Julian Jakobi, Manajer Pembalap Bertangan Dingin nan Legendaris

Julian Jakobi dikenal sebagai manajer yang ahli bernegosiasi dan dihormati pembalap yang menjadi klien dan tim-tim balap.

Julian Jakobi, Manajer Pembalap Bertangan Dingin nan Legendaris

Julian Jakobi sudah menjadi manajer pembalap lebih dari 30 tahun dan sudah pernah menangani sederet nama top di Formula 1. Puncaknya adalah saat ia membawahi Ayrton Senna dan Alain Prost bersamaan di era akhir 1980-an.

Belakangan, tidak banyak yang tahu bila Jakobi adalah salah satu aktor penting di balik keberhasilan Sergio Perez mendapatkan kuri di Red Bull Racing untuk Kejuaraan Dunia Formula 1 2021 ini.

Julian Jakobi tidak hanya dikenal sebagai ahli negosiasi. Ia juga terkenal karena selalu mendapatkan respek baik dari pembalap yang ditangani maupun tim-tim balap.

Julian Jakobi (kiri) bersama Eddie Jordan.

Julian Jakobi (kiri) bersama Eddie Jordan.

Foto oleh: Rainer W. Schlegelmilch

Lahir pada 1951, Jakobi mengenyam pendidikan di Oxford University untuk belajar filosofi, politik, dan ekonomi, bidang perkuliahan yang menjadi fondasi bagus dalam kariernya. Jakobi juga sempat belajar akuntansi dan merengkuh gelarnya pada 1977.

Usai menamatkan kuliahnya Jakobi bergabung dengan IMG, perusahaan manajemen pembalap yang didirikan pengusaha manajemen olahraga asal Amerika Serikat yang legendaris, Mark McCormack.

Di IMG, Jakobi menjadi Kepala Divisi International Client Finance dan Motorsports. Saat itulah ia berhubungan dengan sederet atlet top dunia seperti Bjorn Borg (tenis) dan Nick Faldo (golf), juga Ayrton Senna dan Alain Prost (Formula 1).

Ron Dennis, Team Principal McLaren (kiri), berbicara serius dengan Julian Jakobi dari CSS Stellar Management.

Ron Dennis, Team Principal McLaren (kiri), berbicara serius dengan Julian Jakobi dari CSS Stellar Management.

Foto oleh: Mark Capilitan

Saat mengisi podcast Beyond the Grid bersama Motorsport.com, Jakobi tentang caranya menangani klien-kliennya yang notabene atlet besar dunia, khususnya saat menjadi manajer Senna dan Prost.

“Saya tidak akan pernah mengungkapkan detail finansial satu klien kepada lainnya. Kerahasiaan klien menjadi sesuatu yang tidak bisa ditawar dalam profesi saya,” ucap Jakobi.

“Jadi, bila seorang klien, bahkan hingga saat ini, bilang kepada saya: ‘Omong-omong….’ dan menanyakan sesuatu yang tidak pantas (soal keuangan), pasti saya menjawab: ‘Maaf, saya tidak bisa menjawabnya karena Anda sudah tahu aturan bersama saya’.

“Menariknya, kejadian seperti itu hanya terjadi sekali bersama Ayrton dan sekali dengan Alain. Mereka sama-sama ingin mengetahui informasi soal lawannya dan saya menolaknya. Setelah itu, mereka tidak pernah mencoba lagi.

“Mereka akhirnya mendapatkan informasi dari obrolan dengan sesama pembalap. Bahkan hari ini masih terjadi. Jika mereka mendapatkan informai dari situ, saya tidak merasa terganggu. Yang penting, mereka memperolehnya bukan dari saya.”

Baca Juga:

Pada 1992, Jakobi meninggalkan IMG untuk fokus ke Senna dan menjadi manajer serta kepala urusan internasional organisasi milik juara dunia F1 tiga kali (1988, 1990, 1991) tersebut.

Setahun kemudian, Jakobi berhasil membantu Senna untuk mendapatkan kontrak bernilai fantastis lewat negosiasi panjang bersama bos McLaren saat itu, Ron Dennis.

Setelah Senna meninggal dunia akibat kecelakaan di Sirkuit Imola, GP San Marino 1994, Jakobi masih terus bekerja bersama keluarga Senna untuk mengurusi yayasan amal warisan sang pembalap.

Flavio Briatore (kiri), Manajer Tim Renault F1, berbicara dengan Julian Jakobi, manajer pembalap Juan Pablo Montoya yang saat itu membela Tim Williams.

Flavio Briatore (kiri), Manajer Tim Renault F1, berbicara dengan Julian Jakobi, manajer pembalap Juan Pablo Montoya yang saat itu membela Tim Williams.

Foto oleh: Sutton Images

Pada 1997, Jakobi mendirikan Stellar Management Group. Di situ, ia menangani Prost (juara dunia F1 1985, 1986, 1989, 1993), Jacques Villeneuve (juara dunia F1 1997), pembalap motor Max Biaggi (juara dunia kelas 250 cc 1994, 1995, 1996, 1997), dan calon bintang Indycar saat itu, Dario Franchitti.

Jakobi juga menjadi sosok penting di balik berdirinya British American Racing (BAR), tim yang di kemudian hari menjadi skuad pabrikan Mercedes-AMG Petronas F1.

Dua tahun setelah Stellar berdiri, perusahaan tersebut merger dengan korporasi marketing karier dan hubungan publik terkemuka, CSS Promotions. Jakobi pun menjadi kepala eksekutif – dengan peran dan tugas seperti presiden – di perusahaan baru yang dinamai CSS Stellar.

Pada 2010, Jakobi menapaki langkah baru dalam kariernya dengan mendirikan GP Sports Management, perusahaan yang kini dijalankan sendiri olehnya.

Pembalap top yang ditanganinya di grid F1 saat ini tak lain Sergio Perez. Jakobi mulai menangani pembalap Meksiko itu sejak masih di Force India yang lalu diakuisisi Lawrence Stroll menjadi Racing Point.

Perez terancam tidak bisa turun di F1 2021 setelah musim panas lalu Lawrence Stroll memilih Sebastian Vettel untuk Racing Point yang berganti nama menjadi Aston Martin Cognizant F1.

Julian Jakobi bersama Matt Bishop.

Julian Jakobi bersama Matt Bishop.

Foto oleh: Rainer W. Schlegelmilch

Sejak awal, Jakobi melihat peluang Perez memang cukup besar untuk bergabung ke Red Bull kendati tim asal Milton Keynes, Inggris, tersebut memiliki tradisi menarik pembalap muda dari program junior mereka.

Namun, Jakobi tidak menyerah. Mengacu performa pada F1 2020 – sekali menang dengan dua finis podium dan P4 klasemen akhir – Jakobi pun berhasil meyakinkan Red Bull untuk merekrut Perez.

Selain Perez, Jakobi saat ini juga menangani pembalap cadangan Haas F1, Pietro Fittipaldi, yang musim lalu turun di dua lomba akhir F1, serta pembalap muda binaan Alpine F1 asal Cina yang kini turun di FIA Formula 2, Guanyu Zhou.

Di Amerika Serikat (AS), Jakobi menangani Juan Pablo Montoya yang akan kembali membela McLaren di Indy 500 tahun ini. Juga pembalap wanita yang turun di balap mobil ketahanan, Katherine Legge.

Julian Jakobi (kiri) dari CSS Stellar Management berbincang dengan Juan Pablo Montoya saat masih di Tim McLaren F1.

Julian Jakobi (kiri) dari CSS Stellar Management berbincang dengan Juan Pablo Montoya saat masih di Tim McLaren F1.

Foto oleh: Sutton Images

Perusahaan Julian Jakobi kini juga sudah berperan penting mendongkrak reputasi sejumlah pembalap Formula E. Beberapa pembalap yang menjadi klien Jakobi adalah Sam Bird, Nick Cassidy, Lucas di Grassi, Andre Lotterer, Jean-Eric Vergne (juara Formula E 2017/18 dan 2018/19), dan Oliver Turvey.

Julian Jakobi juga masih bekerja untuk sederet nama top yang sudah pensiun dari dunia balap seperti Franchitti, Allan McNish, Jerome d'Ambrosio, dan Pedro de la Rosa. Perusahaan milik Jakobi juga menjadi prewakilan sederet bintang skateboard dan selancar (surfing) dunia.

 

dibagikan
komentar
Efek Panjang Kecelakaan terhadap Keuangan Tim-tim F1

Artikel sebelumnya

Efek Panjang Kecelakaan terhadap Keuangan Tim-tim F1

Artikel berikutnya

Allison Jelaskan Alasannya Lepas Jabatan Direktur Teknik Mercedes

Allison Jelaskan Alasannya Lepas Jabatan Direktur Teknik Mercedes
Muat komentar