Blame It On The Rain

Hasil Grand Prix Belgia yang unik karena hujan tak kunjung berhenti, Minggu (29/8/2021) siang, mengingatkan publik akan kejadian serupa yang pernah terjadi di Formula 1.

Blame It On The Rain

Mereka yang mengalami masa remaja pada awal 1990-an, tentu tahu lagu Blame It On the Rain yang dipopulerkan duo R&B, Milli Vanilli. Semua tahu bila lagu itu menjadi salah satu skandal memalukan dalam sejarah musik dunia karena Milli Vanilli melakukan lip sync.

Terlepas dari skandal yang dibuat Milli Vanilli, lagu tersebut faktanya masih enak didengar hingga kini. Lebih menarik lagi jika menyimak lirik lagu tersebut yang terkesan ‘menyalahkan hujan’ sehingga hubungan sang pria dengan kekasihnya kacau.

GP Belgia yang berlangsung Minggu lalu juga sempat mengundang pertanyaan. Bahkan yang tidak sedikit yang menuding sarat skandal karena terkesan dipaksakan berlangsung. Semua berawal dari hujan yang tidak kunjung berhenti hingga berjam-jam.

Max Verstappen (Red Bull Racing) akhirnya dinyatakan sebagai pemenang GP Belgia yang hanya berlangsung satu lap tersebut. Sesuai regulasi, karena tidak mampu menjalani 75 persen lap lomba (GP Belgia normal berdurasi 44 lap), maka poin yang diberikan untuk 10 besar hanya setengah.

Dengan tambahan 12,5 poin dari lomba di Sirkuit Spa-Francorchamps, Verstappen pun memangkas gap di klasemen dengan Lewis Hamilton (Mercedes-AMG Petronas F1) yang berada di puncak, dari delapan poin menjadi tinggal tiga.

Pasalnya, juara dunia tujuh kali (2008, 2014, 2015, 2017, 2018, 2019, 2020) itu hanya mendapatkan 7,5 poin hasil finis ketiga di Spa, di bawah George Russell (Williams) yang naik podium kedua.

Max Verstappen, Red Bull Racing RB16B, George Russell, Williams FW43B

Max Verstappen, Red Bull Racing RB16B, George Russell, Williams FW43B

Foto oleh: Mark Sutton / Motorsport Images

GP Belgia 2021 ini tidak hanya menjadi balapan F1 paling terpendek, mengalahkan rekor sebelumnya, GP Australia 1991 yang juga dihentikan karena hujan lebat saat balapan baru berlangsung 14 lap (dari rencana 80 lap) di Sirkuit Jalan Raya Adelaide.

Dalam sejarah Kejuaraan Dunia Formula 1 pemberian setengah poin di GP Belgia lalu menjadi yang keenam setelah GP Spanyol 1975, GP Austria 1975, GP Monaco 1984, GP Australia 1991, dan GP Malaysia 2009.

Kecuali GP Spanyol yang dihentikan karena kecelakaan, lima balapan lainnya hanya memberikan setengah poin akibat pemicu yang sama, hujan!

Hasil-hasil di GP Spanyol 1975 (dihentikan di lap 29 dari rencana 75 lap), GP Monaco 1984 (31 dari 76), maupun GP Malaysia 2009 (31 dari 56), mungkin belum terlalu memengaruhi persaingan pembalap karena digelar pada awal atau jauh sebelum tengah musim.

Namun, hal sebaliknya terjadi di GP Austria 1975 (29 dari 54), balapan ke-12 dari 14, dan GP Australia 1991 (16 dari 81) yang menjadi penutup musim tersebut.

Austria 1975 memengaruhi konstelasi perburuan gelar pembalap sementara Australia 1991 sangat menentukan gelar konstruktor.

Vittorio Brambilla, March 751 Ford, pemenang F1 GP Austria 1975.

Vittorio Brambilla, March 751 Ford, pemenang F1 GP Austria 1975.

Foto oleh: David Phipps

Tepat sebelum GP Austria 1975, Niki Lauda (Ferrari) memimpin atas Carlos Reutemann (Brabham-Ford) dengan 17 poin.

Dengan tiga balapan tersisa dan maksimal 27 poin yang bisa direbut – saat itu hanya enam pembalap tercepat mendapatkan poin: 9-6-4-3-2-1 – bukan hanya Reutemann yang berpeluang menggeser Lauda.

Emerson Fittipaldi (McLaren-Ford), James Hunt (Hesketh-Ford), dan Carlos Pace (Brabham-Ford) yang berada di lima besar, secara matematis juga masih bisa menggeser Lauda.

Namun, hujan di GP Austria, seri ke-12 dari total 14 F1 1975, semakin menipiskan harapan keempat pembalap di bawah Lauda. Hujan lebat yang mengguyur Sirkuit Spielberg (kini Red Bull Ring), membuat balapan dihentikan pada lap 29 dari rencana 54 lap lomba.

Poin yang diberikan pun akhirnya hanya separuh dari balapan normal. Karena Lauda mendapatkan 0,5 poin sedangkan Reutemann dan Fittipaldi gagal, keunggulan pembalap Austria itu sedikit melebar menjadi 17,5.

Dengan begitu, Lauda tinggal butuh minimal satu poin pada lomba berikutnya, GP Italia (seri ke-13 dari total 14) untuk memastikan gelar juara dunia. Lauda akhirnya naik podium ketiga di Monza sekaligus merebut trofi pertamanya (dari total tiga, lainnya 1977 dan 1984).

Ayrton Senna, McLaren MP4/6 saat turun di Sirkuit Adelaide, dan memenangi GP Australia 1991

Ayrton Senna, McLaren MP4/6 saat turun di Sirkuit Adelaide, dan memenangi GP Australia 1991

Foto oleh: Sutton Images

Situasi serupa terjadi di GP Australia 1991 yang menjadi balapan penutup (16) musim tersebut. Setelah GP Jepang, seri ke-15, gap McLaren di puncak klasemen konstruktor dengan Williams di P2 adalah 11 poin.

Dengan maksimal 16 poin yang bisa direbut di Adelaide – poin enam besar sudah berubah menjadi 10-6-4-3-2-1 – meskipun berat, Williams masih berpeluang juara konstruktor. McLaren sendiri sudah memastikan gelar pembalap di Jepang lewat Ayrton Senna.

Lagi-lagi, hujan deras memaksa balapan GP Australia 1991 dihentikan pada lap 16 dari rencana 81 lap. Namun, karena saat itu ofisial balapan agak bingung, akhirnya diputuskan urutan pembalap pada lap 14 yang diambil.

Poin untuk enam pembalap terdepan: Senna, Nigel Mansell (Williams-Renault), Gerhard Berger (McLaren-Ford), Nelson Piquet (Benetton-Ford), Ricardo Patrese (Williams-Renault), dan Gianni Morbidelli (Ferrari) pun hanya diberikan separuh.

McLaren mengoleksi total 7 poin sedangkan Williams hanya 4 poin. Di klasemen akhir konstruktor, McLaren pun merebut gelar juara dunia dengan unggul 14 poin atas Williams.

Baca Juga:

Bila GP Austria 1975 maupun GP Australia 1991 berlangsung dalam kondisi normal, bukan tidak mungkin Niki Lauda serta McLaren gagal merebut gelar.

Mengacu kedua situasi tersebut, bukan tidak mungkin hasil GP Belgia, Minggu lalu, akan menjadi pembeda di klasemen akhir. Yang pasti, dalam situasi persaingan seketat saat ini, sekecil apa pun gap akan sangat berarti.

Hamilton, yang keunggulannya terpangkas menjadi tinggal tiga poin, jelas kesal dengan hasil GP Belgia. Ia jelas akan lebih diuntungkan bila, karena cuaca buruk, GP Belgia dibatalkan. Atau, balapan berlangsung normal dengan ditunda menjadi Senin, misalnya.

Memang masih ada 10 balapan tersisa musim ini. Sebagian besar balapan diyakini bakal menjadi makanan empuk Mercedes, termasuk pada lomba kandang Verstappen di Sirkuit Zandvoort, Belanda, akhir pekan nanti.

Tantangan Lewis Hamilton bertambah berat jika melihat bukan tidak mungkin akan ada balapan lagi yang dibatalkan mendadak karena pandemi Covid-19 atau problem lain. Meskipun, beberapa waktu lalu FIA telah melansir revisi kalender sisa musim ini.  

dibagikan
komentar
Pengemudi Safety Car F1 Buka Suara soal GP Belgia

Artikel sebelumnya

Pengemudi Safety Car F1 Buka Suara soal GP Belgia

Artikel berikutnya

Pierre Gasly Merasa Tidak Pantas Dapat Poin F1 GP Belgia

Pierre Gasly Merasa Tidak Pantas Dapat Poin F1 GP Belgia
Muat komentar