Dua Mantan Pembalap Jerman Ungkap Penyebab Vettel Terpuruk

Balapan terakhir Sebastian Vettel bersama Ferrari di Kejuaraan Dunia Formula 1 akan digelar akhir pekan ini di Abu Dhabi. Ralf Schumacher dan Timo Glock pun angkat bicara mengapa Vettel mendapatkan musim terburuk sepanjang karier F1-nya justru di Ferrari.

Dua Mantan Pembalap Jerman Ungkap Penyebab Vettel Terpuruk

Musim terberat Sebastian Vettel di F1 bakal segera berakhir di GP Abu Dhabi, akhir pekan ini (11-13/12/2020). Statistik mencatat, inilah musim terburuk Vettel sejak debutnya di F1 pada 2007.

Pada musim keenamnya bersama Ferrari, hingga lomba ke-16 – GP Sakhir, akhir pekan lalu – Vettel baru sekali naik podium. Tepatnya saat finis ketiga di GP Turki.

Vettel juga baru mengoleksi 33 poin. Jika tidak mampu menambah poin di Abu Dhabi nanti, 2020 akan menjadi tahun terburuk Vettel setelah 2008, musim penuh pertamanya di F1 bersama Scuderia Toro Rosso.

Sepanjang menggunakan Ferrari SF1000 pada F1 2020, Vettel selalu inferior di semua sisi dari rekan setimnya, Charles Leclerc. Vettel hanya mampu unggul empat kali dari Leclerc dari 16 balapan yang sudah digelar.

Saat kedua SF1000 berhasil menuntaskan lomba (tidak ada yang mundur karena masalah saat balapan), posisi finis Vettel juga kalah dari Leclerc, 5-9.

Kecepatan di sektor sirkuit saat kualifikasi, Vettel juga kalah. Pembalap asal Jerman itu hanya 11 kali lebih cepat daripada Leclerc yang menguasai 37 sektor dari 16 lomba yang sudah digelar.

Baca Juga:

Vettel pasti berharap musim terakhirnya bersama Ferrari tidak akan seburuk ini. Tetapi, pengumuman menjelang awal musim yang menyebut keduanya akan berpisah. Membuat hubungan Vettel dan Ferrari semakin panas.

Apa yang dialami juara dunia F1 empat kali (2010, 2011, 2012, 2013) tersebut menarik perhatian dua mantan pembalap F1 asal Jerman, Ralf Schumacher dan Timo Glock.

Seperti pembalap lainnya, menurut Ralf Schumacher, Vettel juga butuh lingkungan yang mendukung saat bekerja. Setiap pembalap ingin nyaman dan dibutuhkan oleh timnya.

“Jalan yang ditempuh Ferrari bukanlah yang terbaik. Mereka justru membuat pembala tidak lagi memiliki motivasi,” tutur pemenang enam Grand Prix dalam 180 start di F1 antara 1997-2007 tersebut.

Sejumlah kesalahan yang dilakukan Vettel, menurut adik legenda F1, Michael Schumacher, tersebut juga bukan tanpa sebab. Vettel memiliki ambisi tinggi untuk meraih lebih dari empat gelar juara dunia.

Namun, karena tekanan yang begitu besar, situasinya justru menjadi lebih berat dan kompleks bagi pembalap 33 tahun tersebut. Akibatnya, Vettel justru kerap membuat kesalahan yang seharusnya tidak dilakukan pembalap sekaliber dirinya.

Di mata Ralf Schumacher, situasi yang dialami Vettel ini justru menunjukkan sisi humanis seorang pembalap F1. Vettel tetap manusia yang juga bisa membuat kesalahan.

Di sisi lain, Charles Leclerc berkembang sangat pesat. Sejak direkrut Ferrari pada 2019, Leclerc mampu memenangi dua balapan, 12 finis podium (termasuk dua kemenangan), dan tujuh pole position dalam 58 kali turun.

Sebastian Vettel, Ferrari SF1000, hanya mampu finis P12 sehingga tidak mendapatkan poin di GP Sakhir, Minggu (6/12/2020) lalu.

Sebastian Vettel, Ferrari SF1000, hanya mampu finis P12 sehingga tidak mendapatkan poin di GP Sakhir, Minggu (6/12/2020) lalu.

Foto oleh: Mark Sutton / Motorsport Images

Leclerc juga langsung finis di P4 klasemen akhir pada musim pertamanya di Ferrari Terakhir, Leclerc mampu start dari grid keempat GP Sakhir, Minggu (6/12/2020) malam lalu. Sementara, Vettel tersingkir di kualifikasi kedua dan hanya start dari P13.

“Leclerc memiliki skill dan bakat luar biasa seperti Max Verstappen (Red Bull Racing), Lewis Hamilton (Mercedes), atau kini George Russell (Williams),” tutur Ralf Schumacher yang pernah memperkuat tim Jordan, Williams, dan Toyota di F1.

“Anehnya, mengapa Leclerc bisa begitu cepat di sektor pertama Sakhir dengan Ferrari, yang musim ini bukan mobil tercepat, sementara Vettel tidak bisa. Bagi saya itu aneh.”

Dari situ Ralf Schumacher menilai Ferrari tidak terbuka soal strategi, mesin, dan sebagainya kepada Vettel. Kasus terakhir di Bahrain – sebelum Sakhir, Vettel finis ke-13 di GP Bahrain dan Leclerc 10 – menunjukkan Ferrari tidak memberikan semua yang dibutuhkan Vettel.

Terlepas dari performa buruk Vettel jika dibandingkan dengan Leclerc sepanjang musim juga membuat Ralf Schumacher berpikir Ferrari memberikan perlakuan berbeda untuk kedua pembalapnya. Meskipun, hal ini berulang kali dibantah Ferrari.

Sementara itu, Timo Glock menilai secara umum Ferrari sudah jelas melakukan banyak kesalahan. “Mereka sangat sering bongkar pasang (orang) di internal tim. Sering, orang tersebut tidak cocok dengan posisi barunya,” tutur Glock.

Pembalap yang aktif di F1 antara 2004 dan 2008-2012 bersama tim Jordan, Toyota, Virgin Racing, dan Marussia, tersebut lalu mencontohkan apa yang dilakukan Mercedes.

“Mercedes jadi contoh terbaik. Bertahun-tahun mereka membangun tim, mengumpulkan orang-orang hebat, dan mempertahankannya hingga mampu seperti sekarang,” ucap Glock tentang penguasa F1 (pembalap dan konstruktor) tujuh tahun terakhir itu.

“Anda tidak bisa maju jika terus mengubah arah tim dari kiri ke kanan dan sebaliknya, setiap tahun. Itu takkan pernah berhasil. Itulah problem Ferrari saat ini,” kata peraih tiga podium dalam 91 turun di F1 itu.

Saat disinggung mengenai performa buruk Vettel di Ferrari, Timo Glock menyebut semua orang tahu apa yang sudah dilakukan Vettel di Red Bull. Lingkungan yang kondusif membuat Sebastian Vettel mampu merebut empat gelar juara dunianya di tim tersebut.

“Hal itu tidak terjadi di Ferrari. Saat masuk ke pit, Anda pasti banyak bertanya bagaimana cara agar mobil bisa lebih cepat daripada lawan, mengapa mobil ini terasa labat, dan sebagainya,” kata Glock.

Glock menambahkan, dirinya sependapat dengan Ralf Schumacher bila Ferrari tidak terbuka terhadap Vettel. Segalanya bersifat sembunyi-sembunyi di depan Vettel.

“Sebastian Vettel sebenarnya sudah tahu apa yang terjadi dan harus dilakukan. Menurut saya, ia kini sangat senang karena musim akan segera berakhir dan segera memulai babak baru musim depan bersama Aston Martin,” ucap Timo Glock.     

     

 

dibagikan
komentar
Russell Ingin Buat Wolff Pusing Tentukan Skuad F1 2022

Artikel sebelumnya

Russell Ingin Buat Wolff Pusing Tentukan Skuad F1 2022

Artikel berikutnya

Ricciardo: Seharusnya Perez Tak Dibiarkan Menang

Ricciardo: Seharusnya Perez Tak Dibiarkan Menang
Muat komentar