Ricciardo Klaim Perubahan Aturan Bisa Goyahkan Hegemoni Hamilton

Daniel Ricciardo, pembalap McLaren, menyebut pilot lain bisa menang F1 ketika mengemudi mobil milik Mercedes. Ia menyoroti bahwa Lewis Hamilton tak punya mitra terkuat.

Ricciardo Klaim Perubahan Aturan Bisa Goyahkan Hegemoni Hamilton

Ricciardo pindah ke tiga tim dalam empat tahun terakhir. Dari Red Bull, ia melompat ke Renault musim 2019 dan sekarang McLaren. Pilot, yang pernah merebut peringkat ketiga musim 2014 dan 2016 tersebut, rutin berada di papan tengah.

Meski awalnya sempat ragu, pembalap Australia tersebut optimistis dengan keputusannya memperkuat McLaren yang kini sedang naik daun.

“Saya tidak bisa tidur selama beberapa malam ketika berkontemplasi apakah akan meninggalkan Renault atau tidak. Bagaimana pun, saya tidak bisa mengambil risiko selama beberapa musim lagi. McLaren sedang menanjak sekarang dan Anda dapat melihat ini bukan hanya atmosfer tim, tapi juga di pabrik di Woking,” ujarnya dalam wawancara dengan Square Mile.

“Anda dapat merasakannya dalam kehidupan para pegawai, wajah-wajah gembira mereka dan energi luar biasa. Ini adalah kebangkitan sebuah tim.”

Ricciardo menceritakan sensasi saat meraih kemenangan dan selebrasi minum sampanye dari sepatu (shoey) yang jadi ciri khasnya.

“Menang rasanya sangat aneh. Itu kenapa kami mulai berkompetisi dan melanjutkannya. Saat kami memenangi balapan, kami mengatakan untuk jadi yang terbaik,” ia menjelaskan.

“Jika Anda tidak menang selama beberapa waktu, Anda perlu lebih fokus atau melakukan hal lainnya. Kalau Anda ada dalam tim di grup tengah, sedangkan rekan setim Anda ada di posisi ke-10 dan Anda kelima, itu setara dengan kemenangan.

Baca Juga:

“Saat pertama kali saya mencicipi sampanye yang saya minum dari sepatu, saya pikir itu hanya sekali. Foto-foto diambil dan dikirim ke teman-teman saya. Kemudian, saya pikir, ‘Super, selesai sekarang.’ Tapi saya gembira bahwa (selebrasi) ini lebih populer. Selalu menyenangkan mengingat bahwa seorang Sir minum sampanye dari sepatu saya. Tapi saya bicara tentang Patrick Stewart, bukannya Lewis!”

Musim 2022, regulasi Formula 1 akan berubah secara drastis. Tim-tim diharapkan mampu mendobrak dominasi Mercedes selama tujuh tahun terakhir. Ricciardo menekankan kalau bukan hanya Hamilton yang mampu meraup poin maksimal, ketika diberi mobil produksi pabrikan Jerman.

Fakta itu sudah ditunjukkan George Russell yang menggantikan sang juara dunia F1 tujuh kali pada GP Sakhir.

“Semoga penggemar menyukai perubahan aturan pada 2022. Secara teori, ini akan menciptakan peluang untuk setiap tim berkompetisi melawan Mercedes dan Lewis Hamilton. Saya pikir Lewis bukan satu-satunya yang bisa memenangi balapan dengan mobil itu,” katanya.

“Tentu saja, ini adalah opini saya, tapi George Russell sudah membuktikannya ketika mengalahkan Valtteri Bottas pada balapan perdana bersama Mercedes. Mungkin, Lewis tak punya partner terkuat.

“Saya tidak bilang bahwa kami punya sikap buruk terhadap Hamilton, tapi apakah tidak ada yang berpikir bahwa mereka dapat mengalahkannya? Ada dan saya tidak ragu tentang itu. Bagaimana pun tidak ada dari kami bertarung untuk kejuaraan dan kami tidak berada dalam tekanan tersebut.

“Hampir di setiap balapan, Lewis mengejutkan kami. Ya, kendaraannya diharapkan cepat menang, secara konsisten. Kalau dia tidak menang, timbul pertanyaan, ‘Ada apa dengan Lewis?’”

Daniel Ricciardo, McLaren MCL35M, di pit

Daniel Ricciardo, McLaren MCL35M, di pit

Foto oleh: Steven Tee / Motorsport Images

Ricciardo mengisahkan kegembiraannya karena sang ayah sangat mendukung dan menjaga kariernya.

“Ayah mencoba tidak campur tangan dengan karier saya, tapi saya tahu betapa penting itu baginya. Saya tahu betapa senangnya dia mendiskusikan ini dengan rekan-rekannya. Kalau ada tamu saat saya pulang, ayah mulai bicara atau menceritakan sejarah tentang saya. Saya malu, tapi dia bangga dengan saya, meski dia tidak menunjukkannya,” ujarnya.

“Ayah saya lebih jago kalau mengemudi mobil manual daripada saya. Dia memahami olahraga motor dengan sangat baik dan dia paham mobil daripada saya. Tapi dia tidak terlibat pada karier F1.”

Pria 31 tahun tersebut mulai berpikir untuk pensiun dan karier yang akan ditekuni saat melepas status pembalap.

“Saya suka olahraga dan itu memberikan banyak. Sepertinya saya tidak bisa melakukan tanpa itu. Saya meletakkan hati dan jiwa di olahraga ini, jadi kalau saya lelah di akhir karier, maka itu benar,” Ricciardo menuturkan.

“Di satu titik, saya ingin melakukan hal lain. Tapi, saya kira apa yang saya ingin lakukan setidaknya menyenangkan, tapi saya tidak mau punya rencana ketat. Saya tidak tahu jika ini berhubungan dengan musik, makanan atau hal lain yang menyenangkan.”

dibagikan
komentar
CEO McLaren Klaim Seidl Prinsipal Tim Terbaik F1

Artikel sebelumnya

CEO McLaren Klaim Seidl Prinsipal Tim Terbaik F1

Artikel berikutnya

Perez Mulai Mengerti Cara Mengendarai Mobil Red Bull

Perez Mulai Mengerti Cara Mengendarai Mobil Red Bull
Muat komentar