertekan. Ini sulit dan Anda mengambil beberapa momen, mencoba bereaksi, kemudian Anda perlu memikirkan langkah-langkah berikutnya.

Baca Juga:

“Jadi apa yang dibutuhkan dan apa yang diperlukan? Bukan hanya dari sisi teknik, tapi lebih pada tim. Jadi apa yang dapat saya lakukan untuk membantu? Apa yang bisa saya lakukan untuk memastikan bahwa semua orang tetap tenang dan fokus, terlindung dari serangan eksternal dan komentar?”

Terlepas dari tumpukan masalah, Binotto merasa justru itu membuat hari-harinya lebih berwarna. Ia senang menghadapi tantangan.

“Setiap hari (sulit)! Saya kira bukan perjalanan mudah sejak 2019, ketika saya didapuk sebagai prinsipal tim hingga sekarang,” ia melanjutkan.

“Kami melewati 2020, sangat sulit, dan kemudian 2021. Meski 2022, karena kami bertarung untuk jadi yang terbaik, kadang ada balapan di mana kami tidak mendapatkan potensi mobil. Jadi ini tidak mudah.

“Yang bisa saya katakan, saya gembira dengan peran ini. Saya gembira karena tahu mendapat tim hebat. Tim ini bersatu. Sungguh menyenangkan melihat mereka bekerja sama.”

Charles Leclerc, Ferrari F1-75, pitstop

Charles Leclerc, Ferrari F1-75, pitstop

Photo by: Ferrari

Binotto bukan sosok yang suka menyalahkan pihak lain. Ia memiliki gaya manajemen yang lugas tapi tak takut mempercayai anak buahnya. Mereka bebas mengungkapkan pendapatnya dalam pencarian solusi.

“Saya memberdayakan orang-orang di sekitar saya. Saya kira, saya tidak brutal tapi saya keras. Orang-orang di sekitar tahu kalau saya bisa sangat keras,” katanya.

“Saya kira lebih dari itu, saya mencoba selalu memberdayakan mereka dan memberikan semua yang dibutuhkan untuk melakukan pekerjaannya. Saya percaya kepada orang-orang di sekeliling.

“Saya bukan seseorang yang akan membahas detail setiap elemen. Saya lebih fokus pada diri sendiri. Saya tahu seberapa penting suasana dalam tim. Saya tahu betapa penting pendekatan mental dan budaya.

“Kami banyak bekerja dalam tim, mencoba mengubah budaya kami dibanding dengan yang dulu, dan apa yang kami yakini sebagai sikap dan perilaku tepat.

“Saya bisa melihat tim yang bagaimana pun sangat bersatu dan saya kira Anda bisa mendapatkannya melalui transparansi. Meski saya kira, Anda perlu lebih cerdas, kadang transparan dan tulus.”

Mobil Carlos Sainz, Ferrari F1-75, terbakar

Mobil Carlos Sainz, Ferrari F1-75, terbakar

Foto oleh: Andy Hone / Motorsport Images

Proses Pemulihan

Binotto menjelaskan performa saat ini bukan gambaran kemajuan tim. Mereka masih harus membayar kesalahan pembuatan mobil F1 2020, pembekuan pengembangan dan pandemi Covid-19.

Mereka butuh waktu cukup lama untuk memperbaiki keruwetan. Ferrari seolah mundur tiga langkah gegara musim 2020.

“Tidak ada peluru perak di F1. Tidak butuh satu atau dua tahun untuk pulih. Lebih dari itu,” ujarnya.

“Saya kira apa yang kami capai hari ini dimulai sejak beberapa waktu lalu, dan mungkin terjadi pada 2016 atau 2017. Ini pembangunan tim berkesinambungan, meningkatkan diri kami.

“Ini tentang organisasi, skill, pengalaman, metodologi dan perangkat. Itu tentang aset dan ketika saya katakan aset, itu bisa simulator, pengembagan terowongan angin, apa pun yang Anda dapat.”

Pria Italia tersebut menambahkan, “Itu lebih dari satu langkah mundur, tapi tiga langkah. Kenapa? Saya memikirkannya pada 2020, kami mengacaukan proyek.

“Kemudian, semua dibekukan pada awal musim. Ini seperti jika Mercedes akan dibekukan di balapan pembuka, apa yang terjadi dengan mereka?

“Saya kira itu bukan tim yang tidak mampu mengembangkan. Itu mampu membuat mobil bagus, mampu memperjuangkan yang terbaik, tapi apabila Anda akan membekukan proyek Anda dalam balapan pertama dan Anda melakukan kesalahan tak sengaja, seperti yang dilakukan Mercedes musim ini. Kemudian, Anda bertahan di sana dalam musim keseluruhan.”

Pada 2019, Ferrari melakukan restrukturisasi organisasi dan tim. Alhasil, SF1000 tidak bisa maksimal dalam pengembangan.

Binotto menjelaskan kalau pengembangan mobil 2020 dan 2021 sangat terbatas. Jadi kapasitas tim tidak maksimal.

“Saya kira tim mulai 2017, mencoba untuk berprogres setiap tahun. Hari ini, saya kira kami mendapatkan lebih dari feedback sebenarnya terkait kapasitas. Tapi tidak ragu bahwa kami meningkat di setiap musim,” ujarnya.

“Tidak ragu, saya kira 2020, berguna bagi kami menempatkan pada kebutuhan untuk meningkat lebih lagi, menganalisis semua kelemahan kala itu, proyek dari organisasi, mencoba menyetel sesuatu yang akan lebih baik untuk masa depan.

“Mulai 2020, kami pastinya membuat beberapa perubahan dalam organisasi dengan peran jelas, tanggung jawab jelas. Kami punya simulator baru, jadi saya kira ini saat yang tepat untuk mengatakan, ‘Ok, mari mencetak poin, soroti kelemahan dan mencoba mengatasi semua.’ Saya kira itu sudah dilakukan.”

Charles Leclerc, Ferrari, posisi 1, Mattia Binotto, Prinsipal Ferrari, merayakan di Parc Ferme

Charles Leclerc, Ferrari, posisi 1, Mattia Binotto, Prinsipal Ferrari, merayakan di Parc Ferme

Foto oleh: Zak Mauger / Motorsport Images

Pendekatan Sama

Binotto menegaskan tak ada perubahan pendekatan untuk sisa musim ini, meski ada deretan blunder. Ferrari ingin maju selangkah demi selangkah.

Jeda kompetisi dimanfaatkan untuk menyusun kekuatan supaya bangkit di F1 GP Belgia.

“Saya kira tidak ada hal berbeda yang perlu kami lakukan. Kami melanjutkan perjalanan, mengembangkan diri sendiri selangkah demi selangkah secara berkesinambungan, fokus pada masing-masing balapan,” tuturnya.

“Saya kira kami punya potensi untuk memenangi balapan saat ini. Hanya masalah memastikan itu ketika melewati bendera kotak-kotak, kami ada di posisi pertama. Tapi, bukan berarti kami harus mengubah pendekatan.

“Seperti yang dikatakan, tidak ada peluru perak jadi saya kira tidak perlu berubah. Kami sudah membuktikan bisa melakukan pekerjaan dengan baik.

“Hanya masalah selangkah demi selangkah sampai di sana, terbiasa dengan itu dan apa pun hasilnya pada 2022. Kami mencoba bersiap untuk 2023.”

dibagikan
komentar
Kurang Menguntungkan, Jerman Tetap Tak Masuk Kalender F1
Artikel sebelumnya

Kurang Menguntungkan, Jerman Tetap Tak Masuk Kalender F1

Artikel berikutnya

Toto Wolff Bangga Mercedes Berhasil Membalikkan Situasi

Toto Wolff Bangga Mercedes Berhasil Membalikkan Situasi