Loncat ke konten utama
GPR NOV 21 Shadow 5
Fitur
Special feature

McLaren Shadow Studio, Bukti Keseriusan Tim F1 Menggarap Esports

McLaren menjadi salah satu tim pertama di Formula 1 yang berkomitmen tinggi ingin membawa Esports ke level yang lebih tinggi.

Gim balap mungkin masih membuat kening sejumlah penggemar motorsport berkerut. Faktanya, balap ‘tidak nyata’ seperti itu belakangan justru memiliki nilai bisnis motorsport yang jelas.

Selain mampu membawa sponsor teknologi untuk menjadi lebih dari sekadar stiker di mobil, gim balap terbukti mampu menjadi titik masuk allternatif bagi penggemar baru. Bahkan, terkadang pesaing baru.

McLaren adalah salah satu tim pertama di Formula 1 yang terjun ke Esports dengan satu target jelas. Hal tersebut mereka awali dengan menggandeng program World’s Fastest Gamer pada 2017.

Rudy van Buren yang kemudian menjadi pemenang, melanjutkan untuk bersaing di dunia nyata pada Race of Champions tahunan bersama Lando Norris – pembalap Tim McLaren – dan menghabiskan satu tahun sebagai pengemudi simulator resmi McLaren.

McLaren kemudian membentuk program Esports sendiri, McLaren Shadow Project. Ini sebuah kompetisi yang menawarkan hadiah mulai dari kit balap dan tur pabrik hingga kursi di tim F1 Esports McLaren sendiri.

Kini, McLaren Shadow menjadi salah satu unit bisnis yang berbeda dalam struktur perusahaan baru di Woking, Inggris dengan mandat untuk “berdiri di atas kaki sendiri”.

Hal ini sesuai dengan kebijakan CEO McLaren Zak Brown: membangun bisnis mandiri yang bertindak sebagai pelengkap, tanpa mengganggu fokus dari tim F1 yang sangat penting.

Shadow Studio adalah fasilitas baru di McLaren Technology Center (MTC) yang akan menyediakan titik fokus dan pusat pengembangan bagi para pesaing serta tujuan aspirasional bagi para penggemar. Menyebutnya sebagai ruang permainan tentu akan mengurangi arti pentingnya bagi bisnis.

Shadow Studio di MTC menjadi pilar kunci ekspansi bisnis McLaren selain Formula 1.

Shadow Studio di MTC menjadi pilar kunci ekspansi bisnis McLaren selain Formula 1.

Foto oleh: McLaren

“Ini adalah pilar yang sangat penting bagi kami,” kata Lindsey Eckhouse selaku Kepala Lisensi, Perdagangan, dan Esports McLaren.

Eckhouse melihat Esports sebagai dua hal yang terpisah. Pertama adalah cara yang dapat diakses oleh orang-orang untuk terjun ke dunia balap. Pasalnya, tidak banyak orang yang mampu pergi ke trek atau memiliki sarana untuk memulai balapan di dunia nyata. Bahkan, untuk mencoba karting yang masih terbilang mahal.

Eckhouse menambahkan, Shadow Studio memungkinkan orang untuk menguji kemampuan mereka, serta menjadi bagian dari ruang dengan cara yang lebih mudah diakses.

“Kemudian, bagian kedua benar-benar merupakan generasi berikutnya dari pertumbuhan penggemar,” tutur Eckhouse.

“Kami merangkul Esports sejak awal di dunia F1, dan telah melihat pertumbuhan yang kuat dengan penggemar baru, penggemar muda yang mulai bergabung dan merasakan apa yang ditawarkan F1. Ini cara yang sangat menarik bagi kami untuk menghadirkan audiens baru ke bisnis.”

Hal ini memungkinkan percakapan dua arah antara McLaren Shadow dan para penggemar. Membangun komunitas juga dilakukan melalui saluran media sosial untuk mempercepat pertumbuhan dan keterlibatan dengan komunitas, melalui beberapa program berbeda yang akan mulai jalankan.

Logitech McLaren G Challenge terbukti mampu menarik banyak penggemar baru.

Logitech McLaren G Challenge terbukti mampu menarik banyak penggemar baru.

Foto oleh: McLaren

“Apakah itu lebih banyak konten streaming langsung di Twitch, atau streaming amal yang akan segera Anda lihat, atau lebih fokus pada permainan yang sudah kita ikuti. Ini benar-benar mencoba membangun penonton dan rasa persahabatan,” ucap Eckhouse.

Aksesibilitas menjadi elemen fundamental dari daya tarik Esports. Itulah mengapa banyak tim – termasuk pemegang hak komersial (promotor) F1 – sangat ingin untuk terlibat.

Seri balap level bawah pun sudah mahal. Harga program gim Formula Ford yang kompetitif kini sudah lebih dari 100.000 poundsterling.

Para penggemar berat gim mungkin memakai hardware berharga ribuan pounds, dengan entry point gim konsol seharga ratusan pounds.

Van Buren menjadi salah satu pencinta gim yang berhasil bertransisi menjadi pembalap profesional (kini ia turun di Porsche Carrera Cup Jerman). Kisahnya relatif tipikal dengan mereka yang mencoba berkarier balap dari bawah.

Ia pernah mencoba karting dengan performa cukup bagus. Tetapi, ambisi dan cita-citanya untuk menjadi pembalap terhambat biaya yang sangat tinggi. Tanpa bermain gim, Van Buren mungkin sudah kehilangan passion balap.

Baca Juga:

Gim juga menawarkan sisi komersial yang menarik untuk organisasi sekelas McLaren. Shadow Studio juga berfungsi sebagai etalase produk dan layanan sejumlah parter tim (McLaren) yang mungkin ingin melakukan branding.

Alienware, produk gim dari Dell, menyuplai prosesor Aurora R10 dan monitor khusus gim berikut perangkat lunaknya. Logitech G menyediakan semua peranti pembalap – setir, pedal-pedal, dan sebagainya – termasuk headset dan webcam.

“Shadow Studio menjadi area yang sempurna untuk tim pro kami berlatih, juga memberi kesempatan pemain gim biasa untuk merasakan apa saya yang kami latih dengan memakai McLaren Shadow,” kata Eckhouse.

“McLaren Shadow telah hadir di semua platform-platform media sosial besar. Jadi, orang bisa mem-follow kami dan melihat apa saja hal-hal yang sudah berubah. Bahkan, peserta juga berkesempatan memenangi hadiah untuk menyaksikan Grand Prix.

“Menjelang akhir tahun, kami akan mencoba menyuguhkan beragam tipe balapan berbeda.”

Penggemar sim racing Lando Norris menjadi kunci untuk pengembangan bisnis McLaren di esports.

Penggemar sim racing Lando Norris menjadi kunci untuk pengembangan bisnis McLaren di esports.

Foto oleh: Andy Hone / Motorsport Images

Program McLaren Shadow ini juga diuntungkan dengan status salah satu pembalapnya, Lando Norris. Norris dikenal sebagai penggemar berat gim. Saat pandemi Covid-19 yang menunda dimulainya F1 musim lalu, ia ikut membuka gim streaming online kelas dunia yang langsung disambut antusias oleh audiens.

“Peran Lando sangat berharga bagi kami dari sisi passion dan kemauannya untuk selalu mencoba hal-hal baru. Itulah yang membuatnya dekat dengan kami,” ujar Eckhouse.

“Tuntutan fan Esports itu sangat tinggi. Mereka juga mampu tahu dengan cepat mana orang yang murni menyukai gim atau hanya ikut-ikutan arus.

“Kecintaan dan keterlibatan Lando dengan gim, bersama Twitch dan Esports benar-benar membantu kami dalam membangun momentum. Ia asset yang luar biasa dan juara untuk segala hal yang kami coba.”       

Artikel sebelumnya Pembalap Muda Inggris Gabung Ferrari Driver Academy
Artikel berikutnya Kasus Tsunoda, Christian Horner Kesal Omongannya Dipelintir di Medsos

Top Comments