Sign up for free

  • Get quick access to your favorite articles

  • Manage alerts on breaking news and favorite drivers

  • Make your voice heard with article commenting.

Motorsport prime

Discover premium content
Berlangganan

Edisi

Indonesia Indonesia

Sprint Race Ditakutkan Tak Bisa Digelar pada F1 2022

Beda pendapat soal bujet di antara tim-tim membuat Sprint Race dikhawatirkan tidak bisa digelar pada Formula 1 2022.

Max Verstappen, Red Bull Racing RB16B, Lewis Hamilton, Mercedes W12, Valtteri Bottas, Mercedes W12, Charles Leclerc, Ferrari SF21, and the rest of the field at the start

Sprint Race diuji coba pada F1 musim 2021 di tiga Grand Prix, yakni Inggris, Italia, dan Brasil. Balapan ini digelar sekira 100 km (sepertiga dari jarak balapan utama) pada Sabtu untuk menentukan grid start lomba utama pada Minggu.

Otoritas F1 pun terihat puas sembari menunjukkan data bila Sprint Race mampu mendongkrak penonton plus sponsor untuk masuk.

Namun begitu, imbas digelarnya satu balapan lebih ini bukan tanpa masalah. Risiko kerusakan mobil di Sprint Race yang cukup tinggi membuat tim-tim, terutama yang kecil, berpikir keras mencari uang. Belum lagi adanya aturan pembatasan bujet (budget cap)

Tahun lalu telah disepakati akan ada kompensasi bujet yang tidak terlalu besar untuk menutup potensi kerusakan akibat bertambahnya balapan (karena adanya Sprint Race).

Zak Brown, CEO, McLaren Racing

Zak Brown, CEO, McLaren Racing

Foto oleh: Steven Tee / Motorsport Images

Kendati demikian CEO McLaren Zak Brown memiliki pandangan berbeda. Sejumlah tim besar justru mencoba mengambil keuntungan dari kesepakatan ini. Mereka mengabaikan esensi kompensiasi tetapi justru menekan otoritas F1 agar menaikkan batasan anggaran yang tahun ini ada di angka 140 juta dolar AS (103 juta pounds).

“Beberapa tim, sebenarnya satu yang paling menonjol, meminta budget cap dinaikan 5 juta dolar AS lagi,” tutur Brown seperti dikutip BBC.

“Menurut saya itu konyol dan tanpa fakta rasional. Ketika Anda menantang tim-tim besar itu (dengan regulasi), mereka pasti akan melawan dengan prinsip ‘bagaimana jika’ atau ‘kalau bisa’. Jadi, Anda harus mengantisipasi situasi seperti ini.”

Perbedaan pandangan soal urusan kompensasi kerusakan Sprint Race yang berujung pada isu pelonggaran budget cap inilah yang menurut Brown membuat balapan ini dilematis.

Aturan F1 menyebut, perubahan dalam regulasi baru bisa terjadi jika minimal delapan tim (saat ini ada 10 tim) menyetujuinya. Tim-tim bisa tetap mendapatkan gant rugi dari F1 jika mereka mendapatkan persetujuan dari skuad lainnya.

Baca Juga:

Untuk menyepakati Sprint Race pada 2023 hanya dibutuhkan lima tim lagi untuk menyetujui. Brawn pun menyebut F1 seharusnya melakukan pemungutan suara untuk musim 2023 serta mencoba mendapatkan kesepahaman terkait Sprint Race pada 2022.

“Mungkin akan ada kompromi dan kami akan menaikkan sedikit. Kami akan memulainya pada 2022 atau mencoret (Sprint Race) itu pada 2022. Lalu, beberapa tim harus bisa menjelaskan kepada penggemar penyebab jika Sprint tidak bisa digelar tahun ini,” katanya.

Lebih jauh Zak Brown menjelaskan, problem ketidaksepahaman soal kompensasi yang berujung pada budget cap ini menjad salah satu masalah pelik bagi promotor dan regulator F1.

Tidak jarang tim-tim besar menekan skuad kecil untuk sepaham atau memilih sesuai dengan keinginan tim-tim besar itu.

Sebelumnya, melihat kesuksesan tahun lalu, otoritas F1 berencana menggelar enam Sprint Race pada Kejuaraan Dunia Formula 1 2022 yang akan dimulai pada 18-20 Maret mendatang di Bahrain.

 

Be part of Motorsport community

Join the conversation
Artikel sebelumnya Red Bull-Aston Martin Akhiri Perselisihan soal Dan Fallows
Artikel berikutnya Promotor Lokal F1 GP Australia Antisipasi Kasus seperti Djokovic

Top Comments

Sign up for free

  • Get quick access to your favorite articles

  • Manage alerts on breaking news and favorite drivers

  • Make your voice heard with article commenting.

Motorsport prime

Discover premium content
Berlangganan

Edisi

Indonesia Indonesia