Problem Pembalap Muda Alpine Lebih Pelik daripada Ferrari

Alpine Academy dan Ferrari Driver Academy (FDA) menghadapi problem serupa dalam menyalurkan pembalap muda mereka ke Formula 1.

Problem Pembalap Muda Alpine Lebih Pelik daripada Ferrari

Fenomena menarik dialami dua tim pabrikan di Kejuaraan Dunia Formula 1. Alpine F1 dan Scuderia Ferrari menghadapi masalah yang sama soal pembalap muda jebolan akademi balap mereka.

Baik Alpine maupun Ferrari saat ini terbilang memiliki banyak pembalap muda yang sudah siap melanjutkan karier ke ajang balap mobil kursi tunggal (single-seater) tertinggi, Formula 1.

Namun, menyalurkan mereka tidak semudah membalikkan telapak tangan. Banyak faktor yang menyulitkan tim seperti Alpine dan Ferrari untuk memuluskan pembalap binaan mereka langsung ke skuadnya.

FDA yang mulai dibentuk pada Desember 2009 dengan mendiang Jules Bianchi sebagai rekrutan pertama.

Baca Juga:

Saat ini FDA memiliki paling tidak delapan pembalap: Marcus Armstrong, Callum Ilott, Robert Shwartzman, Mick Schumacher, Arthur Leclerc, Dino Beganovic, James Wharton, dan pembalap wanita asal Belanda, Maya Weug.

Mick Schumacher musim ini akan melakukan debut F1 bersama Tim Haas setelah menjuarai FIA Formula 2 2020. Ilott, runner-up F2 musim lalu, menjadi pembalap penguji di Ferrari. Shwartzman sendiri masih bertahan di F1 pada musim ini.

Salah satu keuntungan Ferrari memiliki dua tim pemakai mesin mereka di F1 – diistilahkan customer teams – adalah mereka bisa “menitipkan” pembalap yang sudah dinilai siap ke F1. Cara itu diyakini juga ampuh untuk mematangkan skill pembalap.

Itulah yang dilakukan Ferrari terhadap Mick Schumacher, karena Haas salah satu customer team mereka. Tetapi pertanyaan muncul terkait Antonio Giovinazzi, pembalap naungan Ferrari lain, yang juga turun untuk tim pelanggan mesin mereka lainnya, Alfa Romeo.

F1 2021 akan menjadi musim ketiga Giovinazzi bersama Alfa Romeo. Anehnya, dengan alasan kepentingan tim, Ferrari justru menarik Carlos Sainz Jr dari Tim McLaren untuk menggantikan Sebastian Vettel yang didepak.

Kini, Giovinazzi yang sudah 27 tahun. Ia pernah ikut tujuh latihan bebas F1 untuk Haas ada F1 2017 serta menjadi pembalap cadangan dan penguji Sauber – pengelola Afa Romeo sebelum mandiri – dan Ferrari pada 2018.

Tiga pembalap Ferrari Driver Academy (ki-ka): Robert Shwartzman, Callum Ilott, dan Mick Schumacher, sudah siap ke F1 dalam waktu dekat.

Tiga pembalap Ferrari Driver Academy (ki-ka): Robert Shwartzman, Callum Ilott, dan Mick Schumacher, sudah siap ke F1 dalam waktu dekat.

Foto oleh: Ferrari

Namun, belum ada tanda-tanda dari Ferrari untuk menarik Giovinazzi. Di sisi lain, Ferrari masih harus menyediakan tempat untuk pembalap seperti Ilott serta Shwartzman dan Armstrong ke F1 dalam waktu dekat.

Kelangsungan pembalap binaan memang masih menjadi problem bagi Ferrari. Tetapi, problem Tim Kuda Jingkrak itu tidak sepelik Alpine F1. Sebagai bagian dari pergantian nama tim di F1 dari Renault ke Alpine, nama akademi pembalap mereka pun diganti.

Program pembalap muda Renault F1 dibuat pada 2002. Selanjutnya, program untuk mendukung pembalap muda ini berganti nama dengan RF1 Driver Programme, Renault Driver Development, dan Renault Sport Academy.

Awal bulan ini, nama program pengembangan pembalap muda Renault pun berubah menjadi Alpine Academy.

Tahun ini, Alpine Academy paling tidak memiliki lima pembalap muda, yakni kuartet Guanyu Zhou, Christian Lundgaard, Oscar Piastri, dan Caio Collet yang bergabung antara 2017 sampai 2020, serta Victor Martins yang kembali ke Enstone pada tahun ini.

Zhou dan Lundgaard masih akan turun di F2 masing-masing akan menjalani musim ketiga dan kedua pada tahun ini. Juara FIA F3, Piastri, juga naik kelas ke F2 pada musim ini.

Zhou sempat difavoritkan untuk menjadi juara F2 2020 lalu. Namun, pembalap asal Cina itu akhirnya harus menelan kekecewaan hanya finis di P6 klasemen akhir meskipun sempat memenangi sprint race di Sochi, Rusia.

Akan memperkuat salah satu tim tangguh di F2, UNI-Virtuosi, untuk musim ketiga, Zhou sadar apa target minimal yang harus dicapainya di F2 2021 demi memuluskan jalan ke F1.

Guanyu Zhou musim lalu sudah menjadi pembalap penguji Renault F1 Team yang kini berubah menjadi Alpine F1.

Guanyu Zhou musim lalu sudah menjadi pembalap penguji Renault F1 Team yang kini berubah menjadi Alpine F1.

Foto oleh: Renault F1

“Mencoba bersaing dan memenangi gelar. Itu target saya di F2 tahun ini. Mampu bersaing dalam perebutan gelar atau finis di tiga besar klasemen akhir menjadi target minimal saya,” ujar Zhou, beberapa waktu lalu.

Zhou juga menjadi harapan negaranya, Cina, yang sudah sangat lama menunggu munculnya pembalap tetap di F1. Direktur Akademi Alpine Mia Sharizman pun tahu harapan Cina dan ambisi Zhou. Sharizman juga menyebut peluang Zhou, 21 tahun, untuk ke F1 belum habis.     

“Kami memulai program untuk Zhou ini tiga tahun lalu. Harapannya, setelah tiga tahun di akademi, Zhou bisa terjun ke F1,” kata Sharizman.

“Anda takkan melihat pembalap asal Cina dalam 15-20 tahun ke depan baik itu di Formula 4, Formula 3, atau Formula 2. Karena itu, kami dan Alpine F1 memiliki komitmen untuk memastikan ini (Zhou ke F1) terjadi di masa depan.”

Zhou boleh saja berharap sekaligus menargetkan ke F1 dalam waktu dekat. Namun, Alpine masih memiliki pembalap muda berprospek bagus dalam diri Christian Lundgaard. Progres pembalap asal Denmark itu sangat cepat karena tiga tahun lalu ia masih turun di F4.

Musim ini menjadi tahun kedua bagi Lundgaard turun di F2. Ini untuk kali pertama pula pembalap 19 tahun itu merasakan dua musim di ajang yang sama.

Piastri menjadi satu-satunya rookie milik Alpine di F2 musim ini. Performa pembalap Australia, 19 tahun, itu memang mengejutkan. Setelah menjadi juara Formula Renault Eurocup 2019, Piastri naik ke FIA Formula 3 pada 2020.

Pembalap Alpine Academy yang musim ini masih turun di FIA Formula 2, Christian Lundgaard, saat menguji sasis Renault F1 Team RS18 pada akhir tahun lalu.

Pembalap Alpine Academy yang musim ini masih turun di FIA Formula 2, Christian Lundgaard, saat menguji sasis Renault F1 Team RS18 pada akhir tahun lalu.

Foto oleh: Renault F1

Piastri sebelumnya direncanakan turun dua tahun di F3. Tetapi, ia mampu langsung juara pada musim pertamanya di F3. Tahun ini, Piastri naik ke F2 bersama tim yang membantunya juara di F3, Prema Racing.

Alpine kini memiliki tiga pembalap junior dengan level di atas rata-rata. Semua memiliki tujuan yang sama, turun di Formula 1. Masalahnya, apakah Alpine mampu menampung mereka dalam waktu yang tidak terlalu lama?

Tim-tim seperti Red Bull Racing, Mercedes, dan Ferrari memiliki skuad kedua atau customer team. Sedangkan Alpine mulai 2021 hanya memiliki jatah dua kursi setelah McLaren memutuskan mengganti mesin ke Mercedes (dari Renault) per tahun ini.

Saat ini, Alpine memiliki duet juara dunia 2005 dan 2006, Fernando Alonso (39 tahun) dan Esteban Ocon (24 tahun). Alonso dikontrak sampai akhir 2022 sedangkan Ocon akan selesai pada akhir 2021 ini.     

Masalahnya, publik belum tahu bakal seperti apa kebijakan Alpine di F1 setelah 2021 nanti. Mereka bisa saja mendepak Ocon untuk memberikan tempat kepada salah satu dari Zhou atau Lundgaard. Namun jika hasil lomba Ocon di F1 2021 bagus, Alpine jelas bertambah pusing.

Ocon termasuk masih muda dan sudah cukup berpengalaman. Ia pernah membela Tim Manor pada 2016, menggantikan pembalap Indonesia saat itu, Rio Haryanto. Force India juga pernah dibela Ocon pada 2017-2018.

Pembalap Prancis itu menjadi reserve driver Mercedes pada 2019 sebelum bergabung ke Renault pada 2020. Dalam 67 balapan sejak debut di GP Belgia 2016, Ocon sudah sekali naik podium, tepatnya saat finis P2 di GP Sakhir 2020 lalu.   

Mia Sharizman sendiri masih percaya bakal tetap ada tempat untuk pembalap muda Akademi Alpine. Ia mengaku akan berusaha mencari celah dengan menggandeng tim independen jika Guanyu Zhou, Christian Lundgaard, atau Oscar Piastri sudah siap.

Kendati begitu, melihat situasi Alpine saat ini – yang berambisi untuk mengembalikan masa kejayaan seperti saat juara dunia konstruktor dan pembalap bersama Alonso – sepertinya ketiga pembalap muda mereka belum akan bisa ke Alpine dalam waktu dekat.

 

dibagikan
komentar
Uji Coba Perdana Alfa Romeo C41 Selesai Tanpa Masalah

Artikel sebelumnya

Uji Coba Perdana Alfa Romeo C41 Selesai Tanpa Masalah

Artikel berikutnya

Arab Saudi Bisa Gelar F1 Selama Satu Dekade

Arab Saudi Bisa Gelar F1 Selama Satu Dekade
Muat komentar