Sign up for free

  • Get quick access to your favorite articles

  • Manage alerts on breaking news and favorite drivers

  • Make your voice heard with article commenting.

Motorsport prime

Discover premium content
Berlangganan

Edisi

Indonesia Indonesia

Drama GP Abu Dhabi Buktikan F1 dan FIA Perlu Direformasi

CEO McLaren, Zak Brown, telah mendesak para petinggi Formula 1 serta FIA untuk memiliki kendali lebih kuat, menyusul kontroversi yang terjadi di Grand Prix Abu Dhabi 2021.

The Safety Car Lewis Hamilton, Mercedes W12, Lando Norris, McLaren MCL35M, Fernando Alonso, Alpine A521, the rest of the field

F1 dan FIA banjir kritikan usai keputusan Race Director, Michael Masi, dalam prosedur restart Safety Car, yang berujung pada protes Mercedes. Meski kemudian ditolak, dengan Max Verstappen tetap sah jadi juara dunia.

Investigasi memang segera dilakukan FIA. Sembari menunggu hasilnya, Brown mengatakan bahwa drama Abu Dhabi membuktikan Formula 1 butuh perubahan besar, khususnya dalam manajemen balap jet darat.

Mohammed Ben Sulayem yang terpilih Presiden FIA dinilai Brown membawa angin segar. Eks pereli WRC itu juga dianggap menawarkan pendekatan baru yang sangat dibutuhkan guna menghindari drama serupa di masa depan.

“Jelas bahwa beberapa aturan dan tata kelolanya tidak dapat diterima sebagaimana adanya. Tidak ada yang senang dengan ketidakkonsistenan dalam penegakan regulasi, tetapi yang telah biasa dimanfaatkan oleh tim untuk keunggulan kompetitif,” tulis Brown pada laman McLaren.

“Saya telah katakan sebelumnya, tim memiliki terlalu banyak kekuatan dan itu perlu dikurangi. Kami memiliki peran penting dalam penyusunan regulasi serta tata kelola Formula 1, dan pengaruh itu tidak selalu didorong oleh apa yang terbaik secara keseluruhan bagi olahraga ini.

“Ya, tim harus dikonsultasikan, dan perspektif informasi mereka dipertimbangkan, terutama mengenai isu-isu strategis jangka panjang. Namun, terkadang sepertinya olahraga ini diatur oleh tim-tim tertentu.

“Janganlah kita lupa bahwa kita, tim, telah berkontribusi pada inkonsistensi dalam penegakan regulasi seperti halnya siapa pun. Timlah yang menerapkan tekanan untuk menghindari menyelesaikan balapan di belakang Safety Car dengan cara apa pun.

“Tim-tim memilih banyak regulasi yang mereka keluhkan. Tim-tim telah menggunakan siaran pesan radio kepada Race Director untuk mencoba mempengaruhi penalti dan hasil balapan, sampai titik di mana seorang Team Principal yang bersemangat bermain ke galeri dan menekan ofisial balapan.

“Ini tidak membangun F1. Kadang-kadang terasa seperti audisi drama ketimbang puncak olahraga global.”

Zak Brown, CEO, McLaren Racing

Zak Brown, CEO, McLaren Racing

Photo by: Jerry Andre / Motorsport Images

Mantan Presiden FIA, Jean Todt, sebelumnya mendorong keinginannya untuk mengatur Formula 1 dengan konsensus. Ini berarti banyak konsultasi dan pengaruh dari tim dalam menetapkan regulasi.

Adapun, Brown melontarkan harapannya bahwa Sulayem akan menangani hal-hal yang berbeda. Perubahan juga tepat dilakukan sekarang lantaran F1 kini telah berubah menjadi lebih baik di bawah kepemimpinan Liberty Media.

“Pemilihan Mohammed Ben Sulayem pada Desember lalu sebagai presiden FIA yang baru memberikan kesempatan untuk reformasi kolektif dalam cara Formula 1 beroperasi,” ucapnya.

“Jelas fokusnya pada peristiwa di Abu Dhabi akhir musim lalu, yang menjadi subjek penyelidikan FIA. Tapi menurut saya ini adalah gejala daripada penyebab. Ada masalah sistemik seputar keselarasan dan kejelasan tentang siapa yang membuat peraturan. FIA atau tim, yang telah terwujud dalam beberapa tahun terakhir, terkadang dengan cara menonjol.

“Tanda-tanda kesulitan organisasi dapat dilihat di Grand Prix Australia 2020 dan di Grand Prix Belgia 2021. Kedua event ditandai oleh kurangnya persiapan untuk peristiwa yang sedang berlangsung dan kelambanan untuk mencari solusi.

“Kejelasan yang lebih besar tentang peran FIA dan F1 dan kebutuhan untuk meningkatkan kepemimpinan olahraga tidak diragukan lagi akan menjadi agenda bagi Mohammed Ben Sulayem dan Stefano Domenicali serta masing-masing tim.

Baca Juga:

“Pemerintahan sebelumnya mengejar gaya pemerintahan yang sebagian besar otokratis. Jadi, untuk mengarahkan olahraga ke arah yang benar, perlu mengambil pendekatan yang lebih konsultatif dengan tim dan pemangku kepentingan.

“Tapi sekarang olahraga telah berhasil diatur ulang dan bergerak maju. Ada kebutuhan untuk beralih kembali ke kepemimpinan dan tata kelola yang lebih kuat dan terarah di puncak olahraga.”

Brown menambahkan: “Saya yakin bahwa kita akan melihat peningkatan kepemimpinan dari FIA dan F1, dan bahwa secara kolektif sebagai pemelihara olahraga, kita akan fokus pada pengembangan olahraga dan tidak mengabaikan tanggung jawab dalam pengambilan keputusan yang sulit.”

Be part of Motorsport community

Join the conversation
Artikel sebelumnya Alain Prost Tinggalkan Alpine, Otmar Szafnauer Akan Jadi Pengganti
Artikel berikutnya Pato O’Ward Kritisi Aturan Super Licence Formula 1

Top Comments

Sign up for free

  • Get quick access to your favorite articles

  • Manage alerts on breaking news and favorite drivers

  • Make your voice heard with article commenting.

Motorsport prime

Discover premium content
Berlangganan

Edisi

Indonesia Indonesia