Leclerc: Peringkat Ketiga Lebih Berharga daripada Menang GP

Charles Leclerc lebih sabar dibandingkan musim lalu yang penuh liku. Target pembalap Monako itu mempersembahkan poin sebanyak-banyaknya agar Ferrari tembus tiga besar konstruktor F1.

Leclerc: Peringkat Ketiga Lebih Berharga daripada Menang GP

Setelah mimpi buruk musim 2020, Leclerc berharap bisa mengulang pencapaiannya pada dua tahun silam. Kala itu, ia bertengger di peringkat keempat berkat 2 kemenangan dan 8 podium lain.

Sinyal kebangkitan belum terlihat di GP Bahrain di mana Leclerc menjejak posisi keenam. Rapor laga pembuka paling buruk baginya.

Dalam wawancara dengan Motorsport.com, pria 23 tahun itu mengekspresikan pendapatnya tentang teman-teman setimnya, Carlos Sainz Jr dan Sebastian Vettel.

Kesan Anda tentang balap pertama musim ini adalah sedikit meremehkan dampak modifikasi yang dibuat karena perubahan aturan teknik 2021. Dari sudut pandang mengemudi, apa mengubah sesuatu?

Dalam sudut pandang mengemudi, tidak ada perubahan, tapi ada sesuatu yang mesti saya ubah. Perlu mengurangi laju saat masuk ke tikungan karena bagian belakang single seater karena modifikasi bagian bawah, membuat mobil lebih sulit dikendalikan.

Anda menyewa rumah di Maranello?

Ya, tapi sudah lama.

Setelah kehadiran Carlos Sainz, siapa yang menghabiskan lebih banyak waktu dengan tim. Tampaknya Anda juga mulai mengintensifkan kehadiran di Maranello…

Nyatanya, waktu yang saya habiskan dengan tim selalu sama. Mungkin dari luar tampak berkurang waktu yang saya habiskan di Maranello karena saya banyak mengunggah foto di media sosial, khususnya berhubungan dengan pertandingan paddle yang tidak pernah meninggalkannya ketika saya bisa.

Yang berubah adalah waktu yang saya habiskan dengan teman setimnya karena di masa lalu, saya dan Seb sering bersimpangan. Saya datang dan dia pergi atau sebaliknya, sedangkan sekarang dengan Carlos, kami selalu berada di markas pada hari sama dan konsekuensinya kami menghabiskan waktu bersama.

Nilai tambah apa yang bisa dijamin Carlos ke Ferrari?

Pada beberapa tahun terakhir, dia membela banyak tim dan saya yakin akan menarik mendapat ide bagaimana cara kerja tim lawan. Lalu saya merasa motivasi besarnya, di tahun pertama bersama Ferrari dan dia ingin segera berhasil dan euforia ini menular menguntungkan untuk semua tim. Bagi sebuah tim, selalu positif punya dua pembalap yang melaju dan berjuang meraih kemenangan.

Anda berbicara lewat telepon dengan John Elkann?

John menelepon saya, malam sebelum pembukaan musim. Dia ingin tahu segalanya mulai dari single-seater hingga ekspektasi, perasaan secara umum. Kami bicara setiap kali diperlukan.

Baca Juga:

Musim lalu, setelah ledakan George Russell di Sakhir, ada yang membahas nilai seorang pembalap seperti Lewis Hamilton. Apa Anda pernah berpikir bahwa orang yang mengelu-elukan Anda hari ini, besok bisa menuding Anda dengan jarinya?

Itu bagian permainan. Saya belajar musim ke musim bahwa saya harus bergantung pada diri sendiri, saya tahu ketika saya melakukan pekerjaan bagus dan ketika saya dapat berbuat lebih baik. Lalu ada momentum di mana Anda tahu telah memberikan yang terbaik dan telah bekerja dengan sangat baik, tapi sesuatu tidak terlihat dari luar dan kadang itu membuat frustrasi.

Melihat Lewis, saya yakin pencapaiannya mengatakan semua, lalu ada orang-orang yang terus menggarisbawahi bahwa dia mengemudi single seater lebih baik, tapi saya yakin, dia tidak duduk di sana secara kebetulan.

Dalam tujuh tahun terakhir, hanya ada satu tim dan dua pembalap yang meraih gelar juara dunia Formula 1. Ada yang bilang bahwa itu lebih dari kemampuan mengemudi, seorang pembalap menentukan kariernya ketika dia memilih tim. Bagaimana menurut Anda?

Memang benar kalau pilihan di luar trek sangat tergantung pada karier, tapi saya sangat senang jadi pembalap Ferrari. Itu impian saya sejak dulu dan tantangan saya memberi kontribusi membawa skuad ini untuk menang. Saya mengerti pentingnya sebuah pilihan, tapi target saya satu-satunya adalah kembali meningkat bersama Ferrari. Saya yakin ada potensi untuk sampai di tempat yang kami inginkan.

Kita mundur ke GP Austria 2019, duel pertama Anda dengan Max Verstappen. Kesannya setelah akhir pekan itu, gaya balapan Anda menjadi lebih agresif. Apa benar?

Ya. Selain itu, setelah akhir pekan tersebut, pendekatan steward berbeda dan kami diizinkan sedikit melebihi batas yang biasanya berlaku. Saya yakin itu bagus buat olahraga kami dan saya langsung mengatakannya selepas balapan meski hasil yang didapat mengecewakan.

Saya selalu berpikir kalau mereka mengizinkan kami balapan dengan sedikit hambatan, kami akan menyajikan lomba lebih spektakuler, tapi butuh kontinuitas dalam metode penilaian, seperti yang terjadi. Sejak saat itu, kami punya kepastian untuk dapat menekan badan ke badan tanpa takut dikenai sanksi. Saya beradaptasi dengan baik dengan situasi baru ini.

Charles Leclerc, Ferrari SF21, berduel dengan Lando Norris, McLaren MCL35M

Charles Leclerc, Ferrari SF21, berduel dengan Lando Norris, McLaren MCL35M

Foto oleh: Mark Sutton / Motorsport Images

Januari silam, Anda dinyatakan positif Covid-19. Aspek ini mempengaruhi persiapan Anda?

Tidak, saya harus mengatakan semua diselesaikan dengan cara terbaik. Hari ketika saya kembali latihan, saya merasa lebih lelah dari biasanya, tapi saya yakin itu karena lebih dari dua minggu berhenti akibat Covid. Selanjutnya, saya menjalani pemeriksaan lebih lengkap di Ferrari dan tidak terlihat anomali dibanding kondisi fisik saya biasanya.

Dimulai musim kedua kejuaraan dunia yang terimbas Covid-19, dan beberapa atlet di berbagai cabang olahraga, mulai terbebani dengan kehidupan dalam ‘bubble’. Dalam kasus Anda, bagaimana hidup dalam kondisi sangat tertutup?

Secara pribadi, saya tak bisa bilang mulai terbebani. Sistem ini memungkinkan kembali balapan dan memungkinan untuk melanjutkannya. Berpikir betapa saya merindukan ada di trek, jadi saya menerima itu tanpa masalah. Jelas, ada banyak hal yang saya rindukan dalam hidup di mana saya terbiasa melakukannya, tapi saya menerima kompromi yang dibutuhkan untuk bertarung di lintasan.

Pada 2020, hasil yang Anda raih mengecewakan, tapi dibandingkan Sebastian Vettel, Anda mengonfirmasi feeling lebih baik dengan SF1000. Anda tahu di mana bisa membuat perbedaan?

Saya yakin pada akhirnya itu tentang feeling dan gaya mengemudi. Saya suka bagian belakang bergerak dengan cara yang saya mau sehingga saya bisa membuat mobil berbelok, pembalap lain menderita dari aspek ini. SF1000 punya bagian belakang yang kurang stabil, bagi saya itu tak pernah jadi masalah, tapi saya tak bisa menjawab untuk Seb. Ini hanya aspek terkait gaya mengemudi.

Anda akan merindukan sesuatu dari Sebastian setelah dua tahun bersama-sama?

Tentu saja, memulai dari pengalamannya. Dalam situasi tertentu, dia punya kapasitas analisis dan saya yakin telah belajar banyak dari Seb dari aspek tersebut. Saya mengerti pentingnya memberi beberapa detail pada akhirnya, memberi perbedaan besar di trek. Bagi saya, itu sangat menarik untuk menilai aspek-aspek tersebut. Seb seorang yang sangat baik, yang selalu mengesankan saya atas kesederhaannya.

Ada perdebatan terbuka di paddock. Di satu sisi, pendukung Formula 1 harus selalu beradaptasi dengan kebiasaan dan kebutuhan publik, yang lain ingin mempertahankan nilai tambah di Formula 1 yang merupakan tradisi selama 70 tahun, mengubah tonggak sejarah seperti memperkenalkan sprint race, itu merupakan tujuan otomatis. Bagaimana pandangan Anda?

“Saya yakin butuh kompromi. Contohnya, ide sprint race akan menemui konsesus dari sebagian besar penggemar Formula 1, dan sejauh menyangkut pilot, saya lihat mayoritas pembalap mau mencobanya. Mesti bertindak dengan hati-hati, tapi juga perlu diingat bahwa tanpa publik, kami bukan siapa-siapa. Jadi sesekali mengambil langkah ke arah fan, bagi saya tak ada salahnya.

Charles Leclerc, Ferrari SF21

Charles Leclerc, Ferrari SF21

Foto oleh: Mark Sutton / Motorsport Images

Di antara tema yang mengambang antara Formula 1 dan FIA, ada proposal terkait salary cap. Bagaimana menurut Anda?

Itu pertanyaan yang kami harus diskusikan antara pembalap dan berikutnya dengan FIA. Saya punya pendapat sendiri tapi memilih membicarakan ini dengan FIA, tapi sangat mengingatkan risiko yang kami dapatkan di lintasan.

Anda memulai musim keempat di Formula 1. Apa momen indah dan buruk dalam periode ini?

Yang paling indah, pasti banyak yang bisa menerka, pastinya Monza 2019. Momen terburuk juga terjadi pada 2019, di Monte Carlo, dalam kualifikasi saya tak bisa ke Q2 dan saya berhenti saat balapan karena insiden. Itu akhir pekan yang buruk.

Mempertimbangkan situasi teknik yang kalian hadapi tahun lalu, dan target musim baru dimulai. Kesannya Ferrari meminta Anda sedikit bersabar. Apakah menunggu adalah skill pembalap?

Kesabaran harus dimiliki dan itu kemampuan yang saya kembangkan sejalannya waktu, bertahun-tahun lalu, saya tidak memilikinya atau hanya sedikit saja. Ketika Anda menghadapi keterlambatan teknis, kami sangat paham bahwa di Formula 1 butuh waktu untuk menyetel ulang dan selama fase tersebut, Anda mesti setenang mungkin karena marah dan ketidaksabaran tak akan membantu. Saya matang dari sudut pandang ini, lalu saya tak sabar kembali dan memenangi balapan. Target seorang pembalap selalu seperti itu.

Dua tahun lalu, malam sebelum musim pertama di Ferrari, Anda menekankan seberapa penting bagi Anda melangkah maju dalam beberapa aspek teknik dan terutama manajemen ban. Anda merasa lebih matang sekarang?

Setiap tahun, di kepala saya ada daftar aspek-aspek yang ingin saya perbaiki, target presisi. Itu tergantung pada pengelolaan ban yang merupakan sisi selalu terbuka. Saya yakin lebih baik tapi tahu punya pekerjaan yang mesti dilakukan, itu tema rumit dan setiap kali masuk ke mobil selalu ada beberapa aspek lebih dari yang bisa saya tingkatkan, khususnya mengendalikan lap cepat yang tergantung ritme balapan. Kadang, mereka mendetail, tapi detail membuat perbedaan.

Seandainya sepanjanga musim, Anda dilewati Sebastian, bagaimana Anda akan bertindak?

Saya tak berpikir bahwa kalau kejadian itu terjadi, saya akan membuat film seperti…’ah, dia dulu teman setim saya dan saya sering mengalahkannya dan sekarang dia di depan saya.’ Ketika menurunkan visor, tak ada ruang untuk pikiran seperti itu. Saya hanya berkonsentrasi pada diri sendiri, pada mobil dan tugas yang harus dikerjakan. Jika Seb menyalip…saya akan mencoba mengambil lagi posisi saya. Saya kira tak punya pikiran lain dalam momen seperti itu.

Ferrari digadang-gadang memberikan kejutan positif tahun ini, terlihat kemajuan penting dibandingkan situasi teknik pada 2020…

Menurut saya, mereka melakukan pekerjaan bagus, tapi perlu menjejak bumi. Kami yakin tidak mengampuni diri sendiri, tapi dalam Formula 1 mesti lebih hati-hati karena semua relatif. Kebaikan dari pekerjaan muncul dari perbandingan dengan musim, jadi saya tidak mau terlalu gembira.

Para tamu VIP memotret Charles Leclerc, Ferrari SF21, di pit lane

Para tamu VIP memotret Charles Leclerc, Ferrari SF21, di pit lane

Foto oleh: Steven Tee / Motorsport Images

Di akhir musim, Anda memilih untuk menaklukkan posisi ketiga kejuaraan dunia tanpa kemenangan dalam lomba, atau kelima dengan dua kemenangan?

(Terdiam…) Peringkat ketiga kejuaraan dunia. Tapi sulit menjawab, mungkin sebagai pembalap lebih baik memenangi beberapa pertandinga, tapi saya pikir, total nilai tim di posisi terakhir lebih penting. Bagaimana pun, ya, sulit menjawabnya.

Anda ada di lomba penutup musim, Anda bermain untuk titel lawan rekan setim. Pada akhirnya, Anda punya kans untuk menyerangnya, tapi Anda tahu risiko kecelakaan. Apa yang akan dilakukan Charles Leclerc?

Saya akan mencoba, saya mencobanya tapi…perlu mengevaluasi seberapa kerugian tim. Jika melanjutkan manuver itu, tim berisiko tergelincir dari posisi pertama ke ketiga di klasemen konstruktor, maka saya akan memikirkannya baik-baik. Tapi sebagai pembalap…ya, saya melakukannya, saya menyerang.

dibagikan
komentar
Kubica: Tak Banyak Pembalap Muda Potensial Mampu Tembus F1

Artikel sebelumnya

Kubica: Tak Banyak Pembalap Muda Potensial Mampu Tembus F1

Artikel berikutnya

Prost: Banyak Orang Meremehkan Karier Saya di Formula 1

Prost: Banyak Orang Meremehkan Karier Saya di Formula 1
Muat komentar