Sign up for free

  • Get quick access to your favorite articles

  • Manage alerts on breaking news and favorite drivers

  • Make your voice heard with article commenting.

Motorsport prime

Discover premium content
Berlangganan

Edisi

Indonesia
Special feature

Latihan dengan Sensor Cahaya Kian Tren di Kalangan Pembalap F1

 Para pembalap Formula 1 tampaknya mengikuti tren melatih refleks dengan aplikasi di telepon seluler dan sensor cahaya.

rennvorbereitung-warum-immer-mehr-f1-fahrer-mit-lichtsensoren-trainieren-22012503

Sebagai seorang pembalap, kemampuan merespons keadaan dengan cepat ketika mobil meluncur kencang, sangat diperlukan. Oleh karena itu, mereka menyisipkan program latihan ketangkasan.

Jelang balapan, beberapa menendang bola di belakang garasi untuk meningkatkan detak jantung dan memperbaiki reaksi. Pilot AlphaTauri, Pierre Gasly, menggunakan metode sederhana. Pelatihnya menjatuhkan bola tenis dan dia harus menangkap.

Namun seiring dengan kemajuan teknologi, beberapa koleganya mulai menggunakan aplikasi BlazePod di telepon pintar. Mereka mengikuti jejak para pesepak bola, atlet NFL, tenis, NBA dan MotoGP. Diperkirakan ada 300 ribu olahragawan di berbagai level yang memakainya.

Pembalap anyar Williams F1, Alex Albon, merupakan pionir pengguna BlazePod di lingkungan F1. Beberapa saat kemudian, pilot Red Bull Racing, Max Verstappen dan Sergio Perez, serta Gasly mengikuti.

Mekanismenya sederhana, dengan bantuan serangkaian stasiun lampu yang dipasang di meja atau dinding. Para pembalap menekan impuls yang berkedip secepat mungkin. Mereka bisa memilih level tes dari mudah hingga sulit

Latihan itu berpengaruh pada psikologi pembalap sebelum masuk mobil. Ketika tubuh terkena stimulus maka akan bereaksi stimulus yang datang selanjutnya. Reaksi kognitif dan fisik perlu diprediksi saat keluar ke trek pertama kali.

Pendiri BlazePod, Yaniv Schneiderman, menjelaskan alasan utama aplikasi itu sangat populer.

Baca Juga:

“Kami tidak bisa mengabaikan fakta bahwa perangkat ini menyenangkan ketika digunakan. Itu menyenangkan, tapi atlet profesional sangat menyukainya,” ujarnya.

“Mereka menjalani sesi latihan intensif, tapi mereka tahu bahwa itu akan menyenangkan. Sebuah pengalaman menggembirakan.”

Kepada Motorsport.com, Direktur Pendidikan dan Pelatihan BlazePod, Simon Jacobs, menjelaskan keuntungan latihan tentang BlazePod. “Ini tentang menantang pikiran untuk membangkitkan sistem saraf dan mempersiapkan tubuh untuk aksi,” tuturnya.

“Kemudian, ketika mereka masuk ke mobil, apakah untuk kualifikasi atau balapan, mereka siap dan siap pergi. Mereka akan bereaksi jauh lebih cepat pada stimulus apa pun yang mereka lihat di depan.”

Start-up tersebut juga menyuplai data berharga dan memonitor setiap proses. Itu menunjukkan waktu reaksi yang sebenarnya untuk masing-masing reaksi, seberapa sering para pembalap salah dan bagaimana perubahan progres sepanjang tes. Data disimpan untuk melacak kemajuan di trek dari waktu ke waktu.

“Anda dapat angka dan Anda bisa melihat kemajuan. Tak hanya aplikasi melacak waktu, tapi Anda juga melihat dalam pergerakan mana mereka berkembang atau tidak. Apakah stagnan di sini atau di sana?” ucapnya.

“Ini tentang memahami data yang Anda dapatkan dan bagaimana Anda bisa menggunakan data untuk membantu kemajuan atlet Anda. Pastinya itu menyenangkan, tapi untuk memahami apa yang dapat darinya, Anda harus melihat dari sisi profesional, menganalisis data dan kemudian menggerakkan atlet maju.”

 

BlazePod yang dibuat pada 2017 dipastikan bisa menawarkan nilai terbesar untuk atlet di masa depan.

“Senang melihat mereka menggunakannya untuk persiapan dasar, tapi mereka juga dapat memanfaatkannya untuk hal lain. Mereka bisa memanfaatkan untuk latihan kekuatan dan pengkodisian. Mereka dapat menggunakan itu untuk rehabilitasi juga maupun pengambilan keputusan dan efisiensi,” Jacob menerangkan.

“Saat Anda mengemudikan mobil pada kecepatan seperti mereka, Anda harus bereaksi sangat cepat terhadap mobil yang mendekati Anda dari kiri dan kanan, serta keputusan harus dibuat dalam milidetik. Kami dapat membantu dengan itu.”

Jacobs menganalogikan dengan olahraga sepak bola Amerika, “Jika saya bekerja dengan linebacker yang perlu bereaksi terhadap stimulus secepat mungkin untuk meredam seorang quarterback, kami harus melakukan hal yang sama, mengembangkan latihan khusus olahraga.

“Kami mengambil cahaya dan membidik mereka pada target spesifi. Kami menggunakan cahaya yang sama untuk menghasilkan hasil sama, atlet lebih responsif.

“Tapi, ada olahraga lain seperti Formula 1 di mana Anda selalu mencari keuntungan untuk maju dan itu sungguh menarik.”

Be part of Motorsport community

Join the conversation
Artikel sebelumnya Formula 1 Makin Serius Kejar Balapan Ketiga di AS
Artikel berikutnya Petinggi FIA Isyaratkan Michael Masi Mungkin Diganti

Top Comments

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak menulis sesuatu?

Sign up for free

  • Get quick access to your favorite articles

  • Manage alerts on breaking news and favorite drivers

  • Make your voice heard with article commenting.

Motorsport prime

Discover premium content
Berlangganan

Edisi

Indonesia