Sign up for free

  • Get quick access to your favorite articles

  • Manage alerts on breaking news and favorite drivers

  • Make your voice heard with article commenting.

Motorsport prime

Discover premium content
Berlangganan

Edisi

Indonesia
Special feature

Transformasi Setir Mobil F1 dalam Enam Dekade

Selama enam dasawarsa, perangkat yang digunakan dalam Formula 1 berevolusi cukup jauh. Salah satunya setir yang memiliki fungsi lebih luas dan menggunakan bahan berbeda.

Di awal gelaran F1, komposisi kemudi terdiri dari kayu, kulit dan logam yang dibaut atau dilas di kolom. Ini berbahaya ketika terjadi benturan. Apalagi kala itu, penggunaan sabuk pengaman tidak wajib.

Dimensinya lebih besar untuk mengakomodasi bobot mobil dan kurangnya power steering. Alhasil, pengemudi hanya menderita sedikit dari inersia mobil.

Seiring dengan perkembangan zaman, ukuran setir kian ringkas menyesuaikan dengan berat mobil yang berkurang, sasis lebih rendah dan ban melebar. Beberapa tim mulai menambahkan fitur dasar tapi vital, seperti pemutus sirkuit yang bisa diaktifkan dengan sakelar oleh pembalap untuk melindungi dari potensi gangguan listrik.

Baca Juga:

Sekira dua dekade kemudian, beberapa tim mulai menambahkan fitur dasar tetapi penting, seperti pemutus sirkuit yang dapat diaktifkan pilot dengan sakelar, untuk melindungi dari kemungkinan gangguan listrik.

Pada awal 1980-an, dengan pengenalan mesin turbocharge, tombol yang diaktifkan dengan turbo boost. Peningkatan tekanan dilakukan dengan letupan (on atau off). Operasi berubah jadi ganas.

Dalam periode tersebut, komunikasi radio, mulai dipopulerkan antara pembalap dan tim yang berjaga di pit wall. Tombol push-to-talk ditambahkan ke setir.

Le volant de la Ferrari 375.

Le volant de la Ferrari 375.

Inovasi lain merupakan sistem rilis cepat, yang memungkinkan setir dicopot dari kolom setir. Hal ini yang sering dilihat para era modern ini.

Peningkatan luar biasa dari komputasi dan telemetri pada pertengahan ’90-an mendorong pemutakhiran fungsi setir. Kenop dan tombol terus ditambahkan untuk mengatur kontrol traksi dan efisiensi mesin, serta mengaktivasi pembatas kecepatan, khususnya di pit.

Bentuk setir mengalami transformasi menyesuaikan ergonomi, sehingga menjadi cenderung kotak dengan dua pegangan di sisi kanan dan kiri. Dengan generalisasi girboks semi-otomatif, tuas persneling di belakang setir.

Kemudi Ferrari 312B.

Kemudi Ferrari 312B.

Dengan demikian, para pembalap bisa mengganti gir tanpa perlu melepaskan tangan dari kemudi.

Pada 2000-an, sentuhan teknologi makin banyak terlihat pada setir. Tampilan digital untuk gigi dan kecepatan muncul, lampu LED warna-warni menyala mengindikasikan kecepatan mesin. Bahannya pun dari karbon. Belakangan para pembalap bisa memesan sesuai preferensi mereka.

Pada 2014, unit pengendali ultra-complex tiba, dengan mode dan penyesuaian tak terbatas. Layar LCD bisa menunjukkan berbagai informasi memusingkan, seperti temperature ban dan rem, level tenaga dan waktu lap.

Kemudi Ferrari F399 (650).

Kemudi Ferrari F399 (650).

Para pilot mesti mempelajari manual setebal 100 halaman. Sekarang, layar berukuran 12 cm dan menguasai sebagian besar ruang pada kemudi. McLaren yang mendesain serta memproduksi layar untuk semua mobil balap F1.

Karena unit daya saat ini hampir sama dengan 2014, roda gila dan teknologinya tidak banyak berubah sejak saat itu.

Setir Arrows A21.

Setir Arrows A21.

Pada 2014, unit pengendali ultra-complex tiba, dengan mode dan penyesuaian tak terbatas. Layar LCD bisa menunjukkan berbagai informasi memusingkan, seperti temperature ban dan rem, level tenaga dan waktu lap.

Para pilot mesti mempelajari manual setebal 100 halaman. Sekarang, layar berukuran 12 cm dan menguasai sebagian besar ruang pada kemudi. McLaren yang mendesain serta memproduksi layar untuk semua mobil balap F1.

Karena unit daya saat ini hampir sama dengan 2014, roda gila dan teknologinya tidak banyak berubah sejak saat itu.

Le volant de la Mercedes W13 de George Russell.

Le volant de la Mercedes W13 de George Russell.

Be part of Motorsport community

Join the conversation
Artikel sebelumnya Mattia Binotto Belajar Kepemimpinan dari Michael Schumacher
Artikel berikutnya Alasan Red Bull Racing Tak Banyak Ubah Mobil di Imola

Top Comments

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak menulis sesuatu?

Sign up for free

  • Get quick access to your favorite articles

  • Manage alerts on breaking news and favorite drivers

  • Make your voice heard with article commenting.

Motorsport prime

Discover premium content
Berlangganan

Edisi

Indonesia