Sign up for free

  • Get quick access to your favorite articles

  • Manage alerts on breaking news and favorite drivers

  • Make your voice heard with article commenting.

Motorsport prime

Discover premium content
Berlangganan

Edisi

Indonesia Indonesia

Luca de Meo Ingin Alpine Tiru Formula Ferrari

CEO Renault Luca de Meo puas dengan performa awal Alpine pada musim ini dan mendukung kehadiran lebih banyak konstruktor dalam Formula 1.

Fernando Alonso, Renault F1 Team with Luca de Meo, Groupe Renault Chief Executive Officer

Luca de Meo baru-baru ini berbicara tentang situasi Alpine dan menyambut masuknya grup Volkswagen ke F1 dengan Porsche dan Audi dalam wawancara dengan Corriere dello Sport.

Pria Italia tersebut mengaku senang dengan awalan yang diperlihatkan oleh Alpine pada F1 musim 2022, meskipun sadar masih terlalu dini untuk menarik kesimpulan.

“Pertama, tidak ada keraguan bahwa mesin baru bekerja. Sasis dan aerodinamika telah dikembangkan berdasarkan konsep yang ada, berarti kami mungkin memiliki lebih banyak ruang untuk pengembangan daripadi tim yang telah mengambil pendekatan ekstrem,” ujarnya.

Kemudian, De Meo juga mengungkapkan jika proses restrukturisasi staf di tubuh Alpine telah berakhir. Ia melihat sekarang ada lebih banyak potensi di dalam timnya.

“Kami kini memiliki lebih banyak sumber daya untuk pengembangan, serta organisasi yang terstruktur lebih baik. Kami telah merekrut atau merelokasi orang-orang penting, seperti (Matt) Harman, (Otmar) Szafnauer, (Bruno) Famin dan juga Pat Fry,” De Meo menjelaskan.

Baca Juga:

“Tujuan kami selalu untuk membentuk tim yang homogen, dan itulah yang kami lewatkan pada awalnya. Sebenarnya, saya pikir itu akan memakan waktu satu tahun guna membenahinya, tetapi kami tidak membuat kesalahan dan mengikuti rencana yang telah ditetapkan.”

Walau kini tim turun di bawah brand Alpine, di bawahnya tetap hadir pabrikan Renault yang kembali ke Formula 1 pada 2016 lalu, dengan rencana lima tahun untuk bisa menjadi juara dunia.

Mengingat jumlah musim yang direncanakan telah terlewat, dan karena tim tak dapat memperjuangkan tujuannya selama beberapa tahun, ekspektasi di Alpine tidak terlalu kecil setelah start musim 2022.

“Target kami adalah menempatkan semua orang pada posisi di mana mereka dapat bekerja dengan kemampuan terbaiknya. Saya tidak mempercayai mereka yang menjelaskan kapan dan bagaimana memenangi kejuaraan dunia,” kata de Meo.  

Alpine bisa mengikuti contoh Ferrari, yang musim ini telah kembali ke posisi terdepan setelah beberapa musim berjuang di papan tengah dan menjauh dari tempat yang selalu didudukinya.

Menurut de Meo, kebangkitan pabrikan Italia ini adalah buah dari kerja keras bertahun-tahun mengikuti rencana yang tepat. Karena itu, ia berharap Alpine dapat mengaplikasikan hal serupa.

“Beginilah cara kerjanya. Anda menghabiskan dua tahun menyatukan semua bagian, langkah demi langkah, dan tiba-tiba bintangnya sejajar. Ferrari tampaknya berada di jalur itu. Hal sama juga berhasil untuk Mercedes,” tuturnya.

Fernando Alonso, Alpine A522, Carlos Sainz Jr., Ferrari F1-75

Fernando Alonso, Alpine A522, Carlos Sainz Jr., Ferrari F1-75

Foto oleh: Andy Hone / Motorsport Images

“Tetapi mereka mendapat manfaat dari serangkaian aturan yang memberi mereka awal dua tahun di atas yang lain. Ini adalah olahraga ekstrem, karena bahkan dua persepuluh Anda kalah dalam hitungan pit stop,” ia menambahkan.

Di masa depan, Alpine, yang berbasis di Enstone, akan memiliki lebih banyak saingan dengan masuknya dua desainer mobil besar. Ini setelah Volkswagen Group mengonfirmasi akan masuk ke F1 dengan Porsche dan Audi mulai 2026.  

“Mereka kami sambut dengan terbuka, tidak seperti mereka yang hanya membuat suku cadang, karena ini seperti universitas balap,” ujar de Meo, yang menekankan bahwa Formula 1 harus terdiri dari “konstruktor sejati”.  

“Tentu akan lebih mudah memaksakan pada produsen suku cadang daripada produsen legendaris seperti Porsche. Tetapi kami telah menemukan seperangkat regulasi yang seimbang di mana kami dapat membangun citra dan prestise F1.

“Ketertarikan kembali, yang merupakan bukti nyata bahwa pabrikan mengakui nilai dari platform revolusi oleh Stefano Domenicali dengan hasil yang luar biasa. Saya suka romantisme, jadi saya ingin melihat Ferrari, Mercedes, Aston Martin dan Porsche bersaing satu sama lain.”  

 

Be part of Motorsport community

Join the conversation
Artikel sebelumnya Helm Spesial Max Verstappen untuk F1 GP Miami
Artikel berikutnya Sifat Bertolak Belakang, Williams Butuh Waktu Pahami Albon

Top Comments

Sign up for free

  • Get quick access to your favorite articles

  • Manage alerts on breaking news and favorite drivers

  • Make your voice heard with article commenting.

Motorsport prime

Discover premium content
Berlangganan

Edisi

Indonesia Indonesia