Dilema Ferrari Penuhi Budget Cap Tanpa Pengurangan Staf

Ferrari berancang-ancang memenuhi regulasi pembatasan anggaran di Formula 1. Berbagai siasat diterapkan agar bisa melanjutkan kiprah di Formula 1 tanpa memangkas staf.

Dilema Ferrari Penuhi Budget Cap Tanpa Pengurangan Staf

Krisis finansial akibat pandemi Covid-19 juga dirasakan perusahaan sebesar Ferrari. Mereka pun mesti melakukan pengetatan ikat pinggang.

Rapor tim hanya sampai peringkat keenam klasemen konstruktor F1 2020, yang terburuk sejak 1980, jadi pertimbangan lain untuk menerapkan rencana tersebut.

Tim Kuda Jingkrak butuh penguatan teknik yang belum diresmikan karena Manajemen Olahraga sedang melakukan restrukturisasi departemen balap dengan pengempisan staf agar memenuhi batas anggaran.

Batas anggaran 145 juta dollar (sekitar Rp2 triliun) di musim pertama, jelas tim-tim top terpaksa mengurangi staf. Ini operasi yang rumit dapat berdampak besar pada fungsionalitas tim.

Ada masalah kontrak, di Britania Raya, hukum tenaga kerja lebih fleksibel daripada Italia. Jadi prosesnya lebih sulit daripada Mercedes dan Red Bull.

“Mereka memberi waktu kami enam bulan. Faktanya kami meminta (waktu) lebih, tapi itu kompromi. Pandemi belum berakhir,” ucap prinsipal Ferrari, Mattia Binotto.

“Pemecatan? Itu sangat salah. Mekanisme enam bulan harus direvisi, kemungkinan hingga akhir tahun. Kami berupaya memindahkan staf ke divisi jalan raya karena kami perusahaan sangat besar. Kami punya opsi sedikit, tapi itu pekerjaan yang sulit.”

Baca Juga:

Ferrari memberi restu pakar casis, Simone Resta, pindah ke Haas F1 dan duduk sebagai direktur teknik. Tim Amerika Serikat tersebut memiliki afiliasi dengan kubu Maranello. Mereka menjaga Dallara sebagai kutub teknologi.

Sebanyak 40 engineer mereka menggenggam kontrak Ferrari meski dibayar Haas karena bekerja mengembangkan mobil untuk 2022. Tim Gunther Steiner diizinkan membangun pusat pengembangan di Maranello.

Selain Resta, Jock Clear juga dikirimkan ke Ferrari Driver Academy dan jadi mentor para pembalap muda, salah satunya Mick Schumacher. Putra legenda F1, Michael Schumacher, akan berdebut dengan Haas.

Beberapa ahli akan memperkuat area GT ketika program Le Mans sedang didiskusikan dan banyak staf lain dimanfaatkan ke divisi produksi sebab perusahaan ingin membuat banyak model.

Diperlukan juga intervensi drastis dan butuh waktu untuk menghindari dampak kuat dalam perubahan lingkungan.

Mattia Binotto, Prinsipal Ferrari

Mattia Binotto, Prinsipal Ferrari

Foto oleh: Andy Hone / Motorsport Images

Enrico Cardile harus menunjukkan semua kemampuan organisasi dalam mengelola kelompok kerja yang terus berubah.

Regulasi soal gaji, di mana hanya tiga bulan yang bisa dibayar penuh, akan mengacaukan departemen balap. Pemotongan bayaran bisa mendorong eksodus para teknisi dan kru yang cakap.

Ini akan membuat Ferrari yang berusaha bangkit makin terpukul. Program mereka akan tersendat kalau kehilangan sosok-sosok kunci dalam pengembangan mobil.

dibagikan
komentar
Esteban Ocon Diharapkan Terus Berkembang

Artikel sebelumnya

Esteban Ocon Diharapkan Terus Berkembang

Artikel berikutnya

Renault Sukses Gegara Kesulitan di Awal 2020

Renault Sukses Gegara Kesulitan di Awal 2020
Muat komentar