Rekrutan Terbaik Formula 1 Satu Dekade Terakhir

Dalam 10 tahun terakhir, banyak perpindahan maupun perekrutan pembalap terjadi di Formula 1. Beberapa di antaranya bisa dibilang sangat bagus dan berhasil.

Rekrutan Terbaik Formula 1 Satu Dekade Terakhir

Regenerasi di Formula 1 diperkirakan bakal terus terjaga. Lewis Hamilton dan Mercedes memang masih dominan sejak era mesin turbo hybrid diberlakukan mulai 2014.

Tetapi setelah para mantan rival Hamilton meredup, kini muncul generasi pembalap muda seperti Max Verstappen, Charles Leclerc, Lando Norris, dan George Russell.

Banyak faktor yang membuat seorang pembalap menjadi hebat. Salah satunya dari perekrutan pembalap yang tepat oleh tim serta pengembangan teknologi mobil dan mesin yang mampu dibarengi dengan progres pembalap.

Berikut sejumlah perekrutan terbaik pembalap F1 dalam 10 tahun terakhir yang berhasil dirangkum Motorsport.com Indonesia. 

1. Lewis Hamilton (McLaren Mercedes, 2013)

Lewis Hamilton saat akan bersiap turun di F1 GP 2013 bersama tim barunya saat itu, Mercedes Petronas F1.

Lewis Hamilton saat akan bersiap turun di F1 GP 2013 bersama tim barunya saat itu, Mercedes Petronas F1.

Hamilton bergabung ke Mercedes untuk menggantikan legenda F1, Michael Schumacher, yang pensiun pada akhir musim 2012. Bermodalkan satu gelar juara dunia (2008 bersama McLaren), Mercedes menyiapkan Hamilton untuk menghadapi regulasi baru mesin mulai 2014.

Setahun beradaptasi dengan Mercedes (sepanjang 2013), Hamilton mulai menggila pada 2014 dengan merebut trofi. Ia hanya sekali tidak mampu merebut gelar saat rekan setimnya di Silver Arrows, Nico Rosberg, merebutnya lewat persaingan sengit.

Selama Hamilton di Mercedes pula tim pabrikan asal Jerman yang bermarkas di Brackley, Inggris, tersebut merajai konstruktor hingga tujuh kali beruntun sejak mesin turbo hybrid diberlakukan di F1.

Selama membela Mercedes, Hamilton mampu merebut 79 kemenangan, 75 pole position, 45 fastest lap, dan 127 podium dalam 171 Grand Prix. Selain tentunya enam gelar juara dunia (2014, 2015, 2017, 2018, 2019, 2020).

2. Sebastian Vettel (Red Bull Racing Ferrari, 2015)

Sebastian Vettel, Ferrari, mencium trofi usai memenangi GP Hungaria 2015.

Sebastian Vettel, Ferrari, mencium trofi usai memenangi GP Hungaria 2015.

Foto oleh: Ercole Colombo

Pembalap asal Jerman itu datang ke Maranello untuk mengisi posisi yang ditinggalkan Fernando Alonso. Vettel direkrut Ferrari menyusul torehan impresifnya merebut empat gelar juara dunia beruntun pada 2010-2013 bersama Red Bull Racing.

Bergabung ke Ferrari menjadi impian bagi Vettel karena ingin mengikuti idolanya, Michael Schumacher. Datang dan menjadi rekan setim Kimi Raikkonen, Vettel maksimal hanya mampu menjadi runner-up F1 2017 dan 2018.

Setelah menjalani musim yang sangat buruk tahun lalu, Vettel memutuskan pindah ke Aston Martin pada akhir 2020.  

Selama enam tahun di Ferrari, Vettel berhasil memenangi 14 balapan, 12 pole, 14 fastest lap, dan 55 podium dalam 118 Grand Prix.

3. Max Verstappen (Scuderia Toro Rosso Red Bull Racing, 2016)

Max Verstappen, Red Bull Racing, yang finis kedia di F1 GP Rusia menyemprotkan sampanye dari atas podium.

Max Verstappen, Red Bull Racing, yang finis kedia di F1 GP Rusia menyemprotkan sampanye dari atas podium.

Foto oleh: Andy Hone / Motorsport Images

Verstappen melakukan debut F1 pada 2015 dan hanya perlu sekira setahun untuk meyakinkan para bos Red Bull di Milton Keynes, Inggris, untuk merekrutnya. Setelah empat balapan awal F1 2016, Verstappen pun ditarik ke Red Bull Racing menggantikan Daniil Kvyat.

Hebatnya, pembalap asal Belanda itu langsung berhasil memenangi balapan (GP Spanyol 2016) kendati baru pertama menyentuh Red Bull RB12. Setelah itu, sejarah menunjukkan seperti apa perkembangan Verstappen di Red Bull Racing.

Sejak membela Red Bull, Max Verstappen sudah mengantongi 17 kemenangan, 11 pole, 14 fastest lap, dan 53 podium dalam 111 start sampai Grand Prix Rusia, akhir pekan lalu.

4. Charles Leclerc (Sauber Ferrari, 2019)

Charles Leclerc, Ferrari

Charles Leclerc, Ferrari

Foto oleh: Steven Tee / Motorsport Images

Musim perdana Leclerc di F1 bersama Alfa Romeo Sauber pada 2018 mungkin tidak terlalu mencolok. Tetapi, Ferrari masih yakin dengan keputusannya untuk mendatangkan pembalap asal Monako tersebut.

Saat itu, Leclerc memang pembalap muda paling potensial di F1. Pada saat yang sama, ia pun menjadi pembalap pertama jebolan Ferrari Academy Driver (FDA) yang bergabung ke tim F1 Kuda Jingkrak.

Menjadi rekan setim Sebastian Vettel saat kali pertama tiba di Ferrari, Leclerc langsung mampu menyabet dua kemenangan (Belgia dan Italia) yang masih bertahan hingga kini dan total 10 podium untuk berada di P4 dan mengungguli rekan setim itu di klasemen akhir F1 2019. 

5. Lando Norris (debut bersama McLaren, 2019, hingga kini)

Lando Norris, McLaren, di grid F1 GP Rusia bersama race engineer-nya.

Lando Norris, McLaren, di grid F1 GP Rusia bersama race engineer-nya.

Foto oleh: Mark Sutton / Motorsport Images

Pembalap muda Inggris itu datang ke Woking pada awal 2017 tetapi baru mendapatkan kesempatan debut Grand Prix dua tahun kemudian. Selama dua tahun itu, Norris berperan sebagai pembalap cadangan dan penguji McLaren.

Tetapi, perubahan besar-besaran di McLaren serta hubungan baik dengan Renault sebagai pemasok mesin membuka pintu bagi Norris untuk naik menjadi pembalap utama mendampingi Carlos Sainz mulai 2019.

Melakukan debut pada usia 19 tahun, Norris terus berkembang di McLaren. Hingga GP Rusia lalu, ia sudah mengoleksi lima podium dan satu pole. 

6. Carlos Sainz (McLaren Ferrari, 2021)

Carlos Sainz Jr., Ferrari

Carlos Sainz Jr., Ferrari

Foto oleh: Mark Sutton / Motorsport Images

Setiap pembalap yang ingin menjadi bagian dari sejarah F1 pasti memiliki target merebut kemenangan bersama Ferrari, tim legendaris dan paling sukses di F1. Kini, Ferrari memang sedang terpuruk karena kali terakhir menang di GP Singapura 2019 (Vettel).

Karena itulah dengan pengalaman, skill, dan tekniknya, Sainz diharapkan bisa menghapus dahaga kemenangan Ferrari. Sainz menjadi pembalap Spanyol pertama di Ferrari sejak terakhir Fernando Alonso memperkuat tim tersebut pada 2010-2014.

Performa Sainz di Ferrari terbilang menjanjikan karena sampai 15 balapan musim ini, ia sudah tiga kali naik podium masing-masing di Monako (P2), Hungaria (P3), dan Rusia (P3). 

7. Sergio Perez (Racing Point Red Bull Racing, 2021)

Sergio Perez, Red Bull Racing

Sergio Perez, Red Bull Racing

Foto oleh: Andy Hone / Motorsport Images

Perez direkrut Red Bull saat tim tersebut hampir putus asa mencari rekan setim yang sepadan untuk mendukung kecepatan Max Verstappen.

Kebetulan, pada akhir musim 2020 lalu, nasib Perez terkatung-katung setelah Racing Point lebih memilih Sebastian Vettel untuk F1 2021 saat mulai turun dengan nama baru, Aston Martin.

Red Bull terbukti tidak salah merekrut pembalap asal Meksiko itu. Perez kini sudah mengantongi satu kemenangan (Azerbaijan) dan satu finis P3 (Prancis).

Red Bull pun percaya menunjukkan kepercayaan terhadap Perez mampu ikut mengembangkan mobil baru untuk F1 2022, dengan memperpanjang kontraknya. 

8. Mick Schumacher (debut bersama Haas, 2021)

Mick Schumacher, Haas F1

Mick Schumacher, Haas F1

Foto oleh: Andy Hone / Motorsport Images

Setelah menunggu sembilan tahun, akhirnya nama Schumacher kembali muncul di F1 pada 2021 seiring dengan turunnya Mick Schumacher. Putra Michael Schumacher itu masuk ke Tim Haas berkat gelasr FIA Formula 2 2020 dan statusnya sebagai pembalap FDA.

Membawa nama besar sang ayah yang juara dunia tujuh kali (1994, 1995, 2000-2004), Mick Schumacher memang mengalami kesulitan pada musim pertamanya di F1, tahun ini. Namun, hal tersebut lebih disebabkan mobil yang tidak kompetitif.

Kendati begitu, Haas bisa menjadi batu loncatan bagi Mick Schumacher. Dengan usianya yang baru 22 tahun, langkah dan masa depan Mick Schumacher jelas masih panjang dan bisa menjanjikan.

9. Fernando Alonso (kembali ke F1 bersama Alpine, 2021)

Fernando Alonso, Alpine

Fernando Alonso, Alpine

Foto oleh: Erik Junius

Setelah dua tahun memilih berkopetisi di balapan lain, Fernando Alonso akhirnya memilih kembali memperkuat tim yang membantunya merebut gelar juara dunia 2005 dan 2006, Renault, yang bereinkarnasi menjadi Alpine mulai musim ini.

Alonso – yang juga pernah membela Minardi, Ferrari, dan McLaren – yakin dengan proyek dari Alpine sehingga merasa tertantang untuk berusaha merebut gelar juara dunia untuk kali ketiga.

Pemenang 32 Grand Prix, 97 podium, 22 pole position, dan 23 fastest lap tersebut memang belum mampu memberikan kemenangan bagi Alpine musim ini. Hasil finis terbaik Alonso di F1 2021 sejauh ini hanyalah P4 di Hungaria.

Namun, kemenangan rekan setim Alonso, Esteban Ocon, di Hungaria menunjukkan bila dirinya tidak terlalu salah dalam menilai keseriusan proyek Alpine di F1. 

10. George Russell (Williams Mercedes, 2022)

George Russell, Williams

George Russell, Williams

Foto oleh: Mark Sutton / Motorsport Images

Seperti sudah diprediksi, Mercedes akhirnya memilih Russell ketimbang mempertahankan Valtteri Bottas, yang memutuskan hengkang ke Alfa Romeo Racing mulai tahun depan.

Melihat performanya di GP Sakhir 2020 lalu saat menggantikan Lewis Hamilton, Russell sepertinya tidak memerlukan waktu lama untuk beradaptasi dengan mobil. Belakangan, performa pembalap Inggris, 23 tahun, itu juga menanjak bersama Williams, tim yang diperkuatnya sejak debut di F1 pada 2019.

Namun, kekhawatiran lain muncul karena banyak yang memprediksi kepindahan Russell akan memicu friksi dirinya dengan Hamilton. Yang pasti, menarik untuk dilihat bakal seperti apa Russell di Mercedes nanti.

Baca Juga:

 

dibagikan
komentar
McLaren Yakin Lando Norris Bakal Bangkit Lebih Kuat
Artikel sebelumnya

McLaren Yakin Lando Norris Bakal Bangkit Lebih Kuat

Artikel berikutnya

Leclerc Yakin Lando Norris Segera Raih Kemenangan Perdana

Leclerc Yakin Lando Norris Segera Raih Kemenangan Perdana
Muat komentar