Mengapa Michael Masi Kesulitan Melanjutkan Tugas Charlie Whiting

Keputusan Michael Masi yang dinilai kontroversial di Formula 1 Grand Prix Abu Dhabi disorot banyak pihak. Kabarnya, kini posisinya sebagai FIA Race Director terancam.

Mengapa Michael Masi Kesulitan Melanjutkan Tugas Charlie Whiting

Sejak menggantikan Charlie Whiting yang meninggal dunia karena penyakit paru-paru menjelang Kejuaraan Dunia Formula 1 2019 dimulai, Michael Masi dinilai kerap membuat keputusan kontroversial.

Sebagai Direktur Balap Federation Internationale de l'Automobile (FIA) di Formula 1, Masi memang bertanggung jawab penuh atas setiap keputusan terkait balapan. Sebagai pemimpin perlombaan, ia berwenang menentukan setiap keputusan yang terkait permasalahan di lintasan.

Posisi yang strategis memang tetapi sekaligus berisiko sangat tinggi. Itulah mengapa mendiang Charlie Whiting pernah berucap bila hal terpenting di Grand Prix F1 adalah jika publik tidak mengetahui semua aturan yang ada.

Sebagai gantinya, dan seperti yang kadang-kadang Whiting ingatkan kepada tim-tim, Pasal 0.0.0 dari buku peraturan F1 adalah mutlak: “Jangan buang air kecil."

Charlie Whiting

Charlie Whiting

Foto oleh: Uncredited

Tentu saja Whiting melontarkan kata-kata itu sebagai humor. Namun, dari situ bisa terlihat bagaimana cara Whiting memimpin jalannya setiap balapan F1 selama puluhan tahun sejak 1997, dengan sangat tegas tanpa pandang bulu.

Sebagai penjaga regulasi di F1, Whiting tahu benar bagaimana upaya tim-tim mengeksplorasi area abu-abu regulasi sport dan teknis agar menguntungkan mereka sekaligus menyulitkan para rival.

Whiting tahu bahwa ketika tim-tim mencoba-coba “bermain” dengan FIA selaku regulator F1, mereka tidak bisa “buang air kecil” dengan sembarangan. Whiting pasti bakal dengan tegas menghantam mereka.

Kesepahaman bersama di antara FIA dan tim-tim F1 terbukti berhasil dijaga dengan benar oleh Whiting. Meski, tidak bisa dipungkiri dirinya tidak selalu mampu menyenangkan semua tim setiap saat.

Tidak jarang Whiting harus berada di tengah-tengah problem kontroversial yang sangat serius. Tetapi, mereka yang berada di balik pit wall (baca: tim-tim) tahu batasan-batasan yang tidak boleh dilanggar.

Baca Juga:

Dengan baru tiga musim menjadi F1 FIA Race Director, Michael Masi tentu belum mampu menyamai kemampuan Whiting, yang sudah berpengalaman puluhan tahun memimpin jalannya balapan F1.

Lebih jauh lagi, Masi juga tidak memiliki pengetahuan soal bagaimana orang-orang dalam tim-tim F1 bekerja. Karena bertahun-tahun berpengalaman bekerja di tim Brabham pada akhir 1970-an hingga awal 1980-an, Whiting tahu benar betapa licik, nakal, kejam, politis, dan bermuka dua, dalam kehidupan tim F1.

Di sisi lain, pria Inggris yang wafat dalam 66 tahun tersebut juga tahu seperti apa tim F1 yang semula gigih tiba-tiba menyerah untuk menang dan bersaing merebut gelar.

Meskipun begitu, ada beberapa elemen yang mirip antara Whiting dan Masi. Keduanya sama-sama tipe pekerja keras. Mereka juga cerewet dalam hal keselamatan di lintasan.

Selain itu, baik Whiting maupun Masi sama-sama sangat terbuka tentang pandangan mereka tentang seni balap. Kendati, mereka mungkin melihatnya dari sudut pandang yang berbeda.

Keduanya juga pribadi yang disukai banyak publik. Di paddock, Masi dan Whiting tipe orang yang selalu tersenyum dan menyapa jika berpapasan. Keduanya juga humoris, menikmati pekerjaannya, dan tidak menganggap diri mereka terlalu serius.

Michael Masi, Race Director FIA, langsung turun di lokasi kecelakaan Romain Grosjean, Haas VF-20, pada lap awal GP Bahrain 2020 di Sirkuit Sakhir.

Michael Masi, Race Director FIA, langsung turun di lokasi kecelakaan Romain Grosjean, Haas VF-20, pada lap awal GP Bahrain 2020 di Sirkuit Sakhir.

Foto oleh: Mark Sutton / Motorsport Images

Namun begitu, kendati banyak memiliki kesamaan, ada perbedaan mencolok dalam cara Whiting dan Masi dalam menjalankan tugas sebagai pengawal jalannya Grand Prix.

Dulu, Whiting selalu tegas terhadap pembalap, utamanya terkait batasan perilaku yang masih dapat diterima. Ini membuat semua pembalap tetap terkendali.

Whiting adalah orang yang memastikan ada penerapan aturan yang keras dan cepat, plus konsisten. Bahkan, jika keputusan atau hukuman itu tidak populer, Whiting tetap pada pendiriannya.

Sementara, dalam menjalankan tugasnya sebagai Direktur Balap F1 FIA, Masi lebih suka melihat hal-hal berdasarkan kasus per kasus. Pria Australia itu menilai setiap insiden berdasarkan prestasi individunya sendiri dan tidak ingin terlalu terpaku pada preseden.

Tugas Masi terasa lebih berat karena belakangan teknologi memungkinkan publik melihat langsung cara kerja Direktur Balap F1. Kondisi inilah yang mungkin telah memicu banyak sinisme dalam beberapa waktu terakhir tentang pekerjaan Masi.

Sebagai Race Director FIA untuk F1, tugas utama Masi adalah membuat sejumlah keputusan saat lomba dan memastikan segalanya berlangsung mulus.

Pada setiap balapan F1, Race Director juga berperan sebagai ‘delegasi keselamatan’, ‘starter permanen’, dan juga ‘mengepalai departemen teknis’. Bisa dibilang, Race Director adalah posisi paling vital dalam sebuah lomba F1.

Tidak sampai di situ, di setiap akhir pekan, Masi berperan mengawasi dan mengatur logistik untuk Grand Prix, menginspeksi seluruh mobil di Parc Ferme sebelum balapan, memastikan aturan FIA dijalankan, dan mengontrol lampu-lampu untuk start di setiap balapan.

Pada setiap Jumat, Masi juga harus melakukan briefing bersama pembalap untuk mendiskusikan semua hal yang terkait sirkuit.

Berlatar belakang pendidikan marketing, Michael Masi memulai karier balapnya sebagai volunter di seri balap Supercars di Australia. Masi baru terlibat di F1 sejak 2018, saat FIA menunjuknya sebagai Wakil Direktur Balap untuk Formula 2 dan Formula 3.

Pada saat bersamaan, ia dipercaya menjadi wakil Charlie Whiting yang saat itu menjadi Direktur Balap FIA untuk F1. Karenanya, ketika Whiting wafat secara mendadak, mau tidak mau Masi dipromosikan untuk menggantikannya.

Max Verstappen, Red Bull Racing RB16B, Lewis Hamilton, Mercedes W12, saat berduel pada lap terakhir GP Abu Dhabi 2021, Minggu (12/12/2021) lalu.

Max Verstappen, Red Bull Racing RB16B, Lewis Hamilton, Mercedes W12, saat berduel pada lap terakhir GP Abu Dhabi 2021, Minggu (12/12/2021) lalu.

Foto oleh: Zak Mauger / Motorsport Images

Dengan selesainya GP Abu Dhabi 2021 yang kontroversial karena keputusannya yang dianggap tidak sesuai aturan, Minggu (12/12/2021) lalu, maka genap pula tiga tahun kepemimpinan Masi sebagai Race Director FIA untuk F1.

Selama itu, baru musim ini kiprah Masi sangat disorot. Itu semua terkait persaingan sengit di antara Max Verstappen (Red Bull Racing Honda) dan juara dunia bertahan (juga tujuh kali: 2008, 2014, 2015, 2017, 2018, 2019, 2020) Lewis Hamilton (Mercedes).

Diawali dari dua penalti 5 detik untuk Hamilton di GP Rusia 2020. “Saya yakin, sebelumnya tidak ada yang pernah terkena dua kali penalti 5 detik untuk sesuatu yang konyol. Mereka mungkin mencoba menghentikan saya, bukan begitu?” kata Hamilton saat itu.

Keputusan Michael Masi saat lomba GP Arab Saudi yang dinilai plin-plan terkait penalti untuk Verstappen membuatnya hampir bertabrakan dengan Hamilton.

Puncaknya tentu insiden Safety Car menjelang akhir balapan GP Abu Dhabi. Mercedes dan Lewis Hamilton merasa peluangnya untuk merebut gelar juara dunia telah dirampok.

Belakangan tersiar kabar bila setelah balapan Michael Masi tengah berupaya keras untuk mempertahankan posisinya (sebagai F1 FIA Race Director) bertahan musim depan.

Tetapi, banyak yang percaya nasib Michael Masi akan ditentukan dari siapa yang berhasil menggantikan Jean Todt sebagai Presiden F1, pada 17 Desember mendatang. Publik tentu menunggu apakah Masi – jika bertahan – mampu berperforma lebih baik lagi.

dibagikan
komentar
Patricio O'Ward Ketagihan Kendarai Mobil Formula 1
Artikel sebelumnya

Patricio O'Ward Ketagihan Kendarai Mobil Formula 1

Artikel berikutnya

Bernie Ecclestone: F1 Bukan Lagi Persaingan Murni

Bernie Ecclestone: F1 Bukan Lagi Persaingan Murni
Muat komentar