Perubahan Generasi Angin Segar untuk Formula 1

Pemilik tim Formula 1 tampaknya mengalami pergeseran pandangan terkait pilihan pembalapnya. Proses pergantian generasi perlahan mulai terjadi.

Perubahan Generasi Angin Segar untuk Formula 1

Di masa lalu, mereka menitikberatkan pada pengalaman, tak masalah usianya sudah melewati kepala tiga. Isu peremajaan berhembus juga ke kancah F1 beberapa tahun terakhir.

Beberapa tim membuat program khusus untuk mendidik pembalap junior dan setelah dirasa mencapai level yang memadai, mereka dititipkan ke skuad yang berafiliasi.

Target tahun pertama memang bukan untuk menang, melainkan hanya untuk membiasakan diri dengan atmosfer adu kencang jet darat dan mobil F1. Ternyata mayoritas mampu menjawab tantangan meski butuh sedikit waktu lebih lama.

Max Verstappen menjadi pembuka jalan. Putra mantan pilot F1 tersebut punya talenta luar biasa, terbukti dari promosi yang didapat di usia belia.

Meski hanya bisa merebut peringkat ketiga Formula 3, Red Bull Racing percaya dengan kemampuannya setelah melihat kinerjanya selama jadi pembalap tes. Mereka pun memberi jalur ekspres tanpa melewati tahap Formula 2.

Pada 2015, Verstappen dikirim ke Scuderia Toro Rosso untuk mendapat wawasan dan jam terbang sebelum memperkuat Die Roten Bullen. Ia menaklukkan rekor pembalap termuda yang debut di F1, yakni 17 tahun 166 hari, tepatnya pada GP Australia.

Dalam dua pekan, Verstappen kembali membuat sejarah dengan pencetak poin termuda di GP Malaysia. Kemenangan dalam Grand Prix Spanyol 2016 menjadi salah satu titik tolak dalam kariernya. Saat itu, untuk pertama kalinya, ia mengemudikan mobil tim tersebut dan menggantikan Daniil Kvyat.

Baca Juga:

Sejak saat itu, ia menjadi sensasi baru F1 karena mampu mendobrak dominasi duo Mercedes, Lewis Hamilton dan Valtteri Bottas.

Kemajuan pesat pembalap 23 tahun rupanya menginspirasi rekan-rekan seangkatannya. Tahun ini menjadi tahun kebangkitan para pembalap muda.

Semakin dekatnya gap antara mobil buatan tiga tim top, seperti Mercedes, Red Bull dan Ferrari, dengan tim medioker menjadi salah satu pemicu.

Sepanjang sejarah F1, skuad papan tengah bahkan sulit menginjak podium. Berada di zona poin saja sudah menjadi kebanggaan. Bahkan pada 2017 dan 2018, ketiga tim raksasa menyapu poin besar dan menyisakan remah-remah untuk rival mereka.

Hanya Sergio Perez dan Lance Stroll, wakil Racing Point, yang pernah tembus tiga besar di tengah kekacauan GP Azerbaijan 2017 dan 2018.

Fakta tersebut membuat Managing Director of Motorsport F1, Ross Brawn, menyadari adanya kesalahan sistem.

“Dua podium dari total 123 (antara 2017-2018) sungguh sulit diterima, terutama ketika perbedaan teknik dan finansial meningkat. Ini adalah masalah yang kami tangani bersama dengan FIA dan tim, karena masa depan F1 tergantung itu,” katanya.

Kekacauan yang ditimbulkan pandemi Covid-19 pada 2020, menghilangkan kebosanan penikmat F1. Pasalnya, podium juga dimiliki nama-nama lain di luar Hamilton, Bottas dan Verstappen.

Perez dan Pierre Gasly (AlphaTauri) bahkan pernah merebut kemenangan dalam GP Sakhir dan Italia. Stroll, Alex Albon, Charles Leclerc dan Lando Norris muncul di podium. Meski tidak masuk tiga besar, George Russell mencuri atensi kala ditarik Mercedes dari Williams untuk menggantikan Hamilton di Bahrain.

Max Verstappen, Red Bull Racing, Carlos Sainz Jr., Ferrari, dan Lando Norris, McLaren, dalam parade pembalap

Max Verstappen, Red Bull Racing, Carlos Sainz Jr., Ferrari, dan Lando Norris, McLaren, dalam parade pembalap

Foto oleh: Mark Sutton / Motorsport Images

Akuisisi Formula 1 oleh Liberty Media menjadi katalis lain. Sang pemilik baru menerapkan inovasi untuk menarik lebih banyak penggemar.

Diberlakukannya pembatasan anggaran diharapkan mendongkrak daya saing tim papan tengah sehingga menambah keseruan balapan.

Strategi mereka mulai memperlihatkan hasil. Pilot Alpine, Esteban Ocon, merajai GP Hungaria, Lando Norris menyentuh podium empat kali, di mana satu jadi runner-up, sedangkan Gasly juga kebagian urutan ketiga GP Azerbaijan.

Duo Ferrari, Leclerc dan Carlos Sainz Jr., masing-masing membawa pulang satu dan dua podium. Bahkan. George Russell juga mampu mempersembahkan peringkat kedua pertamanya untuk Williams. Ini sekaligus merupakan kado perpisahan sebelum kembali ke pelukan Mercedes.

Mulai F1 2022, status Russell naik jadi pendamping Hamilton, sebagai pengganti Bottas yang pindah ke Alfa Romeo. Grid akan jadi lebih semarak dengan persaingan Leclerc, Sainz, Norris (McLaren), Ocon, Gasly serta Albon yang berstatus pilot anyar Williams.  Mereka bakal jadi bintang masa depan ketika mobil baru diperkenalkan ke publik.

Di sela GP Belanda, Prinsipal Ferrari, Mattia Binotto, mengomentari prestasi para pemblap di atas. Ia melihat arah positif. “Saya kira para pembalap muda itu membawa angin segar untuk F1,” ucapnya.

Antonio Giovinazzi, Alfa Romeo Racing C41, Charles Leclerc, Ferrari SF21, Carlos Sainz Jr., Ferrari SF21, Lance Stroll, Aston Martin AMR21, saat start

Antonio Giovinazzi, Alfa Romeo Racing C41, Charles Leclerc, Ferrari SF21, Carlos Sainz Jr., Ferrari SF21, Lance Stroll, Aston Martin AMR21, saat start

Foto oleh: Zak Mauger / Motorsport Images

dibagikan
komentar
FIA Tinjau Kemungkinan Pelanggaran Sabuk Pengaman Carlos Sainz
Artikel sebelumnya

FIA Tinjau Kemungkinan Pelanggaran Sabuk Pengaman Carlos Sainz

Artikel berikutnya

Mercedes Tak Mau Buka Segel Mesin Keempat untuk Lewis Hamilton

Mercedes Tak Mau Buka Segel Mesin Keempat untuk Lewis Hamilton
Muat komentar