Salah satu tantangan terbesar Rio Haryanto di F1

Tahukah Anda apa yang menjadi salah satu tantangan terbesar Rio Haryanto di Kejuaraan Dunia Formula 1 2016?

Dalam balapan, beberapa bendera digunakan oleh marshal atau race director untuk menandakan berbagai situasi perlombaan. Dari bendera kuning, hijau, merah, dan lain-lain.

Bendera biru digunakan untuk memperingatkan seorang pembalap bahwa ia harus memberi jalan kepada pembalap di belakangnya yang sudah unggul satu putaran dan akan segera melakukan overlap.

Jika memperhatikan sinyal bendera di pinggir lintasan terlalu sulit saat melaju kencang, pada setir kemudi juga terdapat lampu indikator yang dapat menyala biru.

Apabila seorang pembalap tidak mengindahkan bendera biru setelah tiga kali diperingatkan, maka ia akan diinvestigasi oleh steward dan dapat dijatuhi penalti karena dianggap menghambat pembalap yang lebih kencang.

Mungkin Anda menganggap ini adalah masalah sepele. Apa susahnya memberi jalan orang lewat? Masih banyak orang melupakan signifikansi bendera biru bagi seorang pembalap.

Jika sedang mengikuti balapan F1, coba Anda pantau juga live tracker dari F1 App yang menunjukkan posisi mobil-mobil di lintasan. Perhatikan bagaimana sejumlah pembalap kehilangan momentum saat akan meng-overlap ataupun di-overlap. 

Mobil F1 tidak terlalu bagus performanya apabila melaju berdekatan karena membutuhkan aliran udara yang bagus tanpa turbulensi. Dampaknya semakin terasa di mobil tahun 2017 yang memiliki lebih banyak downforce.

Bagi tim papan bawah bahkan sebagian tim papan tengah, di-overlap telah menjadi suatu keniscayaan. Itu pun bukan hanya bisa terjadi dua atau tiga kali saja, tapi berkali-kali di sepanjang mayoritas balapan.

Mari kita anggap saja sekali di-overlap Anda kehilangan 1 detik. Jika balapan berlangsung 50 lap dan Anda di-overlap setidaknya sekali pada setiap putarannya sejak Lap 20, maka Anda akan kehilangan 30 detik per balapan. Dengan waktu sebanyak itu, Anda padahal bisa memanfaatkannya untuk satu kali pit stop dengan waktu ekstra.

Marshals wave the blue flag

Bendera biru yang dikibaskan oleh seorang marshal di pinggir lintasan

Tantangan bagi tim manapun yang berada di barisan belakang adalah belajar bagaimana mengatasi bendera biru dengan baik. Anda harus membiarkan pembalap-pembalap yang lebih kencang melewati Anda. Sangat sulit untuk melakukannya sekencang yang diinginkan di beberapa sirkuit, dan terkadang ketika Anda keluar [racing] line lebih lama dari yang sebenarnya dibutuhkan, Anda akan kehilangan temperatur ban, dan [jika] Anda tidak bisa mengembalikan temperatur, maka tamatlah [balapan] Anda.

Dave Ryan, racing director tim Manor pada tahun lalu

Bendera biru adalah salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Rio Haryanto di F1 2016 ketika berlaga bersama tim Manor Racing.

"Sangat sulit. Rio umumnya kesulitan dalam mengelola ban dalam situasi-situasi tersebut; butuh sedikit lebih banyak pengalaman. Tapi ia tidak pernah mendapatkan kesempatan itu," ungkap Ryan.

Rekan setim Rio waktu itu, Pascal Wehrlein, sudah berpengalaman mengetes mobil F1 bersama Mercedes dan Force India dalam periode 2014-2015. Selain itu, ia juga sempat mencoba mobil GP2 di akhir tahun 2015.

"Jika Anda melihat rekor kualifikasi Pascal melawan Rio, Rio sangat bagus dalam satu putaran [kualifikasi]," tambah Ryan yang menjelaskan Rio mengungguli Wehrlein lima kali di kualifikasi dari 12 kesempatan.

"Rio berkembang secara bertahap, dan pada saatnya ia tiba di kualifikasi, ia mendapat beberapa sesi yang bagus. Pascal memberikan pujian tertinggi ketika Rio harus berhenti membalap. Ia bilang 'guys, ia sangat bagus, lihat saja dirinya di kualifikasi saat melawan saya'"

Rio sendiri menjelaskan bahwa bendera biru tidak membuat hidupnya lebih mudah di lintasan. Selain itu, tim Manor juga biasanya memilih strategi yang berbeda di antara kedua pembalapnya untuk mengambil keuntungan seandainya salah satu peluang muncul.

"Tidak mudah dengan situasi bendera biru dan kami sering memiliki strategi berbeda [dengan rekan setim di Manor]," terang Rio.

"Satu start dengan ban yang lebih halus, yang lain dengan ban yang lebih keras karena kami ingin yang terbaik bagi tim [dengan harapan salah satu strategi berhasil] dan kami ingin bertarung melawan mobil-mobil lain."

 

Bendera biru mengganggu ritme manajemen ban

Lewis Hamilton, Mercedes AMG F1 W07 Hybrid memimpin Daniel Ricciardo, Red Bull Racing RB12
Rio Haryanto memberi jalan kepada Lewis Hamilton dan Daniel Ricciardo yang sedang memperebutkan posisi pertama GP Monako 2016. Perhatikan bagaimana sebagian lintasan masih basah yang dapat mempengaruhi manajemen temperatur ban.

Balapan GP Monako 2016 berlangsung di bawah kondisi sulit. Hujan turun beberapa saat sebelum balapan dimulai dan seluruh pembalap menjalani start di belakang safety car dengan menggunakan ban basah.

Berbeda dengan Wehrlein yang langsung memakai ban kering Ultrasoft setelah kondisi dinilai cocok, Rio sempat mencoba ban kompon Intermediate terlebih dahulu di fase awal yang kemudian disusul oleh dua stint Ultrasoft.

Di sirkuit jalan raya Monte-Carlo yang sempit dan pendek, Rio tidak memiliki banyak pilihan ketika menemui bendera biru di bawah cuaca yang sulit diprediksi.

Untuk memberi jalan, seringkali Rio harus menyingkir dari racing line, bergeser ke bagian lintasan yang basah/kering, hingga mengubah titik pengereman/akselerasi. Ban Pirelli yang sensitif terhadap perubahan temperatur pun lebih sulit dikelola.

Setelah mendapat bendera biru untuk pertama kalinya, situasi hanya akan menjadi bertambah sulit karena Rio bisa terus kehilangan waktu di hampir setiap lap berikutnya. Dalam satu lap, Rio dapat di-overlap secara beruntun oleh rombongan pembalap-pembalap terdepan di titik-titik sirkuit yang berbeda-beda.

Sebuah balapan yang sulit hari ini. Jelas, bagian pertama cukup rumit untuk semua orang dengan kondisi basah tetapi sebenarnya ketika balapan berlangsung saya dapat menjaga kecepatan; dua stint pertama saya cukup baik. Kemudian, menjelang akhir, ada banyak traffic dan di bawah kondisi bendera biru saya harus berjuang keras untuk menjaga temperatur ban, jadi saya kehilangan lap time.

Rio Haryanto usai balapan GP Monako 2016

Menghadapi lalu lintas (traffic) seperti itu jelas dapat menggangu ritme membalap. Rio dapat kehilangan sekitar 1 sampai 4 detik ketika memberi jalan, dan dalam satu putaran itu bisa terjadi beberapa kali. Bisa dibayangkan berapa banyak waktu yang hilang jika untuk 75% persen sisa jarak tempuh balapan, Rio harus "melayani" bendera biru hampir di setiap putaran. 

Di sisi lain, Wehrlein terlihat lebih agresif dalam negosiasi traffic yang tampaknya berakar dari musim balap sebelumnya: Ia terbiasa menyodok dari baris tengah di balapan ketat yang diwarnai senggol-senggolan dalam ajang balap turing DTM (Deutsche Tourenwagen Masters).

Satu faktor lain yang mungkin membuat dirinya lebih berani mengambil resiko: Pascal tidak perlu terlalu khawatir jika ia menyerempet atau menyenggol mobil lain karena ia tahu tidak memiliki banyak beban dari segi finansial dengan dukungan penuh dari Mercedes. 

Dalam beberapa kesempatan, Wehrlein lebih bisa meminimalisir waktu yang hilang ketika di-overlap daripada Rio - tapi itupun tidak selalu berakhir mulus.

Di Monte-Carlo tahun lalu, Wehrlein menerima dua kali penalti 10 detik untuk dua pelanggaran terpisah: Melaju terlalu kencang dalam periode virtual safety car dan mengabaikan bendera biru. Kemudian di Suzuka, ia membuat Sebastian Vettel mengamuk di radio karena terlalu lama tidak memberi jalan setelah diberi bendera biru.

Kekuatan terbesar mobil Manor hilang karena bendera biru

Nico Hulkenberg, Sahara Force India F1 VJM09
Hairpin L'Epingle di Circuit Gilles Villeneuve, Montreal, Kanada.

Mobil Manor tahun lalu yang mengandalkan power unit Mercedes dan girboks dari Williams adalah salah satu mobil yang paling kencang di lintasan lurus tapi ketika bendera biru muncul, keuntungan itu hilang seketika.

Mari kita ambil contoh di Montreal, Kanada: Ketika Rio di-overlap sebelum hairpin L'Epingle di Circuit Gilles Villeneuve, ia bisa saja menyalip kembali (unlap) di lurusan panjang Droit du Casino karena memang mobilnya bisa melaju lebih kencang di sana - apalagi dengan bantuan Drag Reduction System.

Sayangnya, meski dari segi performa mobil memungkinan, di sana Rio tidak bisa begitu saja kembali menyerang setelah di-overlap tanpa banyak pertimbangan. Di chicane setelahnya atau sebelum tikungan pertama, mobil Manor dapat dengan mudah di-overlap kembali.

Jika Rio masih nekad unlap, pembalap yang meng-overlap bisa marah besar seperti Ayrton Senna yang menonjok Eddie Irvine setelah insiden overlap/unlap di Suzuka 1993.

Apa yang terjadi di Montreal tahun lalu? Setiap Rio di-overlap di L'Epingle, ia terpaksa tetap bertahan di belakang slipstream mereka yang meng-overlap padahal Rio sebenarnya bisa melaju lebih kencang di lintasan lurus - bagian terkuat untuk mobil Manor MRT05.

Bagian pertama dari perlombaan berjalan baik bagi saya. Saya bisa menempel rekan setim saya dan juga dengan Palmer dan Magnussen di depan. Pada pit stop pertama, saya berharap dapat bergabung kembali ke balapan dan bertarung dengan Ericsson tapi kami menemui masalah yang memperlambat pit stop dan saya harus kembali ke trek di belakang Nasr. Untuk sebagian besar balapan, saya terus mengejar Nasr tapi dengan adanya bendera- bendera biru, setiap saya semakin mendekatinya, saya harus mundur ke belakang lagi.

Rio Haryanto usai balapan GP Kanada 2016

"Melawan" bendera biru dan menyulut amarah Jenson Button

Rio Haryanto, Manor Racing MRT05
Rio Haryanto di depan duo McLaren, Jenson Button dan Fernando Alonso, di GP Spanyol 2016

Ya, itu sangat hebat, bukan? Hah heh... Saya baru saja disalip oleh [Rio] Haryanto! Singkirkan mobilnya [dari depan saya], ini akan membuat kita kehilangan waktu. Saya tahu ia berpikir ia kencang tapi [sebenarnya] tidak!

Jenson Button setelah di-unlap Rio Haryanto di GP Spanyol 2016

Benarkah apa yang dikatakan Button, sang juara dunia F1 2009 tersebut? Mari kita analisis bersama...

Rio sudah di-overlap oleh pimpinan lomba sejak Lap 25 sedangkan Button baru meng-overlap Rio pada Lap 49 - tepat setelah Rio masuk pit untuk menjalani stint terakhirnya dengan ban Soft. Button sendiri terakhir kali masuk pit pada Lap 36 untuk memasang ban Medium. 

Dengan ban yang lebih halus dan lebih segar daripada milik Button, Rio mencetak fastest lap di Lap 52 (1:29.402) ketika Button sedang menjalani Lap 53 (1:31.268) - Rio sudah melaju 1,866 detik lebih kencang dari Button dan itulah momen ketika Rio mampu meng-unlap dirinya dari Button sekaligus memancing percakapan radio di atas.

Setelah Rio menyelesaikan pit stop terakhirnya, jarak +92.687 detik terhadap Button dapat dipangkas hingga menjadi +84,090 detik dalam 14 putaran sebelum pace menurun di 3 lap terakhir. Dengan demikian, dalam 14 lap Rio masih bisa lebih kencang 8,597 detik dari Button atau rata-rata 0,614 detik per lap.

Rio dan Button sama-sama memakai strategi dua stop. Fastest lap Button dicetak pada putaran ke-39 (1:30.260 atau lebih lambat 0,858 detik dari milik Rio) dan ia pun turut di-overlap oleh barisan terdepan mulai dari Lap 59.

Pada akhirnya, setelah 66 lap ditempuh oleh Max Verstappen sang pemenang balapan, Button memang finis P9 tapi ia tidak mampu kembali meng-overlap ataupun sekedar menempel kembali Rio yang finis P17.

Jadi... Penilaian Button terhadap Rio di radio kurang tepat...

 

 

 

Tulis komentar
Tampilkan komentar
Tentang artikel ini
Kejuaraan Formula 1
Pembalap Jenson Button , Rio Haryanto , Pascal Wehrlein
Tim Manor Racing , McLaren
Tipe artikel Analisis