Ini Alasan Kans VW Group Terlibat di Formula 1 Membesar

Sempat maju mundur untuk terlibat di Formula 1, Volkswagen Group lebih serius mempertimbangkan langkah menuju adu jet darat. Kemungkinan percobaan ketiga punya kans lebih besar.

Ini Alasan Kans VW Group Terlibat di Formula 1 Membesar

Kisah dari BBC Sport baru-baru ini, menimbulkan kehebohan setelah Wakil Presiden Motorsport Porsche, Fritz Enzinger, hadirnya Volkswagen ke F1 bisa jadi sangat menarik dalam kondisi tertentu.

Sayangnya, ketika dikonfirmasi Motorsport.com, Porsche Motorsport belum memberi tanggapan.

Pada 2016, skandal diesel menghentikan keinginan Volkswagen masuk ke F1. Tiga tahun kemudian, keengganan para pemain Formula 1 yang ada sekarang untuk mereformasi, kembali memblok rencana mereka.

Lalu 2025, menandai kesempatan realistis dalam 10 tahun, tapi masih banyak langkah yang harus diambil. Pertama-tama, Volkswagen perlu duduk di meja untuk berdiskusi tentang formula mesin baru. Situasinya bisa menjadi jelas dalam beberapa pekan ke depan.

Namun, Enzinger bukan orang sembarangan. Ia menjadi kepala grup motorsport Volkswagen, menggantikan Wolfgang Durheimer, pada 2018. Sebelumnya, pria 64 tahun tersebut bekerja sebagai kepala logistik BMW untuk proyek F1 hingga akhir 2011.

Ia memainkan peran penting dalam menorehkan kesuksesan di Porsche, memborong tiga juara di 24 Hours of Le Mans dan delapan titel dalam kejuaraan dunia ketahanan lainnya.

Sejak Januari 2019, satu kaki Enzinger di Porsche, membawahi 500 staf, dan kaki lainnya di Volkswagen Group. Dia yang melemparkan ide membawa merek itu ke Formula 1.

Baca Juga:

“Pada dasarnya, semua pengembangan di olahraga motor dan seri balap diamati dan dievaluasi,” ujarnya kepada BBC. Mereka menjajaki berkecimpung di balap motor tersebut pada 2025, ketika power unit generasi baru diperkenalkan.

“Jika aspek keberlanjutan memainkan peran dalam hal ini, contohnya pengenalan e-fuels, maka itu akan sangat menarik,” tuturnya.

Ada bocoran di lingkaran industri otomotif bahwa ide masuk ke F1 tidak disimpan oleh Volkswagen Group. Skandal Dieselgate mungkin belum tuntas, tapi setidaknya gelombang terburuk sudah pecah.

Yang terpenting, bos baru Formula 1, Stefano Domenicali adalah mantan petinggi VW. Ia mengawasi dan mengembangkan studi tentang peluang Audi bergabung ke Formula 1 pada 2015.

Dalam wawancara dengan Motorsport.com pada 2019, Enzinger melakukan kajian ketika grup ingin mengirim Porsche ke Formula 1.

Rumor bergulir makin panas ketika CEO VW Group, Herbert Diess, mengunggah tulisan di akun LinkedIn, Agustus 2020. Ia menulis, “Formula 1 dengan bahan bakar sintetis lebih menarik, lebih menyenangkan, memberi pengalaman olahraga motor lebih baik dan membawa lebih banyak kompetisi teknik daripada Formula E yang melakukan beberapa lap di dalam kota dengan mode permainan.”

Sejak saat itu, merek VW, Audi mengumumkan akan hengkang dari Formula E di akhir musim ketujuh. Mereka mulai mengurangi keterlibatan, meski kehadiran grup dipertahankan lewat skuad Porsche.

Motorsport.com menyadari bahwa sekarang ada mandat tinjauan terhadap Formula 1 dalam VW Group, yang didukung level tertinggi. Jelas kalau pabrikan Jerman itu hanya masuk ke seri tersebut kalau kondisinya sedemikian rupa sehingga komitmen terhadap pengeluaran finansial yang wajar memiliki peluang sukses realistis dan berkelanjutan secara lingkungan.

Ketika kehadiran Porsche dipertimbangkan mulai 2017, sekitar 40 pekerja mengembangkan mesin enam silinder untuk Formula 1-awalnya dengan kerahasiaan ketat. Volkswagen bahkan sempat duduk semeja selama negosiasi tentang format mesin baru yang digunakan untuk kompetisi itu.

Pada Februari 2019, mesin efisiensi tinggi bahkan dijalanan di bangku tes untuk pertama kali. Semua tanda tampaknya menuju ke arah masuk ke F1.

Ketika itu, Andreas Seidl, yang sekarang jadi prinsipal McLaren F1, berada dalam tim tersebut. Ia pun bekerja dengan Enzinger di balik keberhasilan program Porsche LMP1.

Masih ada perbedaan laporan sehubungan dengan alasan Porsche tidak memberi lampu hijau masuk ke F1. Sementara dari sisi VW, penyuplai power unit yang ada sekarang belum siap mengubah format mesin. Jadi para pendatang baru punya peluang berhasil.

Stefano Domenicali

Stefano Domenicali

Photo by: Alex Galli

Sedangkan dari sudut pandang F1, diisyaratkan bahwa Volkswagen ingin mendorong regulasi mesin baru sepenuhnya, tapi belum siap berkomitmen untuk ikut serta, melemahkan argumen untuk perubahan mahal dalam format mesin sejak awal musim 2021.

AVL, perusahaan yang berbasis di Graz, sedang melakukan penelitian tentang e-fuel dengan kecepatan penuh. Isu ini bisa dimanfaatkan strategi korporasi Volkswagen dalam beberapa tahun lagi.

Federasi Otomotif Internasional (FIA) dan F1 menggarisbawahi rencana penggunaan bahan bakar berkelanjutan secara penuh dalam waktu dekat. Langkah pertama dijalankan pada 2022 saat bahan bakar ‘E10’ akan diperkenalkan.

Kalau Formula 1 menetapkan jalur yang tepat di bawah kepemimpinan Domenicali, peluang Volkswagen terlibat lebih besar dari sebelumnya. Kendati demikian, tak jelas merek mana yang akan bergabung di era power unit generasi baru.

Ada delapan pabrikan otomotif yang bisa dipertimbangkan, yakni Audi, Bentley, Bugatti, Lamborghini, Porsche, SEAT, Skoda dan Volkswagen. Tiga di antaranya berada di daftar pendek.

Audi sebagai produsen mobil jalan raya masal dapat menghidupkan lagi slogan legendaris ‘Vorsprung durch Technik’ di adu balap jet darat. Di sisi lain, Porsche, punya komponen emosional dengan nama besar dan pengaruh keluarga Porsche dalam grup.

Secara teoritis, pabrikan mobil sport Lamborghini dapat dipertimbangkan. Mereka adalah anak perusahaan Audi yang pernah dipimpin Domenicali hingga 2016, ketika ia memutuskan fokus ke F1. Selain itu, pucuk tertinggi dewan direksi Audi, Markus Duesman, penggemar Formula 1.

Duesman memulai karier di Daimler Group, ditunjuk sebagai kepala pengembangan mesin Formula 1 di Brixworth. Secara kebetulan, ia pendahulu CEO Daimler Group, Ola Kallenius.

Pada 2006, dia pindah ke BMW dan bertanggung jawab untuk pengembangan powertrain BMW Sauber, yang dianggap sebagai mesin paling bertenaga di F1 saat itu.

Duesman (kepala departemen mesin), Enzinger (kepala logistik) dan Seidl (kepala operasi tim balap dan tes) bersinggungan di BMW. Sekarang, Duesman diperkirakan punya peran penting dalam cerita ini. Dia kandidat teratas menggantikan bos VW Group, Diess.

Pada level politis, ada prasyarat yang cukup besar untuk komitmen Formula 1 oleh Volkswagen Group. Bagaimanapun, sejumlah kondisi dasar harus terpenuhi sebelum perusahaan Wolfsburg itu membuat komitmen jelas. Bola sekarang ada di tangan pemangku keputusan F1.

Liberty Media punya ketertarikan besar untuk memboyong empat pabrikan besar kembali ke F1 setelah Honda memutuskan pergi di akhir tahun ini.

Tak hanya meminimalisir risiko untuk menghadapi tekanan yang meningkat dan ketidakpastian kalau ada pabrikan lain mundur, tapi itu juga membantu dari perspektif perusahaan, di mana setiap produsen membawa beragam mitra dan sponsor.

Tak ada batu sandungan dari FIA. Bagi Volkswagen, topik seperti keberlanjutan (perampingan ke empat silinder, hybrid, e-fuel) sangat penting, seperti batas anggaran untuk pengembangan powertrain.

Target ini sejajar dengan keinginan Presiden FIA, Jean Todt, yang ingin membangkitkan minat, selain Volkswagen, tapi juga di antara pabrikan lain.

Penyuplai power unit yang sekarang terlibat di F1, yakni Mercedes, Ferrari dan Renault, bisa menjadi titik temu. Mereka seharusnya bersiap menghadapi reformasi besar terkait mesin baru dari 2025, yang awalnya direncanakan untuk 2021. Bisa dipahami ada opsi terbuka untuk Volkswagen.

dibagikan
komentar

Video terkait

Mercedes Ganti Warna Safety Car dan Mobil Medis F1 2021

Artikel sebelumnya

Mercedes Ganti Warna Safety Car dan Mobil Medis F1 2021

Artikel berikutnya

Leclerc Perlu Memperbaiki Manajemen Ban

Leclerc Perlu Memperbaiki Manajemen Ban
Muat komentar