Red Bull Incar Hat-trick Sekaligus Hapus ‘Kutukan’ di GP Prancis

Red Bull Racing memiliki dua ambisi pada lomba ketujuh Kejuaraan Dunia Formula 1 2021. Mereka ingin mencetak hat-trick dan menghapus “kutukan” di GP Prancis.

Red Bull Incar Hat-trick Sekaligus Hapus ‘Kutukan’ di GP Prancis

Mulai akhir pekan ini, seluruh tim Formula 1 akan menghadapi balapan selama tiga pekan beruntun (triple-header): GP Prancis (20 Juni), GP Styria (27 Juni), dan GP Austria (4 Juli).

Selaku pemimpin klasemen pembalap dan konstruktor, jelas triple-header ini akan sangat berat bagi Red Bull Racing. Max Verstappen mengambil posisi puncak klasemen dari tangan Lewis Hamilton dan Mercedes-AMG Petronas seusai GP Monako, balapan kelima.

Setelah balapan di Circuit de Monaco tersebut, Red Bull tidak terkalahkan. Pada balapan terakhir yang juga digelar di trek jalan raya, Baku City Circuit, giliran Sergio Perez yang memenangi lomba GP Azerbaijan.

Dengan begitu, jika salah satu dari Verstappen atau Sergio Perez mampu merebut kemenangan GP Prancis di Sirkuit Paul Ricard, Le Castellet, Minggu (20/6/2021) nanti, Red Bull bakal mencetak hat-trick.    

Sergio Perez, Red Bull Racing, merayakan sukses merebut podium utama GP Azerbaijan.

Sergio Perez, Red Bull Racing, merayakan sukses merebut podium utama GP Azerbaijan.

Foto oleh: Zak Mauger / Motorsport Images

Itu akan menjadi hat-trick pertama Red Bull sejak Sebastian Vettel melakukannya di Abu Dhabi, Amerika Serikat, dan Brasil pada 2013.

Hat-trick tersebut mengakhiri tujuh kemenangan beruntun Vettel yang mengukuhkan gelar keempat berturut-turut baginya dan Red Bull (setelah 2010, 2011, 2012) masing-masing di klasemen pembalap dan konstruktor.

Yang menjadi pertanyaan, sejak turun penuh di Formula 1 mulai 2005 – seusai mengakuisisi Tim Jaguar – Red Bull belum pernah memenangi GP Prancis. Baik saat masih digelar di Magny-Cours (2005-2008) sampai Paul Ricard (2018, 2019).

Torehan terbaik Red Bull di GP Prancis selama mereka turun di F1 adalah pada musim 2018. Saat itu, Max Verstappen dan Dainiel Ricciardo, masing-masing mampu finis P2 dan P4.

Dua tahun lalu, Verstappen dan Pierre Gasly (kini AlphaTauri), hanya finis di P4 dan P10. Pada 2020 lalu, GP Prancis ditiadakan karena pandemi Covid-19. GP Prancis juga sempat tidak masuk kalender F1 antara 2009 sampai 2017.

Baca Juga:

Sirkuit Paul Ricard memang menyuguhkan tantangan tersendiri. Trek dengan panjang lintasan 5,842 km itu salah satu mixed circuit karena memiliki semua jenis tikungan: medium, lambat, dan cepat, serta beberapa trek lurus yang salah satunya bisa dilibas dengan 340 km/jam.

Karakter kompleks Paul Ricard tersebut tidak hanya menuntut set-up gaya tekan (downforce) yang berimbang tetapi juga performa dan keandalan (reliability) power unit.

Menurut Max Verstappen ada beberapa faktor yang bisa dibandingkan antara Paul Ricard dengan dua sirkuit jalan raya di Monako dan Baku.

“Agak aneh saja karena (di Paul Ricard) begitu banyak space dan itu sangat berbeda dengan dua trek jalan raya yang kami libas sebelumnya,” kata pembalap asal Belanda tersebut.

Max Verstappen memperkirakan Mercedes akan kembali kuat di Prancis. “Tetapi, kami juga sudah menantikan GP Prancis ini. Saya berharap mampu kembali naik podium utama,” ujar Verstappen yang musim ini sudah menang di Imola (GP Emilia Romagna) dan Monako.

Pole position juga akan sangat krusial di Paul Ricard karena 10 pembalap berhasil menang setelah start dari grid terdepan.      

dibagikan
komentar
Perez: Sekarang Ada Dua Red Bull Bersaing demi Gelar Juara

Artikel sebelumnya

Perez: Sekarang Ada Dua Red Bull Bersaing demi Gelar Juara

Artikel berikutnya

Raikkonen Peringatkan Timnya untuk Tampil Tanpa Kesalahan di Prancis

Raikkonen Peringatkan Timnya untuk Tampil Tanpa Kesalahan di Prancis
Muat komentar