Don Nichols, pendiri Shadow wafat di usia 92

Kemarin, dunia balap kehilangan tokoh dengan tim pernah memproduksi satu mobil balap sinting dan beberapa model seksi. Serta mempekerjakan bakat-bakat seperti Peter Revson, George Follmer, Tom Pryce, Alan Jones, Jackie Oliver dan Riccardo Patrese

 Si “ban mungil” AVS Shadow Mk.1 memang merupakan model disebut aneh. Tetapi model penguasa Can-Am 1974 dan mesin-mesin Formula 1 Shadow benar-benar mempesona. Tak banyak tim dengan masa kesuksesan sesingkat ini bisa mendapatkan penggemar setia. Tetapi, padukan resep mobil keren berkelir hitam, pembalap melaju cepat tapi sulit meraih hasil dan pemilik misterius. Hasilnya jelas magnet perhatian. Dan Don Nichols merupakan sosok misteri bagi sebagian orang.

Nichols berdinas di AD Amerika pada Perang Dunia II dan Perang Korea, lalu menjadi penjual Goodyear dan Firestone di Jepang sebelum kembali ke AS tahun 1968 dan mendirikan tim Advance Vehicle System. Rencananya adalah menyerbu seri Can-Am, dimana kebebasan berpikir dan kejeniusan mendapatkan ganjaran.

Bahkan, dalan standar liberal Can-Am, hasil rancangan desainer Trevor Harris benar-benar “out of the box”. Demi mengurangi hambatan, Harris meminimalisasikan area depan mobil. Bahkan berhasil membujuk Firestone agar menyediakan ban berukuran 17 inci (depan) dan 19 inci (belakang). Lebih kecil dari rata-rata ban Can-Am berikuran 24 – 26 inci. Pembalap lantas duduk dalam mobil lebih mirip gokart diberi sayap dan bermesin Chevrolet V8 Big Block. Sistem pendingan mengandalkan aliran udara ke radiator, ditempatkan pada sayap belakang.

Kecilnya roda depan menimbulkan masalah akibat hanya bisa menggunakan rem kecil yang tidak cukup berfungsi sebagai penghenti laju mobil. Akibatnya, George Follmer harus berjibaku, memperlambat laju mobil dengan cara memanfaatkan gaya gesek akibat mobil dibuat sliding.

Sadar bahwa cara ini takkan sanggup untuk melawan McLaren dan Porsche, Nichols membeli desain Ti22 titanium dibuat oleh Peter Bryant untuk tim Autocoast. Dan tahun 1971, Jackie Oliver mengemudikan Shadow MkII bersponsor Universal Oil. Berpenampilan mirip Ti22, namun dengan Titanium lebih sedikit dan roda lebih besar. Cepat, namun masih ringkih. MkIII 1972 lebih konvensional juga tidak lebih baik.

Untuk 1973, tim merekrut Tony Southgate (mantan desainer BRM) untuk merancang mobil Formula 1 dan Cam-Am. DN2 Can-Am masih lamban dan berat, juga mengalami banyak isu daya tahan. Sementara DN1 Formula 1 terlihat ganteng dan beraksi cukup baik di tangan Follmer dan Oliver. Daya tahan masih merupakan isu besar, meski Follmer berhasil finis podium pada GP kedua tim. Ditambah keberhasilan Oliver finis ketiga pada seri pamungkas.

Publik boleh saja meremehkan dominasi Shadow DN4 pada Can-Am 1974 atas alasan tidak adanya kehadiran Penske Porsche 917/30, McLaren dan Lola. Tapi, rancangan hebat Southgate berhasil melibas semua rival dan pantas mendapatkan posisi pertama dan kedua di akhir kejuaraan.

Di arena F1, tim mengalami bencana saat Peter Revson, sebelumnya menang dua kali berama McLaren, tewas saat pengetesan di seri ketiga, Kyalami. Penggantinya, yaitu calon bintang Tom Priyce dan pembalap baru lainnya Jean-Pierre Jarier menunjukkan performa baik dengan JP-J meraih podium di Monako. Sukses baru menghampiri tim pada 1975 setelah kehadiran DN5.  

Jarrier meraih pole pada dua seri pembuka mesin, walau mobil berhenti pada lap pemanasan Argentina dan kemudian kembali gagal saat mendominasi Brazil. Pryce memenangkan Race of Champions dalam kondisi mengerikan di Brands Hatch. Lantas meraih momentum dengan pole di GP Inggris dan beberapa kali finish keenam. Tim menempati posisi keenam konstruktor, di atas Lotus dan March.

Namun, aksi 1976 tidak sebaik sebelumnya. Tim melorot ke posisi ke-8 dengan podium diraih Pryce di Brazil. Jarier hengkang akhir musim dan digantikan Renzo Zorzi.

Hanya tiga tahun setelah kecelakaan fatal Revson di Kyalami, Shadow kembali mengalami bencana di tempat sama. Seorang marshal membawa pemadam api untuk memadamkan mobil Zorzi, ditabrak Pryce. Menewaskan pembalap dan marshal saat itu juga.

Akan tetapi, kemuraman 1976 dibayar kontan dengan kejayaan tahun berikutnya. Ketika juara dunia masa depan F1 Alan Jones menang dalam kondisi basah di Osterreichring. Ia menempati posisi ketujuh klasemen akhir, sama dengan posisi tim di konstruktor.

Itulah aksi terbaik Shadow. Segala kejayaan tim porak-poranda pada musim dingin ketika sebagian besar staf migrasi ke tim baru Arrow. Termasuk bintang menanjak Riccardo Patrese. Nichols berhasil mencegah Arrow untuk tidak menggunakan desain Southgate. Aksi 1978 tidak bisa dibilang baik, Hans-Joachim Stuck dan Clay Ragazzoni hanya meraih segelintir angka. Kegembiraan terakhir tim terjadi pada seri akhir 1979 dengan pendatang baru Elio de Angelis finish keempat di GP Amerika.

Tak lama setelah itu, tim mulai kehabisan napas akibat selama ini sulit mencari sponsor. Diambil-alih Theodore Racing milik Teddy Yup. Nichols pun menghilang dari dunia balap sebelum sering terlihat di pertemuan balap sejarah. Hingga saat ini Shadow merupakan salah satu mobil paling digemari.

Tulis komentar
Tampilkan komentar
Tentang artikel ini
Kejuaraan Formula 1 , Can-Am , History
Tipe artikel Obituary