Sandungan Pembalap F1 yang Baru Ganti Tim

Musim ini, ada lima pembalap yang berganti tim, yakni Carlos Sainz Jr (Ferrari), Daniel Ricciardo (McLaren), Sergio Perez (Red Bull), Sebastian Vettel (Aston Martin) dan Fernando Alonso (Alpine). Hanya dua dari mereka yang tampil gemilang, sementara sisanya mengalami awal yang brutal.

Sandungan Pembalap F1 yang Baru Ganti Tim

Vettel dan Alonso, masing-masing berstatus sebagai juara dunia F1 empat kali dan dua kali, keteteran di belakang pada GP Bahrain dan GP Emilia Romagna. Mereka bertengger di urutan ke-17 dan ke-13. Ini menunjukkan kalau adaptasi mereka tidak berjalan mulus.

Sainz, Ricciardo dan Perez relatif lebih baik meski tidak sepenuhnya memuaskan. Mereka berada di papan tengah.

Terlalu dini menilai prestasi personal dari dua balapan saja. Yang jelas, mereka perlu mengatasi beberapa rintangan.

Pertama, sedikitnya waktu pengenalan terhadap karakter mobil karena baru berada di belakang kemudi mobil baru saat uji coba selama tiga hari. Itu pun satu mobil dipakai bergantian, di mana masing-masing 12 jam.

Beberapa tim sempat memfasilitasi dengan latihan privat, hanya saja menggunakan mobil versi lama. Perez mengutarakan saat ini sedang menjalani proses adaptasi sehingga minta dimaklumi kalau belum mencapai target. Namun, ia yakin bisa mencapai kecepatan terbaik setelah beberapa balapan.

“Anda dapat melihat para pembalap yang berganti tim tahun ini. Butuh waktu untuk mencapai kecepatan. Setiap orang bagus, setiap orang sangat cepat, tapi ini hanya proses yang perlu dilalui sebelum semua datang kepada Anda secara alami. Semoga kami bisa mencapainya,” kata Il Checo.

Vettel yang paling menderita karena baru pertama kali, ia mengemudikan mobil bermesin Mercedes. Di masa lalu, pembalap 33 tahun tersebut memakai Ferrari atau Renault.

Prinsipal Aston Martin, Otmar Szafnauer, tidak menuntut banyak dari Vettel dalam waktu singkat sebab belum memberi fasilitas memadai.

“Penyesalan terbesar saya adalah kami tidak bisa diandalkan selama musim dingin. Seb kehilangan banyak waktu selama 1,5 hari. Seandainya kami memiliki waktu tes lebih banyak dan dia berada di mobil lebih banyak. Saya kira dia akan ada di tempat berbeda dalam kurva pembelajaran,” ujarnya.

“Dia punya ekspektasi tinggi pada dirinya dan bekerja tanpa lelah agar lebih baik. Dia akan merasakan sedikit frustrasi dan dia akan lebih bertekad bangkit agar lebih cepat.”

Baca Juga:

Halangan kedua, feeling dengan komponen kendaraan belum terbentuk. Sejak awal berpindah ke McLaren, Ricciardo sudah menghadapi masalah dengan mobil. Panggulnya terlalu besar sehingga sulit keluar masuk kokpit.

Tak sampai di situ, ia sulit memperkirakan waktu pengereman serta memahami kinerja rem dengan perangkat fundamental mobil. Prosesnya menemukan kepercayaan diri saat mengerem cukup lama. Jadi ia tak pernah membidik podium ketika belum bisa selaras dengan mobilnya.

Prinsipal McLaren, Andreas Seidl, mengerti situasi pembalap Australia tersebut selama masa transisi karena MCL35M sedikit kompleks. Butuh waktu membuat perbedaan bahkan meski para pembalap sudah merasa nyaman.

“Itu tidak mengagetkan karena itu bagian dari proses integrasi seorang pembalap baru. Dengan pengalaman Daniel dan pengalaman kami, hanya perlu beberapa balapan sebelum Daniel merasa nyaman berada dalam mobil kami,” ia menjelaskan.

Dukungan dan lingkungan baru tak bisa diremehkan. Sebagai anggota tambahan yang bergabung di musim dingin, tak semua bisa cepat membaur.

Alonso bukan profil baru dalam tim Alpine, yang dulu bernama Renault. Ia bahkan mempersembahkan dua gelar juara pada 2005-2006.

Seolah bertemu teman lama, banyak yang menganggap pilot Spanyol cepat beradaptasi. Namun, ternyata situasinya tak semudah membalikkan telapak tangan. Kembali ke trek yang telah dikenalnya juga bukan jaminan bisa langsung merangsek ke grup depan.

Alonso menegaskan perlu lebih banyak melaju di lap agar merasa nyaman. Dari situ juga ditemukan berbagai kelemahan yang bisa didiskusikan dengan kru. Pembahasan bisa mengeratkan relasi mereka. Karena pandemi Covid-19, tatap muka secara langsung diminimalisir kecuali saat pekan-pekan balapan. Berbicara secara daring sensasinya tentu berbeda terutama dalam membangun keakraban.

Carlos Sainz Jr., Ferrari SF21, bergabung lagi setelah keluar trek

Carlos Sainz Jr., Ferrari SF21, bergabung lagi setelah keluar trek

Foto oleh: Charles Coates / Motorsport Images

Berbagai pengorbanan dilakukan para pembalap untuk mengetahui batas maksimal kendaraan mereka. Sainz bahkan rela pindah dari Spanyol ke Italia agar bisa sering bekerja di Maranello dengan koleganya serta mengetahui sendiri perkembangan mobil.

Buah kerja kerasnya terbayar dengan kemajuan kecepatan SF21 yang impresif terlepas dari kesalahan dan problem rem. “Saya sedang menemukan feeling dengan pedal rem, mencari keseimbangan rem dan dengan semua yang terjadi, saya harus lebih cepat,” ucapnya.

“Saya kira dapat kecepatan bagus, saya merasakannya ketika melewati tikungan atau ketika melakukan lap sangat bagus. Saya pikir hampir mendekati limit.”

Ricciardo mengaku masih punya banyak pekerjaan rumah. Ia mencari cara untuk meningkatkan pace.

“Saya belum bisa mengekstraksi pace dari mobil dan saya hanya melakukannya satu atau dua lap, lalu jatuh lagi dengan ban dan keseimnangan. Itu hal baru bagi saya. Saya membuat banyak catatan dan akan memberi umpan balik,” tuturnya.

dibagikan
komentar
Steiner Optimistis dengan Masa Depan Haas

Artikel sebelumnya

Steiner Optimistis dengan Masa Depan Haas

Artikel berikutnya

Massa Klaim Mentalitas Masalah Utama Bottas

Massa Klaim Mentalitas Masalah Utama Bottas
Muat komentar