Halo F1: Dulu Dicemooh, Kini Disanjung

Sudah seharusnya kecelakaan mengerikan Romain Grosjean di GP Bahrain mengakhiri perdebatan tentang Halo. Perangkat keselamatan F1 ini terbukti memiliki fungsi vital dalam melindungi pembalap.

Halo F1: Dulu Dicemooh, Kini Disanjung

Saat pertama kali Halo diperkenalkan pada 2016, dan kemudian menjadi perangkat keselamatan wajib untuk musim 2018, tak sedikit fans balap mobil jet darat yang mencibirnya.

Desain perlindungan kokpit yang berbentuk flip-flop membuat banyak orang menyamakan Halo dengan sandal jepit. Meme-meme lucu pun bertebaran di jagat media sosial.

Halo juga dianggap mengurangi nilai estetika mobil Formula 1. Belum lagi bidikan onboard serasa mengganggu visibilitas, walau sekarang justru terlihat menarik karena dipakai sebagai grafis televisi.

Opini pihak yang sangat menentang Halo kala itu adalah menganggap perangkat keselamatan ini menyusahkan proses evakuasi, serta menyulitkan pembalap untuk meloloskan diri keluar dari mobil jika mengalami kecelakaan.

Toh, F1 tak bergeming. Bahkan dalam studi FIA (Federasi Otomotif Internasional) tentang benda-benda kecil yang diproyeksikan di Halo dari sudut yang berbeda, ditemukan bahwa perangkat keselamatan ini akan melindungi pembalap sebesar 17 persen setiap waktu.

Halo pada mobil Red Bull Racing RB16

Halo pada mobil Red Bull Racing RB16

Foto oleh: Motorsport Images

Adalah tewasnya Jules Bianchi pada 2015, menyusul kecelakaan fatal di GP Jepang 2014, sebagai pemicu lahirnya Halo. Mobil yang dikemudikan Bianchi menabrak crane. Dia menderita kerusakan tengkorak yang serius, dan merupakan kematian kedua yang meninggal karena jenis cedera ini. Yang pertama, Ayrton Senna pada GP Imola 1994, di mana sepotong suspensi menembus helmnya dan juga merusak tengkoraknya.

Ketika dua pembalap tewas lantaran benturan dengan kepalanya, jelas ada sesuatu yang perlu dilakukan untuk mencegahnya. Setelah Aeroscreen dikembangkan Red Bull, namun tak lolos karena Sebastian Vettel merasa pusing (ditambah beberapa faktor lain yang berkontribusi); Halo muncul serta lulus semua tes.

Jadi, sudah seharusnya kecelakaan mengerikan Grosjean mengakhiri perdebatan tentang Halo. Kendati sebenarnya berakhir sejak 2018, saat terjadi insiden yang mungkin bakal berakibat fatal. Itu ketika mobil McLaren yang dikemudikan Fernando Alonso terbang melayang di atas Charles Leclerc (Alfa Romeo) di GP Belgia 2018.

Baca Juga:

Apa pun pendapat soal Halo saat ini, faktanya, cincin titanium yang berada di atas kokpit mobil tersebut memiliki fungsi vital untuk melindungi kepala pembalap dari puing atau serpihan yang beterbangan.

“Untuk melihatnya bertahan, sejujurnya itu keajaiban,” kata rekan setim Grosjean di Haas, Kevin Magnussen, dilansir dari Formula1.com.

“Sangat senang Halo diperkenalkan, bahwa kami memiliki benda ini di mobil, karena tanpanya pasti akan sangat berbeda. Saya sangat, sangat senang melihat Romain lolos dari kecelakaan itu.”

Pernyataan senada turut dilontarkan Max Verstappen, sembari menggarisbawahi mengapa salah mengkritik Halo karena alasan estetika.

“Pada awalnya ketika dipasang di mobil, saya cukup kritis tentang itu, terlihat jelek. Tapi Anda tidak bisa berkata apa-apa tentang keselamatan, karena Halo menyelamatkan Romain,” tutur Verstappen.

Sisa mobil Haas VF-20 Romain Grosjean usai kecelakaan mengerikan di GP Bahrain

Sisa mobil Haas VF-20 Romain Grosjean usai kecelakaan mengerikan di GP Bahrain

Foto oleh: Andy Hone / Motorsport Images

dibagikan
komentar
Giliran Vettel yang Pertanyakan Tayangan Ulang Grosjean

Artikel sebelumnya

Giliran Vettel yang Pertanyakan Tayangan Ulang Grosjean

Artikel berikutnya

Grosjean: Kematian Ada di Depan Mata Saya

Grosjean: Kematian Ada di Depan Mata Saya
Muat komentar