Formula 1
R
F1 GP Emilia Romagna
18 Apr
FP1 dalam
2 hari
R
F1 GP Spanyol
06 Mei
Event berikutnya
21 hari
R
F1 GP Arab Saudi
03 Des
Event berikutnya
232 hari
Selengkapnya:
Thought leadership series
Topik

Thought leadership series

Juan Pablo Montoya: Sprint Race Langkah Maju bagi Formula 1

Juan Pablo Montoya menjadi salah satu pembalap hebat di Kejuaraan Dunia Formula 1 dua dekade lalu. Setelah mundur, ia turun dan menjadi kampiun IndyCar, memenangi Indy500, dan masih aktif di IndyCar dan Le Mans.

Pembalap asal Kolombia itu turun di F1 antara 2001-2006 dengan membela dua tim legendaris, Williams dan McLaren. Dari 94 start, Montoya mampu tujuh kali menang, 30 podium, 13 pole position, dan 12 fastest lap.

Hasil terbaik Montoya di F1 adalah peringkat ketiga klasemen akhir 2002 dan 2003 bersama Williams.

Kini, putra Montoya, Sebastian, turun di seri Formula 4 Italia dan Jerman. Montoya juga memikirkan pembinaan pembalap muda dan ingin olahraga balap, khususnya Formula 1, mendapatkan tempat di kalangan anak muda.

Ia juga percaya bila esports berperan penting di masa depan F1 dalam hal mendekatkan olahraga ini dengan komunitas. Berikut petikan wawancara Motorsport.com dengan pembalap yang kini berusia 45 tahun tersebut.

Juan Pablo, mari kita lihat dua seri yang sangat dekat dengan Anda: Formula 1 dan Indycar. Bagaimana Anda melihat kedua seri tersebut saat ini?

Menurut saya keduanya saat ini dalam bentuk yang sangat bagus. Formula 1 kian menarik sejak Liberty datang (menjadi promotor). Banyak perubahan dan jujur, ketika Anda ke paddock sungguh mengejutkan karena suasananya lebih indah dibanding dulu.

Maksud Anda, nuansa politis semakin berkurang?

Hanya lebih indah, orang-orang (paddock) lebih ramah dan bersahabat. Pokoknya lebih nyaman. Di Indycar, menurut saya keputusan Roger (Penske, promotor Indycar dan pemilik tim) mengambil alih tahun lalu sangatlah bagus, utamanya karena pandemi Covid-19.

Bila Roger tidak ada di sana, seri IndyCar serius akan terancam. Roger memiliki passion besar di Indycar, Indy 500, dan tradisinya. Ia pasti akan mencari cara untuk mempertahankan tradisi ini. Caranya memperhatikan hal-hal detail sungguh fantastis.

 

Photo by: Richard Dole / Motorsport Images

Formula 1 sudah membuat beragam aturan baru agar persaingan antarpembalap lebih ketat, seperti tim-tim lemah mendapatkan waktu lebih banyak untuk tes aerodinamika dibanding tim-tim top. Juga batasan anggaran yang hanya menjadi mimpi di zaman Anda. Apakah semua ini akan membawa F1 kembali ke trek yang benar di masa depan?

Ya, selama mereka mampu mengontrolnya. Saya yakin orang-orang (di tim) akan menemukan celah (regulasi) seperti biasanya. Tetapi seiring berjalannya waktu akan menjadi lebih baik.

Tim teratas benar-benar tidak memiliki batasan, mereka melakukan apa pun yang perlu mereka lakukan untuk menang. Membuat persaingan lebih ketat akan lebih baik untuk pertunjukan balap seperti F1.

Saya yakin tim yang lebih baik akan menang; orang-orang dengan ide-ide terbaik, jika Anda memberi mereka separuh waktu, mereka mungkin akan melakukan pekerjaan yang lebih baik, itulah masalahnya! Ini akan menarik dengan Liberty Media dan F1.

Anda akan mulai menyadari bahwa rentang perhatian orang semakin kecil sehingga Anda tidak bisa berharap orang duduk dan menonton satu balapan di TV selama dua jam. Orang-orang seperti kami yang menyukai olahraga, melakukannya.

Generasi muda akan berjuang. Saya pikir yang dibicarakan F1 adalah sprint race dan ini menjadi sebuah langkah maju.

Indycar memiliki tantangan agak berbeda karena mempertimbangkan ke mana mereka akan pergi di masa depan, karena DNA Indycar adalah pembalap mampu bersaing untuk menang. Tim kecil dapat bersaing dengan tim yang lebih besar, duel wheel-to-wheel. Bagaimana Anda ingin melihat mereka mengembangkan produk Indycar untuk masa depan?

Menurut saya IndyCar sudah di trek yang benar. Dua hal yang sebenarnya tengah mereka pikirkan adalah sistem hibrida (hybrid). Saya yakin akan terwujud karena sistem itu menawarkan lebih banyak tenaga pada mobil. Saya pikir itu suatu keharusan di Indycar.

Salah satu daya tarik utama era CART (nama balap sebelum dilebur menjadi IndyCar pada 2003) adalah besarnya tenaga mobil. Saat ini mobil enak dikendarai tetapi tidak memiliki ciri khas Indycar. Jadi, ketika Anda menekan pedal gas rasanya seperti, “Ya Tuhan!”, Anda tahu apa yang saya maksud? Jadi saya pikir (hybrid) itu pasti akan membantu.

 

Photo by: Richard Dole / Motorsport Images

Putra Anda, Sebastian, kini turun di seri F4 Italia dan Jerman. Apakah membesarkan seorang anak melalui jenjang balap akan mengubah pandangan Anda tentang perkembangan pembalap muda?

Ini telah membuka mata saya untuk banyak hal seperti mengapa banyak anak muda sekarang kesulitan memahami apa yang dibutuhkan mobil dan mengerti arah mana yang bisa memajukan tim.

Itu karena mereka dibesarkan dari karting untuk mendengar, “Ini set-up terbaik. Inilah cara Anda mengendalikan sasis, begitulah cara kami menjalankannya.” Hal-hal itu sangat buruk. Bagi tim, inilah cara termudah bagi mereka untuk berkata, “Wah, kamulah masalahnya, bukan mobilnya.”

Masalah terbesarnya adalah jika Anda memiliki pembalap dengan bakat yang sangat bagus yang membenci mobil. Jika Anda menyesuaikan mobil dengan bakat itu, dia mungkin akan mengalahkan orang lain. Tetapi dengan apa yang Anda berikan kepadanya, dia tidak akan pernah berhasil.

Setiap pembalap muda akan mengemudikan apa pun yang diberikan dan mereka sangat mungkin mengendarainya dengan sangat buruk. Jika sebuah tim dengan cara seperti itu ingin mengalahkan tim-tim seperti Penske, Ganassi atau Andretti, jelas akan sangat sulit.

Pasalnya mereka memiliki orang-orang berpengalaman yang tumbuh dengan teori yang sama dengan saya, Anda harus membuat mobil yang mudah dikendalikan. Mereka yang membuat mobilnya lebih baik adalah yang mampu memenangi perlombaan.

Remaja saat ini tidak pernah mengenal dunia yang bukan digital. Cara mereka memecahkan masalah juga sangat berbeda. Bagaimana hal itu memanifestasikan dirinya dengan para pembalap dalam hal cara memecahkan masalah - ketika Anda melihat bagaimana cara Sebastian bekerja dan beberapa pembalap muda lain yang Anda bantu?

Menarik karena kendati masih sangat muda, mereka sudah memahami data dan telemetri. Jika Anda memberikan plot data kepada anak berusia 10 atau 12 tahun, mereka akan memahaminya. Mereka tahu apa yang dilihat dan itu sungguh luar biasa.

Anda tahu, kali pertama saya melihat plot data adalah saat berada di Eropa pada 1995, ketika sudah berusia 20 tahun. Jadi, waktu memang berubah sangat drastis saat ini.

 

Photo by: Sutton Images

Jadi, bagaimana Anda melatih pembalap muda soal hal-hal yang penting utamanya yang terkait fisika seperti transfer berat dan sebagainya?

Saya tipe orang yang gemar menyederhanakan segalanya. Semakin dewasa, Anda kian memahami fisika. Jika saya bilang ke anak 10 tahun: ”Jangan injak gas seperti itu karena kamu akan memindahkan berat ke ban depan,” mereka tidak akan peduli. Mereka hanya akan paham bila mengangkat beban terlalu banyak, benda itu akan rusak dan akan menyulitkan dirinya.

Bagi saya, video sangat membantu karena saat mereka terlalu muda dan Anda menunjukkan telemetri, mereka akan melihat kecepatan dan hal lain. Namun sangat sulit memberikan penjelasan soal hubungan telemetri dan kecepatan di beberapa area tertentu sirkuit.

Saya telah melakukannya sejak lama sehingga cukup menghabiskan dua menit melihat telemetri dan saya akan menemukan hal yang sama seolah-olah saya menghabiskan satu jam. Bagi mereka, sangat penting untuk menghubungkan bagian mana dari tikungan dan bagaimana Anda melakukannya. Kemudian Anda melihat video dan berkata, “Inilah masalahnya.” Dari situ akan jauh lebih mudah.

 

Photo by: Steven Tee / Motorsport Images

Hal lain yang saat ini ada namun tidak di era Anda adalah gim dan esports sebagai platform. Artinya Anda bisa menjalani dua karier balap di trek dan esports secara bersamaan. Seperti yang dilakukan Lando Norris (McLaren) dengan Max Verstappen (Red Bull Racing).

Anda sangat aktif, Fernando Alonso (Alpine) juga. Ini juga bisa menjadi penarik bagi bakat-bakat baru di balap dan juga bagi penggemar. Bagaimana Anda menilai esports?

Baca Juga:

Menurut saya esports bisa menjadi pintu bagi mereka yang tidak menyukai atau ingin turun di balap. Karena bila turun di balap sebenarnya akan butuh uang besar. Dengan uang untuk karting misalnya, Anda mungkin sudah bisa membeli simulator terbaik.

Dalam setahun, Anda mungkin menghabiskan 100 dolar AS untuk beberapa gim. Untuk keluarga normal yang ayah-ibunya bekerja dari pukul sembilan pagi sampai lima sore, yang tak sempat mengantar putranya ke sirkuit karting atau tidak percaya dengan karier di balap, saya kira esports bisa menjadi pilihan bagus.

Anda akan menyadari banyaknya waktu yang dibutuhkan di simulator, dedikasi, dan bagaimana melatih pikiran untuk konsisten, tepat waktu, serta melakukan semua yang harus dikerjakan.

Salah satu kunci dalam balap adalah memastikan segalanya berjalan benar dan hars mengulanginya. Melibas satu lap dengan cepat itu hal mudah. Namun mampu selalu cepat dalam 10 lap atau lebih secara konstan jelas akan berat.

Anda masih dipusingkan banyak hal seperti titik pegereman dan berpikir, “Cara termudah mungkin harus mengulanginya lagi.” Dari situ Anda mulai berpikir trik dan di sanalah kesalahan muncul.

Dalam posisi tertekan, Anda pasti akan mencari apa yang bisa menguntungkan Anda. Esports bisa menjadi dasar yang bagus untuk melatih semua itu.

 

Photo by: Mark Sutton / Motorsport Images

Anda aktif turun di berbagai ajang balap virtual selama lockdown lalu. Di 24 Hour of Le Mans, Anda mampu mengombinasikan pembalap yang tidak bisa dikumpulkan dalam balap sungguhan karena tim tidak mengizinkannya.

Selain itu Anda mampu menjalin hubungan baik dengan pembalap lain dan juga pemain gim serta penggemar….

Hal yang menurut saya sangat menarik adalah menciptakan hubungan yang sangat dekat dengan banyak pembalap yang belum pernah Anda temui sebelumnya. Anda akhirnya mengobrol dengan mereka dan kemudian bertemu mereka di kehidupan nyata lalu menertawakannya. Itu sangat menyenangkan dan bagus.

Saya pikir cara ini akan membawa komunitas balap lebih dekat. Banyak pembalap seperti (Charles) Leclerc, Lando atau Max. Mereka pembalap hebat dan banyak pria muda berlomba melawan mereka.

Mereka lalu mulai menjalin komunikasi dengan orang-orang yang tidak pernah mereka temui sebelumnya dan mereka mungkin pahlawan bagi para pemain gim itu. Jadi, itu (esports) membuat balapan lebih mudah didekati oleh dunia luar.

dibagikan
komentar
Wolff Klaim Tantangan Red Bull Pompa Antusiasme Mercedes

Artikel sebelumnya

Wolff Klaim Tantangan Red Bull Pompa Antusiasme Mercedes

Artikel berikutnya

Ricciardo Kenang Penampilan Perdana di F1

Ricciardo Kenang Penampilan Perdana di F1
Muat komentar