Marko Sebut Red Bull Bisa Bikin Mesin Sendiri

Penasihat Red Bull Racing, Helmut Marko, menilai tim-tim Formula 1 mustahil membuat mesin sendiri setelah 2025.

Marko Sebut Red Bull Bisa Bikin Mesin Sendiri

Keputusan Honda untuk mundur dari F1 membuat tim Austria itu terguncang. Pasalnya, Red Bull sudah merasa cocok dengan mesin tersebut.

Oleh karena itu, mereka berusaha mengajukan pembekuan mesin mulai agar tetap bisa menggunakan teknologi Honda. Penghentian pengembangan mulai awal 2022 diharapkan jadi prasyarat kelayakan.

Berikut petikan wawancara pemimpin redaksi, Christian Nimmervoll, dengan konsultan Red Bull, Helmut Marko, yang dilakukan pada 22 Desember 2020.

Kesepakatan dengan Honda hanya formalitas

Setelah Anda mengklarifikasi pertanyaan pembalap, saya berasumsi bahwa sekarang mesin jadi prioritas. Ketika ide melanjutkan dengan teknologi Honda muncul beberapa pekan lalu, dikatakan bahwa FIA dan Red Bull butuh kepastian segera soal pembekuan pengembangan. Bagaimana status sekarang?

Semua berada di jalur yang tepat. Pembicaraan dengan FIA dan Liberty lebih maju. Kami berharap keputusan sesuai dicapai tahun ini.

Jelas bahwa tidak semua pabrikan setuju, tapi saya yakin sebuah kesepakatan sudah dekat. Dari perspektif akal sehat, masuk akal menolak biaya pengembangan yang sangat besar dengan mesin yang sangat rumit kalau Anda tahu bahwa mesin ini hanya akan digunakan untuk jangka waktu yang wajar.

Selain itu, ketika mesin baru tiba, itu mungkin akan datang dengan bahan bakar sintetis atau e-fuel, terserah bagaimana Anda menyebutnya, Jadi, pertama-tama, kami bicara tentang pengurangan biaya yang signifikan. Dan itu harus selalu jadi langkah logis.

Anda tidak bisa memulai pembatasan untuk casis, tapi Anda meninggalkan sisi mesin terbuka, dan sisanya seperti pembalap dan marketing juga.

Kalau Anda mendalami pernyataan para pabrikan lain beberapa pekan lalu, tak ada yang menentang ‘pembekuan’. Jadi apa yang perlu diklarifikasi?

Itu urusan internal antara FIA dan Liberty. Kami menginginkan sesuatu yang solid, yang dapat kami andalkan. Tapi ini bukan hanya tentang kami. Formula 1 pada umumnya butuh itu. Karena faktor biaya akan jadi sesuatu yang sangat menentukan di masa depan.

Tak ada lagi negosiasi paralel dengan Renault

Kalau saya mendengar Anda seperti itu, sekarang sangat mungkin itu akan terlaksana. Anda bisa menggambarkan kemungkinan dalam sebuah persentase?

Saya hanya bisa bilang, 80 atau 85 persen.

Apa itu karena Anda tidak lagi mengadakan diskusi paralel dengan Renault soal rencana B?

Fokus kami sepenuhnya pada proyek Honda.

Honda punya bengkel kerja di Milton Keynes, yang mungkin memegang peran penting dalam rencana Anda. Kalau semua sesuai rencana, apakah itu bakal menjadi lokasi Red Bull? Atau menyewa dari  Honda untuk jangka waktu tertentu?

Tidak. Rencana kami melakukan pemeliharaan mesin di kampus Red Bull dan beradaptasi dengan aula untuk itu.

Red Bull bisa membuat itu mudah dengan menyewa mesin Renault. Melakukan proyek sendiri, merupakan opsi mahal, bukan?

Tentu saja. Opsi ini jauh lebih mahal. Tapi pertama-tama, kami mendapat mesin, di mana berkoordinasi dengan departemen casis, menjanjikan yang terbaik dari penempatan agregat. Dalam jangka menengah, saya yakin bahwa investasi itu bisa dibuat lagi.

Koresi kalau saya salah, tapi kita hanya bicara tentang solusi sementara hingga format mesin baru diperkenalkan di Formula 1, bukan?

Ya. Tapi kalau petunjuknya benar bahwa mesin baru lebih mudah dibangun, bahwa MGU-H tak diperlukan lagi, itu tetap inovatif. Tapi batasan biaya tahunan sekitar 50 juta euro, bukan topik yang rumit seperti mesin saat ini. Itu artinya, sebuah tim dapat menggunakan perangkat seperti yang kami akan dapatkan di Milton Keynes untuk melakukan pengembangan sebuah mesin.

Marko mengonfirmasi bahwa proyek mesin Red Bull tidak dikecualikan

Itu artinya, kalau kondisi kerangka kerja tepat, bukankah bahwa Red Bull mungkin membuat mesinnya sendiri di masa depan?

Tepat. Baik sendiri atau bekerja sama, itu tinggal masalah negosiasi.

Dikatakan bahwa Volkswagen Group tertarik terlibat di Formula 1. Anda sudah menelepon kompatriot Anda, Fritz Enzinger?

Belum ada yang resmi tentang itu.

Fritz Enzinger

Fritz Enzinger, Leiter Konzern-Motorsport bei VW, ist wie Helmut Marko Steirer

Foto: Porsche

Mari berganti topik. Berdasarkan rating pembalap keseluruhan, Lewis Hamilton pembalap terbaik 2020, diikuti Max Verstappen, Daniel Ricciardo dan Sergi Perez. Alexander Albon ada di posisi ke-13. Anda setuju dengan peringkat ini?

Ya, kami setuju. Meski saya mengukur performa Hamilton di GP Turki, dan tidak dalam 0-8-15 balapan. Karena kami tahu tak ada yang salah dengan keunggulan Mercedes.

Terakhir kali, saya mengunjungi Anda di Graz, Anda menunjukkan saya rekaman data yang seharusnya membuktikan bahwa Alexander Albon tidak seburuk yang terlihat di media. Bagaimana dia gagal?

Kurang konsistensi. Dia terlalu mudah gelisah, contohnya ketika intensitas angin meningkat atau datang dari arah berbeda. Atau saat ban mulai berkurang, kemudian dia kehilangan banyak waktu yang tidak proporsional.

Verstappen salah tanpa Drag Reduction System (DRS): tidak disadari sama sekali…

Maksud Anda itu murni dari sudut pandang pembalap. Atau maksud Anda ketika angin berbelik, tentu ada ketidakpastian, contoh dalam kritik media?

Tidak, saya membahas tentang dampak mengemudi. Kami punya mobil yang sensitif terhadap angin. Max dapat menghindari semua itu. Ambil contoh, GP Hungaria. Dia lupa menutup DRS di tikungan. Dia melaju terus dan kemudian mengatakan kalau mobil sedikit rusuh!

Kalau Anda melihat itu, tak ada seorang pembalap pun kecuali Daniel Ricciardo yang melewatinya di level sama. Semakin lama kombinasi Ricciardo dan Max, maka Max semakin mampu membedakan diri.

Secara personal, saya kira Albon seorang yang menyenangkan dan baik. Mungkin dia terlalu baik untuk pekerjaan di sebelah Max Verstappen untuk tim Formula 1 papan atas?

Tentu saja ini cerita mental juga. Kalau Anda punya rekan setim yang membalap di level top, tak peduli apa pun mobilnya, saya kira itu memainkan peran lebih rendah.

Tentu, selain mental, semua laporan dan hasil mengecewakan membuatnya gelisah. Jarak dengan Verstappen meningkat seiring berjalannya musim, bukan malah berkurang. Memang tipis, tapi dia telah berkembang.

Baca Juga:

Bagaimana reaksinya ketika Anda mengabarkan kalau dia akan kehilangan kursi di kokpit?

Christian Horner berbicara dengannya pada Jumat, sebelum pengumuman. Dia menerima kabar itu dengan tenang.

Kami meyakinkannya bahwa kami akan memanfaatkannya secara ekstensif sebagai pembalap tes. Ban untuk musim 2022 harus dites, ada tes terpisah. Dia akan banyak mengemudi di simulator. Dia juga jadi pembalap cadangan di banyak balapan. Kami punya empat mobil. Kesempatan itu akan digunakan ada.

Selain itu, kami siap meminjamkannya jika ada tim lain yang membutuhkannya dalam waktu singkat. Agar dia bisa mencapai jarak balapan. Itu bukan akhir. Kami akan melihat apakah kami menstabilkannya.

dibagikan
komentar
Hamilton Minta Bottas Terus Tingkatkan Performa

Artikel sebelumnya

Hamilton Minta Bottas Terus Tingkatkan Performa

Artikel berikutnya

Beat Zehnder: Alfa Romeo Berhasil Melawan Covid-19

Beat Zehnder: Alfa Romeo Berhasil Melawan Covid-19
Muat komentar