Mantan Pembalap F1 Ragukan Ferrari Segera Bangkit

Eks pembalap Scuderia Ferrari, Rene Arnoux, tidak yakin mantan timnya itu mampu cepat keluar dari krisis di Kejuaraan Dunia Formula 1.

Mantan Pembalap F1 Ragukan Ferrari Segera Bangkit

Pada musim 2020 lalu, Ferrari mengalami hasil finis terburuk di Formula 1 dalam 40 tahun terakhir. Finis keenam konstruktor dan tanpa kemenangan membuat tim yang bermarkas di Maranello, Italia, tersebut menyamai hasil di Kejuaraan Dunia Formula 1 1980.

Ironisnya, hasil memalukan empat dekade itu terjadi tepat setelah Ferrari juara dunia konstruktor dan pembalap lewat Jody Scheckter. Uniknya, pada 1980 itu Ferrari juga tidak mengubah komposisi, masih Scheckter dan Gilles Villeneuve.

Pada 1980 itu, sasis Ferrari 312T5 terlihat kesulitan berkembang. Padahal mereka mempertahankan mesin juara dunia 1979, Ferrari 015 3.0 F12.

Penyebab kejatuhan Ferrari saat itu adalah mereka tidak peduli dengan perkembangan teknologi. Saat semua tim sudah menurunkan mesin V8 (delapan silinder), Ferrari masih mempertahankan mesin 12 silinder.

Ujungnya, Ferrari 312T5 tidak hanya menjadi lebih lebar namun juga berat. Ferrari saat itu juga tidak membuat sayap yang aerodinamis.

Rene Arnoux di dalam kokpit Ferrari 126 C4 pada GP Brasil 1984.

Rene Arnoux di dalam kokpit Ferrari 126 C4 pada GP Brasil 1984.

Foto oleh: Sutton Images

Salah satu pembalap F1 yang menyaksikan kesulitan Ferrari saat itu adalah Rene Arnoux. Pada F1 1980, pria asal Prancis itu berhasil memenangi dua lomba pertamanya di atas Renault RE20.

Pada 1983, pria yang pensiun dari F1 pada 1989 tersebut menerima pinangan Ferrari hingga keluar pada 1985. Pada musim pertamanya di Ferrari, Arnoux langsung mampu impresif.

Arnoux berhasil memenangi balapan di Montreal (Kanada), Hockehnehim (Jerman), dan Zandvort (Belanda). Ia pun finis di posisi ketiga klasemen akhir – hasil terbaiknya di F1 – di belakang Nelson Piquet (Fila Sport Brabham-BMW) dan Alain Prost (Renault).

Kerja sama Arnoux dengan kompatriotnya, Patrick Tambay, juga menghasilkan gelar juara dunia konstruktor kedelapan (dari total 16 saat ini).

Karena sudah 72 tahun, Arnoux tidak lagi bisa menyaksikan langsung F1 karena pandemi Covid-19. Ia terakhir muncul di acara besar dalam acara Ferrari di Milan, Italia, pada 2019.

Meskipun begitu, Arnoux masih memperhatikan Ferrari dan apa yang terjadi dengan mereka. Arnoux mengaku ikut sedih menyaksikan pembalap sekelas Sebastian Vettel dan Charles Leclerc sangat kesulitan merebut poin musim lalu.

Baca Juga:

“Untuk sukses di Formula 1, Anda harus memiliki orang yang tepat di setiap posisi. Semua departemen harus mampu bekerja sama,” tutur pemenang tujuh lomba (4 di Renault, 3 di Ferrari) dan 22 podium dalam 149 balapan F1 antara 1978-1989 tersebut.

“Anda bisa memiliki semua sumber daya yang diperlukan. Tetapi, bila berjalan ke arah yang tidak sama, semua takkan bekerja dengan bagus.”

Arnoux kemudian menyebut dua orang yang tahu benar bagaimana cara mengatasi problem di Ferrari seperti yang mereka hadapi saat ini.

“Enzo Ferrari dan Jean Todt. Todt tidak hanya tahu bagaimana membuat mobil yang kompetitif tetapi juga bagaimana membuat tim yang solid dan mampu bekerja sama,” ucap Arnoux.

Todt, menurut Arnoux, memilih orang yang tepat lalu memberikan semua yang mereka butuhkan dan hasil bagus akan muncul dengan sendirinya.

Kendati begitu, Rene Arnoux – yang pernah membela Martini, Surtees, Renault, Ferrari, dan Ligier sepanjang karier F1-nya – menyebut membuat tim F1 agar sukses tidak bisa dilakukan dalam semalam. Butuh proses yang tentu tidak sebentar dan bisa tahunan.

“Setiap perubahan pasti membutuhkan waktu. Karena itulah saya tidak yakin bila dalam semalam Ferrari bisa membuat keajaiban dengan mampu langsung bangkit pada 2021 dan memenangi banyak lomba,” tutur Rene Arnoux.  

 

   

dibagikan
komentar
Bos AlphaTauri Ogah Gunakan Mesin Renault
Artikel sebelumnya

Bos AlphaTauri Ogah Gunakan Mesin Renault

Artikel berikutnya

McLaren Optimistis Pangkas Jarak dengan Mercedes

McLaren Optimistis Pangkas Jarak dengan Mercedes
Muat komentar