Sulitnya memburu gelar kedelapan (Bagian 2 - Tamat)

dibagikan
komentar
Sulitnya memburu gelar kedelapan (Bagian 2 - Tamat)
Oleh:
, Journalist
20 Jan 2019 16.46

Pada bagian sebelumnya, kita membahas dua pembalap yang masih mengejar gelar premier kedelapannya, Valentino Rossi dan Jimmie Johnson. Siapa tiga nama yang akan dibahas selanjutnya?

Berbeda dari bagian pertama, untuk bagian kedua kita akan membahas para pembalap yang telah meraih kesuksesan pada ajang balap yang digelutinya, dan menorehkan tujuh gelar premier sebagai bukti kehebatanya.

Jika Anda belum baca bagian pertama:

Namun dari puluhan, atau bahkan ratusan kemenangan yang mereka torehkan, trofi premier kedelapan menjadi kepingan puzzle terakhir yang tak dapat mereka lengkapi. Bahkan sampai penghujung karier masing-masing pembalap.

Michael Schumacher

Mendominasi kejuaraan Formula 3 Jerman, bersama Heinz-Harald Frenzten dan Karl Werlindger, Schumacher bergabung dengan program pengembangan pembalap muda Mercedes pada akhir 1990.

Sempat embalap di ajang World Sportscar Championship, Schumacher menangi putaran terakhir, 480 km Autodromo Hermanos Rodriguez, menggunakan Sauber-Mercedes C11.

Satu tahun berselang, Schumacher mendapatkan debut Formula 1 bersama Jordan di Belgia, menggantikan Betrand Gachot yang terjerat masalah hukum. Untuk balapan tersebut, Mercedes membayar $150.000 kepada Eddie Jordan, pemilik tim.

Secara mengejutkan, Schumacher tampil mengesankan dengan menempati posisi start ketujuh saat kualifikasi, namun ia tak dapat menuntaskan balapan akibat masalah kopling.

Penampilan apiknya di Belgia mencuri perhatian Flavio Briatore, dan langsung merekrutnya ke Benetton. Hal tersebut memicu kontroversi, karena Jordan telah memiliki persetujuan sebelumnya dengan Mercedes.

Jordan coba mengajukan permohonan kepada pengadilan Inggris agar Schumacher tak bisa membalap untuk Benetton. Namun, kalah karena belum ada kontrak yang ditandatangani.

Pada musim ketiganya di Benetton, 1994, Schumacher memulai musim dengan enam kemenangan dari tujuh balapan awal. Namun, ada dugaan Benetton B194 menerapkan launch control, meski itu tak terbukti.

Memasuki pertengahan musim, Schumacher mulai kesulitan. Ia mendapatkan didiskualifikasi dari GP Inggris setelah mengabaikan black flag  yang dilayangkan padanya, kejadian itu juga membuatnya tak boleh mengikuti dua balapan.

Selain itu, pembalap Jerman itu juga didiskualifikasi dari GP Belgia setelah lantai mobilnya terkikis melebihi batas. Alhasil, Schumacher (92) hanya terpaut satu poin dari Hill (91) jelang balapan terakhir di Adelaide.

Kontroversi terjadi saat balapan, ketika Schumacher memimpin dan menyenggol tembok East Terrace, tak lama berselang ia menabrak Hill yang coba mendahuluinya.

Keduanya gagal finis, menjadikan Schumacher juara dunia pertama asal Jerman. Setelah meraih satu gelar lagi bersama Benetton (1995), Schumi pindah ke Ferrari yang sedang terpuruk kala itu.

Akhir musim pertamanya bersama Ferrari, Schumacher membawa orang-orang kepercayaanya dari Benetton, seperti Technical Director Ross Brawn dan Desainer Rory Bryne menuju Maranello.

Kehadiran keduanya langsung berdampak pada performa Ferrari musim 1997, Schumacher (78) unggul satu poin jelang balapan terakhir di Jerez atas Jacques Villeneuve (77).

Bisa ditebak, kontroversi kembali terjadi, keduanya bersenggolan di tikungan Dry Sack. Namun, Villeneuve berhasil finis ketiga dan memastikan gelar. Sementara itu, Schumacher gagal finis, dan didiskualifikasi dari musim 1997 karena insiden tersebut, yang dinilai mencederai sportifitas F1.

Musim selanjutnya, Schumacher harus mengakui keunggulan Mika Hakkinen yang dominan dengan McLaren MP4-13. Satu tahun berselang, ia mengalami kecelakaan di Inggris, memaksanya absen selama enam balapan.

Setelah lima tahun menunggu, akhirnya Schumacher meraih gelar pertamanya bersama Ferrari, dan jadi pembuka dari lima gelar beruntun bersama The Prancing Horse (2000-2004), mengantarnya sebagai pembalap tersukses dengan tujuh gelar, melampaui capaian lima titel milik Juan Manual Fangio.

Namun dominasinya dihentikan Fernando Alonso, pemuda Spanyol yang 12 tahun lebih muda darinya. Tahun 2005, Schumacher sama sekali tak berdaya menghadapi kombinasi Alonso-Renault R25-Michelin, ia menutup musim di peringkat ketiga dengan 62 poin.

Schumacher hanya sekali menang di Indianapolis, balapan kontroversial yang diwarnai dengan mundurnya para pengguna ban Michelin. Alhasil, hanya tiga tim pengguna Bridgestone yang balapan, Ferrari, Jordan, dan Minardi.

Selain melonjaknya performa Renault dan Alonso, kegagalan Schumacher disebabkan pemasok ban Ferrari, Bridgestone, yang tak bisa mengimbangi Michelin dalam perang ban sepanjang 2005.

Tahun berikutnya, Schumacher bangkit dengan mengemas lima kemenangan sepanjang paruh kedua 2006, ia bahkan sempat memimpin klasemen usai kemenangan di Tiongkok.

Memutuskan pensiun setelah musim berakhir, Schumacher gagal menutup kariernya dengan gelar kedelapan. Ia mengalami masalah teknis di Jepang, dan menjadi runner-up musim 2006 dengan 121 poin, terpaut 13 poin dari Alonso (134).

Empat tahun berselang, Schumacher melakukan comeback dengan Mercedes, namun ia kehilangan sentuhan magisnya saat bersama Ferrari. Tiga musim bersama Silver Arrows, ia hanya menorehkan satu podium, finis ketiga pada GP Eropa 2012 di Sirkuit Jalanan Valencia.

Statistik Michael Schumacher di Formula 1 (1991-2006, 2010-2012):

Balapan 306
Pole 68
Menang 91
Podium 155
FL 77
Poin 1488
Gelar juara dunia 7 (1994-1995, 2000-2004)
Slider
List

Michael Schumacher with Eddie Jordan

Michael Schumacher with Eddie Jordan
1/23

Foto oleh: Sutton Images

Michael Schumacher, Jordan 191

Michael Schumacher, Jordan 191
2/23

Foto oleh: Sutton Images

Michael Schumacher, Benetton

Michael Schumacher, Benetton
3/23

Foto oleh: LAT Images

Michael Schumacher, Benetton B194

Michael Schumacher, Benetton B194
4/23

Foto oleh: Rainer W. Schlegelmilch

Race winner Michael Schumacher, Benetton B194

Race winner Michael Schumacher, Benetton B194
5/23

Foto oleh: LAT Images

Michael Schumacher, Benetton B194 Ford after the crash

Michael Schumacher, Benetton B194 Ford after the crash
6/23

Foto oleh: LAT Images

Michael Schumacher celebrates becoming World Champion with Flavio Briatore, Tom Walkinshaw and the rest of the team

Michael Schumacher celebrates becoming World Champion with Flavio Briatore, Tom Walkinshaw and the rest of the team
7/23

Foto oleh: LAT Images

Michael Schumacher, Ferrari F310

Michael Schumacher, Ferrari F310
8/23

Foto oleh: Sutton Images

Winner Michael Schumacher, Ferrari F310 takes the flag

Winner Michael Schumacher, Ferrari F310 takes the flag
9/23

Foto oleh: Sutton Images

Michael Schumacher, Ferrari F310B membelok ke Jacques Villeneuve, Williams FW19 Renault di Curva Dry Sack

Michael Schumacher, Ferrari F310B membelok ke Jacques Villeneuve, Williams FW19 Renault di Curva Dry Sack
10/23

Foto oleh: LAT Images

Michael Schumacher, Ferrari, crash

Michael Schumacher, Ferrari, crash
11/23

Foto oleh: LAT Images

Michael Schumacher, Ferrari F399

Michael Schumacher, Ferrari F399
12/23

Foto oleh: Sutton Images

Michael Schumacher, Ferrari F2000

Michael Schumacher, Ferrari F2000
13/23

Michael Schumacher, Ferrari, Rubens Barrichello, Ferrari

Michael Schumacher, Ferrari, Rubens Barrichello, Ferrari
14/23

Foto oleh: LAT Images

Podium: race winner Michael Schumacher, Ferrari, second place Rubens Barrichello, Ferrari

Podium: race winner Michael Schumacher, Ferrari, second place Rubens Barrichello, Ferrari
15/23

Foto oleh: LAT Images

Michael Schumacher, Ferrari F2004

Michael Schumacher, Ferrari F2004
16/23

Foto oleh: Lorenzo Bellanca / LAT Images

Second place finish and seventh World Championship for Michael Schumacher, Ferrari

Second place finish and seventh World Championship for Michael Schumacher, Ferrari
17/23

Foto oleh: LAT Images

Fernando Alonso and Michael Schumacher congratulate each other

Fernando Alonso and Michael Schumacher congratulate each other
18/23

Foto oleh: Ferrari Media Center

Michael Schumacher stopped on track with engine failure

Michael Schumacher stopped on track with engine failure
19/23

Foto oleh: XPB Images

Fernando Alonso, Michael Schumacher

Fernando Alonso, Michael Schumacher
20/23

Foto oleh: Sutton Images

Lewis Hamilton, McLaren MP4-25, with Michael Schumacher, Mercedes GP W01

Lewis Hamilton, McLaren MP4-25, with Michael Schumacher, Mercedes GP W01
21/23

Foto oleh: Glenn Dunbar / LAT Images

Michael Schumacher, Mercedes GP MGP W01 spins and collects Vitantonio Liuzzi, Force India VJM03

Michael Schumacher, Mercedes GP MGP W01 spins and collects Vitantonio Liuzzi, Force India VJM03
22/23

Foto oleh: LAT Images

Nico Rosberg, Mercedes F1 W03, leads Michael Schumacher, Mercedes F1 W03

Nico Rosberg, Mercedes F1 W03, leads Michael Schumacher, Mercedes F1 W03
23/23

Foto oleh: Steve Etherington / LAT Images

Richard Petty

Darah balap telah mengalir deras dalam tubuh pria kelahiran 2 Juli 1937 itu. Richard adalah anak dari seorang legenda NASCAR, pemenang Daytona 500 pertama tahun 1959, Lee Petty.

Memulai karier balap profesionalnya tahun 1958, Richard jadi tumpuan Petty Enterprises setelah Lee mengalami kecelakaan parah pada Daytona 500 1961.

Richard, diampingi adiknya, Maurice, dan saudaranya, Dale Inman, memenangi gelar NASCAR Grand National pertamanya tahun 1964, dan menambah dua  gelar lagi (1967, 1971) sebelum kejuaraan berganti jadi Cup Series tahun 1972.

Berkat kesuksesannya, Petty menjadi pembalap pertama yang mendapat sponsor korporat. Tahun 1971, STP jadi sponsor utamanya, dan mengubah livery mobil yang awalnya didominasi warna biru muda menjadi kombinasi merah-biru muda.

Selama kariernya, Petty menemui banyak lawan tangguh. Namun, rival terberatnya adalah David Pearson. Keduanya mendominasi Grand National/Cup Series pada dekade 60an hingga pertengahan 70an. Jika ditotal, keduanya mengumpulkan 305 kemenangan.

Petty mendominasi empat tahun awal Cup Series dengan tiga titel (1972, 1974-1975). Namun, setelah itu ia mengalami stagnansi, puncaknya pada 1978, di mana ia untuk pertama kalinya gagal menyambangi Victory Lane sejak 1960.

Tahun selanjutnya, Petty mengganti mobilnya dari Dogde Magnum menjadi Oldsmobile Cutlass Supreme, dan memenangi gelar ketujuhnya dengan keunggulan 11 poin dari Darrell Waltrip.

Musim 1981, mobil Cup Series mengalami perubahan signifikan. Dimensi mobil mengecil, membuat mobil sangat sulit dikendalikan. Banyak pembalap mengeluhkan perubahan tersebut, tak terkecuali Petty yang baru saja berpisah dengan Inman, kepala krunya.

Hadirnya talenta muda seperti Waltrip, Dale Earnhardt, Bill Elliot, dan Rusty Wallace juga semakin mempersulit Petty dalam usahanya merengkuh gelar kedelapan.

Pada Firecracker 400 1984, Petty menorehkan kemenangan ke-200 di level tertinggi NASCAR (Grand National/Cup Series), menegaskan statusnya sebagai pembalap Stock Car terbaik sepanjang masa.

Pun demikian, perolehan gelar Petty sampai pensiun tahun 1992 tak beranjak dari angka tujuh. Dan disamai oleh dua pembalap setelahnya, Jimmie Johnson dan pembalap selanjutnya yang akan kita bahas.

Statistik Richard Petty di NASCAR Grand National/Cup Series (1958-1992):

Balapan 1184
Pole 123
Menang 200
Top 5 555
Top 10 712
Gelar juara 3 Grand National (1964, 1967, 1971) 4 Cup Series (1972, 1974-1975, 1979)
Slider
List

Race winner Richard Petty

Race winner Richard Petty
1/4

Foto oleh: NASCAR Media

David Pearson and Richard Petty crash after the finish

David Pearson and Richard Petty crash after the finish
2/4

Foto oleh: NASCAR Media

Pemenang balapan, Richard Petty

Pemenang balapan, Richard Petty
3/4

Foto oleh: NASCAR Media

Richard Petty

Richard Petty
4/4

Foto oleh: NASCAR Media

Dale Eanrhardt

Nama terakhir yang akan kita bahas adalah Earnhardt, sosok yang menghentikan dominasi Petty, dan akhirnya menyamai pencapaian tujuh gelarnya.

Sama seperti Petty, Earnhardt juga lahir di keluarga pembalap. Ayahnya, Ralph, merupakan juara NASCAR Sportsman Championship (Setara XFinity Series) musim 1956.

Memulai debut Cup Series pada 1975 World 600 bersama Negre Racing, Earnhardt baru tampil satu musim penuh ketika direkrut Osterlund Racing tahun 1979, dan menggondol gelar Rookie of The Year, serta mengemas satu kemenangan di Bristol.

Musim selanjutnya, Earnhardt menorehkan gelar pertamanya di Cup Series. Menariknya, itu terjadi setelah Petty mencatatkan gelar ketujuhnya, tahun 1979. Masa depan Earnhardt sempat tak menentu saat Osterlund menjual timnya, sebelum bergabung dengan Richard Childress Racing musim 1984.

Bersama Childress, ia menorehkan dua gelar beruntun tahun 1986-1987. Saat itu juga ia mulai terkenal dengan julukan The Intimidator, karena ia tak segan melakukan intimidasi kepada rival dengan gaya balap agresif.

Dominasinya terus berlanjut pada paruh awal 90an, di mana ia meraih empat gelar tambahan (1990-1991, 1993-1994), melengkapi capaiannya menjadi tujuh gelar, menyamai rekor milik Petty, yang pensiun dua tahun sebelumnya.

Sama seperti Petty, Earnhardt juga menemui kesulitan saat coba meraih gelar kedelapannya. Munculnya Jeff Gordon, 21 tahun lebih muda darinya, serta rentetan cedera membuatnya kesulitan menggapai gelar kedelapan.

Tahun 1997, Earnhardt tak sekalipun menyambangi Victory Lane. Namun ia meutus puasa kemenangannya pada Daytona 500 1998. Namun itu menjadi satu-satunya kemenangan tahun tersebut, di mana ia masih didera cedera.

Pascaoperasi 1999, Earnhardt kembali kompetitif dengan mengemas dua kemenangan, 13 finis lima besar, dan menuntaskan musim 2000 di posisi kedua. Asa menggapai gelar kedelapan kembali muncul.

Sayang, ia mengalami kecelakaan fatal pada tikungan terakhir lap terakhir Daytona 500 2001, ambisi gelar kedelapan Earnhardt harus berakhir dengan tragis.

Statistik Dale Earnhardt di NASCAR Cup Series (1975-2001):

Balapan 676
Pole 22
Menang 76
Top 5 281
Top 10 428
Gelar juara 7 Cup Series (1980, 1986-1987, 1990-1991, 1993-1994)
Slider
List

Dale Earnhardt, Osterlund Racing

Dale Earnhardt, Osterlund Racing
1/8

Foto oleh: NASCAR Media

Dale Earnhardt

Dale Earnhardt
2/8

Foto oleh: NASCAR Media

Dale Earnhardt

Dale Earnhardt
3/8

Foto oleh: NASCAR Media

Morgan Shepherd, Bud Moore Engineering, Bobby Hillin Jr., Stavola Brothers Racing, Dale Earnhardt, Richard Childress Racing

Morgan Shepherd, Bud Moore Engineering, Bobby Hillin Jr., Stavola Brothers Racing, Dale Earnhardt, Richard Childress Racing
4/8

Foto oleh: Getty Images

Dale Earnhardt and Jeff Gordon

Dale Earnhardt and Jeff Gordon
5/8

Foto oleh: NASCAR Media

Dale Earnhardt

Dale Earnhardt
6/8

Foto oleh: NASCAR Media

Dale Earnhardt, pemenang Daytona 500 1998

Dale Earnhardt, pemenang Daytona 500 1998
7/8

Foto oleh: NASCAR Media

Dale Earnhardt

Dale Earnhardt
8/8
Next article
Tim F1 khawatirkan skenario terburuk Brexit

Artikel sebelumnya

Tim F1 khawatirkan skenario terburuk Brexit

Next article

Terungkap, biaya pendaftaran tim F1 2019

Terungkap, biaya pendaftaran tim F1 2019
Muat komentar