Kemenangan GP Austria Kembalikan Memori Honda Tiga Dekade Lalu

Sebagai pemasok mesin di Formula 1, reputasi Honda mulai menurun di milenium baru. Namun, kehebatan Honda kembali terlihat musim ini lewat kiprah Red Bull Racing.

Kemenangan GP Austria Kembalikan Memori Honda Tiga Dekade Lalu

Sejumlah rekor fantastis ditorehkan pembalap Tim Red Bull Racing, Max Verstappen, yang memenangi Grand Prix Austria, putaran kesembilan di Kejuaraan Dunia Formula 1 2021, di Sirkuit Red Bull Ring, Minggu (4/7/2021) lalu.

Salah satunya Verstappen untuk kali pertama merebut grand slam: start dari pole, memimpin dari awal balapan hingga akhir, dan mencetak lap tercepat (fastest lap). Ia juga menjadi pembalap termuda yang merebut podium ke-50, 23 tahun dan 277 hari.

Bagi Red Bull, podium utama GP Austria juga menjadi kemenangan keenam musim ini (tiga lainnya Mercedes) atau yang kelima beruntun. Enam kemenangan Red Bull masing-masing dibuat Verstappen lima kali dan sisanya Sergio Perez.

Bicara kemenangan beruntun, ini juga menjadi torehan tersendiri nan manis bagi Honda selaku pemasok mesin dan power unit Red Bull. Bagi pabrikan asal Jepang tersebut, ini kali pertama mereka dalam lebih tiga dekade, mampu memenangi balap F1 beruntun hingga lima.

Honda kali terakhir merebut kemenangan beruntun hingga lima pada 1988. Saat itu, Honda yang memasok mesin untuk Tim McLaren, mampu secara beruntun memenangi 11 balapan sejak putaran pertama GP Brasil sampai GP Belgia.

Dari total 16 balapan GP F1 1988, McLaren-Honda mampu memenangi 15 di antaranya (satu lainnya direbut Ferrari) sekaligus mengantarkan Ayrton Senna merebut gelar juara dunia pertamanya dari tiga yang diraihnya (dua lainnya pada 1990 dan 1991).

Ayrton Senna, McLaren MP4-4 Honda

Ayrton Senna, McLaren MP4-4 Honda

Foto oleh: Rainer W. Schlegelmilch

Banyak faktor yang membuat Honda RA168E 1.5 V6 Turbo bertenaga hingga 650 hp pada 12.500 rpm (sangat besar untuk ukuran saat itu) begitu dominan saat itu. Pertama tentu saja sasis McLaren MP4-4 hasil desain tim yang dimotori Gordon Murray dan Steve Nichols.

Faktor kedua yang sejatinya lebih menentukan dalam kiprah sukses Honda merebut 11 kemenangan beruntun pada GP F1 1988 tidak lain persaingan sangat ketat dan cenderung keras yang terjadi justru di antara pembalap McLaren-Honda sendiri, Ayrton Senna dan Alain Prost.

Dalam 11 balapan tersebut, Senna mampu tujuh kali menang sedangkan Prost empat. Dalam rentang 11 lomba itu, McLaren-Honda mampu delapan kali finis 1-2.

Total, Senna delapan kali naik podium utama pada F1 1988 tersebut sedangkan Prost tujuh. McLaren juga total 10 kali mampu finis 1-2.

Dengan torehan impresif tersebut, tidak heran bila McLaren mampu menyandingkan gelar juara dunia pembalap dan konstruktor dengan keunggulan sangat telak.

Perjalanan Honda di F1 memang mengalami pasang surut. Honda kali pertama turun di F1 sebagai tim dan konstruktor pada 1964 dan mundur pada akhir F1 1968 menyusul buruknya hasil yang mereka rebut.

Pada 1983, Honda kembali ke F1 sebagai pemasok mesin. Di era 1980-an sampai awal 1990-an inilah Honda ikut merasakan kejayaan tim-tim F1 yang dipasoknya.

Nelson Piquet, Williams FW11B Honda

Nelson Piquet, Williams FW11B Honda

Foto oleh: Motorsport Images

Honda ikut membantu Williams menjuarai konstruktor F1 pada 1986 dan 1987 serta pembalap pada 1987 lewat Nelson Piquet.

Bersama McLaren, Honda mengawinkan gelar konstruktor dan pembalap secara beruntun pada 1988 (Senna), 1989 (Prost), 1990 (Senna), dan 1991 (Senna). Pada akhir F1 1992, Honda kembali mundur.

Mereka kemudian kembali lagi pada 2000 dengan menggandeng British American Racing (BAR) sampai 2005. Torehan terbaik BAR-Honda adalah menjadi runner-up konstruktor 2004. Selain BAR, Honda juga menyuplai mesin untuk Tim Jordan pada 2001 dan 2002.

Setelah gagal dengan tim pabrikannya sendiri antara 2006-2008, Honda lagi-lagi mundur dan baru kembali pada 2015 bersama McLaren. Kendati begitu, Honda baru terlihat kompetitif lagi saat menyuplai Red Bull mulai 2019.

Baca Juga:

Kiprah Honda di F1 memang menarik sekaligus impresif. Mereka mengalami jatuh-bangun yang luar biasa sepanjang turun di ajang balap jet darat dari mesin konvensional hingga turbo-hybrid seperti saat ini.

Sayangnya, Honda akan mundur dari F1 pada akhir 2021 ini. Namun, sebelum musim bergulir, para bos Honda – Masashi Yamamoto (general manager) dan Toyoharu Tanabe (direktur teknis) – sudah berjanji akan memberikan segalanya untuk membantu Red Bull Racing merebut gelar juara dunia musim ini.

Janji pabrikan yang sudah merasakan 31 musim F1 (468 Grand Prix) dengan memenangi 84 balapan, 84 pole, memperkuat 12 konstruktor, dengan 45 pembalap, tersebut kepada Red Bull memang tidak main-main bila melihat performa mereka sejauh musim ini.   

 

dibagikan
komentar
Montoya: Tak Patut Pembalap F1 Dipenalti karena Manuver Defensif

Artikel sebelumnya

Montoya: Tak Patut Pembalap F1 Dipenalti karena Manuver Defensif

Artikel berikutnya

Alfa Romeo Tak Mau Paksakan Pourchaire Segera ke F1

Alfa Romeo Tak Mau Paksakan Pourchaire Segera ke F1
Muat komentar