Konsekuensi Tersembunyi Insiden Verstappen di F1 GP Inggris

Insiden yang melibatkan Max Verstappen dan Lewis Hamilton di F1 GP Inggris, membuat Red Bull dan Mercedes ribut. Di luar itu, ada konsekuensi tersembunyi yang mesti dipikirkan.

Pembalap Red Bull mengalami benturan keras dengan pembatas Sirkuit Silverstone, setelah bersenggolan dengan mobil Hamilton. Ia hanya mengalami cedera ringan meski terdampak gaya 51G. Namun, sasis mobil RB16B rusak berat.

Tim Austria itu mau tak mau mengeluarkan anggaran ekstra untuk memperbaiki sasis dan mengganti komponen yang rusak berat dengan produk baru. Sementara, di sisi lain, mereka tak bisa leluasa seperti tahun-tahun sebelumnya karena terbentur aturan batas anggaran Federasi Otomotif Internasional (FIA).

Maksimal anggaran belanja setiap tim tidak lebih dari 145 juta dollar (sekitar RP2,1 triliun). Itu sudah termasuk dana untuk membangun mobil, pengembangan serta operasional. Untuk tim medioker, tak ada masalah, sedangkan skuad raksasa yang biasa jor-joran, mereka mesti ekstra hati-hati.

“Kami sangat kesulitan untuk berada di bawah budget cap dan kami membahas soal puluhan ribu pounds dan bukannya ratusan ribu,” prinsipal Mercedes, Toto Wolff, mengungkapkan.

Baca Juga:

Keluhan juga diutarakan bos Red Bull, Christian Horner. Ia mengaku tim sudah kesulitan sejak jeda libur akhir musim, bahkan ada beberapa yang dirumahkan.

“Kami harus melewati penderitaan berulang selama musim dingin. Kami harus mengatur ulang ukuran, mengemas ulang tim sendiri dan sungguh sulit ketika Anda mengatakan selamat tinggal kepada anggota tim, beberapa ada di sana selama 25 tahun dalam format berbeda,” ujarnya.

“Jadi ini adalah latihan berat dan lanjut menjadi tantangan signifikan, terutama tim-tim besar. Itu mendorong pada efisiensi bisnis karena secara sederhana harus dilakukan.”

Pos biaya yang ditekan bukan hanya untuk personel dan gaji. Produksi suku cadang sesedikit mungkin setiap musim, prosesnya rumit ketika tim tidak tahu berapa banyak lomba akan digelar.

Ketidakpastian membayangi penyelenggaraan lomba dua musim terakhir akibat pandemi Covid-19. Bahkan, tahun ini ada tiga tuan rumah mundur, mungkin akan bertambah lagi ke depannya.

Max Verstappen, Red Bull Racing RB16B, climbs from his damaged car after crashing out on the opening lap

Max Verstappen, Red Bull Racing RB16B, climbs from his damaged car after crashing out on the opening lap

Photo by: Mark Sutton / Motorsport Images

Tim-tim besar tak mau sampai ke Abu Dhabi, Desember lalu, dengan 10 set suspensi tak pernah tersentuh atau satu lusin sayap depan yang diganti oleh pengembangan lebih jauh.

Agar tidak mubazir, mereka harus memastikan bagian yang direvisi pasti sudah punya tempat dalam mobil, sebelum mulai diproduksi.

Upaya lain Mercedes menghemat, dengan menggunakan lebih banyak materi baja dan mengurangi karbon pada suspensinya. Mereka juga menggunakan sasis musim 2020.

Namun, berbagai rencana tersebut bisa dirusak dengan adanya insiden parah. Salah satu contohnya, saat Valtteri Bottas ditabrak George Russell di Sirkuit Imola, April lalu. The Silver Arrows menggelontorkan 1 juta pounds (sekitar Rp19,7 miliar).

Jika melihat tingkat keparahan, bisa saja pengeluaran Red Bull lebih besar sehubungan dengan insiden Verstappen. Setelah puing mobil diangkut dan dikembalikan, para mekanik langsung sibuk memeriksa komponen apa yang bisa diselamatkan.

“Kalau Anda membagi 145 juta dollar dengan 23 events, Anda secara kasar melihat apa yang diperlukan untuk mengoperasikan mobil grand prix,” ucap Horner.

Max Verstappen, Red Bull Racing RB16B, on the grid

Max Verstappen, Red Bull Racing RB16B, on the grid

Photo by: Andy Hone / Motorsport Images

“Tentu saja, menambahkan secara efektif, meski balapan dipersingkat, kami mengeluarkan biaya tambahan unuk penggunaan suku cadang, dan lain-lain.”

Risiko biaya ekstra tersebut membuat tim-tim keberatan ketika FIA dan F1 menerapkan regulasi pembatasan anggaran. Apalagi ada tiga lomba tambahan, sprint race, pada 2021.

Meski ada kompensasi kerusakan 100 ribu dollar yang diberikan kalau pembalap berhenti akibat kerusakan seperti itu. Ironisnya, Red Bull, diuntungkan oleh aturan itu pada Sabtu kemarin, ketika Sergio Perez keluar dari sprint race setelah mobilnya melintir.

Awalnya mereka senang karena merasa untung karena kecelakaan itu hanya menimbulkan kerusakan kecil pada RB16B. Namun, keesokan harinya tim langsung rugi besar gegara Verstappen.

“Para pembalap kami sangat bagus melewati musim tanpa banyak mengerem beberapa tahun ini,” kata master engineer Mercedes, Andrew Shovlin.

“Kalau Anda punya serangkaian kecelakaan besar yang menimbulkan kerusakan signifikan, dan ini buruk bagi kami. Kami punya masalah sayap depan dengan Lewis juga, kendati demikian itu akan melebihi alokasi dana yang kami miliki untuk belanja suku cadang.

“Dalam dunia ideal, Anda menjalankan mereka untuk hidup, Anda tidak merusakkan mereka, apa pun yang Anda lakukan, mudah-mudahan itu akhir dari kehidupan atau sesuatu menjadi usang. Tapi kasusnya tidak seperti itu di sini.

“Itu faktor cost cap dan uang yang digunakan harus datang dari tempat lain. Belakangan itu menjadi masalah besar, itu akan memukul anggaran pengembangan Anda. Jadi kami perlu memperhatikan itu untuk maju.”

Red Bull beruntung karena kecelakaan terjadi dari markas mereka dan ada jeda akhir pekan. Meski dari sisi bodi bisa ditakar kebutuhannya, tapi tingkat kerusakan power unit Honda mesti diteliti secara mendalam.

Max Verstappen, Red Bull Racing RB16B

Max Verstappen, Red Bull Racing RB16B

Photo by: Charles Coates / Motorsport Images

Toyoharu Tanabe, Direktur Teknik Honda, mengaku terkejut dengan gambar-gambar kondisi mobil saat diangkat. Ia langsung berpikir kalau power unit Honda ikut rusak parah.

“Kerusakan sebenarnya tidak diketahui dari penampilan ketika dipasang ke mobil. Jadi kami ingin mengembalikan ke HRD Sakura dan melakukan pengecekan sebelum membuat keputusan,” katanya.

Seandainya hanya sebagian eleman atau semua dapat dipulihkan, tapi setelah benturan 51G, apakah itu tidak berisiko? Atau mobil tersebut hanya digunakan dalam latihan bebas Jumat, yang minim risiko? Itu akan jadi keputusan berat untuk tim dan pemasok mesin.

Mulai tahun depan, anggaran makin turun dari 145 juta dollar ke 140 juta dollar. Mulai musim 2023, batas dipangkas jadi 135 juta dollar. Hal ini mungkin membuat tim mengubah strategi main aman dan kurang agresif untuk menghindari kecelakaan yang berujung pada perbaikan besar pada mobil.

dibagikan
komentar
Perbaikan Mobil Verstappen Menghabiskan Rp12,8 Miliar

Artikel sebelumnya

Perbaikan Mobil Verstappen Menghabiskan Rp12,8 Miliar

Artikel berikutnya

Mugello, Catalunya dan Paul Ricard Puncaki Indeks Sirkuit Berkelanjutan

Mugello, Catalunya dan Paul Ricard Puncaki Indeks Sirkuit Berkelanjutan
Muat komentar