Ini yang Harus Dilakukan Norris untuk Bertahan di Tiga Besar

Dalam waktu kurang dari tiga tahun di Formula 1, Lando Norris sudah mengukir prestasi penting. Ia mampu tembus tiga besar dalam klasemen pembalap, sesuatu yang tak pernah dibayangkan. Lalu apa yang mesti dilakukan agar pemuda itu tak tergeser dari tempatnya?

Ini yang Harus Dilakukan Norris untuk Bertahan di Tiga Besar

Saat masih menjadi rekan Carlos Sainz di McLaren, pilot muda Inggris tersebut cenderung dipandang sebelah mata. Sebagai ‘anak baru’, ia berada di bawah bayang-bayang seniornya itu.

Selama dua musim bersama, posisi Norris beberapa tingkat di bawah  Sainz. Ia bertengger di peringkat ke-11 dan 9, sementara koleganya stabil di enam besar.

Setelah pembalap Spanyol itu pindah ke Ferrari, maka runner-up Formula 2 2018 tersebut otomatis jadi ‘senior’ dalam tim. Meski McLaren mendatangkan Daniel Ricciardo, yang terjun ke F1 jauh lebih dulu, tampaknya hierarki tidak berubah.

Sadar dengan posisi dan tanggung jawabnya, Norris pun mulai mengubah dimensi. Ia berlatih lebih keras, mempelajari strategi dan lintasan dengan simulator selama pandemi Covid-19. Juga lebih terlibat aktif dalam membantu pengembangan mobil.

Hasilnya terefleksi dalam sepuluh lomba musim ini, di mana pemuda 21 tahun tersebut selalu lolos ke kualifikasi ketiga. Sedangkan, Ricciardo hanya bisa mencapai fase itu lima dari 10 percobaan. Ia bahkan pernah tereliminasi dari Q1.

Baca Juga:

Norris berkibar dengan menginjak podium ketia di GP Emilia Romagna, Monako dan Austria. Hebatnya, ia paling konsisten mendulang poin dari sepanjang seri 2021, dengan total 113. Angka itu terpaut 63 dari perolehan Ricciardo.

Jika ditarik ke musim lalu, total ia meraih poin dari 15 balapan berturut-turut, tepatnya sejak GP Emilia Romagna 2020. Norris pun mematahkan rekor Fernando Alonso.

Bisa mengalahkan para legenda sekelas Ayrton Senna, Alain Prost serta juara dunia F1 tujuh kali, Lewis Hamilton, tentu membuat Norris bangga sekaligus termotivasi. Raihan poinnya lebih banyak dari para senior, seperti Valtteri Bottas dan Sergio Perez.

Hanya saja, kegembiraannya ternoda oleh rapor dari F1 GP Inggris. Ia finis urutan keempat di kandangnya. Padahal, ia menginginkan podium di hadapan publiknya.

Kegagalan itu bukan murni kesalahannya, ada andil besar tim di baliknya. Ya, karena salah strategi pit stop ditambah kendala yang terjadi pada periode tersebut, ia pun mesti membayar mahal. Norris menyesalkan hal itu.

“Saya tidak tahu apa yang harus dikatakan. Itu balapan yang sangat bagus pada akhirnya. Saya masih P4 di kandang dan hasil lebih baik daripada keenam kemarin. Tapi saya ingin sedikit lebih baik. Saya bertahan di posisi ketiga sepanjang lap awal, jadi kami sebenarnya punya pace untuk menahan Valtteri Bottas,” ujarnya selepas GP Inggris.

“Tapi karena pit stop (lambat), saya tidak memiliki kesempatan berada di depan dan bertahan selama mungkin. Sungguh menyenangkan bertarung untuk itu dan punya kesempatan, tapi bagi kami, posisi keempat dan kelima sebagai tim masih bagus.”

Keberhasilan Norris masuk ke tiga besar membuat tim dan penggemarnya terkejut. Bahkan bos McLaren, Andreas Seidl, masih tak percaya jika melihat bagaimana kualitas mobil dan pembalap Red Bull serta Mercedes. Hal itu membuat mereka menggeserkan target sedikit ke depan.

“Apakah ini target realistis (untuk Norris bertahan di P3), sulit dikatakan karena mobil Red Bull dan Mercedes jauh lebih baik. Valtteri dan Checo pun menunjukkan balapan yang hebat tahun ini dan lebih baik daripada sebelumnya. Apa yang bisa mereka lakukan,” tutur Seidl.

Pangeran Edward, Earl of Wessex and Sophie, Countess of Wessex dengan Lando Norris, McLaren (L) dalam Award Duke of Edinburgh

Pangeran Edward, Earl of Wessex and Sophie, Countess of Wessex dengan Lando Norris, McLaren (L) dalam Award Duke of Edinburgh

Foto oleh: Steven Tee / Motorsport Images

Seperti pepatah, meraih lebih mudah daripada mempertahankan. McLaren harus memanfaatkan momentum langka tersebut untuk membantu pembalap mudanya makin bersinar.

Peningkatan kerja sama tim sangat dibutuhkan dalam hal ini. Semua pihak bekerja keras sesuai porsi masing-masing.

Tim harus menyediakan mobil kencang dan kompetitif. Sejauh ini, MCL35M terlihat sudah cukup mumpuni. Pengurangan downforce malah membuat Norris melaju lebih kencang. Kemampuannya beradaptasi lebih cepat dari Hamilton dan Alonso, yang butuh empat musim sebelum bisa berada di grup atas.

“Bagaimana kami bekerja bersama, upaya yang kami lakukan. Tim melakukan pekerjaan bagus memberi saya mobil yang bisa berada di posisi tersebut dan kemudian, tergantung bagaimana saya mengeksekusi, terutama lap saat kualifikasi, kecepatan balap dan strategi,” Norris mengungkapkan.

“Kerja sama tim, mungkin jadi jawaban yang membosankan, tapi memang itu membuat perbedaan besar. Walau kami belum punya mobil terbaik atau kurang maksimal dalam lomba atau kualifikasi, kami masih bisa kembali ke posisi sangat baik dan meraih poin dalam setiap balapan. Itu karena tidak melakukan kesalahan dan tak mengambil risiko berlebihan. Pengambilan keputusan dan teamwork, itu yang paling kuat.”

Lando Norris, McLaren, ucapkan selamat kepada Lewis Hamilton, Mercedes, posisi 1, di Parc Ferme

Lando Norris, McLaren, ucapkan selamat kepada Lewis Hamilton, Mercedes, posisi 1, di Parc Ferme

Foto oleh: Steven Tee / Motorsport Images

Selain punya talenta istimewa, Norris memiliki kecepatan alami. Sebagai pembalap muda, ia suka mengambil risiko. Kadang memepet lawan dilakukan agar bisa mencapai tempat lebih baik.

Pemuda yang jadi korban perampokan setelah final Euro 2020 itu, harus lebih cerdik supaya gaya balap agresif tak jadi bumerang. Ia perlu menimbang risiko dan bahaya. Emosinya pun mesti dikontrol. Mempelajari manajemen ban, diyakini bisa mendongkrak pencapaiannya.

dibagikan
komentar
Alfa Romeo Turunkan Kubica di FP1 GP Hungaria

Artikel sebelumnya

Alfa Romeo Turunkan Kubica di FP1 GP Hungaria

Artikel berikutnya

Dokumen yang Dikirim Mercedes ke FIA Disinyalir Tidak Resmi

Dokumen yang Dikirim Mercedes ke FIA Disinyalir Tidak Resmi
Muat komentar