Sign up for free

  • Get quick access to your favorite articles

  • Manage alerts on breaking news and favorite drivers

  • Make your voice heard with article commenting.

Motorsport prime

Discover premium content
Berlangganan

Edisi

Indonesia Indonesia
Special feature

Dalam Jangka Panjang, Porpoising Bisa Bahayakan Nyawa Pembalap

Porpoising menjadi hambatan performa mobil F1 generasi terbaru. Namun, dalam jangka panjang, ternyata mobil yang berjalan memantul membahayakan kesehatan.

Max Verstappen, Red Bull Racing, 1st position, Charles Leclerc, Ferrari, 2nd position, congratulate each other in Parc Ferme

Keluhan seputar porpoising mulai biasa terdengar di area paddock belakangan ini. Tim-tim sedang menggarap pekerjaan rumah untuk mengurangi dampak tersebut. Berbagai cara dilakukan, di antaranya mengurangi tinggi mobil dan menyesuaikan suspensi. Konsekuensinya mobil lebih lambat dalam hitungan persepuluh detik.

Para pembalap tidak nyaman mengemudi dengan cepat ketika mobil bergerak seperti lumba-lumba. Pandangan otomatis terganggu sehingga bisa berbahaya saat mendekati tikungan dan mengerem dengan kecepatan 300 km/jam.

Selepas meluncur di F1 GP Emilia Romagna, pilot Mercedes, George Russell mengeluh nyeri punggung dan dada akibat porpoising. Jika melihat lebih jauh, ternyata efek jangka panjangnya terhadap kesehatan pembalap sangat buruk.

Baca Juga:

Pergerakan agresif kepala yang berulang saat melaju dengan kecepatan tinggi ternyata bisa memicu penyakit mental yang tidak bisa diubah. Hal itu juga terjadi pada atlet lain di luar dunia balap.

Contoh yang paling jelas adalah sepak bola, di mana para pemainnya kerap menyundul bola. Ketika ada obyek yang sering mengenai area tersebut, maka akan membuat otak menderita.

Berdasarkan studi yang dilakukan Departemen Neuropatologi Universitas Glasgow, masalah neurodegeneratif paling tinggi dialami atlet sepak bola, terutama yang seumur kariernya menggunakan kepala untuk mengeksekusi bola.

Risiko menderita beberapa penyakit mental fatal juga meningkat hingga 3,5 kali dan bisa lima kali lebih tinggi jika itu adalah demensia atau Alzheimer.

“Dengan benturan sangat kecil tapi sering dan terjadi untuk periode sangat panjang, kerusakan otak bisa terjadi, membuat orang tersebut rentan mengalami gangguan seperti Alzheimer,” ujar Dr. Christopher Morris, yang terlibat dalam penelitian tersebut.

Karena itu, Federasi Sepak Bola Inggris melarang para pesepak bola anak-anak, di bawah 12 tahun, beraksi menggunakan kepala. Tujuannya tentu meminimalisir ancaman kesehatan seperti yang disebutkan di atas.

Inggris yang memiliki metode menjaga kesehatan atlet di rumah yang terbaik, berhasil mengangkat trofi Piala Dunia 1966. Tim yang kala itu diperkuat Bobby Charlton, Bobby Moore, Gordon Banks, Martin Peters dan lain-lain, berhasil menaklukkan Jerman, 4-2, di Stadion Wembley.

Dari penelitian, dideteksi ada tujuh anggota dengan penyakit neurodegeneratif yang bisa berujung pada kematian.

Sepak bola Amerika juga diklaim menjadi salah satu olahraga paling berbahaya. Dalam NFL, 32 tim bertarung memperebutkan tiket Super Bowl. Sepanjang sejarah lebih dari satu dekade, hampir 45 anggota mengalami kemunduran fisik.

Menurut data yang dikumpulkan Universitas Texas, selama musim 2012-2014, terdapat 4.381 cedera, di mana 301 gegar otak. Terjadi peningkatan hingga 61 persen sejak periode 2002-2007.

Riset pada 2012, menunjukkan bahwa pemain NFL yang tampil dalam 24 laga setahun, persentase kemungkinan meninggal lebih cepat sebanyak 16 persen.

Berdasarkan studi lain, 3.439 pemain yang turun minimal lima tahun, memiliki risiko tiga kali meninggal akibat neurodegeneratif yang memburuk dibanding mayoritas populasi di Amerika Serikat.

Risiko Alzheimer atau Loy Gehrig (amyotrophic lateral sclerosis atau ALS) juga empat kali lebih tinggi ketika depresi meningkat atau demensia dengan gegar otak meningkat.

Yang paling ekstrim, pastinya adalah tinju. Para atlet dapat mengalami problem serius akibat benturan di kepala bertahun-tahun.

Dengan berbagai contoh di atas, para insinyur tim F1 dan penyelenggara Formula 1 mesti memperhatikan dampak porpoising. Ini bukan lagi tentang mempertaruhkan nyawa di setiap tikungan tapi juga perlu memperhitungkan ancaman neurodegeneratif.

Be part of Motorsport community

Join the conversation
Artikel sebelumnya Teknisi Williams Usulkan Cat Mobil F1 Dihilangkan
Artikel berikutnya Sebastian Vettel Kritisi Ketergantungan F1 terhadap DRS

Top Comments

Sign up for free

  • Get quick access to your favorite articles

  • Manage alerts on breaking news and favorite drivers

  • Make your voice heard with article commenting.

Motorsport prime

Discover premium content
Berlangganan

Edisi

Indonesia Indonesia