Brivio Tak Menyesal Tinggalkan Suzuki demi Alpine

Meski tak mudah, Davide Brivio mengaku tak menyesal angkat kaki dari Suzuki, yang baru saja juara di MotoGP, untuk menerima pinangan Alpine F1.

Brivio Tak Menyesal Tinggalkan Suzuki demi Alpine

Pria Italia tersebut dibajak dari Yamaha Factory Racing oleh Suzuki pada 2013. Ia membantu meletakkan fondasi tim pabrikan yang ingin kembali ke MotoGP.

Buah kerja kerasnya baru terlihat musim 2019 dan terus meningkat tahun lalu, di mana Suzuki mengawinkan titel juara tim dan pembalap atas nama Joan Mir.

Kepiawaian Brivio mengelola tim rupanya terus berada dalam pantauan Renault yang berganti merek jadi Alpine. Hingga ia ditawari untuk mengisi pos direktur balap, ketika terjadi restrukturisasi dalam tim.

Tantangan dari jalur balap yang berbeda dipandang cukup menarik oleh Brivio. Namun, keputusan sang manajer tim andal melompat ke kubu lain menimbulkan guncangan kecil di tubuh Suzuki. Hingga mengubah tanggung jawab para petinggi lainnya untuk menutupi kekosongan tersebut karena sosoknya tak tergantikan.

Mantan manajer tim World Superbike (WSBK) Yamaha tersebut akhirnya angkat bicara soal alasannya meninggalkan Suzuki demi Alpine.

“Tentu saja tak mudah meninggalkan tim lama saya, sebuah lingkungan yang sudah saya kenal baik,” ujarnya kepada Motorsport.com saat rilis mobil A521 untuk F1 2021.

“Formula 1 seperti sebuah impian yang sangat lama bagi saya. Sungguh menyenangkan bagi saya memulai sesuatu yang baru dan masuk ke lingkungan baru.

“Tentu saya harus banyak belajar, saya harus banyak mengerti, tapi itu adrenalin bagi saya, itu adalah oksigen, bekerja dan belajar banyak hal.”

Baca Juga:

Brivio mengungkapkan hati kecilnya yang mendorong untuk menyambar tawaran dari tim yang bermarkas di Enstone, Inggris, itu.

“Itu adalah sebuah kesempatan di mana saya rasa harus saya ambil. Mungkin, saya akan menyesal kalau tak mengambilnya. Jadi sekarang saya di sini dan saya akan mencoba melakukan yang terbaik. Semoga saya bisa berkontribusi terhadap Alpine Formula 1 dengan pengalaman saya,” ia menuturkan.

“Itu tak mudah. Saya butuh waktu, tapi saya tidak berkomitmen penuh untuk mencoba dan terlibat sebanyak mungkin.”

Ia akan menjalankan tim bersama direktur eksekutif Marcin Budkowski, seiring dengan kepergian bos Renault F1 Cyril Abiteboul. Mengingat jabatannya sebagai direktur balap, Brivio akan lebih banyak mengatur tim di trek.

“Saya akan bertanggung jawab mengelola operasi trek dan aktivitas, serta segalanya yang terjadi di sirkuit,” ucapnya.

“Pekerjaan kami sebagai tim balap adalah mengeksploitasi potensi penuh dari mobil. Di Enstone, ada tekanan besar sekaligus tanggung jawab besar karena kami punya lebih dari seribu orang antara Enstone dan Viry yang menyiapkan sasis, mobil serta power unit.

“Sementara di trek jumlah orangnya terbatas, tapi di sana justru kami harus memaksimalkan potensi mobil. Jadi saya akan bertanggung jawab untuk itu.

“Jelas saya bukan seorang engineer, tapi saya harus mencoba memastikan bahwa para engineer, mekanik, pembalap, serta semua orang yang terlibat, memilik yang dibutuhkan agar tampil dalam kondisi terbaik.

“Dalam hal ini, kalau kami bisa memiliki sebuah tim tangguh, yang sudah ada, kami akan mampu mengekstraksi potensi penuh mobil.”

Davide Brivio

Davide Brivio

Foto oleh: Gold and Goose / Motorsport Images

 

dibagikan
komentar

Video terkait

Hamilton Beberkan Alasan Hanya Perpanjang Kontrak Satu Tahun

Artikel sebelumnya

Hamilton Beberkan Alasan Hanya Perpanjang Kontrak Satu Tahun

Artikel berikutnya

Belajar dari Pengalaman, Bottas Targetkan Gelar F1 2021

Belajar dari Pengalaman, Bottas Targetkan Gelar F1 2021
Muat komentar

Tentang artikel ini

Kejuaraan Formula 1 , MotoGP
Tag suzuki , alpine , f1 , formula 1 , davide brivio
Penulis Luke Smith