Skenario Darurat Mercedes jika Lewis Hamilton Pensiun

Kekecewaan akibat gagal mempertahankan titel kedelapan mencuatkan spekulasi kalau Lewis Hamilton bakal pensiun dari Formula 1. Lalu bagaimana skenario Mercedes jika pembalap andalannya hengkang?

Skenario Darurat Mercedes jika Lewis Hamilton Pensiun

Sejak merasa diperlakukan tak adil akibat keputusan Direktur Balap FIA F1, Michael Masi, dalam GP Abu Dhabi, pembalap Mercedes tersebut seolah menjauh dari media. Selepas balapan, ia langsung pulang, alih-alih ikut pesta tim di paddock.

Hamilton bahkan memutuskan tidak hadir dalam FIA Prize Gala di Paris, Kamis (16/12/2021). Padahal, absen dari acara tersebut termasuk dalam pelanggaran regulasi olahraga F1 yang bisa berbuah hukuman.

Baca Juga:

Tanda tanya pun bermunculan seputar masa depan pembalap Inggris itu. Prinsipal Mercedes, Toto Wolff, mengungkapkan harapannya agar Hamilton melanjutkan petualangannya di F1, mengingat statusnya sebagai pembalap terbaik saat ini.

Sepertinya setelah menenangkan diri, suasana hati pembalap 36 tahun itu membaik. Ia datang ke pesta perayaan titel konstruktor kedelapan Mercedes sekaligus perpisahan dengan Valtteri Bottas di Brackley and Brixworth.

Namun, hal tersebut tak menjamin kalau Hamilton bakal bertahan. Seandainya ia memutus kontrak yang mestinya habis pada 2023, lebih cepat, maka itu akan membuat Wolff pusing tujuh keliling.

Dengan George Russell duduk di kursi Mercedes semusim penuh untuk pertam kali, tentu dibutuhkan figur yang memiliki jam terbang tinggi atau sangat kompetitif.

Hanya saja, para pembalap top sudah terkunci di posisi masing-masing untuk musim depan. Jadi sulit menemukan pengganti dengan kualitas hampir mendekati level Hamilton.

Wolff mesti mencari pembalap berpengalaman yang siap tampil. Mau tak mau, ia melirik para pensiunan atau pilot potensial dari ajang single seater lain.

Kimi Raikkonen memutuskan gantung helm akhir musim ini. Tentu saja masih hangat di ingatannya bagaimana mengemudi mobil Formula 1 dan karakter lawan.

Namun, mantan pilot Alfa Romeo tersebut menegaskan tak mau lagi mengaspal di trek. Ia ingin menebus waktu yang hilang dengan keluarga.

Nico Hulkeberg masih berminat untuk bertarung dalam jet darat. Namun, pembalap Jerman itu kalah jauh dari sisi kualitas. Selama sembilan musim di F1, prestasi terbaiknya hanya sekali pole position dan dua pole position.

Bintang Formula E, Nyck de Vries dan Stoffel Vandoorne, bisa saja mengisi slot itu dalam kondisi terdesak. Namun, mengingat mobil FE dan F1 berbeda, butuh waktu untuk adaptasi.

Esteban Ocon, Alpine F1

Esteban Ocon, Alpine F1

Photo by: Jerry Andre / Motorsport Images

Mercedes juga sedang membaca situasi karena ada dua pembalap bagus dalam tim lawan yang sedang dalam situasi kontrak mengambang.

Esteban Ocon, pernah jadi bagian program pengembangan pilot muda Mercedes, sehingga tak asing dengan mobil mereka karena beberapa kali menjalani uji coba dan jadi cadangan di masa lalu.

Ia tampil gemilang musim 2021. Pembalap Alpine itu menang di GP Hungaria dan bisa bertengger di peringkat ke-11 klasemen,

Kalau Ocon hengkang, maka akan ada posisi kosong untuk juara Formula 2 2021, Oscar Piastri. Pembalap belia Australia itu mengalah dan menunda harapannya naik ke level elite karena tak punya dukungan dana besar.

Sembari menunggu gerbang terbuka untuknya, Piastri menjadi pembalap cadangan sembari belajar seluk beluk balapan. Alpine berjanji memberinya jalan ke F1 suatu saat nanti.

Valtteri Bottas menguji prototipe Alfa Romeo C39

Valtteri Bottas menguji prototipe Alfa Romeo C39

Foto oleh: Zak Mauger / Motorsport Images

Di sisi lain, Alpine sudah berinvestasi banyak untuk Ocon. Pembalap Prancis itu mungkin saja dikontrak untuk jangka panjang karena komitmen tim dan Fernando Alonso berakhir musim depan. Kans sukses membajaknya sangat kecil.

Menarik lagi Valtteri Bottas bukan opsi mustahil. Pembalap Finlandia itu meninggalkan Mercedes demi Alfa Romeo.

Wolff bisa memanfaatkan kedekatan dengan prinsipal tim Swiss, Frederic Vasseur. Jika Bottas kembali ke Mercedes, maka slot kosong bisa diberikan Antonio Giovinazzi.

Solusi ini akan menggembirakan Ferrari, pabrikan yang menaungi pembalap Italia tersebut. Tentu hal logis tak selalu terjadi. Skenario perlu dipersiapkan kalau Hamilton keluar dan Mercedes mengalami situasi darurat.

dibagikan
komentar
Delapan Aksi Sergio Perez Bantu Max Verstappen Rebut Gelar F1
Artikel sebelumnya

Delapan Aksi Sergio Perez Bantu Max Verstappen Rebut Gelar F1

Artikel berikutnya

Target Haas Musim 2022 Finis di Depan Williams dan Alfa Romeo

Target Haas Musim 2022 Finis di Depan Williams dan Alfa Romeo
Muat komentar