FIA kembangkan sistem untuk deteksi mobil yang mogok di grid

dibagikan
komentar
FIA kembangkan sistem untuk deteksi mobil yang mogok di grid
Adam Cooper
Oleh: Adam Cooper
Diterjemahkan oleh: Aditya Gagat
21 Okt 2016 18.09

FIA telah mengembangkan sistem otomatis yang akan membatalkan prosedur start bila mendeteksi mobil yang mogok di grid.

Charlie Whiting, FIA Delegate
Lewis Hamilton, Mercedes AMG F1 W07 Hybrid leads at the start of the race
Sebastian Vettel, Ferrari SF16-H, Kimi Raikkonen, Ferrari SF16-H at the start
Nico Rosberg, Mercedes AMG F1 W07 Hybrid leads at the start of the race

Hingga saat ini, direktur balapan, Charlie Whiting, harus mengandalkan aba-aba lambaian tangan dari pembalap, bila mereka mengalami mati mesin. Lambaian tangan tersebut menjadi instruksi bagi mashal untuk menyalakan lampu kuning di samping baris grid posisi start pembalap tersebut.

Namun, prosedur tersebut menjadi bermasalah setelah apa yang terjadi di Malaysia. Pembalap Toro Rosso, Carlos Sainz, saat itu mengalami mati mesin, beberapa saat sebelum balapan dimulai. Berusaha menyalakan mesin mobilnya, ia memasukkan tangannya kembali ke kokpit. Hal tersebut membuat marshal memadamkan lampu kuning yang sempat menyala, dan balapan pun dimulai dengan normal.

Namun, setelah balapan usai, diketahui bahwa Sainz berhasil menyalakan mesinnya di momen yang tepat – hanya beberapa detik sebelum lampu start padam. Bila saja Sainz gagal menyalakan mesinnya, diyakini insiden besar dapat terjadi.

Situasi yang dialami oleh Sainz, hanya dapat terjadi di era regulasi mesin saat ini. Beberapa pabrikan mesin, membuat sistem yang memungkinkan pembalap untuk menyalakan ulang komponen MGU-K dari dalam kokpit. Di era sebelumnya, seorang pembalap membutuhkan starter eksternal untuk dapat menyalakan mesin mobilnya kembali.

Setelah insiden Sainz, Whiting meminta setiap pembalap untuk terus melambaikan tangan. Hal tersebut membuat pembalap tidak bisa lagi menyalakan mesin dari balik kemudi – karena prosedur tersebut membutuhkan kedua tangan pembalap.

Kini, FIA berusaha memberikan solusi masalah tersebut dengan menggunakan data telemetri dari setiap mobil untuk mendeteksi mesin yang mati.

Sistem tersebut akan mengirimkan sinyal kepada Whiting, yang akan membatalkan prosedur start. Mobil yang mengalami mati mesin, kemudian diharuskan mundur ke posisi start paling belakang di prosedur start berikutnya.

Artikel Formula 1 berikutnya
GP Amerika Serikat: Hamilton jadi yang tercepat di FP1

Artikel sebelumnya

GP Amerika Serikat: Hamilton jadi yang tercepat di FP1

Next article

Eropa tetap menjadi lokasi tes F1 2017

Eropa tetap menjadi lokasi tes F1 2017
Muat komentar

Tentang artikel ini

Kejuaraan Formula 1
Penulis Adam Cooper
Tipe artikel Breaking news