Super Licence Mazepin Berisiko Jadi Masalah

Prinsipal Tim Haas, Guenther Steiner, menegaskan siap mengambil risiko bila super licence FIA milik Nikita Mazepin tidak memenuhi syarat lolos ke Formula 1 karena hasil lomba terakhir F2, Bahrain II, nanti buruk.

Super Licence Mazepin Berisiko Jadi Masalah

Tim Haas telah mengumumkan bila Nikita Mazepin akan menjadi salah satu pembalap mereka untuk Kejuaraan Dunia Formula 1 2021, Selasa (1/12/2020) lalu. Namun belakangan diketahui ada problem serius soal super licence milik Mazepin.

Super licence adalah data pencapaian berupa poin yang harus diraih pembalap sebagai syarat untuk turun di F1. Sebelumnya, pembalap baru diizinkan turun di F1 jika sudah memiliki minimal 40 poin dalam tempo tiga musim sebelumnya dari lomba-lomba di bawah F1 (Formula 2, IndyCar, Formula 3, Formula E, dan seterusnya).

Namun sejak Oktober 2020 lalu, FIA melonggarkan jumlah poin menjadi minimal hanya 30. Kini, pembalap bisa merebut 30 poin atau lebih jika finis di posisi keempat (P4) atau lebih tinggi di akhir musim F2. Juara F3 dan Formula E juga akan mendapatkan 30 poin.

Saat resmi dikontrak Haas, super licence milik Mazepin sebetulnya belum memenuhi syarat untuknya lolos ke F1. Menjelang lomba terakhir F2, Bahrain II, Jumat sampai Minggu (4-6/12/2020), Mazepin berada di P3 klasemen pembalap.       

Poin super licence Mazepin baru akan memenuhi syarat lolos ke F1 jika ia minimal finis P7 di klasemen akhir F2 2020 nanti. Mazepin yang kini membela Tim Hitech Grand Prix, sudah mengoleksi 162 poin. Salah satunya berkat finis P5 (feature) dan P2 (sprint) pada lomba F2 Bahrain I, akhir pekan lalu.   

Memang, kemungkinan Mazepin terlempar hingga P8 di klasemen akhr F2 2020 nanti sangat kecil. Namun secara matematis, dengan maksimal 48 poin yang bisa direbut di F2 Bahain II, lima pembalap di bawah Mazepin masih berpeluang menggesernya dari P3.

Saat negosiasi kontrak dengan Mazepin, Haas sudah tahu risiko soal pembalap Rusia itu masih harus memenuhi syarat poin di super licence untuk ke F1. Tetapi, Haas yakin Mazepin akan mampu bermain bagus untuk memastikan posisinya di klasemen tidak turun.

Baca Juga:

Spekulasi lain menyebut, FIA telah membuat aturan untuk meringankan pembalap-pembalap yang program balapnya terkena dampak Covid-19. Meskipun begitu, tidak jelas apakah Mazepin termasuk pembalap yang kena imbas Covid-19.

“Tentu saja saya sudah berdiskusi dengan FIA saat kami memulai negosiasi dengan Mazepin soal (super licence) ini, termasuk sistemnya,” ujar Steiner saat ditanya Motorsport.com.

“Saya kira itu bukan lagi masalah. Secara matematis, Mazepin memang masih bisa terlempar dari tujuh besar tetapi peluangnya sangat kecil. Saya akan mengambil risiko itu (bila Mazepin gagal ke F1 karena terganjal super licence).”

Steiner menegaskan, Haas yakin Mazepin mampu memenuhi syarat poin minimal super licence. Meskipun begitu, Haas sudah menyiapkan beberapa skenario kendati hal tersebut sulit dilaksanakan.

“Cara terbaik tentu Mazepin harus merebut poin sebanyak mungkin di F2 Bahrain II. Sekali lagi, saya tidak bisa memastikan itu terjadi. Namun, saya sangat percaya Mazepin mampu merebut poin yang diperlukan untuk mengesahkan super licence-nya,”ucap Steiner.

Nikita Mazepin yang pernah menguji mobil F1 milik Tim Force India pada 2016 kala menjadi test driver, menegaskan dirinya siap naik kelas ke F1 dengan hasil impresif di F2 musim ini.

“Saya sudah sangat siap ke F1. Saya sudah 21 tahun dan sudah beberapa musim turun di balap mobil formula,” ucap Mazepin.

“Saya yakin mobil-mobil formula yang lebih cepat akan cocok dengan karakter balap saya,” ujar Mazepin yang sebelum turun di F2 pada 2019 dan 2020 juga beraksi di GP3 Series 2018 (menjadi F3 sejak 2019).

dibagikan
komentar
Bottas Petik Hal Positif dari Nasib Sialnya

Artikel sebelumnya

Bottas Petik Hal Positif dari Nasib Sialnya

Artikel berikutnya

Masa Depan Albon Diputuskan Usai Abu Dhabi

Masa Depan Albon Diputuskan Usai Abu Dhabi
Muat komentar